45 ~ Akademi Bayangan

1568 Words
Mata kembali mengemudi dengan cukup cepat, mengingat jika mereka sudah membuang-buang waktu cukup lama. Di mobil, semuanya juga hening dan tidak membuat keributan. Mobil mereka berhenti setelah berjam-jam mengemudi tanpa henti. “Kenapa kita berhenti?” “Kita hanya bisa sampai di sini saja, tidak dengan melanjutkan sisa perjalanan ini dengan mobil. Cepatlah bergegas, kita tidak boleh membuang-buang waktu lagi. Semua barang kalian bawa sendiri-sendiri, kecuali ada yang menjadi sukarelawan untuk membawanya semua!” “Ya kali ada yang mau. Gue yang cowok aja ogah, lebih baik membawa beban sendiri-sendiri, jika tidak sanggup membawa beban sendiri, tidak usah dibawa. Kan mudah toh!” Tidak ada yang peduli dengan ocehan Ben. Semuanya lekas membawa barang-barang mereka dari mobil. Bahkan Astrid yang biasanya melimpahkan tanggung jawab pada Matthew kini berjalan menuju mobil, mengambil barangnya sendiri. “Loh…kenapa lo berubah, Trid? Apa yang terjadi sama otak lo? Gak croslet kan?” “Bisa diam gak sih? Bantuin gue pegang ini bentar, masih ada barang gue di dalam mobil!” Kantong berukuran kecil diberikan pada Ben. Astrid kembali mengambil sebuah ransel dengan ukuran lebih besar. Sebelum Astrid menghadang ransel besar itu, sebuah tangan sudah lebih dulu mendahului Astrid. “Gue yang bawa, nanti kamu capek!” Matthew juga mengambil barang-barang Astrid yang lain. Beban Matthew saat ini dua kali lebih berat. “Padahal, gue bisa kok bawain barang gue sendiri!” “Udah? Ada yang tertinggal lagi gak, Trid? Coba lihat lagi, soalnya kita gak bisa kembali ke sini lagi, jaraknya cukup jauh dari tempat yang akan kita tuju!” “Sudah aman. Semuanya sudah kosong, sekarang kita kemana, Mata?” Usai memastikan semuanya aman, dan tidak ada yang ketinggalan. Mata lekas mengambil jalan di depan. Memimpin langkah yang lain untuk memasuki jalanan yang cukup lebar. Semuanya menghadang ransel dan bawaan masing-masing, dan mengikuti Mata dari belakang. “Lia, sini gue bantu bawa!” Aress mengambil ransel kecil dan ringan Lia. “Makasih, Ress.” “Lo kuat jalan?” “Gue bisa kok, setelah beberapa hari terjebak di gedung itu membuat gue jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Mungkin itu adalah hikmahnya terjebak di sana!” kekeh Lia. Aress mengangguk. Sesekali lelaki itu menatap ke arah Grace yang lebih banyak diam, dan wajahnya selalu datar. Christopher sendiri berbeda, lelaki itu berjalan dengan buku kecil yang tersangkut di tangannya. “Perhatiin jalan lo, Chris.” “Thank’s, tapi buku ini totally menarik banget. Gue jadi makin kepo sama dunia yang kita jalani saat ini!” Merasa buku yang ada di tangan Christopher menarik, Aress dan juga Benedict berjalan mengapit Christopher. Buku dengan kertas berwarna coklat, seolah buku itu adalah buku yang dibuat dari kayu jaman dulu. “Lo dapat dari mana? Lumayan menarik sih, dan mungkin berguna buat keadaan kita saat ini!” “Ayah gue yang ngasih. Jujur, gue cerita sama dia apa yang terjadi sama kita selama ini, dan juga mengenai iblis-iblis itu. Awalnya, gue pikir ayah gue bakalan gak percaya, tapi melihat raut wajahnya yang serius malam itu, membuat gue sadar kalo ayah gue kemungkinan besar tahu menahu mengenai masalah seperti ini!” “Jadi, itu sebabnya beliau sangat bersemangat saat mengantarkanmu tadi sore, Christ?” Christopher tersenyum lebar dan mengangguk. “Ayah bilang, gue bisa berpetualang jika itu adalah hal yang seru. Dan entah kenapa, mungkin ini menjadi sesuatu yang seru!” Hari sudah semakin gelap, matahari sudah terbenam sejak 10 menit yang lalu. Jalanan kembali remah, dan suasananya lebih menakutkan. Udaranya juga jauh lebih dingin, mengingat jika mereka saat ini sudah memasuki daerah hutan. “Apa perlu aku menyalakan senterku, Mata? Aku membawa beberapa tadi saat perjalanan kemari!” Mata menggeleng. “Jangan ada yang membuat cahaya di sini. Kawah ini sedikit rentang, dan sangat tidak baik untuk yang melewatinya. Sebaiknya kita terus berjalan, ingat untuk saling berpegangan satu sama lain. Kita baru bisa membuat cahaya sekitar 15 menit kedepan!” Perintah Mata mutlak. Tidak seorangpun yang mau dan berani melanggar hal itu. “Trid, lo capek?” “Gak, gue bisa kok!” “Kalo lo capek, bilang aja, jangan diam. Gue gak tahu apa yang mesti gue lakuin kalo lo diam, okay?” Astrid mengangguk. Dan mempererat genggaman tangannya pada Matthew. Perjalanan mereka termasuk cukup mulus, tidak ada penyerangan selama di jalanan, dan iblis-iblis itu sepertinya tidak merasakan adanya pergerakan. Aress baru membuka senternya setelah Mata memberikan perintah, tepat 15 menit mereka usai berjalan. Pohon-pohon besar semakin rimbun, dan cukup banyak hewan malam. “Apa kita masih lama lagi, Mata?” “Ssst…jangan berisik!” Langkah Mata berhenti, mendadak membuat semua langkah yang lain juga berhenti. Perhatian Mata tertuju lurus kedepan. Menatap sesuatu yang berada di atas pohon, tepat 5 meter di depan mereka. “Mata, bukankah itu!” “Itu adalah undead, aku tidak pernah tahu jika undead ada di sini!” “Undead? Apa itu adalah hantu yang memakan daging manusia?” “Ya benar. Mungkin kalian juga pernah melihatnya saat terjebak di dalam  gedung itu! Apa kau sudah bersiap, Matthew?” “Kenapa harus aku?” Mata hanya bisa menatap, dan hal itu membuat Matthew bertambah kesal. Lelaki itu melepaskan ikatan Astrid, dan menyerahkannya pada Mata. Bergerak lebih dulu. Sosok di atas pohon itu turun, rupanya selalu buruk, dan membuat Matthew muak. Dia sudah cukup muak dengan undead buruk rupa yang selalu saja menginginkan kebebasan, ataupun jiwanya. Menghindar dari gigitan itu, Matthew menatap undead itu yang kembali menyerangnya membabi buta. Mata hanya memperhatikan dari jarak mereka tadi, sambil mengawasi jika Astrid tetap aman bersama dengan mereka. Srak—tubuh Undead itu robek. “Dasar manusia sialan!” Matthew kembali melompat untuk menghindari serangan. Undead itu terus memberikan serangan, hingga saat melihat ada kesempatan, Matthew lekas menusukkan pedang panjangnya tepat ke bagian otak. Cahaya kecil keluar dari otak itu. Matthew kembali mencabut pedang itu, dan kembali melayangkan tebasan ke arah perut, dan juga leher. Membuat cahaya yang tadi keluar sedikit, kini menjadi banyak. “Kau membunuhnya?” “Kenapa pertanyaan itu konyol sekali?” Tatapan Matthew menajam, dia lekas mengambil alih Astrid dari Mata. “Kau keringatan, minumlah!” “Thanks.” Mata berjalan dan mendekati tubuh itu. Memeriksa apakah ada sesuatu yang membuat sosok itu menghalangi jalan mereka. “Kemungkinan dia tengah diperalat oleh sesamanya. Jika benar begitu, maka kemungkinan lainnya, ada yang mengintai tempat tujuan kita! Cepat, kita hampir tiba!” Setelah beberapa menit di perjalanan. Akhirnya mereka tiba di depan sebuah gerbang menjulang tinggi, namun tidak ada bangunan di belakangnya sama-sekali. Ben, Aress, Christopher, Grace, dan juga Lia saling menatap satu sama lain. Bahkan sampai saat Mata sudah membuka gerbang itu dengan lebar. “Apa kita harus berjalan lagi? Kenapa berhenti di gerbang besar ini?” tanya Ben, wajahnya yang berkeringat terlihat sangat menginginkan sebuah ranjang yang hangat untuk mengistirahatkan diri. “Lo gak lihat?” bisik Astrid pelan, gadis itu baru saja tersadar dari kekagumannya saat mendengar suara Ben. “Lihat apa lo, Trid?” “Gedungnya gede, dan besar padahal. Kenapa lo gak bisa memberikan apresiasi gitu?” Yang lainnya, kecuali Mata dan Matthew, masih kebingungan. Tidak tahu kemana arah pembicaraan Astrid kali ini.  Namun, meskipun demikian, mereka tetap diam dan tidak ada yang berani menyolot. “Kalian hanya perlu izin untuk melihatnya. Ikutlah denganku, jangan ada yang menyentuh apapun jika kalian sudah melihat gedungnya!” Mata mengeluarkan sebuah kunci dari balik jaketnya, dengan segera, lelaki itu membuka gerbang menjulang tinggi yang ada di depan mereka. Astrid pertama menginjakkan kaki di sana, hembusan angin terasa. Dan sebelum Mata memberi izin yang lain masuk, lelaki itu terdiam sebentar dan menatap Astrid yang seolah benar-benar sangat disambut di gedung ini. Tatapan Mata lalu beralih pada Matthew yang juga sudah melangkah, dan hal yang sama terjadi pada lelaki itu. “Kenapa lama, Mata? Apa kami harus menunggu tiket untuk masuk dulu?” “Tidak perlu anak muda, silahkan masuk. Ingat untuk melakukan apa yang tadi aku katakan, jangan pernah menyentuh benda apapun yang ada di sini.” Mata masuk, dan memberikan izin pada yang lainnya. Dan begitu kaki mereka melewati pagar, semuanya terdiam dan terheran-heran. Sama-sekali tidak menyangka jika gedung yang akan mereka tuju adalah gedung klasik di tengah abad modern. Bahkan, gedungnya terkesan sangat mewah dengan sentuhan cat berwarna emas. Taman yang luas, dan beberapa gedung lain yang masih berada di dalam lindungan pagar itu. Sebuah air mancur juga ada di tengah, terlihat sangat menawan dan menambah kesan keindahannya. “Ayo masuk, kalian tidak ingin tertinggal dari Astrid dan juga Matthew bukan?” Melupakan sejenak apa yang membuat mereka terpana, Aress dan temannya yang lain lekas mengikuti Mata yang melangkah lebih dulu. Mereka kembali berhenti di depan sebuah pintu kayu yang terlihat sangat tua, namun masih elegan. “Woh, dari beberapa buku yang gue baca mengenai sejarah, tidak pernah ada ilmuan yang mengatakan jika mereka masih pernah melihat kayu yang sudah lama punah ini.” seru Christopher, “ini adalah sesuatu yang sungguh luar biasa!” “Christ, sejak kapan lo suka sama sejarah? Lo kan anak IPA, bukan IPS!” “Siapa bilang anak IPA gak bisa tahu atau suka sama sejarah? Semua itu tergantung sama pribadi orang masing-masing. Bahkan, ada anak teknik yang sangat suka menulis novel, itu lebih jauh melenceng dari yang seharusnya dia lakukan.” “Christ benar, teman kalian itu sangat bijak. Ayo masuk, selamat datang di akademi bayangan!” “Akademi bayangan?” seru Ben terheran-heran, wajahnya sudah tidak bisa dikendalikan. “Ya, ini adalah akademi bayangan, dan kau sedang menginjakkan kaki di atasnya!”                                                                                                                                       
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD