Pintu yang tadi sudah tertutup kini terbuka dengan sendirinya. Astrid yang tengah berusaha menahan dirinya, melirik dengan bersusah payah. Dua makhluk bertubuh kecil berada di sana. Tepat di ambang pintu. Menatapnya dengan hina, seolah dia adalah makhluk rendahan yang tidak pantas menerima apa-apa.
“Matt…kita masih punya lawan yang lebih besar daripada Andree. Kemungkinan, gue gak bisa lawan mereka lebih jauh. Gue capek…capek banget malah.”
“Trid? Lo udah sadar?” Matthew antusias, sejak tadi dia hanya berdiam diri bak orang bodoh, dan tidak melakukan apa-apa. Sampai tidak sadar jika Astrid yang tadi tidak sadarkan diri, sudah kembali sadar.
“Udah dari tadi, sekarang kita harus mencari jalan lain….” suara Astrid parau, dia bangkit berdiri dan menatap teman-temannya yang masih terlihat syok.
Sayangnya, kali ini tidak ada kata jeda. Karena hal yang lebih menakutkan kini ada di depan mereka secara langsung. Dua makhluk kecil itu, adalah hal yang paling berbahaya. Dan mungkin, Astrid rela dengan apapun keputusan mendadak yang nantinya diambil oleh Matthew.
Namun satu hal yang pasti, Astrid tidak ingin kehilangan Matthew.
“Apa lo udah…”
“Trid, bawa mereka keluar dari sini, karena kalian terjebak di sini memang karena kesalahan gue. Biarin gue yang melawan dua bocah itu,mereka tidak lebih dari sekedar bocah saja. Yang penting, lo, dan kalian semua…” Matthew menatap wajah-wajah panik yang menatapnya dengan penuh harap, “yang penting kalian semua bisa keluar dari tempat ini dengan aman. Gue mohon buat nyampingin ego masing-masing, dan tolong jaga Astrid. Karena cuman dia kunci biar kita semua bisa selamat dari tempat terkutuk ini!”
Lia membantu Grace berdiri, ditemani oleh Christopher. Ben dan juga Aress yang tadi mengawasi pergerakan dua makhluk kecil itu juga memutuskan untuk berjalan mendekat.
Matthew mundur selangkah, dan mendorong Astrid pada Ben, juga Aress dengan sedikit paksa.
“Gue janji bakal balik, Trid!”
“Lo pikir…”
“Tidak akan ada yang bisa keluar, wahai manusia munafik. Kalian semua sudah terjebak di sini. Aku pikir, tadi Andree bisa bertahan lama. Tapi hantu itu bodoh, ya…dia tidak cukup pintar untuk mengelabui manusia naif seperti kalian!”
Lucy tersenyum miring. Senyuman yang membuat bulu kuduk berdiri tanpa sebab.
Matthew maju selangkah, menuju ke arah dua iblis yang terjebak di ukuran kecil itu. Matt membawa pedang tajamnya, dan berusaha untuk tetap rileks.
“Pergi, Trid. Gue janji bakal balik secepatnya!”
“Tapi…”
“Trid, please. Gue gak mau lo kenapa-napa karena gue. Jadi tolong…bawa dia pergi, Aress. Gue percaya sama lo kalo kalian bisa ngelewatin gerbang dengan selamat!”
Astrid dengan tubuhnya yang lemah tidak bisa melawan saat Aress dan juga Ben menarik tangannya, dan bergegas berlari ke arah yang sebaliknya.
Astrid menatap Matthew yang sudah mempersiapkan pedangnya.
Srak
Bunyi pedang saling beradu terdengar. Lucy melompat dengan gesit, dan melayangkan pukulan mautnya pada Matthew. Hampir saja Matthew kehilangan keseimbangan, beruntung lelaki itu sempat untuk mengambil kuda-kuda.
Namun, lengannya terobek. Membuat darah segar mengalir darinya.
“Kamu bodoh, Matthew. Kamu tahu sendiri, jika yang di incar di sini adalah Astrid, bukan kamu. Dan teman-teman bodohmu itu semuanya adalah pengecut, tidak satupun yang akan berhasil menyelamatkan Astrid. Karena My Lord, akan segera tiba, dan mengambil nyawanya!”
“Diam kau, persetan dengan semua omong kosongmu. Aku tidak peduli apapun yang kau pikirkan. Astrid lebih kuat daripada dugaanmu, dan dia tidak akan kalah dengan tuanmu itu. Kau hanyalah iblis sampah yang menjadi b***k, bodoh!”
Lucy tersenyum. Dia menatap ke arah Lana. Dan bersamaan dengan saudaranya yang satu itu lekas menghilang dengan mudah.
“Kau juga lupa, kalau aku tidak pernah sendiri, Matt. Lana yang akan membawa Astrid, bukan aku, bukan juga My Lord!”
“Kau…”
Matthew melompat dengan awalan yang cukup tinggi. Sayangnya Lucy bisa dengan mudah menebak gerakan bodoh itu.
Iblis itu melompat, dan lebih dulu memberi Matthew tendangan di sebelah perutnya. Titik yang hampir mendekati dengan bagian rusuknya. Dan bagian dari tubuh yang paling mematikan.
Tubuh Matthew terjatuh, Lucy menendang kembali perut Matthew dari bawah. Membuat Matthew benar-benar merasa sesak. Namun dia berusaha untuk menyerang, sekalipun keadaannya sudah tidak baik-baik saja.
Lucy menghunuskan pisaunya, tepat menembus perut bawah Matthew. Mata Matthew melotot tidak percaya jika dia bisa dikalahkan dengan semudah ini oleh Iblis. Sekali Matthew memang sadar jika mereka bukanlah lawan yang seimbang.
“Apa kau ingin tahu rasanya mati dengan dendam, Matthew? Aku tahu kau sangat menyukai temanmu itu, sehingga kau ingin mengkhianati perjanjian yang sudah kau bubuhi tanda tanganmu. Atau, apa memang kualitas manusia adalah sama sepertimu?”
Matthew terbatuk darah. Lelaki itu berusaha untuk bangkit, dan mengambil pedangnya yang terjatuh cukup jauh. Berjarak 5 cm darinya, tangan Matthew di tusuk oleh sesuatu yang tajam. Membuat Matthew berteriak mengejang.
Sakit, rasanya sungguh sangat sakit.
Membuat Matthew mati rasa di bagian sikut tangannya.
Pedang Lucy terbang sendiri, dan menusuk lelaki itu. Membuat sang empunya tersenyum lebar, menikmati pemandangan sore hari, meskipun terus terasa seperti malam hari. Lucy berjalan mondar mandir di depan tubuh Matthew yang masih berusaha untuk bebas.
“Apa kamu pikir, kamu sehebat itu, Matthew? Seandainya kamu sadar, kalau meninggalkan Astrid seorang diri adalah kesalahan terbesar yang pernah kamu lakukan!”
Nafas Matthew hanya tinggal satu-satu. Dia tak lagi sanggup untuk menahan apapun yang akan dilakukan padanya. Pedang tajam itu hampir saja memisahkan leher dari tubuhnya. Hampir. Beruntung tangan Matthew sedikit lebih cepat, untuk menahan gerakan pisau itu.
“Sial!” umpat Matthew, darah yang merembes keluar dari lengannya, sangat merugikannya. Terlebih dengan rusuknya yang terasa patah, dan juga bagian ulu hatinya. Sekujur tubuh Matthew bergetar hebat. Mata Matthew memerah, dan wajahnya mengeluarkan keringat dingin. Tangannya yang menahan pedang itu mulai terasa.
Sepertinya jari-jari tangannya akan lepas dari pergelangan tangannya.
“Gue bakal bunuh lo, Astrid itu kuat, dia bisa ngebunuh kalian semua!” ucap Matthew dengan sisa tenaga yang dia punya.
Tubuh Matthew kembali dibanting berkali-kali ke tembok dengan satu jari Lucy yang menggerakkannya. Darah keluar dari mulut Mattew. Membuatnya tidak bisa menahan diri.
Dan di saat Matthew merasakan jika dia akan terbunuh di tangan Lucy, seseorang menarik tubuh Lucy dan membantingnya ke lantai.
Astrid menusukkan pedangnya ke tubuh Lucy. Menarik kembali pedangnya, dan menusuknya lagi.
Lagi, dan lagi, tanpa ada ekspresi di wajahnya.
“Lo mau bunuh majikan gue. Lo gak bisa dibiarin, kalo dia mati, gue di asuh sama siapa, dasar iblis, bajengan, gak beradap lo!” teriak Astrid marah, dia menendang kembali wajah Lucy yang mengeluarkan darah berwarna biru.
“Lo itu cuman iblis yang gak tahu apa-apa soal manusia. Seenaknya lo mengambil nyawa orang, dasar tidak berakhlak!” Astrid kembali menusuk pedangnya pada leher bagian belakang Lucy.
Pedang Astrid hampir terlepas, saat sang empunya hampir kehilangan keseimbangan. Namun kedua kaki Astrid berusaha untuk tetap berdiri.
Nafas Astrid memburu. Lagi-lagi dia kehilangan energinya cukup banyak.
Satu gerakan lagi, Astrid berusaha untuk mengayunkan pedangnya. Nyatanya, dia tidak berhasil. Tangannya gemetaran hebat, dan hanya berhasil mengangkat pedang hingga setinggi perut saja.
Lucy membalikkan badannya. Bola matanya membulat, wajahnya yang hancur menatap Astrid dengan senang. Tubuh Lucy sepenuhnya menatap Astrid dengan seringai yang tidak bisa diartikan.
“Kamu…punya nyali juga ya. Padahal, aku pikir kamu bakalan ninggalin sampah kayak dia!”
Lucy memutar pisaunya, hendak menusukkannya pada Astrid. Beruntung Matthew lekas bangkit, dan mendorong tubuh Lucy. Iblis itu lagi-lagi terlempar cukup jauh ke belakang.
Astrid hendak mendekat. Namun, Matthew dengan tubuh lemas itu lebih dulu menarik tangan Astrid dan menggeleng.
“Kita lagi dalam keadaan gak baik-baik aja, kita kabur dulu, Trid.”
Tubuh Astrid mengikuti langkah Matthew yang lebar-lebar. Mereka menaiki anak tangga yang di dapat ketika berlari di lorong. Nafas saling beradu, dan bunyi langkah kaki yang saling berkejar-kejaran.
Bruk
“Astrid!”
Matthew panik saat tubuh Astrid terlepas dari tangannya. Lelaki itu berhenti, dan menunduk, berusaha untuk membantu Astrid. Luka yang tergores di sepanjang lengan Astrid membuat Matthew semakin diliputi rasa marah. Dia tidak suka jika Astrid terluka.
Lelaki itu lekas bangkit berdiri, dan menatap ke bawah. Lucy tidak menunjukkan pergerakan bahwa iblis itu sedang mengejar.
Merasa aman, Matthew lekas menunduk di depan Astrid, dan membawa gadis itu ke gendongannya. Matthew kembali berlari, mengambil pedang yang ada di tangan Astrid. Sesekali Matthew berhenti, dan mengambil nafas.
Lututnya bergetar, dia tidak bisa menggendong Astrid lebih jauh lagi.
“Kita lari masing-masing aja, Matt. Lo gak kuat gendong gue!”
“Maaf, Trid. Badan gue rasanya cepet lelah daripada sebelumnya!”
Astrid turun. Mereka kembali berlari lebih cepat, dan tautan tangan mereka tidak terlepas.
Di perempatan yang sepi, dan gelap. Sebuah pedang yang menghasilkan kilat melayang ke arah mereka. Matthew lekas mendorong Astrid lebih dulu, menyebabkan pedang itu hanya menggores bahunya sedikit.
Matthew mengayunkan pedangnya. Dan membuat pedang keduanya saling beradu.
Astrid bangkit, dan menatap luka yang bertambah di tubuh Matthew juga di lengannya. Gadis itu marah besar, namun saat menatap siapa yang menjadi lawan Matthew, membuat lelaki itu berhenti.
“Aress?”
“Matt, Astrid?”
Pedang itu lekas tertarik kembali. Aress legah begitu mendapati jika yang membuat langkah kaki itu adalah temannya.
“Sorry, tadi gue pikir itu Lana, jadi gue langsung main serang duluan aja!” Wajah Aress sedikit merasa bersalah.
Mungkin, jika Matthew tidak sigap untuk mendorong Astrid, gadis yang kini menatapnya dengan tatapan membunuh itu, bisa saja terbelah dua.
“Sorry, Trid. Gue benar-benar gak nyangka kalo itu kalian!”
“Mana yang lain?” Matthew menarik Astrid agar lebih dekat padanya. Lalu menatap Aress yang juga sama kacaunya.
Entah apa yang terjadi dalam hitungan menit tadi, yang pasti, Matthew sangat bersyukur saat Astrid memilih untuk kembali padanya, dan menyelamatkannya.
“Mereka sembunyi di sana, sesuai yang Astrid perintahkan pada kami sebelumnya.”
“Ajak mereka kemari, keadaannya lagi gak baik-baik saja. Gue takut kalau mereka masih berkeliaran!”
Aress mengangguk, dan melangkah mundur dengan kakinya yang ikut pincang. Hal itu membuat perhatian Astrid teralihkan. Terlebih lagi dengan darah yang mengalir dari celananya.
“Kenapa dia pincang?”