Tubuh Astrid melayang untuk sesaat. Matthew panik, dan berusaha untuk meraih tubuh itu, sayangnya tubuhnya juga mendadak kaku. Tatapan Matthew tertuju ke arah belakang, dan terkejut saat mendapati Lucy yang terlepas dari segel yang dia buat.
“Apa kau pikir bisa lepas dariku semudah itu? Dasar bocah!”
Lucy menatap Matthew dengan tatapan marah.
Bruk
Tubuh Matthew lagi dan lagi terlempar ke tembok.
Astrid mengepalkan tangannya. Lehernya terasa tercekik, dia tidak bisa bertahan lebih lama. Menatap Lucy yang terus menyerangnya membabi buta, mustahil baginya untuk melakukan serangan juga. Astrid menatap Aress yang sedang melawan Lana.
Lia dan Grace berhadapan dengan beberapa hewan yang bahkan tidak dikenali sama-sekali.
“Grace, tolong bantu gue.”
Grace menarik nafas kesal. Bagaimana dia membantu saat dirinya sendiri dalam keadaan terdesak seperti ini? Namun Grace tetap berusaha untuk melakukan yang terbaik. Dia tetap membantu Lia untuk memusnahkan beberapa hewan-hewan itu.
Sementara itu, Christopher dan Ben berdiam diri seperti orang bodoh.
Hal itu sontak membuat Astrid merasa marah.
“Bantu Matthew, dasar bodoh. Gunakan otak kalian untuk berpikir, setidaknya jika kalian tidak bisa membantunya, jangan hanya berdiam seperti orang yang tidak punya tulang.” Teriak Astrid dari atas, sambil berusaha untuk melepaskan cekikan di lehernya.
Dia juga tengah memikirkan bagaimana cara untuk melepaskan diri dari segel yang membuat tubuhnya tidak bisa digerakkan, dan lehernya yang terasa dicekik. Rasanya benar-benar sesak, Astrid berusaha untuk melepaskan badannya.
“Matt!” Christopher dan juga Ben maju, dan lekas membantu Matthew yang sudah berlinang darah untuk bangkit berdiri.
Tatapan Matthew semakin datar.
“Bantu Aress. Dorong Lana hingga iblis itu terjatuh, itu akan menyelamatkan Astrid. Aku akan menghadapi iblis satu ini.”
“Kapan?”
“Sekarang bodoh, sekarang!” bentak Matthew pada Ben.
Matthew benar-benar kehilangan kesabaran, dia tidak bisa berlama-lama terus seperti ini. Matthew lekas mengambil pedangnya, dan kembali menyerang Lucy.
Lucy sedikit kewalahan. Iblis itu berusaha untuk menghindari Matthew dengan gerakan yang cepat. Dan serangan Matthew membuatnya kehilangan kendali Astrid.
Bruk
Tubuh Astrid terjatuh. Kepalanya membentur sesuatu yang tidak terlalu keras, tapi mampu untuk membuatnya meringis kesakitan. Astrid bangkit, dan menatap tubuh Ben yang ada di bawahnya.
“Thanks, setidaknya lo sedikit berguna. Ambilin pedang gue, ini kayaknya iblis-iblis zaman sekarang ini udah pada gak sadar diri, pengen di kasih pelajaran dulu kayaknya mereka!”
“Kepala gue sakit!”
Astrid menyipitkan matanya.
“Setidaknya, yang sakit cuman kepala lo doang, gak usah banyak drama.”
Astrid lekas berlari dengan sedikit terpincang-pincang dengan tangannya yang memegangi pedang agar tidak terjatuh. Astrid menatap Lana yang sudah terlepas dari segel yang dia buat. Iblis itu berdiri tepat di depannya.
Nafas Astrid masih tidak stabil, dia ikut berhenti dan menatap Lana.
“Mau satu lawan satu gak? Lo harusnya gak usah banyak drama dulu, gimana, mau gak?”
Lana memiringkan kepalanya.
“Apa kamu pikir, aku selemah itu?”
Menaikkan bahunya, Astrid hanya bisa diam. “Ya mana gue tahu, mungkin kamu itu sangat strong. Makanya jangan sering menunjukkan kalau lo itu kuat. Gue kan jadinya gak pede!”
Tanpa banyak bertanya, Lana lebih dulu melayangkan pedangnya. Hampir mengenai Astrid, beruntung gadis itu lebih dulu menghindar. Membuat pedang itu hanya mengenai lantai. Percikan api terlihat saat pedang Lana menyentuh lantai.
Astrid melompat, lalu menyerang Lana dengan pedangnya. Bunyi pedang saling beradu terdengar. Tatapan Astrid tertuju lurus pada bola mata Lana yang berwarna hijau. Astrid mendapatkan sebuah kesamaan antara mata Lana, dan juga Andree.
Mereka sama-sama memiliki bola mata berwarna hijau. Jika tidak salah, Lucy juga memiliki warna bola mata yang sama.
Bruk
Tubuh Astrid tertendang jauh saat tidak sadar jika Lana mengambil gerakan menyerang. Tangan Astrid terasa kebas.
Aress yang menatap Astrid sedikit lengah lekas berlari dan ting—bunyi pedang saling beradu terdengar.
Astrid memperhatikan lengan Aress yang bergetar saat berusaha menahan dorongan Lana yang dia yakin tidak sebanding dengannya. Astrid bangkit. Namun dadanya terasa sesak, dan darah keluar dari mulutnya. Astrid lekas menghapus jejak darah itu.
Berusaha agar tidak terlihat oleh Matthew.
“Trid, gue gak kuat!”
“Ress…”
Sebelum Astrid mengambil alih pedangnya. Grace dan juga Christopher berusaha untuk membantu Aress menahan pedang itu. Lana tersenyum, dan semakin gencar untuk mendorong pedangnya itu.
“Tahan posisi itu, gue ada ide!”
Astrid menghilang, lalu muncul di belakang tubuh Matthew. Mendorong tubuh itu, membuat serangan Lucy tidak mengenainya. Astrid kembali menghilang, lalu muncul di belakang tubuh Lana.
Sbals—tendangan Astrid cukup kuat. Lalu diikuti dengan tendangan berdentingnya. Astrid menyeringai, lalu kembali menyerang Lana membabi buta.
Tubuh iblis itu dipenuhi dengan kabut. Mereka semua lekas mundur, dan menatap tubuh Lana. Perlahan tubuh itu dipenuhi dengan kabut hitam tebal. Bunyi pedang yang tadi masih saling beradu sekarang hening.
Mata Lana dipenuhi dengan hewan kecil yang bergerak. Hal itu membuat Lucy juga lekas berhenti menyerang Matthew.
“Lana…”
“Lu…panas, panas, panas, Lu. Tolong bantu Lana…”
Astrid tersenyum puas. Dia kembali menghilang, lalu muncul di belakang Lucy. Astrid melakukan hal yang sama, dia memukul tubuh Lucy dengan sekuat tenaga. Lalu memasukkan iblis itu dalam segel yang baru saja dia pelajari.
Lucy tidak bisa bergerak.
Semuanya hampir senang, hampir, karena tidak lama setelah itu.
Tubuh Astrid mendadak tidak bisa digerakkan. Tidak hanya dia, tapi mereka semua tidak bisa bergerak dari tempatnya. Auranya sedikit dingin. Tubuh Lucy sudah berubah menjadi letupan debu, begitu juga dengan Lana.
Namun sesuatu yang hitam menjalar di sepanjang kaki mereka.
Astrid sedikit panik. Berusaha untuk memindahkan pijakan kakinya.
“Apa…apa yang terjadi?”
“Kalian cukup berani rupanya. Tapi keberanian kalian tidak akan cukup kali ini.”
Tidak ada tubuh yang terlihat. Suara itu hanya terdengar di dalam kepala mereka. Astrid berusaha untuk melepaskan dirinya.
“Astrid, jangan banyak gerak. Mungkin bayangan ini adalah ‘Tuan’ yang dimaksud oleh iblis-iblis itu. Gue yakin ini adalah dia!” ujar Grace, berusaha untuk setenang mungkin.
“Grace? Hahaha…tebakanmu benar sekali. Kau memang sangat pintar, dan tidak bisa diremehkan. Aku…”
Kabut putih mendadak melingkupi mereka. Semuanya semakin panik di tempat mereka berdiri semula. Kabut itu semakin terasa dingin.
“Sialan, apa yang kau lakukan disini, kenapa kau selalu saja ikut campur dengan urusanku, b*****h sialan!”
Astrid menatap lurus kedepan. Samar-samar dia menatap seorang pemuda yang keluar dari kabut putih itu. Dengan jubah hitam panjang yang cukup menarik perhatiannya.
Pemuda itu berbadan tinggi. Kabut itu menghilang, dan kini jelas siapa sosok yang ada di hadapannya. Astrid sedikit tertegun menatap wajah rupawan itu.
Sesuatu di genggamannya membuat bayangan hitam yang tadi menguasai mereka lepas dengan sendirinya. Cermin yang ada di tengah-tengah memantulkan bayangan hitam dengan rupa yang sangat-sangat buruk itu.
“Aku tidak bisa melawanmu sekarang, tapi aku akan segera kembali setelah mendapatkan apa yang aku mau. Setelah itu, kau tidak akan bisa menghentikanku, dasar makhluk rendahan!”
Ruangan itu seketika tidak seseram tadi. Matthew menangkap tubuh Astrid sebelum gadis itu terjatuh. Sosok pemuda yang berdiri di depan cermin itu mendekat, lalu menatap Matthew, dan juga Astrid.
“Aku akan membawa kalian keluar. Aku tidak menyangka ada pemilik aura langkah yang berdiam diri di bumi.”
“Tidak perlu, aku bisa membawa Astrid denganku sendiri!”
Sosok itu tersenyum. Sama-sekali tidak tersulut emosi nada ketus Matthew.
“Masih saja tidak berubah. Kau sama saja, Matt. Lagipula, ini adalah tugasku, mereka memberiku tugas untuk menjaga kalian selagi keadaan masih tidak baik-baik saja. Kau sendiri jelas tahu siapa sosok itu. Dan satu lagi, kau terlalu naif, kau hampir saja membuat semua dunia dalam ambang kehancuran karena perkataan tidak berguna itu, Matthew!”
“Aku bilang tidak perlu ikut campur urusan kami, Mata. Kau selalu saja begini, kenapa semua urusanku menjadi urusanmu juga? Aku sudah mengatakan, jika aku tidak mau bergabung dengan kalian. Apapun hal itu, aku tidak ingin meninggalkan Astrid sendirian!”
Mata, lelaki berjubah itu tersenyum penuh arti.
“Aku tahu maksudmu, Matt. Tapi kau membutuhkanku!”
***
Grace, Lia, Ben, Aress, dan juga Christopher masih terduduk dengan diam. Mereka sudah berada di dalam ruangan yang terlihat sangat klasik. Dan tak satupun yang berani untuk bertanya sejak tadi.
“Apa kau kenal mereka?” tanya Ben antusias.
Aress menggeleng. Dia bahkan tidak tahu apa yang tadi dibicarakan oleh lelaki bernama mata itu, dengan Matthew. Hingga Matt yang keras kepala akhirnya setuju untuk mengikuti Mata.
“Kita ada di rumahku, tidak perlu setegang itu anak-anak. Santai saja, lagi pula, kalian bisa kembali ke rumah kalian besok. Setelah semuanya ditangani oleh temanku!”
“Ditangani oleh temanmu? Tunggu dulu,Mata. Sebenarnya, apa yang terjadi?”
Mata tersenyum. Dia tahu jika teman-teman Matthew pasti bingung dengan apa yang terjadi pada mereka.
“Semuanya masih sama saja. Waktu yang kalian habiskan di dalam gedung itu hanyalah sekitar 1 menit, jika dihitung dengan waktu normal. Sekalipun kalian sudah merasakan berada di sana selama berminggu-minggu. Gedung itu adalah gedung mistis, dan tidak nyata. Hanya saja, karena Matthew, kalian jadi bisa melihat semuanya!”
“Karena Matthew? Sebenarnya siapa dia? Kenapa dia bisa menghilang dan melakukan berbagai macam kekuatan lainnya. Aku yakin jika Matt bukan manusia biasa!”
Mata tersenyum, lalu mengangguk saat menjawab pertanyaan Grace.
“Dia memang bukan manusia!”