19 ~ Mung-Kin

2109 Words
“Dia udah mati, Trid?” Christopher menatap segumpal tubuh yang berserak di depannya. Memperhatikan dengan detail, termasuk belatung yang melompat dari tubuh satan itu dan menghilang di genangan air yang semakin tinggi. “Harusnya sih, udah!” guman Astrid, dia melangkah mendekat. Kakinya terangkat dan membalikkan tubuh satan di depannya yang sudah hancur. Semua mata yang ada di tubuh satan itu sudah hancur di pedangnya, juga Matthew. Harusnya, itu sudah cukup untuk membunuh sejenis satan seperti ini. “Dia satan jenis apa, Trid?” Christ lagi-lagi bertanya. “Jikininki!” guman Astrid pelan. Dia menemukan sesuatu yang menarik di balik genangan. Dan sebelum itu terjadi, Astrid mengayunkan pedangnya. “Itu ap…” Srak Christopher menahan nafas merasakan angin yang berasal dari pedang Astrid. Lalu menatap ke bawah, 1 satu senti di bawah kakinya, mata itu hancur dan darah terciprat keluar. Mengenai wajah Christopher, mengingat jika jarak yang memang cukup dekat. Tatapan Christopher kini tertuju pada Astrid yang sama-sekali tidak merasa bersalah setelah membuatnya spot jantung. “Daripada dia gigit kaki lo, harusnya lo berterima kasih. Gak udah ngedrama lagi!” seru Astrid yang paham maksud dari wajah Christoper yang membuat moodnya tiba-tiba jadi menurun lagi. Dia tidak suka manusia yang tidak tahu cara berterima kasih. Apalagi human yang tidak termasuk prioritasnya. Macam Christopher misalnya!? “Trid, udah?” Matthew muncul dengan pedangnya yang berlapis darah lebih banyak daripada sebelumnya. Bahkan wajahnya juga di nodai oleh darah yang lebih banyak daripada saat mereka membunuh Jikininki yang ada di depan mereka. Astrid mengangguk. Christopher masih bergelut dengan pikirannya. Dia tidak mengerti jenis-jenis hantu, dan tidak pernah tertarik untuk paham mengenai hal itu. Namun, Astrid adalah kebalikannya. “Trid, lo belom ngasih tahu ke gue apa itu Jikininki.” Astrid menghela nafas, dan mengacuhkan pedangnya tepat di depan mata Christopher. Selangkah saja Astrid maju, mata Christopher pasti akan kena tusuk. Dan sebelum itu terjadi, Matthew lebih dulu menurunkan pedang Astrid yang lebih tajam darinya. Dan memberikan tatapan pada Astrid agar sebaiknya mengurus Lia lebih dulu. “Jikininki itu masuk golongan satan, dia 2 tingkat di bawah lucifer.” “Lucifer? Dia memang betulan ada?” Matthew mengangguk, sambil memperhatikan sekitarnya lagi. Dia khawatir jika ada satan-satan lain yang datang lagi. “Lucifer adalah salah satu dari 7 penguasa dunia per-iblisan, dia cukup diakui di kalangan mereka. Bisa dikatakan jika, Lucifer adalah yang terkuat dari mereka. Lalu jikininki ini adalah 2 tingkatan di bawah mereka. Terdengar konyol jika iblis juga punya piramida rantai kehidupan masing-masing, tapi itulah nyatanya!” Christopher kaku. Dia masih tidak terbiasa dengan itu semua. “Lalu, seperti apa kelebihan satan satu ini?” “Dia…harusnya kuat. Tubuhnya dipenuhi dengan mata, dia juga bisa menirukan bentuk wajah orang lain. Itu sebabnya dia sedikit mirip denganku. Aku pikir, dia pernah melihatku sebelumnya. Semua mata itu nanti akan berubah menjadi mulut, lalu menangkap tubuh lawannya dengan mudah, meremukkannya, dan memakan semuanya. Sampai ke tulang-tulangnya!” Menelan ludah kasar, Christopher semakin di buat seperti orang bodoh saat mendengar kata-kata ‘memakannya’. “Itu berarti, dia salah satu satan pemakan manusia?” “Ya. Dia sangat menyukai manusia!” “Apa maksudnya, dia sangat menyukai manusia sebagai makanannya?” Matthew mengangguk datar. Dia berjalan ke arah Astrid setelah memastikan semuanya sedikit lebih aman. Mereka memindahkan Lia yang masih tidak sadarkan diri ke atas meja yang baru saja Astrid bawa dari dalam kelas. Kaki Lia mulai menghitam, begitu juga dengan punggungnya. “Trid, kaki Lia gimana?” Astrid juga tidak tahu harus menjelaskan apa. Dia menatap Christopher yang terlihat sangat kepo dengan dunia per-iblisan mereka saat ini. Itu…benar-benar tidak bisa dibiarkan. Karena Astrid mager untuk menjawabnya. Astrid melirik Matthew, memberikan kode lagi. “Kakinya, akan menghitam setelah terkena gigitan satan itu. Hal itu tidak akan bisa kembali, bahkan lebih parahnya, semua tubuh Lia akan menghitam. Lalu perlahan dia akan merasakan panas yang membakar semua tubuhnya, dan akhirnya tubuh itu meledak.” Atmosfer di sekitar mulai terasa suram. Christopher mulai panik sendiri. “Lia…Lia tidak akan bisa pulih?” Matthew mengangguk. “Benar! Dia akan seperti ini selamanya, tapi ada satu cara untuk mengembalikan dia seperti semula.” “Bagaimana?” “Kita harus keluar dari gedung ini tepat waktu. Sebelum semuanya terlambat, dan kita benar-benar akan kehilangan dia!” “Lalu, sekarang apa?” Astrid menghela nafas. Dia melorot, menyandarkan tubuhnya di tembok. “Lo capek, Trid?” seru Matthew, ikut duduk lesehan di sebelah Astrid. Lantai yang mereka duduki sedikit lebih tinggi, jadi tidak ada tergenang air. Astrid mengangguk, dan merebahkan kepalanya di bahu Matthew. Dan menatap lurus kedepan. Rasanya seluruh tubuhnya sudah kram saat menggunakannya maksimal. Astrid benar-benar merasa hebat karena sudah pernah menggunakan tubuhnya penuh setelah sekian lama. Dia…jadi ingin tidur lama saat ini, juga…berleha-leha. “Trid…bangun, Lia udah sadar!” bisik Matthew pelan sambil menggoyangkan bahu Astrid. Mata Astrid perlahan terbuka, lalu menatap Matthew, dan juga Christoper yang sepertinya juga tertidur. Lelaki itu masih berbaring di sebelah Lia. Astrid lekas bangkit berdiri, dan menatap Lia yang memang sudah sadar. “Sudar sadar? Bagaimana perasaanmu?” Lia menatap langit-langit, lalu menatap Astrid. Mata Lia mulai berkaca-kaca, dia masih trauma dengan apa yang sudah dia alami. Juga keputusan untuk mengikuti Aress, itu bukan hal yang baik. Karena nyatanya, mereka yang mengajak, dan mereka juga yang meninggalkan. Banyak dramanya. “Trid, gue minta maaf!” Astrid mengerutkan keningnya. “Gue nanya perasaan lo gimana sekarang, ngapain minta maaf coba? Jangan dungu lo, punya otak makanya dipake!” Pedas memang. Astrid bahkan tidak peduli jika perkataannya menyinggung perasaan orang lain. Dia hanya peduli pada perasaannya sendiri, dan juga Matthew. Selain itu, Astrid tidak pernah menganggap apapun yang ada di depannya. Apapun…termasuk hidupnya yang sudah hancur. Lia tidak protes. Baginya lebih baik bahasa kasar seperti Astrid. “Gue udah lebih baik. Tapi kaki gue, rasanya panas bentar, trus dingin banget, gitu-gitu. Gue…takut kenapa-napa!” “Sakitnya mungkin bakal terus menjalar sampai ke semua tubuh lo. Lama-lama tubuh lo bakal hitam karena lo digigit satan. Trus, kalo tubuh lo udah item, lo bakal…MELEDAK..DUARR! Gi-tu, lo pasti meledak sampai ke tulang-tulang, sampai ke…” “TRID!” Astrid yang masih bersemangat untuk bercerita mengenai tubuh Lia yang akan meledak itu berhenti. Dia menatap Matthew yang menghela nafasnya. Kali ini. Lia makin pucat membayangkan apa yang Astrid baru saja katakan. Jika tubuhnya akan meledak pada akhirnya, itu lebih buruk daripada yang dia pikirkan. Lia masih ingin ketemu ibunya, dan minta maaf karena sudah bandel. Setidaknya dia sempat mengatakan hal itu. “Maafin Astrid, Lia. Dia memang selalu heboh kalau cerita soal gituan!” Nafas Lia mulai memanas. Matanya sudah kembali berkaca-kaca, dan sedetik kemudian, suara isak tangis terdengar di sana. Di iringi dengan air mata Lia yang sudah membanjiri wajahnya. Hal itu sontak membuat Matthew menatap Astrid malas. Bisa-bisanya dia bercerita dengan heboh tanpa melihat kondisi orang? Jika ini dalam drama, mungkin Astrid sangat sosok jadi tokoh antagonisnya. “Kok lo nyalahin gue sih, Matt? Jujur itu penting, kalo bohong ntar dia yang sakit. Bodo ah, malas gue lihat human kayak lo. Banyak dramanya, udah kayak ngutang aja!” “Emang kalo ngutang gimana, Trid?” Christopher menatap Astrid kepo. “Lama nunggunya, banyak dramanya.” Chris menahan bibirnya yang hampir melengkung. Astrid itu memang unik. Judes, tapi lucu. Baru kali ini Christoper menemukan spesies manusia seperti Astrid. Biasanya dia selalu dikelilingi dengan manusia-manusia kaku, yang selalu berebutan dengan nilai, peringkat dan semacamnya. Bahkan ayahnya, juga keluarganya. “Lia, lo udah gak nangis lagi?” Astrid kembali bicara, dan menatap Lia yang bahkan sudah tersenyum manis. Dan anggukan Lia menjawab semuanya. “Udah, gue udah baik-baik aja kok, dan gak salahin lo. Kalo mungkin kalian gak datang, gue udah hancur ditelan sama satan itu, satan tadi tu jenis apa, Trid?” “Mana gue tau, emang gue om google apa? Najis gue!” Lia tidak bisa menahan lengkungan di bibirnya, wajahnya yang tadi pucat sudah mulai membaik. Dia turun dari atas meja. Meskipun kakinya terasa sakit, tapi dia tidak bisa terus-terusan berbaring, sebab Lia sadar  jika mereka bukan berada di tempat yang nyaman. Semua tempat di kelilingi oleh bahaya, dan hal yang berada di luar nalar mereka. Meskipun di genre horror-komedi, semua masuk akal. Iya kan? Iyalah, masa enggak! “Lo…kok bisa sendirian, Lia? Yang lain mana, perasaan lo pergi bareng sama Aress!” Matthew yang berjalan di belakang bertanya. Dia sesekali berjaga ke depan, bergantian dengan Christopher. “Mereka…” Lia sedikit terdiam, wajahnya tiba-tiba memerah menahan marah saat mengingat bagaimana Grace pergi meninggalkannya. Bahkan mendorongnya, hingga punggungnya menabrak satan itu. “Jangan bilang lo di tinggal pergi lagi!” bisik Christopher. Lia hanya bisa menundukkan wajahnya. “Masih mending ditinggal pergi. Daripada di tinggal kawin, rasanya…ah gak mantap!” Suasana yang tadinya mulai serem, mendadak berubah saat Astrid menyahut. Lia bahkan terkekeh pelan, sementara Christopher hanya menaikkan sudut bibirnya. Berbeda dengan Matthew yang hanya diam saja, dan memperhatikan wajah kelelahan Astrid. Bahkan perhatikan Matthew tidak lepas dari tangan Astrid yang sesekali memukul pahanya, sepertinya peliharaannya itu sudah lelah. Tapi satu hal yang berubah dari Astrid beberapa jam lalu. Lebih tepatnya usai mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Gadis itu mulai tidak cerewet lagi padanya. Dan mulai…mandiri. Biasanya, jika kelelahan sedikit saja seperti ini, Astrid sudah akan bergantung padanya. Bahkan memaksanya jika Matt menolak. “Gue hanya gak mau nyusahin lo, Matt. Kita semua kelaparan, lo juga pasti. Kalo lo masih harus gendong gue, beban lo nambah ntar. Kalo beban lo nambah, lo cepat MATI. Gue kemana dong? Masa ikutan mati!” bisik Astrid pelan di daun telinga Matthew. Astrid tadi tidak sengaja memperhatikan raut wajah Matthew yang berbeda. Dan seketika dia sadar apa yang sepertinya membuat raut wajah tuannya itu begitu. Matthew mengacak rambut Astrid. “Gue pikir, lo mau nyampakin gue! Kalo mau, bilang-bilang dulu ya, biar gue siapin hati dulu!” Senyuman Astrid melebar. Dia hanya mengangguk, lalu kembali berjalan di belakang Christopher. Lia tepat berada di belakangnya, berjaga-jaga jika gadis itu tidak kuat berjalan, maka Matthew bisa segera menangkapnya. Lia memperhatikan interaksi itu sebentar. Dia tahu jika hubungan Astrid dan Matthew memang hanya sebatas teman—di mulut. Tapi Lia mengartikan jika perasaan mereka berdua itu lebih ke…ambigu. Astrid yang mengklami Matthew sebagai majikannya, meskipun rasa babu, dan begitu juga sebaliknya. “Kalian berdua, kenal sejak jaman kapan? Mulai masuk SMA atau sudah sebelumnya?” Lia bertanya, dia tidak tahan dengan suasana yang sejak tadi mencekam. “Udah lama. Sejak semesta diciptakan!” seru Astrid. Lia ngakak. “Kalau sudah sejak semesta diciptakan, berarti usia kalian berdua sudah…Chris, usia semesta berapaan dah? Gue gak pernah baca berapa usia semesta!” “Sebanyak jumlah bintang di langit keknya!” Astrid ngakak. Untuk kali ini jawaban Christopher benar-benar tidak realistis. Jika usianya adalah jumlah bintang di langit, berarti itu artinya Lia disuruh berhitung sendiri. “Good answer!” bisik Astrid di ujung tawanya, sebelum mereka semua berhenti. Christoper yang tadi memimpin di depan lekas bertukar posisi dengan Matthew. Tatapan tajam Matt kini tertuju pada lantai yang berdarah. Memperhatikan lebih detail, darah itu tidak hanya ada di tempat yang mereka lihat. Sepertinya, itu adalah darah manusia yang di seret-seret, atau mungkin itu darah satan? “Trid, keknya mereka lewat dari sini. Ada kemungkinan ini darah salah satu dari mereka, atau ini darahnya…satan?” Astrid menjatuhkan tubuhnya mendadak. Membuat Lia terkejut setengah mati. Dia sudah hampir teriak, berpikir jika ada yang menyerang Astrid. Beruntung gadis itu memegangi sebelah kaki Matthew, dan memajukan tangannya. Mengambil sampel darah. Astrid beberapa kali mengendusi darah itu. Lalu mengambil sampel yang ada di tempat terpisah. Astrid bangkit dengan wajahnya yang linglung. “Gimana, Trid?” “Ini darah manusia, bukan satan!” Suasana di sekitar mereka kembali tidak baik-baik saja. Astrid menatap wajah Matthew yang juga kebingungan. “Aturannya, kalo mereka bareng Aress, satan-satan itu gak bisa nyentuh mereka. Apa mungkin, itu darah Aress?” “Lia, tadi mereka ninggalin lo bertiga, apa kabur satu-satu?” “Mereka…Aress sama Ben kabur duluan, tadinya, kami itu bertiga nyari Ben. Trus Ben tiba-tiba ketemu di tempat tadi, dia pucet banget. Trus Aress bawa Ben kabur duluan karna Jikininki tadi, trus gue sama Grace.” “Jadi…Grace yang ninggalin lo?” seru Astrid, terlihat kecewa dengan fakta yang baru dia dengar. Lia mengangguk. “Grace ninggalin gue, karena hantu itu nangkep gue duluan. Gue…lemah, gak bisa lari kencang. Jadi… dia pergi!” “Orang yang gak setia, meski dihukum, Lia. Gue pikir, kalian tetap bertahan. Kalo kita berpisah, satan-satan itu bakal lebih cepat buat dapetin kita.” “Jadi…ini darah Grace?” Wajah Lia, juga Christopher kian pucat. Matthew menyandarkan tubuhnya di tembok, dan memperhatikan wajah Astrid yang semakin pucat. Udara di sekitar mereka juga mulai terasa dingin. Dan lebih dingin daripada sebelumnya. “Mung-kin!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD