43 ~ Kabut Ilusi

1918 Words
Matthew tersenyum lebar usai mendengar cerita itu dari Ben, dan juga Aress. Namun tidak dengan Astrid, saat ini dia tengah dimabuk oleh rasa kesalnya. “Mungkin, kalo gue ketemu sama satan yang lebih seram, gue bakal kasih lo berdua jadi tumbal lebih dulu.” “Serem banget sih lo, Trid?” Astrid menaikkan bahunya tidak peduli. Tatapannya semakin menyipit saat menangkap Ben yang hanya ingin mempermainkannya. “Gue, bakal bunuh lo sekalian!” Ben lekas terdiam, dan menutup mulutnya rapat-rapat, tidak berani lagi untuk membuka suara. Lelaki itu kembali bersandar, dan mengunyah sisa makanan Astrid. Perutnya lapar, dan dia butuh asupan. Berjam-jam terus berkendara, Mata menghentikan mobilnya tepat di tengah kota yang bahkan tidak pernah satupun dari mereka ketahui. Astrid yang tidak tertidur selama perjalanan lebih dulu keluar bersama dengan Matthew. Kota itu terasa sangat mistis, dan membuat bulu kuduk Astrid naik. Perasaannya sedikit tidak enak. Aress yang masih terbangun keluar dari mobil bersama dengan Mata. Sisanya masih berada di mobil, dan Mata lebih setuju dengan hal itu. “Ini adalah kota ilusi. Tidak sembarangan orang bisa melihat kota ini, karena sejujurnya, kota ini memang tidak pernah ada!” Penjelasan Mata membuat kening Aress, dan Astrid berkerut. “Jadi, kota ini hanya ada untuk orang-orang tertentu?” Mata mengangguk, sesekali lelaki itu memperhatikan ke arah mobil yang terparkir di belakang. Juga memperhatikan pergerakan yang mungkin terjadi. “Kota ini dipenuhi dengan hal-hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Aku sendiri masih merasa asing jika berkunjung kemari, padahal aku sudah sering mengunjungi kota ini. Aress…bangunkan yang lain, tanpa membuat keributan!” Aress mengangguk dan lekas pergi. “Lalu, kenapa kita kemari?” tanya Astrid penasaran, “apa ada sesuatu yang harus kita lakukan di sini?” “Benar, kita punya misi di sini. Ada seseorang yang mungkin bisa memberikan petunjuk berada di kota ini, namun dia selalu berpindah tempat, dan tidak pernah ramah pada orang asing. Sebelum memasuki organisasi, kita harus meminta pendapat darinya lebih dulu. Aku harap dia tahu sesuatu mengenaimu!” “Mengenaiku?” “Ya.” Mata berbalik, dan mendapati jika semuanya sudah sadar dan berdiri di belakangnya dengan wajah-wajah mengantuk. “Karena ada sesuatu yang misterius dalam dirimu, jadi, aku harus memastikan sesuatu, sebelum membawamu menuju organisasi. Ini akan cepat, tidak membutuhkan waktu lama. Apa semua sudah bangun, Aress?” Lelaki itu mengangguk. Sesuatu di tangan Aress mengalihkan perhatian Mata. “Apa yang kau bawa?” “Ini…ah, mungkin Astrid akan membutuhkannya di jalan. Dia mengatakan padaku jika aku harus membawa benda ini jika dia pergi!” Mata hanya mengangguk. Setelah menyimpan mobilnya dalam tempat yang aman, Mata kembali dan menatap kedepan. Kota terlihat hening saat mereka tiba, dan sebentar lagi mungkin penduduknya akan mulai melakukan kegiatan di pagi hari. “Ini masih subuh, dan kita punya waktu 1 jam untuk menelusuri tempat ini!” “Tapi, tempat seperti apa yang harus kita cari, Mata? Setidaknya berikan tanda yang cukup mudah untuk di mengerti!” “Rumah dengan tumbuhan yang banyak di depannya. Kalian tenang saja, kota ini hanya sering memberikan ilusi. Tidak ada yang berbahaya di kota ini, selama aku kemari, tidak ada serangan apa-apa. Kota ini memiliki ciri khasnya sendiri!” jelas Mata, dan mengambil langkah pertama. Namun, meskipun berkata demikian, Matthew bisa melihat jika Mata mengeluarkan belati kecilnya di masing-masing tangannya. Bahkan lelaki itu terlihat jauh lebih waspada dibanding ketika menghadapi Lucy, dan Lana. Sambil berjalan, Matthew langsung mengambil sebelah tangan Astrid. “Kenapa?” “Mata memang mengatakan jika tempat ini aman. Tapi bukan berarti gue akan membiarkan lo berjalan tanpa pengawalan, gue akan tetap berjalan di sebelahmu. Jangan kabur, gue mengingat tangan lo di sini.” Matthew menunjuk tangan Astrid yang terikat pada bajunya, “jangan coba-coba buat jalan sendiri, paham?” “Kayak peliharaan aja gue!” “Lo kan peliharaan gue, masa lo lupa?”kekeh Matthew dan mengelus rambut Astrid pelan. “Hmmm!” “Trid, Matt, cepet jalan. Jangan ketinggalan di sana!” Mereka lekas berjalan lebih cepat. Udaranya begitu sejuk, tidak seperti udara di perkotaan yang sangat penat. Matthew memperhatikan jalanan yang berbeda dari jalan yang dulu dia lewati ketika berkunjung ke tempat ini. “Matt, apa lo pernah ke sini?” Grace menatap Matthew yang berjalan di sebelahnya. “Pernah!” “Buat apa?” “Cuman berkunjung!” Tidak ada pertanyaan lagi dari Grace, dia tidak ingin bertanya saat Matthew sudah menjawab dengan nada yang sangat datar. Mereka terus berjalan. Namun ada yang terasa aneh, kota yang mereka lewati menghilang, dan jalan yang mereka lewati seolah terus berputar dalam tempat yang sama. “Mata, apa lo…maksud gue, apa kamu sadar jika jalan yang kita lewati ini adalah jalanan yang sama? Aku pikir, kita selalu berputar-putar dalam jalan yang sama!” bisik Christopher pelan. Langkah Mata berhenti memimpin, diikuti dengan Matthew. Tatapan Matthew tertuju ke belakang, dan baru menyadari jika kota yang tadi mereka lewati menghilang begitu saja. Lalu ditutupi dengan kabut yang cukup tebal. Dan jalanan yang mereka lewati juga memang terasa seperti berputar-putar sejak tadi. “Matt, apa ada sesuatu yang janggal?” Gelengan Matthew memuat Mata setuju dengan perasaannya juga. Tidak ada hal yang aneh, semuanya terasa normal saja. Apa mungkin karena mereka datang terlalu dini hari? “Kita lanjut jalan aja dulu, setelah 20 menit lagi tidak ada sesuatu, kita berhenti dan balik ke tempat semula!” Mata kembali memimpin jalan di depan. Dan sama seperti sebelumnya, jalanan yang mereka lewati terasa sama saja. Bahkan tembok, dan juga tumbuhan yang sudah mereka tandai. Mereka terus berputar dalam tempat yang sama. Hingga Mata kembali memutuskan untuk menghentikan perjalanan mereka. Perasaannya sudah tidak enak. “Kok jadi horor ya, ini kita memang muter-muter dari tadi!” ujar Aress. “Matthew, apa kamu pernah seperti ini?” Sayangnya Matt juga tidak pernah mengalami hal seperti ini. Perjalanannya selama ini mulus-mulus saja, tidak pernah terjebak dalam ilusi kabut. Karena kabut di kota ilusi ini mengenali siapa yang berniat buruk dan baik. “Apa di antara kalian ada yang berniat jahat? Kita tidak akan pernah bisa melewati kabut ini jika di antara kalian ada niatan yang buruk saat memasuki kota ini. Inilah kenapa kota ini tidak bisa dilihat oleh sembarang orang. Manusia terkesan dipenuhi dengan ambisi aneh saat mendengar kota ini, dan ini tidak baik!” “Mata, Astrid…” Ucapan pelan Grace membuat Matthew, Mata dan yang lainnya menatap ke arah Astrid yang memang terlihat berbeda. Wajah Astrid memutih, dan tangannya dingin. Matthew baru sadar perubahan itu karena terlalu fokus dengan jalanan mereka. “Trid, lo kenapa?” Tidak ada respon. Astrid tetap menatap lurus ke depan bahkan saat Matthew sudah menggoyangkan bahu gadis itu berkali-kali. “Trid, jangan buat gue takut dong. Lo kenapa, bestie!” bisik Ben pelan, ikut menggoyangkan bahu Astrid. Lia, dan juga Aress hampir saja terkekeh saat mendengar panggilan Ben pada Astrid. Ben benar-benar membuat suasananya menjadi runyam. “Gue lihat sesuatu…di sana!” Kabut yang tadi melingkupi jarak pandang di 5 meter kedepan mendadak menghilang ditelan angin yang datang begitu saja saat Astrid menunjuk ke depan. Tatapan Astrid sudah kembali pulih, dan tangannya sudah tak lagi dingin. Perhatian Mata tertuju ke depan. Tepat pada jalan yang seharusnya mereka lewati. “Ayo cepat jalan, kita tidak boleh berada lama di sini. Trid, Matthew, jalan di samping gue. Yang lain jangan ada yang kepisah, tetap berada di alur yang sama!” Keanehan tadi hanya terjadi sekali, beruntung tidak ada apa-apa lagi. 30 menit mereka berjalan, Mata akhirnya berhenti di sebuah rumah dengan tumbuhan yang hampir memenuhi setiap inci tembok yang terbuat dari batu itu. Terlihat tidak ada penghuni jika diamati lebih dalam lagi. “Apa yang kita lakukan di sini, Mata?” “Kau lupa dengan orang tua yang bisa melihat masa lalu, Matt?” “Ed? Apa kau mencari lelaki sombong itu?” “Berbicaralah lebih sopan pada yang lebih tua, Matt. Dia itu baik, hanya saja kau yang memberikan penilaian yang buruk padanya!” Pintu di depan Mata terbuka sebelum tangan lelaki itu sempat untuk mengetuk. Sepasang mata muncul dari balik pintu, mengamati siapa yang membuat keributan. Sebelum Mata sempat untuk membuka suara, pintu itu sudah kembali ditutup dari dalam cukup keras. Membuat semuanya terkejut. “Aku sudah mengatakan jika orang tua itu tidak akan pernah membukakan pintunya bagi orang lain, Mata. Jangan terlalu naif, lagipula, kenapa kita harus berhenti di sini dulu? Kita bisa langsung menuju organisasi!” Klik—suara kunci pintu yang terbuka terdengar dari dalam. Mata mundur beberapa langkah, dan bersamaan dengan pintu yang terbuat dari kayu kokoh itu terbuka lebar. Lelaki tua, dengan rambut yang seluruhnya sudah memutih, serta jalan yang bungkuk dengan tongkat yang menyangganya berada di ambang pintu. Wajahnya tidak ada ekspresi, hanya datar, dan menatap lurus pada Mata dan Astrid yang diam saja. Helaan nafas lelaki tua itu terdengar. “Kau membawa orang yang berbahaya kemari, Mata. Juga orang yang sombong!” seru Ed, menunjuk ke arah Matthew di akhirnya. “Dasar tua bangka, kau yang sombong. Kenapa harus mengataiku sombong?” Ed tidak peduli. Dia menatap Astrid lekat, dan juga dengan yang lainnya. “Bawa masuk mereka, kau bersyukur tidak terjebak dalam kabut yang sering kali menenggelamkan jiwa-jiwa manusia itu!” Mata lekas membawa semuanya masuk. Ruangan yang tidak terlalu luas, namun sangat nyaman. Semua tembok terbuat dari kayu kokoh, yang mungkin tidak lagi di dapatkan di era sekarang ini. Lalu diselingi dengan batuan marmer yang terlihat menambah kesan nyaman. Sofa dari kayu berwarna coklat terdapat di tengah, tungku perapian tidak terlalu jauh. Orang yang duduk di sofa, tetap bisa merasakan kehangatan. Tidak ada gambar sama-sekali, tidak ada ukiran, hanya ada buku yang memenuhi hampir semua sudut. Dari arah samping, bisa dilihat dengan langsung jika pemilik rumah itu tengah menyiapkan teh hangat. Tidak ada ruang pemisah antara ruang utama dan juga ruang dapur. Membuat suasana di rumah itu terasa sangat hangat. Ed menuangkan teh yang baru dia buat. Semuanya masih diam, termasuk Mata. Lelaki itu baru kembali dari sebuah ruangan. “Maaf jika aku harus merepotkanmu, Ed. Perkenalkan ini anak-anak yang beruntung!” Ed mengangguk, dan menyesap teh nya. “Aku Ed, minumlah, hanya itu makanan normal yang bisa dimakan oleh manusia seperti kalian!” “Manusia seperti kami?” Ben bertanya spontan, namun saat menyadari pertanyaannya yang tidak sopan, membuat lelaki itu menutup mulutnya mendadak. “Ya, manusia seperti kalian. Bukan berarti aku ini bukan manusia, aku juga manusia. Hanya saja aku sudah berumur, tidak lagi seperti kalian. Muda, dan masih dipenuhi dengan rasa egois, dan kesombongan. Aku yakin, kalian terjebak karena kesombongan seseorang yang berada di antara kalian!” Semuanya diam, namun tidak ada yang saling menunjuk. Termasuk Ben yang selama ini sering menumbalkan temannya. Ed tersenyum. “Rupanya ada sesuatu yang berbeda. Ah…apa teh nya tidak enak?” “Ini enak, hanya saja masih panas orang tua, kenapa kau selalu saja bersemangat dan tidak sabaran? Dasar manusia jaman old!” “Kau selalu saja tidak sopan, Matthew!” “Biarkan saja anak muda itu, Ed. Ada sesuatu yang lebih penting daripada perdebatan kalian!” Ed mengangguk. “Biar aku tebak lebih dulu, apa kau ingin aku mencari tahu masa lalu, dan siapa gadis itu sebelumnya?” “Benar, Ed. Mereka hampir saja terbunuh, dan membangkitkan ‘dia’, kau pasti tahu siapa orangnya. Dan ‘Dia’ sangat menginginkan gadis itu, aku hanya ingin tahu kenapa ‘dia’ menginginkan Astrid. Mohon petunjuk darimu!” “Ini sungguh hal yang jauh lebih besar lagi. Kemarilah anak muda, aku akan melihatmu sebentar. Apa kau yang menemukan jalan saat berada di kabut itu?” Astrid mengangguk. “Kau…memang sangat istimewa!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD