Wajah Grace sudah sangat pucat. Dia sudah berulang kali untuk mencoba mengeluarkan tubuhnya dari tembok yang mengapitnya. Sayangnya, sama-sekali tidak berhasil. Semakin Grace panik, semakin pula tubuhnya terasa sempit.
Suara langkah kaki yang terdengar dari arah belakangnya membuat Grace berusaha untuk mengalihkan perhatiannya.
“Kalian?”
Wajah Grace terkejut saat mendapati semua temannya yang ada di belakangnya. Tembok itu juga mendadak jauh lebih ringan daripada sebelumnya. Tidak lagi menjepit tubuhnya.
“Apa lo baik-baik saja?”
Sebelum tubuhnya terjatuh, Aress dengan sebelah tangannya menangkap tubuh Grace lebih dulu. Membantu gadis itu untuk bersandar dengan benar. Usai itu, Aress melangkah sedikit jauh, untuk memberikan ruang gerak.
“Kenapa kalian bisa menemukan celah itu? Itu…jebakan!”
Wajah Grace sangat pucat. Tatapan wajahnya tertuju pada Matthew dan juga Astrid.
“Kalian berdua, harus keluar dari sini. Kalo gak, semuanya akan terlambat!”
Astrid, dan Matthew saling menatap. Sedikit jengkel dan tidak percaya jika seorang Grace memperdulikan mereka berdua.
“Apa yang terjadi?”
Astrid berusaha kalem. Dia menatap wajah Grace yang memerah, dan syok. Terlebih saat Andree muncul dengan wajah biasanya. Grace langsung memasang wajah bermusuhan, dan memegang tangan Aress erat.
Kali ini, dia benar-benar merasa khawatir.
“Kenapa lo natap gue kayak gitu?” Andree bertanya polos, dia menatap Grace yang menatapnya tidak suka, bahkan penuh dengan tatapan permusuhan, “owh, apa gara-gara tadi gue gak nyelamatin lo, Grace? Kalo lo sendiri tahu kalo gue gak bisa ngelakuin itu. Harusnya lo dewasa dikit dong, dasar cewek!”
“Diam lo, bajengan. Gue terjebak di sini, bukankah karena lo tahu alasannya?”
Andree masih tetap mempertahankan wajah polosnya. Menatap Grace dengan tatapan tidak mengerti.
“Maaf, Grace. Harusnya lo cuman ngomong masih aja sama gue, gak usah…”
“DIAM SIALAN. LO SENGAJA MENJEBAK GUE DISINI, UNTUK MENARIK PERHATIKAN ASTRID DAN MATTHEW. LO BANJENGAN, LO HARUSNYA…”
“Grace, ada apa?”
Astrid mulai tidak tahu apa maksud dari pembicaraan Grace. Tapi hal yang berbeda memang terasa dari Andree. Aura Andree berbeda. Tidak seperti saat pertama kali mereka bertemu secara tidak sengaja.
Seolah ada sesuatu yang kuat, melindungi Andree.
“Trid, Matt, tolong percaya sama gue kali ini. Kalian berdua harus keluar dari sini, karena ini adalah jebakan dari sosok itu. Gue gak tahu pastinya, tapi itu ada di dalam cermin. Sosok hitam, dengan wujud paling mengerikan yang pernah gue lihat. Dia menginginkan kalian berdua, dan Andree bekerja sama dengan mereka. Bahkan dia yang menjebak kalian berdua di tempat ini, dengan umpannya itu gue. Jadi…”
Suasana di sekitar mereka berubah. Ruangan yang tadinya sedikit remah, semakin remang, dan hampir tidak terlihat apa-apa lagi.
Matthew merasakan sesuatu yang besar tengah marah. Lelaki itu mengeratkan tangannya pada Astrid.
“Owhhh…”
Suara Andree terdengar dari jarak yang cukup jauh. Hantu itu melakukan perpindahan tempat beberapa saat lalu.
“Rupanya lo gak bisa di remehin juga ya, Grace. Padahal, lo tahu apa benefit yang bakal kita dapat, kalo Matthew dan Astrid terjebak di sini. Kita bakal sama-sama untung loh, Grace!”
Nada bicara Andree sudah terlihat bukan dirinya sendiri.
“Sialan. Lo…”
Plup
Andree menghilang lagi, sebelum pedang Matthew mengenainya. Andree muncul di belakang Grace, dan menghembuskan sesuatu.
“Dia di sini…”
“Aturannya, jadi cewek jangan bego, Grace. Lo kali ini benar-benar gak bakal bisa selamat, karena lo bego!”
Srakk
“Arghhh!” Grace berteriak kesakitan saat merasakan tekanan di kakinya. Kulit Grace melepuh, seolah terbakar dengan lava yang sangat panas.
Matthew membawa Astrid bergerak mundur, saat tubuh Andree perlahan mulai berubah. Kulit-kulitnya melepuh, seolah kulit Andree terbakar.
Tawa Andree mulai berubah seolah dia sedang kesetanan.
“Karena kalian sudah tahu, jadi lebih baik aku mengatakan kebenarannya. Benar memang, jika aku bekerja sama dengan para iblis itu. Hidupku tidak pernah adil, bahkan aku terbakar mengenaskan. Itu jelas tidak adil, dan aku tidak pernah terima mati seperti itu. Oleh karena itu, gue bakal lakuin apapun demi keuntungan diri gue sendiri…HAHAHAHA…HAHAHA!”
Tawa itu meledak.
“Matt…”
Astrid menggoyangkan lengan Matthew.
“Lo, harus tetap barang ama gue. Jangan jauh-jauh, dan jangan pernah melakukan tindakan yang bukan perintah gue. Paham?”
Astrid sama-sekali tidak menjawab. Dia terlalu tidak paham untuk mengatakan apa-apa.
“Pergi, kalian berdua harus pergi. Jangan berdiri seperti orang dungu!” teriak Grace, berusaha untuk mengingatkan Matt dan Astrid dengan bahaya yang tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya.
Astrid terkejut saat Matthew menarik tubuhnya, dan membawanya berlari ke arah sebelumnya. Sayangnya celah yang tadi ada di tembok itu sudah menghilang. Matthew beberapa kali mencoba untuk menghancurkan tembok itu, namun tidak bisa.
Mereka terjebak di dalam lorong sempit dan pengap, serta panas itu.
“Hahahaha…tidak ada jalan untuk kembali, manusia. Sekarang kalian harus menentukan, memberikan Astrid dan Matthew, agar kalian selamat, atau menjadi orang bodoh yang bersedia mati demi kesolitan? Bagaimana? Hahahahah!”
“Diam kau, k*****t!” teriak Aress.
Lelaki itu berusaha untuk meraih Andree. Sayangnya saat kulit Andree hendak mendekat, rasa panas lebih dulu menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat lelaki itu memilih untuk menarik tangannya dan melangkah menjauh.
Grace yang berada di dalam kuasa Andree kini sudah di banjiri air mata. Gadis itu benar-benar mengenaskan.
“Lepaskan dia…bajengan!”
Srakk
Pedang Astrid terpental. Gadis itu lekas berlari kencang, dan kembali mengambil benda tajam itu. Andree melepaskan tangannya pada Grace. Lalu menyerang Astrid dengan serangan beruntun. Berusaha untuk menjatuhkan gadis itu.
Serangan Andree meleset. Api yang berkobar itu hanya mengenai tembok, lalu beberapa saat setelahnya sudah menghilang.
Melihat kesempatan, Matthew menghilang, dan muncul di belakang Andree. Pedang itu hampir saja mengenai tubuh Andree, sebelum tubuh Matthew melayang lebih dulu, dan berakhir dengan membentur tembok yang cukup kuat.
Astrid kembali menyerang, di bantu dengan Aress.
Bruk
Tubuh Andree mundur karena serangan dari Astrid.
Tidak membiarkan lengah sedikitpun, Astrid ditambah dengan Matthew kembali menyerang Andree. Api Andree hampir mengenai wajah Astrid, beruntung pedang Matthew lebih dulu menangkisnya.
“Tetap di sini. Biar gue yang menyelesaikan sisanya!”
Plup—tubuh Matthew menghilang. Pertarungan mereka berdua mengakibatkan kerusakan di beberapa tempat. Astrid lekas membantu Lia untuk membawa Grace yang terus menangis sejak tadi.
Gadis itu terlihat sangat trauma.
Bruak
Melihat tubuh Andree yang kembali melayang. Astrid menyempatkan kesempatan itu. Dia berlari dengan membawa pedang tajamnya. Matthew menghilang, dan berakhir di belakang Astrid.
Membawa tubuh gadis itu melayang.
“Rasakan ini, b*****h!”
Srakk
Andree yang tidak siap terkejut dengan sentuhan yang lebih panas yang dia dapatkan. Pedang Astrid tepat menusuk jantungnya. Membuat Andree berhenti melakukan apapun. Dia merasakan jantungnya yang seolah kembali terbakar.
“Kau…”
Astrid tersenyum. Dia menatap tubuh Andree yang sudah terbakar dengan api yang lebih panas. Tubuh itu perlahan menjadi debu, seiring dengan Astrid yang semakin menusukkan pedangnya.
Ssss
Tubuh Andree terbakar seluruhnya. Astrid menatap Matthew yang kini ada di depannya. Senyuman Astrid tulus saat menatap Matthew.
“Lo…harus nyelamatin kita semua, Matt!” bisik Astrid pelan, sebelum tubuhnya terjatuh pada pelukan Matthew.
“Astrid, dia kenapa?”
Matthew menatap Aress. “Tolong jaga sekitar kita dulu, Astrid butuh waktu yang lama untuk kembali memulihkan tenaganya. Dia tidak bisa bertahan lama jika menggunakan kemampuannya dalam kapasitas 100%, sama seperti yang tadi dia lakukan!”
Aress, juga Christoper yang masih terkejut mengangguk.
Mereka lekas berbagi tugas untuk mengawasi sekitar mereka.
Matthew menatap Grace yang bersandar di tembok, dan Lia yang bersembunyi.
“Sekarang, apa kalian tahu apa yang terjadi jika Astrid mengorbankan dirinya?”