36 ~ Segel

1676 Words
“Kenapa kaki lo pincang, Ress?” Aress menatap kakinya yang tidak hanya pincang, tapi juga mengeluarkan darah. Aress hanya bisa tersenyum, dan juga legah  saat ada orang lain yang menyadari jika dia tidak baik-baik saja. Kepedulian Astrid sudah cukup baginya. “Gak papa kok, lanjut aja!” “Dia kena luka karena nyelamatin gue tadi dari Lana. Iblis itu benar-benar gesit, bahkan gerakannya gak bisa diprediksi susah banget pokoknya!” Grace menjawab, “gue ngutang nyawa sama lo, Ress.” “That’s fine!” Astrid hanya mengangguk. Sesekali Astrid menatap Matthew yang sejak tadi menutupi lengannya yang terobek cukup dalam. Tanpa sadar jika dia sendiri memiliki luka itu. “Gue punya ini, mungkin udah bau keringat. Tapi bisa buat nutupin luka kalian!” Sebuah baju berwarna putih disodorkan di depan Astrid, dan juga Matthew. Christopher terlihat tidak percaya diri, namun dia benar-benar ingin membantu temannya yang sudah banyak berkorban demi mereka, terlebih deminya. Banyak pelajaran lain yang Christoper dapat dengan terjebak dengan beberapa kepribadian yang tidak pernah masuk dalam kategori lingkup pertemanannya dulu. Dan itu cukup menampar Christopher, bahwa dia tidak seharusnya melakukan hal bodoh dulunya. Dia egois, dan hanya mementingkan kepentingannya. Juga akademiknya. Astrid mengambil baju putih itu. Matthew mengeluarkan pisau kecilnya, dan merobeknya menjadi beberapa bagian, setelah membasahinya lebih dulu. Matthew membuka lengan baju Astrid, dan melilit kan beberapa. Wajahnya serius, rahangnya yang tegas membuat perhatian Astrid seluruhnya tidak bisa teralihkan. “Ada luka lain, Trid?” Gelengan Astrid membuat Matthew berhenti memutari tubuh Astrid. Saat hendak berbalik, Matthew cukup terkejut saat merasakan sentuhan di bagian perutnya yang sejak tadi perih. Astrid menyibak bajunya, dan menatap luka di perutnya yang sejak tadi berusaha dia tutupi. Dan tanpa mengatakan sepatah katapun, Astrid mengambil alih sisa baju Christopher, membasahinya dengan air, dan melilitkannya cukup kencang. Membuat Matthew sedikit mengerang. “Lo terluka parah, harusnya lo mengobati luka lo duluan!” bisik Astrid usai dia selesai melilit perut Matthew. Dan hal yang paling mengejutkan Matthew adalah, saat Ben, juga ikut melepas baju dalamannya yang berwarna hitam, dan merobeknya menjadi beberapa bagian. Dan membalutnya pada lengannya yang juga terluka. Dan membalut beberapa bagian tubuhnya yang lain. “Ben…baju lo?” “Gak papa, Matt. Gue baik-baik saja make ini doang, yang terpenting, lo bisa nahan dulu. Gue tahu gimana sakitnya!” Matt terdiam, dan menerima perbuatan teman-temannya yang juga ikut membalut lukanya yang lain dengan potongan baju Ben yang tersedia. Astrid tersenyum tipis, ternyata teman-temannya tidak seburuk yang dia pikirkan sebelumnya. “Okey selesai. Tolong bertahan, Matt. Kami butuh lo, dan mungkin ini bakal terdengar gak adil, tapi kami memang butuh lo banget!” Matthew mengangguk. Wajahnya masih tetap datar, dan Astrid tahu jika Matthew sedang menahan rasa sakit. Astrid mendekatkan diri, dan menggenggam tangan Matthew. Membuat lelaki itu menatapnya dengan senyuman tipis. “Gue selalu ada buat lo, jangan bertindak sendiri lagi. Karena…mereka bakal lebih jahat kalo tau lo mau ngebatalin perjanjiannya!” “Trid, lo…tahu?” Astrid tersenyum tipis, hanya menaikkan bahunya. “Intinya, kita tidak boleh terpisah. Apapun yang terjadi, kita harus melakukan bersama-sama!” Lagi-lagi Matthew hanya mengangguk. Aura yang familiar itu membuat Matthew mengalihkan perhatiannya dari teman-temannya. Dan menatap ke arah lorong yang lain. “Kita harus pergi! Gue masih belum siap kalau mereka datang tiba-tiba, tapi Lana dimana?” Sambil berjalan terburu-buru, mereka terus waspada dan memperhatikan ke arah belakang, dan setiap lorong yang terlewati. “Iblis itu ngilang tiba-tiba juga, gak tau kemana perginya. Tapi sejak Astrid memutuskan buat muter balik, Lana juga ngilang tiba-tiba, dan ya gitu…gak muncul lagi!” Arees menjelaskan. “Apa mungkin, dia sengaja lagi ya?” Ben mengelus dagunya, dan menatap kedepan dengan horror, “baru aja hidup gue agak tenang, udah dapat lagi cobaan yang kali ini mungkin gada obatnya lagi. Tuh lihat depan sono, mereka berdua ada di depan!” Ben mundur, dan berlindung di belakang Grace. “Jangan jadi kayak banci lo, Ben. Keluar gak lo? Atau gue santet pala lo ntar!” Grace menarik rambut Ben, dan membuat lelaki itu hanya bisa pasrah. Ben berdiri di sebelah Grace, tatapan mereka berdua tertuju pada dua makhluk kecil yang ada di depan sana. “Lo mikir buat kabur, lo yang gak selamat. Sekarang kita tuh harus bergantung sama Matt dan Astrid, kalo…” “Bisa diam gak sih? Ribut banget, kalo cuman numpang doang, gausah sama kita juga bisa kok. Sama badut sana juga bisa kok!” Astrid menatap Ben, dan juga Grace dengan malas, “lagian, kalo gak niat, gak usah sok-soan. Malas gue, bisa-bisa ntar kuping gue budeg lagi!” Aress terkekeh menatap Astrid yang marah. “Sepertinya kalian sudah siap untuk ronde kedua. Mungkin ini bakal terdengar lebih baik, bukan begitu?” Lana dan Lucy yang berdiri di depan saling menatap. Lalu memperhatikan Matthew, dan juga Astrid yang masih sanggup untuk berdiri. “Atau, apa kalian berdua tadi itu adalah yang utama? Itu hanyalah sekedar pemanasan, kami tidak pernah menunjukkan kemampuan pada awal, dan kali ini…” Srak—Matthew menarik Astrid, jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Lelaki itu mengambil pedangnya, dan berlari ke arah Lucy, serta Lana yang masih berdiam diri di depan. Astrid mengambil pedang panjangnya, dan mendekat, diikuti oleh Aress. Matthew berpindah tempat dengan sedikit kesulitan, lalu melayangkan pedangnya. Bunyi benda berdenting kembali terdengar. Lucy menatap Matthew remeh. Masih beberapa menit mereka saling beradu, tubuh Matthew sudah terlempar ke tembok. Bunyi tulang patah terdengar. Nafas Matthew tinggal satu-satu. Dadanya terasa sesak, Matthew merasakan sakit yang luar biasa menyerang seluruh tubuhnya. Matanya menatap ke arah Lucy yang berjalan perlahan ke arahnya. Sangat pelan, seolah menikmati kekalahannya kali ini. Tatapan Matthew beralih, dan menatap Astrid yang tengah berjuang melepaskan diri dari cengkraman Lana. Gadis kecil itu benar-benar sangat liar, dia bahkan bisa bergerak tanpa terdeteksi. Melihat Astrid kesusahan. Matthew berusaha keras untuk bangkit berdiri. Dia meraih apapun yang ada di sampingnya. Namun tak satupun yang berhasil. “Sialan…arghhh!” Matthew berteriak keras, saat pedang Lucy kembali menusuk tangannya. Kali ini tepat di telapak tangannya. “See? Kau bukankah tandingan yang tepat untuk kami, Matt. Harusnya kamu sadar akan hal itu, dan tidak menimbulkan keributan. Karena, kami…yang akan selalu menang!” bisik Lucy, tepat pada telinga Matthew. Plak Lucy terkejut saat merasakan tamparan di lengannya. Iblis itu memperhatikan sosok manusia yang kini lebih mirip dikatakan seperti setumpuk daging, tengah berdiri beberapa langkah darinya, dan menatapnya garang. “Ahh…Grace. Aku pikir Andree akan memakanmu saat itu, karena aromamu harum. Tapi, Lucy saja tidak mampu untuk memakan kalian, karena kalian bukan hal yang sepadan dengan kami!” Lucy menyeringai. Sambil mengambil cambuk dari balik jubahnya. Grace menelan ludahnya kasar, terlebih saat menatap cambuk dengan ukuran besar, dengan mata rantai yang dilapisi dengan pisau. Grace yakin, jika sekali saja kulitnya terkena itu, maka semuanya akan mengeluarkan darah. “Dan sebelum aku menyerahkan kalian semua pada Tuanku, lebih baik memberikan para orang bodoh seperti kalian sebuah pelajaran!” Cletak “Arghhh!” Teriakan Matthew terdengar memilukan. Grace bergetar dalam duduknya, dan menatap badan Matthew yang terkena cambukan. Tangan Matthew terkepal, wajahnya mengeluarkan darah, begitu juga dengan punggungnya. “Bajengannn!” teriak Matthew. Lelaki itu bangkit, dan kembali melayangkan pedangnya pada Lucy. Namun tidak satupun yang berhasil mengenai Lucy. Bocah kecil itu terlihat semakin menikmati permainan mereka. Menghilang, lalu memunculkan diri di depan Matthew. Itu adalah hal yang terlihat sangat menyenangkan. Matthew sudah mulai kehilangan kesabarannya. Pedang yang ada di tangannya sudah mengeluarkan cahaya merah, menandakan jika lelaki itu sudah berada dalam puncak amarahnya. “Ketemu kau, makhluk kecil sialan!” Srak—Matthew menusukkan pedang itu tepat pada kepala Lucy, lalu kembali menariknya, dan menebas kepala itu. Sayangnya, tidak ada yang terjadi, kepala Lucy masih saja utuh. Malah tubuh Lucy sedikit bertambah tinggi. Matthew mundur, nafasnya tercekat, berusaha untuk tetap berjaga-jaga. Lucy tersenyum horor, dan menatap Matthew dengan tatapan remeh. “Kau tidak akan pernah tahu, jika kau mencoba untuk menebas dengan pedang itu, maka aku yang untung, dasar tidak berguna!” “Apa kau pikir, aku akan…” Bruk Tubuh Matthew kembali terlempar. Pedang Matthew terlempar ke samping, lelaki itu lekas bangkit dan menahan pedang Lucy yang hampir membelah dua kepalanya. Tangan Matthew sudah mulai membiru, dan pucat. Tak lagi bisa menahan pedang itu lebih dari 5 menit. “Kau lihat ini, Matt? Kau tidak akan bisa menang jika…” “Diam kau, makhluk rendahan!” Slash Tubuh Lucy terdorong ke belakang. Matthew mengambil kesempatan itu, dia kembali menebas leher Lucy. Kepala Lucy mengeluarkan darah, namun sama-sekali tidak terlepas dari tubuhnya. Matthew kembali menghilang, lalu muncul di belakang tubuh kecil itu. Menusuk kepala itu berkali-kali dengan sangat brutal. Pedang Matthew bahkan sampai berubah warna menjadi ungu. Menandakan api yang ada di pedangnya itu sudah mencapai tingkat kepanasan yang luar biasa. Sebuah rantai muncul di tangan Matthew. Membuat Astrid yang berjuang untuk melepas tangan Lana yang menekan lehernya terdiam sebentar. Leher Matthew dipenuhi dengan guratan urat berwarna hitam. Bahkan menjalar sampai ke tangannya. “Mati kau, mati kau, MATI!” Teriak Matthew dipenuhi dengan rasa amarah. Dia terus menusuk Lucy dengan pedangnya. Lucy mulai kewalahan. Iblis itu berusaha untuk menghilang, namun benar-benar tidak bisa. Dia terperangkap dalam simbol yang dibuat oleh Matthew. Simbol yang tidak semua orang ketahui. Simbol yang bisa membuat kalangan iblis terjerat, lalu hancur. “Sialan kau, Matt[TS1] !” Nafas Lucy mulai mengejang.  Iblis itu tidak bisa bergerak. Matthew tersenyum penuh kemenangan saat segel yang dia buat berhasil untuk mengunci kaki iblis itu. “Apa kamu pikir, aku tidak menguasainya? Dasar bodoh!” Lucy merasakan panas yang membakar tubuhnya. Rasanya benar-benar panas, dan bahkan dia tidak bisa menggerakkan kakinya. Nafas Lucy semakin memburu, Lana yang sedang berhadapan dengan Astrid, dan juga Aress mengalami hal yang sama. “Trid!” Matthew menatap wajah Astrid yang dipenuhi dengan peluh keringat, lelaki itu menarik tubuh Astrid. “Lo masih kuat?” Astrid mengangguk. “Trid, ini gak bertahan seberapa lama. Apa yang harus kita lakukan?” Segel yang Astrid buat mulai menghilang satu persatu. Tubuh Lana jauh lebih tenang daripada Lucy yang sejak tadi terus berusaha untuk keluar dari segel buatan Matthew. “Mungkin, gue harus buat yang…” “Astrid, awas…!” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD