29 ~ Egois bukan berarti ikut numbalin teman juga!

1106 Words
Grace POV Tubuh Lia berhenti mengejang 5 menit yang lalu. Semua masih diam di tempat masing-masing, tidak berani mendekat. Sungguh, penampakan tadi itu adalah hal yang paling menyeramkan yang pernah aku lihat. “Dia…kenapa?” aku bertanya, sambil menelan ludah kasar. Tanganku bahkan sampai saking takutnya. Yang pasti, aku tidak pernah melihat yang seperti itu. Lia terus berteriak kesakitan, tangan juga kakinya terlihat jelas semakin menghitam. Hanya melihat saja aku sudah merasakan sakit yang luar biasa. Wajah Lia dipenuhi dengan keringat. Matanya terlihat lemah, membuatku merasa tidak tega. “Mungkin, kalo lo gak ninggalin dia, lukanya gak bakal separah itu!” Itu suara dari Astrid. Aku mengalihkan perhatian dari Lia, wajah Astrid selalu saja datar saat mengutarakan apapun yang ada di pikirannya. Jujur, hal itu semakin membuatku merasa muak dengan sikapnya. Aku bahkan tidak peduli dengan apa yang membuat dia seperti itu. Yang pasti, aku benci hal seperti itu. “Maksud lo apa, Trid?” Lagi-lagi Astrid menguap dan menatapku tidak berminat. Dia on point buat mancing emosi orang. Bahkan tanpa berbicara sekalipun. “Bukannya lo ninggalin dia waktu satan itu datang ya? Lo bahkan ngedorong dia, aturannya lo harus tahu malu saat datang lagi ke sini. Lo…egois!” Tanganku terkepal. Astrid selalu saja berbicara sesukanya, dia selalu mengutarakan apa yang tengah dia pikirkan, tanpa berpikir lebih dulu. Hal itu benar-benar membuatku muak, aku ingin sekali membuatnya berteriak merintih kesakitan. Mungkin itu akan sebanding dengan apa yang dia perbuat. “Kenapa lo diam? Apa gue benar lo itu memang egois?” “Lo…apa lo gak sadar sama diri lo sendiri, Trid? Lo tahu kenapa kita terjebak di sini, tapi lo diam dan mengikuti kemauan Matthew. Bukankah itu yang egois, lo pengen numbalin nyawa-nyawa yang gak bersalah. Gue yakin kalo Matthew itu adalah pemuja iblis, dia itu tidak manusiawi. Dia tidak nyata, Trid. Harusnya lo sadar diri, ngaca dulu lalu ngomong.” Astrid terdiam. Matthew memegang tangan gadis itu, dan membisikkan sesuatu. Benar-benar membuatku kali ini tidak lagi bisa memendam amarahku. “Bukankah begitu, Matt? Bukankah lo pengen numbalin kami di gedung ini? Lo benar-benar egois, lo punya segalanya, lo pintar, kaya, dan sempurna. Tapi kenapa harus gue? Gue hidup cuman buat ibu gue seorang, gue hidup miskin. Bahkan saking miskinnya, rumah gue kalo diterpa angin udah roboh. Hidup gak pernah adil buat gue. Tapi kenapa…kenapa kalian berdua tega buat numbalin gue hah? Apa lo sadar kalo kalian berdua itu bajengan?” Wajah Matthew terlihat menahan amarah. Tapi aku benar-benar tidak peduli. “Jaga omongan lo, Grace. Tidak baik mengatakan hal yang tidak diketahui kebenarannya saat lo marah begini!” Suara Christopher mengalihkanku. “Apa lo gak mau keluar dari tempat sialan ini, Christ? Gue tahu kalo orang tua lo pasti setengah mati lagi nyariin elo. Bahkan mungkin polisi udah bergerak buat nyari lo. Tapi gimana dengan gue? Ibu gue mungkin lagi kelaparan saat ini. Dia…tidak bisa bergerak!” Nafasku tercekat. Aku benci mengakui kelemahanku di depan orang lain. Itu membuatku terlihat meminta untuk diberi belas kasihan. Tapi kali ini, aku benar-benar menginginkan belas kasihan. Aku ingin dikeluarkan dari tempat sialan ini. Aku bahkan tidak tahu seperti apa keadaan ibuku saat ini. Apakah dia bisa mengambil obat dari atas meja, atau mengambil air minum dari dapur? Semua ketakutan itu selalu menghantuiku. Aku takut jika harus berakhir mengenaskan di tempat ini. Dan membuat ibuku menderita. Aku hanya ingin jika suatu saat aku bisa membuatnya tersenyum, dan menikmati apa yang orang kaya lain rasakan. Sialan. Aku lekas berbalik dan menghapus jejak air mataku. Air mataku tidak selayaknya datang di saat seperti ini. “Grace…” Beberapa menit aku mengabaikan panggilan itu. Aku masih berada dalam titik terendahku. Rasanya aku masih tidak siap untuk menjadi diriku yang sekarang. Aku memilih untuk berbalik dan cukup terkejut saat menatap Lia yang sudah bisa berdiri. Aku memang mendengar pergerakan tadi. Namun tidak menyangka jika itu adalah Lia. Masih tidak ada percakapan. Aku tidak tahu harus mengatakan apa pada Lia setelah menatap apa yang menimpa gadis itu. Wajahnya sangat pucat, seolah darahnya berhenti mengalir. Penampakan Lia mengalihkan perhatianku. “Gue gak papa kok. Entah kenapa gue sadar sesuatu, kalo lo memang harus selamat dari tempat ini!” “Lo…sorry, Li. Gue bukannya berniat buat ngedorong lo, tapi saat itu gue panik. Dan satu-satunya yang gue pikirin adalah buat bertahan hidup, gue…tahu kalo gue salah!” Suaraku bergetar mengatakan hal itu. Dalam beberapa keadaan, egois mungkin sangat diperlukan. Tapi aku tidak pernah mengorbankan nyawa orang lain demi keselamatan diriku sendiri. Itu terdengar sangat sadis. Dan mungkin karena dorongan panik, aku melakukan hal terkutuk itu. Bahkan saat melempar pisau untuk membuat darah Astrid mengalir, aku sudah ratusan kali berpikir dalam-dalam. Banyak keraguan yang hinggap di pikiranku. Sayangnya, aku terpaksa memilih tindakan itu, karena Astrid terlihat sangat enggan untuk melukai tubuhnya. Pelukan di tubuhku membuatku tertegun. Lia memelukku! Dekapannya terasa hangat. Suhu tubuhnya tidak normal, bahkan deru nafasnya sangat hangat saat tidak sengaja bertemu dengan kulit leherku. Lia kacau, aku merasakan hal itu. “Gapapa kok. Asal lo bisa keluar, gue gak papa berakhir di ruangan ini. Lo…harus keluar!” bisik Lia pelan. Lalu bersamaan dengan dekapannya yang lepas dari tubuhku. “Bentar, bukannya ini…” Aress mengalihkan perhatianku lagi. Terlihat dia menunduk untuk beberapa saat, lalu sesuatu di tangannya membuat perhatian kami semua tertuju pada objek itu. Astrid dan Matthew dengan cepat mengambil potongan Puzzle itu. Aku masih menahan langkahku. Enggan untuk dekat dengan Astrid, juga Matthew. “Ini bagian mulut?” Suara Matthew datar. Dia memperhatikan Puzzle itu dalam diam, dan dalam waktu yang cukup lama. Memperhatikan dari ekspresi datarnya, aku benar-benar tidak tahu harus menebaknya seperti apa. Dia sangat misterius. Bahkan selama di sekolah, selain bertemu dalam organisasi, aku juga sering mendapatinya berkeliaran di sekitar rumah kosong di komplek daerah Kerto. Daerah yang konon memiliki kekuatan mistis yang sering menyesatkan orang-orang. Dan rumah yang sering dia datangi, juga terkenal angker. Sebenarnya, pendapatku bukannya pendapat karena kami terjebak. Tapi karena aku sudah beberapa kali memperhatikan lakonnya. Dia itu aneh, yang selalu menempel pada Astrid. Bahkan, slogan di sekolah yang terkenal, ‘dimana ada Astrid, di situ adalah Matthew’. Bukannya aku iri pada Astrid. Tapi aku sedikit kasihan pada gadis itu. Rasanya Matthew memanfaatkan gadis itu. Tatkala begitu. Pendapat tadi hanya pemikiranku sekilas yang terlihat mendukung saat ini. Perilaku Matthew benar-benar patut untuk dipertanyakan. Bahkan, pedang yang ada di balik punggungnya sangat menyita seluruh perhatianku. Aku hanya takut, jika kami bukan berakhir di tangan iblis. Tapi di tangan Matthew sendiri. Tatapannya tertuju padaku untuk sekilas. Aku lekas mengalihkan perhatianku. Bulu kudukku berdiri saat mata tajam itu masih menatapku hingga saat ini. “Ada yang punya opini?” tanya Ben. Memecah keheningan untuk pertama kali. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD