Astrid POV
“Mungkin, mulutnya di sobek?”
Matthew menarikku mundur. Bersamaan dengan sesuatu yang terasa. Aku merasakan atap terasa bergetar. Matthew menggendongku dan lekas membawaku keluar. Bunyi piano itu kembali terdengar. Kali ini suaranya sangat-sangat bersemangat.
Aku bahkan bisa merasakan jika yang memainkan piano itu sedang marah. Sangat marah, hingga melukai dirinya sendiri.
Kulihat Matthew yang tetap waspada, dan tetap mengawasiku. Tangannya juga tidak lepas dariku. Melihat itu, aku jadi teringat dulu.
Dimana Matthew mengulurkan tangannya padaku, di saat semua orang melakukan hal terbaik yang mereka bisa lakukan untuk menghancurkanku, sehancur-hancurnya.
Bukannya aku tuli atas apa yang mereka ucapkan padaku. Bukan pula aku suka jika mereka mengataiku. Sayangnya, aku harus berusaha keras membuat hati bodohku tidak peka. Aku harus, karena aku tidak ingin hatiku yang sudah rusak menjadi sangat rusak.
Karena, apa yang orang lain lihat, bukan tentu menjadi kebenarannya.
Ayahku, ahh…aku bahkan tidak yakin bisa mengatakan lelaki b******k itu sebagai ayah. Lelaki yang tega memukul, dan membuat di sepanjang kakiku ada bekas pukulan. Tidak apa jika hanya aku yang merasa sakit.
Tapi juga dengan wanita tua bodoh yang bodohnya ikut mempertahankan manusia tidak berguna sepertiku. Rasanya tidak adil jika Anna—ibuku terlalu sempurna dengan anak sialan seperti aku.
Semua kata-kata pria bodoh itu membuatku seperti ini.
Menjadi sosok yang egois, dan tidak menyukai manusia.
“Trid, lo gak papa kan?”
“Ya. Gue cuman capek aja!”
“Trid, perasaan lo cuman diri beberapa menit lalu deh. Tapi kok lo udah capek lagi sih?” Ben menatapku seolah menatap sampah. Aku tidak peduli, aku hanya mengatakan yang ada di otakku.
Karena memang, aku sudah sangat lelah.
“Ya, setidaknya gue masih manusiawi lag, g****k!”
“Eh dasar, satan. Udah ah, malas gue ngomong ama lo!”
Aku terkekeh menatap raut wajah kesal Ben. Tapi aku juga tidak peduli dengan apa yang dia pikirkan. Yang pasti, aku cukup legah saat menatap kami semua sudah berkumpul. Aku juga sama-sekali tidak curiga kepada mereka berdua—Grace dan Ben.
Karena, aku tidak melihat hal lain di dalam diri mereka selain rasa ingin bebas yang besar. Mereka juga tidak membenciku. Meskipun aku tidak yakin dengan Grace. Tatapannya padaku seolah melihat aku ini adalah kotoran yang harus dibuang.
Auranya merah.
Dia sangat dikuasai oleh rasa marah. Dan itu sangat menarik perhatian mereka—yang tidak terlihat, dan yang terlihat.
Bahkan, aku bisa merasakan jika iblis itu sedang mengawasi kami dari jauh. Dan benar, saat memalingkan perhatianku ke belakang.
Terlihat dua sosok kecil yang tengah berdiri jauh, dengan mata yang tertuju pada Matthew, dan juga aku. Namun mereka tidak lama, hanya beberapa saat lalu aku lekas berbalik arah. Sedikit melegakan, karena aku tidak harus melawan mereka di saat keadaanku tidak bisa dikatakan cukup baik.
“Apa yang lo lihat?”
“Gada, cuman mau lihat Grace aja. Siapa tahu dia mau nerbangin pisaunya lagi, gue masih lemas soalnya!”
Matthew ikut menatap ke arah Grace yang berada di belakang. Dia masih menjaga jarak denganku, juga Matthew.
Aku tau dia tengah berusaha untuk menahan diri.
Sayangnya, wajah Grace cukup untuk menjelaskan semuanya.
“Lo gak bakal kenapa-napa lagi, just trust me!”
“Ya. Gue trust lo kok!”
Matthew mengangguk.
Bunyi piano itu selesai terdengar. Kami semua saling bertatapan satu sama lain. Aku juga semakin bingung dengan apa yang tengah terjadi pada kami.
Tapi, mungkinkah Matthew menyembunyikan sesuatu dariku? Dia tidak pernah melakukannya, yang aku tahu, Matthew selalu mengatakan apa yang hendak dia lakukan.
“Ada anak tangga, lihat!” Aress yang hanya memiliki sebelah tangan menunjuk kembali ke dalam ruangan yang tadi. Sebuah anak tangga terlihat keluar dari dalam, membuatnya menjadi perhatian. Kami semua menatapnya, jelas tahu dan sadar jika anak tangga itu sepertinya menunggu kami untuk di naiki.
“Ayo!” aja Matthew, namun aku menahan tangannya, yang juga ikut menghentikan langkah yang lain. Matthew menatapku dengan keningnya yang saling bertaut.
“Kenapa, Trid?”
“Apa lo yakin kita harus ngelakuin ini semua, Matt? Jujurly, gue mulai khawatir dan ragu, kalau semua hal yang sudah kita lakuin hanyalah jebakan saja. Gue takut kalo lo kenapa-napa nanti di sana. Kalo gue yang kenapa-napa, itu hal biasa. Gak perlu dipusingkan!”
Tangan Matthew yang menggenggamku semakin erat. Dia mengusap keringat yang mengalir di dahinya, dan tersenyum lembut.
“Kalo kita hanya diam saja, gak ada yang bakal terjadi!”
“Dia benar. Kalo kalian diam aja, gak ada yang bakal terjadi!”
Bulu kudukku sedikit berdiri. Dan sekitarku menjadi lebih dingin daripada tadi. Andree. Aku yakin jika hantu itu kembali memunculkan dirinya.
Mengalihkan perhatian. Aku menatapnya dengan malas. Kenapa dia harus kembali muncul di saat yang tidak tepat, dan menghilang di saat yang dibutuhkan?
Bajengan seperti Andree ini sepertinya layak menerima pelajaran matematika yang membuat pusing 7 keliling.
“Stop mikirin buat hangusin gue, Trid, please. Hidup gue udah cukup ngenes jadi hantu, masak harus ngenes lagi sih?”
“Bodoh ah. Ayo Matt!” terpaksa aku berjalan lebih dulu.
Dan genggaman erat Matthew kembali terasa di tanganku. Dia berjalan lebih dulu, dan membawa jalan. Yang lainnya mengikuti kami. Dan Andree melayang-layang di sebelahku.
“Lo kenapa masih terjebak di sini? Mana hantu yang lain?”
Andree terlihat diam. Dia menatap pergelangan tangannya sambil tetap mengikutiku.
“Entahlah. Tahun-tahun itu berlalu dengan sangat cepat. Hantu yang lain menghilang saat mereka mulai merelakan nasib kematian mereka yang bisa dikatakan tidak cukup adil. Semakin bertambahnya waktu, semua mereka akhirnya menghilang, dan hanya menyisakanku seorang!”
“Lo bukan orang, lo Hantu bego!”
“Anjir. Kenapa sih, Trid? Lo diam aja, gak udah ngomong. Nafas lo bau taik yang udah kering soalnya!”
“Ya emang. Kan gue gak bilang nafas gue harum juga. Emang gue pernah ngomong?”
“Ya gak sih. Tapi setidaknya lo diam bisa gak sih? Gue ngambek nih ntar!”
“Idih, udah jadi hantu masih aja belagu lo!” Ben menimpali. Dia tidak terlihat takut saat berhadapan dengan Andree.
Padahal aku yakin jika Ben tahu dan sadar jika sosok di sampingku saat ini adalah hantu. Wajah pucat, dan bau melati yang mengikutinya kemana-mana sudah cukup menjelaskannya.
Apa mungkin ada yang berubah saat dia hampir mati di tangan iblis itu?
Perlu diketahui, bahwa iblis dan Hantu adalah satu hal yang berbeda, meskipun alam mereka berada tergolong sama.
“Ben, lo kok gak takut?”
Ben menatapku dengan tatapan bertanya. Lalu memindahkan perhatiannya pada Andree.
“Ah…maksud lo, gak takut sama Andree?”
Aku mengangguk, dan menatapnya penuh dengan rasa bertanya. Harusnya dia takut, tidak sesantai saat ini.
“Dia gak seperti hantu-hantu lainnya soalnya!”
“Maksudnya?”
“Ya…” Ben menggaruk kepala belakangnya, lalu tercengir, “dia good looking soalnya. Rambutnya rapi, wajahnya walaupun pucat tapi ya…tetap tampan gitu. Gue…takut cuman sama hantu yang buruk rupa.”
Itu terdengar jengkel. Tapi masuk akal. Secara keseluruhan Andree memang good looking dan tidak terlihat seperti hantu andai saja dia berjalan dengan kaki, tidak melayang seperti yang saat ini dia lakukan. Wajah Andree juga rupawan. Mungkin, di masa kejayaannya dulu, dia adalah most wanted sekolah.
Aku yakin hal itu.
“Dasar human!”
Andree menatap Ben tidak suka. Hal itu justru semakin membuatku penasaran. Biasanya Hantu kalo di puji bakal melayang, kenapa Andre tidak ya? Aku memilih untuk tidak peduli dan lebih memilih fokus pada jalan yang kami lalui.
Kami sudah berada di anak tangga terakhir. Dan ruangan yang menyambut kami saat ini tidak berbeda jauh dari ruangan sebelumnya. Andree sudah berpindah, dia melayang di depan bersama dengan Matthew. Sesekali Andree juga akan menceritakan apa yang pernah terjadi dalam gedung ini.
Mulai dari korban pembunuhan, kebakaran, pelecehan, dan masih banyak lagi. Sekarang aku paham, kenapa sekolah ini terasa sangat angker di beberapa sudutnya. Saat melalui lorong lagi, tidak sengaja mataku menangkap pergerakan dari lorong berlainan.
Juga sebuah kaca.
“Kenapa diam aja? Lo lihat sesuatu lagi?”
Ben, juga Aress ikut berhenti dan memperhatikan objek yang menarik perhatianku.
“Kalian mau nyoba lihat kaca itu gak? Kali ini gue kepo kenapa tiba-tiba ada kaca di sini. Apa mungkin hantu yang masih terjebak disini punya selera kecantikan ya?”
Ben ngakak.
“Yang benar saja, bestie. Mana mungkin hantu masih punya waktu untuk berdandan atau bersolek.”
“Kenapa tidak mungkin?” Aress menaikkan sebelah alisnya, “mereka itu pengangguran yang punya kelebihan untuk menakut-nakuti manusia. Jadi…wajar jika mereka masih ingin berdandan, gabut mungkin?”
“Tunggu dulu…” Wajah Ben terlihat jika dia tengah memikirkan hal yang baru, “apa itu alasan kenapa hantu-hantu itu memiliki rupa yang buruk? Tugas mereka adalah untuk mengganggu manusia, jadi untuk membuat manusia takut, mereka jadi berdandan dengan buruk. Apa mungkin begitu?”
Aku dan Aress saling menatap satu sama lain.
Grace, dan juga Lia sudah tiba. Mereka berdua ikut menatap ke arah lorong yang kami tatap juga. Matthew, dan juga Andree kembali, dan ikutan menatap lorong itu.
“Ada apa, Trid?” Matthew kembali mengambil tanganku, dan menggenggamnya erat.
“Ada kaca di sana, kami mau lihat itu bentar, gimana?”
“Gue baru tahu kalo ada kaca di sini!” Andree melayang lebih dekat, “tapi gue pikir itu bukan ide yang baik. Gue rasa itu melenceng dari apa yang harus kita lakuin. Kaca di sini tidak seperti kaca yang ada di dunia kalian. Kaca di sini…bisa membuat seseorang menghilang bak ditelan bumi. Jadi saran gue…lebih baik mencegah daripada mengobati!”
“Beh…ternyata lo juga tahu slogan itu ya!” kekeh Ben, “jadi gimana, Trid?”
“Andree benar!” ujarku, “tapi gue kepo. Gue rasa ada sesuatu yang bakal kita dapat di sana!”
“Tapi…”
“Kita lihat kesana!” putus Matthew, dia membuat Andree yang masih ingin menahan terdiam, tidak lagi bisa mengatakan apa-apa.
"Tunggu...!"