Matthew POV
“Kita lihat!”
Aku memutuskan untuk melihat kaca itu. Meskipun memang aku tidak yakin dengan apa yang ada di sana. Tapi melihat jika semua yang ada di ruangan ini terlihat penasaran, maka ada kalanya lebih baik untuk melawan ketakutan terbesarku.
“Trid, jangan jauh-jauh!”
Astrid mengangguk, aku lekas mengambil tangannya, dan berjalan ke arah kaca itu berada. Berjarak sekitar 1 meter dari kaca itu, aku merasakan aura yang tidak biasa. Aura ini terasa kuat. Aura ini seperti aura yang terasa saat di lantai bawah.
Mendadak aku menghentikan Astrid.
“Kenapa?” Wajah Astrid yang pucat terlihat penasaran.
“Kamu yakin mau lihat kaca itu, Trid?”
“Apa ada sesuatu yang kamu rasa, Matt? Kalo memang ada, lebih baik kita gak usah…”
Duar
Bunyi ledakan itu membuatku otomatis menarik lengan Astrid, membawanya lebih dekat padaku. Berjaga-jaga jika seandainya ada sesuatu yang lain, yang nantinya membuat Astrid terluka.
Ledakan itu asalnya dari belakang. Dan itu bukan kabar baik. Karena akses yang tadi kami lalui tertutup oleh reruntuhan akibat ledakan itu. Semuanya terlihat panik, termasuk Astrid. Genggaman tangannya yang cukup erat membuatku semakin was-was juga.
“Apa ada yang tahu kenapa ada ledakan?”
“Yang pasti, kita tidak bisa kembali, dan yang pasti, tidak ada yang tahu darimana ledakan itu berasal. Jadi…apa yang harus kita lakukan saat ini?”
“Ya maju, masa mundur!”
Jawaban Astrid selalu saja singkat, sederhana, dan terdengar meremehkan. Sayangnya, itu adalah jawaban yang kami butuhkan saat ini. Genggamanku pada Astrid semakin mengerat. Aku tidak akan melepaskannya apapun yang terjadi.
Aku kembali membawa mereka mendekat ke arah kaca itu. Bulu kudukku sesaat berdiri saat langkah kami mulai mendekat. Juga aliran air yang mengalir dari bawah kaki, membuatku harus menatap ke bawah. Dan…Air? Aku berseru dalam hati, tidak ingin membuat yang lainnya merasa cemas.
Sebab sepertinya tidak ada yang menyadari jika kami menginjak air yang terlihat kotor.
Kami hampir tiba di depan kaca itu. Karena posisinya ada di tembok sebelah kiri, jadi kami tidak akan terpantul di sana sebelum kami benar-benar berada di depannya.
“Siapa yang lebih dulu menatap kacanya?” Aress bertanya pelan.
Semuanya tentu saling melihat satu sama lain kecuali Astrid. Aku yakin jika gadis itu sedang memikirkan hal lain juga. Dan sebelum dia mengatakan dia ingin menjadi yang pertama, lebih baik aku mengambil tindakan segera.
“Gue lebih dulu, tolong jangan ada pergerakan lain, selain gue! Apa semua setuju dengan hal itu?”
“Lo gak bisa yang pertama, Matt. Biarin Aress aja, bukankah dia bersedia menjadi tumbal yang pertama?”
Menatap Aress yang terlihat terkejut, aku menggeleng. Aress tidak salah, dan tidak ada satupun yang salah di sini, kecuali…Aku.
Sejujurnya, mendengar apa yang tadi Grace katakan cukup membuatku merasa terpukul. Aku tidak tahu seberat apa keluarganya, atau bagaimana beban yang sedang dia tanggung. Namun yang pasti, aku merasa tidak enak hati karena sudah melibatkan mereka dalam hal yang tidak aku ketahui akan berdampak seperti apa.
Dan kini, aku menyesal atas apa yang sudah aku lakukan.
Namun, menyesal pun tidak akan ada lagi gunanya. Karena kami sudah terjebak di dalam gedung ini. Bangunan yang sebenarnya tidak nyata. Tapi sesuatu membuat semua ini terlihat seperti nyata. Ditambah dengan iblis-iblis yang mungkin sedang mengawasi kami.
Yang aku inginkan hanyalah menyelamatkan Astrid dari bahaya ini.
Tidak ada hal lain.
Dan mungkin itu terdengar jahat juga.
Aku melangkah mendekati cermin. Namun merasa ada beban lain, aku mengalihkan perhatianku, dan baru sadar jika tanganku masih menggenggam Astrid erat. Menyebabkan dia juga ikut maju.
“Trid, gue yang bakal periksa cerminnya, lo diri di situ dulu, kalo ada apa-apa…”
“Gue gak mau, gimana dong?”
“Tapi, Trid!”
“Kenapa lo harus banyak asalan, Matt? Dia sendiri yang ingin ikut melihat cermin itu, harusnya lo setuju aja!”
Ucapan Grace cukup menyulut api emosiku. Namun tatapan Astrid lebih membuatku tenang, dan terpaksa mengabaikan gadis menyebalkan itu.
Aku memilih untuk melangkah mendekat, bersama dengan Astrid. Semakin dekat, rasanya semakin terasa aneh, aku bisa merasakannya.
Dan kini, aku juga Astrid menatap apa yang ada di cermin itu.
Nyatanya, cermin itu hanya menampilkan pantulan kami berdua. Astrid dengan wajah pucatnya, dan aku dengan rambut berantakan, serta keringat yang menempel di dahi.
“Kenapa? Apa yang ada di sana?”
“Cuman ada pantulan kita berdua, lo mau lihat?” Astrid menjawab, dan menatap Astrid yang kepo.
Sayangnya gadis itu menggeleng, membuatku cukup tahu jika dia tidak ingin terjadi sesuatu padanya. Bahkan saat yang lainnya sudah menatap ke arah kaca itu dan hanya mendapati pantulan wajah mereka, Grace tetap berdiri kaku di tempatnya semula.
Sama-sekali tidak ingin bergerak barang satu jengkal pun.
Dia sungguh b******n yang perlu dimusnahkan.
“Apa kita istirahat dulu sebelum mecahin puzzle yang berikutnya? Gue…”
Mendengar Astrid yang tidak melanjutkan ucapannya. Aku memperhatikan apa yang menarik perhatian gadis itu. Tatapan mata kucing itu tertuju pada cermin tadi.
Dan aku terkejut saat mendapati masa lalu Astrid seolah diputar kembali. Teriakan Astrid ada di dalam cermin itu, tangisan, dan juga rasa amarah. Bahkan saat masa tergelap dalam diri Astrid Pun terlihat di sana.
Wajah Astrid sudah terlihat biasa saja. Dia bahkan sudah meletakkan kepalanya di bahuku. Dia tidak tertarik. Meskipun aku yakin jika sebenarnya Astrid sangat tertekan dengan semua hal itu.
“Trid?”
“Gue gapapa kok. Tapi kenapa cermin ini bisa tahu masa lalu gue ya? Apa mungkin cermin ini cerminnya doraemon lagi!”
Ocehan Astrid sedikit menghibur.
“Jangan ngawur lo, Trid!”
“Ya kan mana tau gitu. Kalo cermin ini bisa lihat masa lalu, berarti apa itu asalan ada hantu yang bercermin di sini? Apa mungkin mereka menginginkan ingatan mereka mengenai masa lalu mereka?”
Tebakan yang tidak terduga.
“Gue setuju sih!”
Aress yang baru selesai melihat kaca itu berjalan ke arah kami. Wajahnya terlihat biasa saja. Begitu juga dengan Ben.
Sangat terlihat biasa saja, hingga aku bahkan sadar jika mereka berdua tidak baik-baik saja.
Astrid, Ben, Aress, dan juga Lia, menatap ke arah kaca itu. Hanya aku dan Grace yang tidak tertarik. Ralat, mungkin hanya aku yang tidak tertarik. Karena kini, Grace sudah berdiri di depan kaca itu, dengan wajah dingin, dan tangan terkepal.
Sepertinya masa lalunya tidak begitu baik juga.
Hal itu sangat terlihat jelas.
“Lo gak lihat, Matt?” Lia yang kebetulan ada di sebelahku bertanya.
Aku hanya menggeleng. “Tidak tertarik. Buat gue, masa lalu hanyalah menjadi masa lalu yang tidak akan pernah bisa di ulang kembali. Gue gak mau masa lalu gue buat gue jadi seorang pecundang. Karena sisa hidup gue, hanya gue dedikasikan untuk menjadi tuan dari peliharaan gue doang. Jadi…gue gak mau ada masalah lagi!”
Lia terkekeh.
“Ada yang salah?”
“Gada sih. Gue baru kali ini dapat pasangan se prik kalian berdua. Status kalian benar-benar status terbaru di dunia milenial. That’s why I smile. Just because you too look cute together!”
“Cute apanya, Astrid mah kayak kembaran kuntilanak anjir!” Ocehan Ben semakin membuat Lia tertawa.
Sejenak kami semua kembali melupakan apa yang sudah terjadi. Merasakan Astrid yang sejak tadi tidak banyak bergerak, membuatku menatap gadis itu.
Mata gadis itu sudah hampir menutup rapat. Kepalanya bahkan hampir terjatuh, beruntung aku lekas membawanya lebih dekat. Astrid mengantuk. Mungkin dia lelah.
“Apa lagi kali ini?”
“Kita istirahat dulu bentar. Tenaga gue juga udah hampir habis. Astrid juga ketiduran, kalo gendong dia, gue gak kuat lagi.”
“Okay, gue setuju!” Ben, dan Aress, beserta Lia mengangguk setuju.
“Grace, mau sampai kapan lo ngeliat cermin bego itu?” seru Ben pelan.
Grace seolah tersadar dari lamunannya. Dia terlihat linglung. Bahkan saat dia sudah berdiri di depan kami semua. Dia tetap tidak memberikan tatapan seperti beberapa menit sebelumnya.
“Lo kenapa, Grace? Jangan bilang lo kena rasukan satan lagi, kan gak lucu we. Kami mau istirahat ini, capek!”
Lia menggoyangkan bahu Grace. Dan membuat gadis itu menggelengkan kepalanya. Dia kembali memindai kami satu-satu.
“Sorry. Tadi gue ngerasa enak banget, gue gak pernah ngeliat hal seindah itu sebelumnya. Apa mungkin, selain menunjukkan masa lalu, cermin itu juga menunjukkan apa yang kita inginkan? Soalnya, gue gak bisa lihat masa lalu gue, yang gue lihat adalah senyuman ibu gue, dan pakaian bagus yang melilit tubuhnya!”
Kami semua terdiam. Masih tidak yakin dengan apa yang Grace katakan.
Tapi bisa jadi itu masuk akal.
Melihat Grace yang terlihat sangat berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja, dan hanya menceritakan harapan yang dia inginkan dan juga masa depannya.
Sementara Astrid, Ben, dan juga Aress, mereka bertiga adalah makhluk yang gue yakin masih terjebak dalam bayang-bayang masa lalunya.
“Gue rasa, apa yang menjadi keinginan, ketakutan, dan hal terbesar yang kita inginkan, bisa ditunjukkan oleh cermin-cermin itu!”
“Itu benar. Tebakan lo sangat benar!”
Suara khas itu kembali terdengar. Andree kembali muncul setelah beberapa saat lalu menghilang entah kemana. Hantu itu duduk didepan Astrid, dan mengamati wajah Astrid yang sesekali berkerut, dan mengeluarkan keringat.
“Kenapa lo lihat dia kayak gitu?”
Andree menatapku rendah.
“Emang dia pacar lo? Gak kan? Ya bebas dong gue mau lihat dia atau enggak. Lo kan gak punya hak. Manusia kok lebay sih!”