20 ~ Boo...Kejutan! (1)

2072 Words
  Nafas Grace memburu, dia menatap ke belakang berulang kali. Memastikan jika sosok yang tadi mengejarnya masih jauh darinya. Dirinya benar-benar sial, dan juga diselimuti rasa bersalah. Entah seperti apa saat ini nasib Lia. Yang pasti, Grace memilih untuk berbalik setelah meninggalkan Lia selama 5 menit. Namun sampai saat ini, Lia tak kunjung dia temukan. Hanya ada genangan darah yang berserak-serak di lantai. Bruk Grace terjatuh saat tidak memperhatikan langkahnya. Wajahnya benar-benar sudah berantakan, dan dipenuhi dengan keringat. “Keknya gue dikutuk, sial!” umpat Grace, dia berusaha untuk bangkit dan menepuk celananya yang kotor dan basah karena terkena cipratan air. Sayangnya, gerakan Grace terhenti begitu dia merasakan air yang mengelilinginya mulai bergerak kembali setelah beberapa menit lalu sudah berhenti. Grace mulai merasakan jika bulu kuduknya naik. Aroma busuk, bercampur melati kembali terasa di sekelilingnya. Itu adalah aroma busuk berjam-jam lalu yang membuat Grace berlari terkocar-kacir. Kepala Grace terputar, menatap ke arah samping. Tepat dimana ia merasakan jika ada bayangan yang terpantul dari kaca itu. Tubuh Grace kian mematung, wajahnya kembali memutih seolah tidak dialiri darah. Tatapan Grace tertuju ke arah kaca, tepat dimana seorang bocah kecil, dengan mata merah dan wajah sangat pucat menatap lurus padanya. Terlihat seolah ingin membunuhnya hidup-hidup. Nafas Grace tertahan, dia melangkah mundur. Berusaha untuk setenang mungkin. Dan berusaha untuk tidak berteriak. Mata Grace sudah berkaca-kaca, ini adalah pengalaman terburuk yang pernah dia lakukan. Menjadi pecundang, dan ini adalah kali pertama Grace egois dengan mengorbankan temannya sendiri. Sosok di depan Grace memiringkan kepalanya. “Ke-Te-Mu!” Bisiknya pelan, dengan bibir yang melebar dengan sudut yang robek. Grace menelan ludahnya kasar, berusaha untuk setenang mungkin. “Gue…gue bunuh lo untuk kedua kalinya!” ujar Grace, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia…sejujurnya sudah berada di ambang batasnya. Grace hampir menyerah. Tapi itu tidak mungkin terjadi, Grace bukan orang yang mudah menyerah. Dia masih harus hidup, dia tidak boleh mati sia-sia di sini dan meninggalkan ibunya seorang diri di luar sana. Yang sekarang entah apa yang dilakukannya. Melihat tongkat sapu, Grace lekas beranjak dan mengambilnya. Menjulurkannya kedepan, berjaga-jaga jika sosok itu hendak menyerangnya. “Lo…harus mati, gue bakal bunuh lo lagi!” “Aromanya…harum!” Kening Grace berkerut, dia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh sosok di depannya. Aroma? Aroma apa? Perasaan Grace mulai tidak enak. “Aromanya harum!” Itu suara lain, asalnya dari belakang Grace. Menelan ludah kasar, Grace menilik ke belakangnya, dan sangat terkejut saat mendapati sosok serupa dengan yang ada di depannya, berdiri di belakang, dengan tatapan melotot. Serta dengan senyuman lebar yang membuat tampilannya mengerikan. Sangat mengerikan, hingga kaki Grace mulai bergetar. “Gue bakal bunuh lo berdua, gue…” Sayangnya tidak! Grace lebih dulu terjerembab jatuh saat rambutnya ditarik kasar dari belakang. Tubuh belakang Grace terbentur dengan lantai. Rasa sakit menyerang Grace. Saat ini, Grace semakin kalut saat sosok di depannya—mereka berdua, mendekat padanya. Grace menggeleng kepala keras. Dia lekas bangkit, dan hendak memukulkan tongkat sapu yang tadi dia ambil. Sayangnya, tongkat itu lebih dulu melayang, dan menuju ke arahnya sendiri. Satan kok dilawan! Mata Grace membulat, tongkat itu melayang dan kini tepat berada di depannya. Bersiap untuk menembus masuk ke dalam. “Aromanya…makin harum, Lucy, kita main sama dia yok!” Grace menoleh dan memperhatikan bocah kecil yang memanggil temannya dengan nama Lucy itu. “Kakaknya…pengkhianat. Dia ninggalin temannya dimakan sama Jikininki, jadinya…kita gak kebagian. Aturannya, mereka kan berdua! Kamu mau main sama dia gak, Lana? Aku mau nyari Matthew dulu, dia mungkin lagi…kabur?” Percakapan mereka berdua semakin membuat Grace tidak paham. Apa mereka berdua kenal dengan Matthew? Dan kenapa mereka punya nama? Sepertinya Satan jaman sekarang sudah di upgrade juga. “Lana gak mau main sama dia, mukanya serem. Lana mau main sama Lucy aja, Lana gak suka ditinggal!” Grace mulai tidak terima dikatain serem. Mukanya itu secara nasional, dan dipandang dari gunung Semeru pun masih tetap cantik, dan netral. Setidaknya, dia tidak seburuk yang mereka katakan tadi. Bahkan, banyak kok yang naksir sama Grace. “Lo berdua, kalo ngomong nyadar diri dong. Yang serem siapa, yang dikatai siapa, harusnya lo berdua itu pada nyadar kalo…” Bruak Tubuh Grace terpental ke belakang. Tongkat sapu itu menusuk tepat di bahunya, membuat Grace mendadak linglung. Beberapa menit berlalu, dia baru merasakan sakit yang luar biasa, serta darah yang mengalir dari bahunya. Nafas Grace mendadak mulai tidak stabil juga. Dia menatap ngeri pada dua makhluk yang ada di depannya. Mereka menatapnya dengan tatapan datar, tanpa ekspresi. “Kakak besar jahat. Masa ngatain Lana itu serem? Harusnya kan, kakak sadar siapa yang serem. Lana sama Lucy gak jahat kok, cuman kurang baik aja sama pengkhianat!” Emosi Grace mulai bangkit. Dia berusaha untuk berdiri. Tubuhnya lebih besar daripada dua makhluk di depannya. Dia harus selamat, Grace harus melarikan diri dari tempat terkutuk ini. Dia harus menjumpai ibunya. “Lo…dasar Satan, rasain ini, hiak…” Prang Tubuh Grace kembali melayang dan kepalanya membentur tembok. Membuat darah segar kembali mengalir dari sana. Dua bocah kecil itu tertawa cekikikan melihat Grace yang kesakitan, serta aroma tubuh Grace  yang semakin terasa harum. Jiwa yang dipenuhi dengan dendam, adalah jiwa yang paling harum di kalangan para Satan. Dan Grace adalah satu dari antara pemilik jiwa harum itu. Dan jiwa yang harum, adalah incaran para Satan. Karena mereka, dapat memberikan kekuatan yang tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya. “Lucy, kira-kira, kalo kita makan sekarang, Matthew marah gak ya? Dia kan temannya Matt!” Lana menatap Lucy dengan bola mata besarnya. “Mungkin marah. Tapi kalo Lana mau main-main sama dia, gapapa kok. Nanti Lucy yang tanggung jawab, soalnya, Matt juga terpengaruh sama Astrid. Bocah itu mau nipu Matt!” “Lana gak suka Astrid, dia punya aura membunuh yang besar. Dia gada aroma kehidupan, Lana gak suka. Pokoknya, Astrid harus mati!” “Tapi kalo Astrid mati, Matthew juga bakal ikut mati!” Lana terdiam. Itu benar, dan itu adalah fakta. Jika Astrid ninggoy, Matthew juga pasti bakal ikutan ninggoy. Hadeh, dasar human, mereka itu benar-benar merepotkan. “Lana gak mau main, Lana maunya Matthew. Dia harus main sama Lana!” “Jadi…kita ninggalin dia aja di sini ya?” Lana mengangguk. Plup Bunyi suara itu terdengar, di tambah dengan udara yang terasa jauh lebih baik. Grace menatap kosong ke depan. Hanya hitungan menit hidupnya sudah berubah. Tatapan Grace tertuju pada tongkat sapu yang masih menancap di bahunya. Rasa sakit itu menjalar hingga ke ubun-ubunnya, membuatnya bernafas dengan susah. Grace mulai merasa panas, seluruh tubuhnya panas. Juga dengan air matanya. Entah kenapa dia merasa sangat marah. Matanya berkaca-kaca, menghiraukan rasa sakit yang semakin terasa. Grace benar-benar menyesal. Dia tidak seharusnya berada di sini, dan kenapa harus dia? Kenapa tidak yang lain saja? Hidup Grace berbeda dari teman-temannya. Ada alasan kenapa dia harus egois dan ingin tetap hidup. Grace, terlahir di keluarga yang miskin. Sangat miskin, dan itu sering kali membuat Grace kehilangan kepercayaan dirinya. Dia tidak punya ayah, ibunya berkata jika dulu dia ada karena seorang lelaki b******k menodai ibunya. Dan ibunya yang tidak tega untuk membunuh janin tak bersalah, memilih untuk mengasingkan diri, dan membesarkannya seorang diri. Mereka hidup serba kekurangan. Grace harus berjualan sepulang sekolah, mengajar les, dan semua pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Apapun itu, asalkan dari jalan yang benar. Salah satu hal yang selalu ibunya ajarkan. Grace juga harus mati-matian tetap berada di kelas unggulan. Mengingat banyaknya persaingan di sekolah mereka. Dia juga aktif ikut organisasi agar keberadaannya diakui. Grace…hanya ingin kehidupan yang lebih baik. Kehidupan dimana ibunya tidak perlu bangun pukul 2 dini hari untuk mempersiapkan jualan. Kehidupan dimana dia dan ibunya bisa tidur di ranjang yang hangat, dan jauh dari serangga-serangga pengganggu. Kehidupan sederhana yang aman. Hanya itu. Cita-cita Grace hanya itu, tidak ada yang lain. Namun sayangnya dia malah terjebak dalam ruang lingkup sendiri. Grace jarang mengutuk hidup yang tidak pernah adil, dia selalu mempunyai harapan bodoh bahwa semua orang akan bahagia pada waktunya. Namun ternyata tidak. Hidup akan tetap menjadi sebuah kutukan bagi Grace. Nafas Grace mulai tidak teratur. Dia menangis sesenggukan di pojokan. Memukul dadanya yang terasa sesak beberapa kali, berusaha untuk menghilangkan kebencian dan juga dendam yang ada di dalam pikirannya. “Kamu…butuh bantuan?” Bisikan pelan dari arah belakang Grace membuatnya kembali kaku. Lehernya meremang merasakan dingin yang kembali terasa. Jauh lebih dingin daripada saat Lucy dan Lana mengejarnya. Grace…takut! Dia tidak berani berbalik, bahkan rasa penasaran Grace saat ini sudah punah. Rasa sakit di tambah rasa takut membuat Grace…kehilangan kesadarannya. *** Ben dan Aress masih berkeliling untuk menemukan keberadaan Astrid, dan juga Matthew. Mereka berdua tidak berbeda jauh dari yang lainnya. Kondisi Ben jauh lebih baik dengan semua isi perutnya yang sudah dikeluarkan. “Lo…ngerasa gak kalo Matthew emang aneh belakangan ini, Aress?” Tatapan Aress tertuju pada Ben yang berjalan di depannya, dengan tangan yang memegang tongkat. Berjaga-jaga jika mereka bertemu dengan satan seperti beberapa waktu lalu. “Gue…rasa,dia emang tahu keadaan ini. Tapi bura-bura bego!” lanjut Ben, kali ini mulai merasa lelah. “Hmmm!” “Hmmm….hmmm, aja lo dari tadi! Kenapa? Lo mau berak juga?” “Bukan. Gue lagi menghemat energi, soalnya kita gak makan udah berhari-hari!” Ben berhenti mendadak. Dia mendadak lupa jika perutnya sudah tidak diisi selama beberapa hari. Bahkan, saking lupanya, Ben tidak yakin jika mereka sudah melewati hari-hari. Rasanya masih baru semalam mereka terjebak. Sungguh! Ben tidak terlalu merasa lapar, dia seperti biasanya saja. “Lo…masih marah sama Astrid gak?” Langkah Ben mendadak berhenti. Dia sudah hampir lupa alasan kenapa mereka terpisah. Alasan konyol yang membawa petaka bagi mereka. Tangan Ben terkepal, dia masih tidak bisa melupakan kejadian begitu saja. Dia masih marah, meskipun tidak lagi. Tapi Ben tetap merasa jengkel dengan Astrid, gadis itu selalu saja seperti ini, melakukan tindakan yang benar-benar membuat semua orang kesal. Sebenarnya, Astrid tidak salah 100%, Ben menyadari hal itu. Bahkan, bisa dikatakan jika Astrid sejak dulu memang begitu. Gadis itu tidak akan memberitahu jika tidak ditanya lebih dulu. Harusnya Ben tahu, dan tidak seharusnya dia marah. Ben terlalu bodoh untuk menjadi dirinya saat ini. “Lo…harusnya gak terlalu emosi, Ben. Gara-gara lo,  kita semua jadi kepisah begini. Gue juga gak tahu dimana Lia dan Astrid sekarang!” “Lo kok jadi nyalahin gue? Emang gue pergi ada ngajak lo semua, gada ada kan? Harusnya lo nyaring dulu kalau mau ngomong!” Ben menatap Aress kesal. “Ya gue gak mungkin ninggalin lo sendiri bego, lo gak tahu hidup lo bisa aja melayang dalam sekejap. Astrid lagian gak salah kok, lagian kita udah tahu gimana dia sejak dulu. Dia bukan member baru lagi!” Ben memilih untuk diam. Lebih baik tidak meladeni ucapan Aress, daripada nanti dia kembali menyesal. “Gue cuman kebawa suasana aja pas di sana. Udah…gue yang salah, sekarang gimana?” Mereka berhenti tepat di depan sebuah pintu setelah berjalan melewati lorong panjang sejak tadi. Mereka berdua saling menatap satu sama lain, berpikir apa yang saat ini akan mereka lakukan. Ben juga tidak punya ide. “Lo, mau buka duluan gak?” Aress menatap Ben. “Ogah, lebih baik kita balik lagi daripada gue harus buka pintu ini. Siapa tahu ada yang mengintip dari dalam, gue gak mau jadi korban pertama!” “Jadi, lo mau kabur?” “Gak gitu juga konsepnya. Gue gak mau jadi korban pertama, ya bukan berarti gue bakal kabur jika seandainya ada sesuatu di balik pintu ini. Gue bakal tetap di sini!” Aress hanya memasang wajah ketus. Dia tidak pernah yakin dengan Ben, dan lelaki itu juga tidak pernah bisa dipegang kata-katanya. Tangan Aress terulur lebih dulu, dan hendak menarik pintu itu. Namun, hantu yang membuntuti Ben melarang lebih dulu. Membuat Aress mengerutkan keningnya. “Jangan, di dalam ada makhluk yang lebih berbahaya. Mereka…sangat berbahaya!” Kening Aress semakin bertaut dalam. Dia memperhatikan raut wajah ketakutan hantu-hantu itu. Jujur, Aress juga sebenarnya merasakan aura itu sejak tadi. Tepatnya, 20 langkah sebelum mereka tiba di depan pintu ini. Aura yang berbeda, bahkan Aress tidak pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. “Apa gue, ngintip dulu ya?”usul Aress. Ben mengangguk setuju, namun tidak dengan para hantu itu. Mereka menggeleng, namun tidak mengatakan detailnya. Hal itu membuat Aress kebingungan. Bahkan hantu-hantu itu juga sudah menghilang lagi. Aress mendekatkan kepalanya pada celah yang ada di kenop pintu—tempat yang biasanya digunakan untuk mengintip. Sebelah mata Aress di dekatkan, dan menatap apa yang ada di dalamnya. Sebuah mata merah menyala, yang juga menatap Aress dari balik pintu membuat Aress terkejut setengah mati. Tubuhnya kaku, dan keningnya dibanjiri dengan keringat. “Boo…kejutan!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD