18 ~ Belatung!

2149 Words
Aress kini mulai menyesali keputusannya untuk pergi sendiri, dia benar-benar merasa sangat-sangat bodoh dengan mengikuti permintaan pikirannya saat ini. Dan masalah terbesarnya, Aress dan temannya tersesat. Sudah berulang kali mereka memutar lorong gelap, yang terasa bau menyengat, namun tak kunjung menemukan jalan kembali. Bisa dikatakan, setiap jalan yang mereka lalui saat ini terasa berubah-ubah. Hal lain, mereka tidak tahu dimana Ben berada. Lia, dan juga Grace berjalan bersamaan di belakang Aress. Tidak berpisah sama-sekali, sesekali mereka memperhatikan Aress yang sibuk sendiri, berpikir sendiri, dan mengambil tindakan sendiri. Benar-benar tidak ada komunikasi dengan mereka. Hal itu sontak membuat Grace sedikit geram, dia tahu dan sadar di kehidupan sekolah biasa mereka, dia tidak terlalu akrab dengan Aress. Bahkan cenderung memusuhi lelaki itu, mengingat Aress adalah salah-satu brandalan di sekolah mereka. “Ress…lo gak mau nanyak gitu ke kita mau ambil jalan yang mana, trus…” “Diem, lo berisik banget. Budek kuping gue ntar!” “Lo…” Lia menahan tangan Grace, berusaha agar gadis itu tidak terjebak dengan omongan menyebalkan Aress. Tidak Astrid, tidak Ben, tidak Matthew, semuanya benar-benar menyebalkan. Hal itu benar-benar membuat Grace geram. Dia tidak bisa bertahan lama-lama dengan manusia macem mereka ini. “Keknya…gue nemu dimana Ben!” seru Aress pelan. Mereka berada di antara dua lorong di antara sisi kiri dan kanan mereka. Masing-masing lorong sama saja, terlihat gelap, dan lembab. Aress bahkan sampai bertanya-tanya darimana asal datangnya air yang membanjiri lantai. “Dimana?” tanya Lia, tak sabaran. “Keknya di lorong sebelah kiri ini deh!” Aress memperhatikan ke arah yang dia tunjuk, sambil menghirup udara, dan melepaskannya lagi, “sebelah kiri ini, bau taik soalnya.” Grace memejamkan matanya pelan, menarik nafas, dan menghembuskannya perlahan. Berusaha untuk tidak memukul wajah di depannya saat ini. Sabar Grace…lo mesti sabar dulu, anak sabar di kasih permen soalnya. “Jadi…kita ke sana?” Aress menggeleng. Membuat Grace, juga Lia kebingungan. Aturannya Aress itu harus mengangguk, kenapa malah menggeleng? “Gue nyari di sini, lo berdua nyari di lorong depan. Biar lebih cepat, gimana? Lo berdua gak terlalu takut kan? Lagian, kalo ada apa-apa lo bisa lari ke sini, dan nyari gue!” “Lo…bego ya? Dari tadi kita jalan, lorongnya berubah terus, dan ga ada lorong yang sama. Apa lo sengaja buat kita gini, mau lo gini ya emang. Gue dari awal udah sadar kalo lo itu emang mau ngejebak kita!” Aress menaikkan sebelah alisnya, dan menatap Grace malas. “Emang ya, cewek itu selalu boros!” “Boros?” “Ya lah, lo ngomong kayak ceramah tau gak sih? Panjang lebar tapi tidak pada intinya. Aturannya, kalo lo gak mau, ya tinggal bilang ‘gak mau’ doang, itu aja dibuat ribet. Dasar cewek! Udah…ikut gue!” “Bajengannnnn…” Aress membalikkan badannya, dan menatap Grace dengan datar. Wajahnya sudah kembali seperti semula, dan tak ada lagi raut wajah ramah. Aress paling benci di bilang seperti tadi, dia…jadi teringat dengan keluarganya. Keluarga bajengan yang membuatnya tumbuh seperti ini. “Grace, lo keknya berlebihan deh. Muka Aress udah datar banget!” Lia  yang sejak tadi diam menyikut lengan Grace sambil berjalan takut-takut. Berbanding terbalik dengan Grace yang berjalan seperti ayam jantan. “Lo diam aja, Lia. Aress emang bajengan yang tidak tahu diri, dia ngomongin gue dari tadi, sialan emang itu anak!” “Dia gak ngomongin lo kok. Tapi dia ngomongin kaum cewek!” “Bodo ah, yok jalan. Lo gak takut apa ditinggal sendiri?” “Ya takutlah, masa enggak!” “Makanya, kalo lo takut, jangan diam aja dan nerima apa yang dia bilang mentah-mentah, kita punya hak buat nolak!” Lia seketika menatap Grace dengan pandangan yang berbeda. Mata Lia berkaca-kaca saat menatap wajah teguh Grace. “Ngapain lo natap gue gitu? Jangan bilang lo…lesbian lagi, gue jujur anjir, najis banget.” “Bukan! Gue lagi mandang lo dengan terkagum-kagum gini, lo kek malaikat banget, tau gak sih? Cara lo bicara, dan ngomong tuh, gentle banget. Gue jadi…demen!” “Lo mau ngomong sampai kapan? Ntar hantu-hantunya pada sadar lagi, pake otak ya kalo lagi ngomong, jangan make naluri.” “Napa kalo gue make naluri? Cewek tuh peka karena selalu make naluri, tau gak?” Grace nyolot, dan menatap Aress tajam. “Mirip anjing!” “Mirip apa lo bilang?” Aress menaikkan bahunya dan bergegas memimpin jalan kedepan. Tidak peduli dengan amukan Grace yang berada di belakangnya. Dia hanya ingin mencari Ben sebelum terlambat. Dia tidak ingin temannya itu mati konyol di gigit Satan. Buku kuduk Aress mendadak berdiri saat mereka melewati sebuah pintu dengan bercak darah yang mengotori pintunya. Lia dan juga Grace juga mendadak berhenti dan menatap ke arah pintu itu. Auranya beda, rasanya ada sesuatu yang berada di balik pintu. “Lo…ngerasa ada yang aneh gak?” Grace kali ini mengangguk di ikuti oleh Lia. Mereka juga merasakan bulu kuduk mereka berdiri saat melewati pintu bernoda darah itu tadi. Hal yang membuat mereka ngeri adalah, melihat noda darah yang terasa masih sangat baru. Itu…benar-benar terlihat mengerikan. Aress mendadak berbalik, dan menatap ke arah lorong yang mereka lewati sebelumnya. Rasanya ia melihat ada sesuatu yang melintas dengan cepat dari sana. “Kita harus cepat jalan deh, jangan sampai kita nyesel!” bisik Grace yang tadi juga merasa aneh. “Sekarang!” guman Aress. Dia berlari lebih dulu, meninggalkan Grace dan juga Lia yang tidak siap dengan aba-aba mendadak dari Aress. Mengumpat sebentar, Grace lekas menarik tangan Lia yang mendadak kaku di tempatnya untuk berlari mengikuti kemana Aress berlari pergi. Aress berhenti di depan perempatan lorong, begitu merasakan ada aroma lain. “Loh…Aress?” guman Ben yang terkejut. “Lo di sini?” “sttt…” Ben menunjuk ke depan. Aress mendadak kaku, dia menatap lurus kedepan. Grace dan juga Lia yang baru saja tiba ikut menatap ke depan, tubuh mereka mendadak kaku. Di depan mereka, tubuh yang dipenuhi dengan cairan hitam, sepertinya oli, membelakangi mereka. Rambutnya panjang, dengan darah yang menetes dari tangannya. Menatap ke arah tangan, Aress semakin menelan ludahnya kasar saat menatap darah itu ternyata berasal dari tangan yang dipenuhi dengan belatung. Dan melihat kakinya yang memijak ke lantai, Aress menyimpulkan bahwa dia…undead!? “Sekarang apa?” seru Ben dengan mimik mulut, dia benar-benar berusaha untuk tidak berteriak ketakutan. Sudah cukup beberapa jam lalu dia berlari terkocar-kacir saat di kejar-kejar sosok yang kini sudah ada di hadapannya. Aress menatap Grace, wajahnya sangat pucat, dan menatap jijik ke arah depan. Lia hampir saja pingsan, beruntung Grace memegangi gadis itu. Dan menahan agar badannya tidak terjatuh dan malah membuat kehebohan lagi. Sayangnya, mereka tidak punya pilihan lain, Aress menahan nafasnya saat menatap di depannya itu mulai membalikkan badannya. “LARI!” Teriak Ben dan juga Aress bersamaan, mereka lebih dulu kabur ke belakang. Meninggalkan Grace dan Lia yang lagi-lagi bingung harus berbuat apa. Grace menahan nafasnya saat menatap wajah itu, luka sayatan ada di sepanjang mata, turun ke pipi sebelah kirinya. Selain itu, juga ada luka-luka kecil lainnya, dari sana keluar belatung yang mengotori wajahnya. Rambutnya bau busuk, dan ulat-ulat tadi merangkak masuk, dan memasuki rambut panjang itu. Matanya melotot keluar, dan jika diperhatikan lebih jauh lagi, sosok itu mirip dengan…Matthew? Grace menggelengkan kepalanya, tidak mungkin itu adalah Matthew. Dia cukup trauma dengan satan yang bisa mengubah bentuk dan menjadi mirip dengan Astrid. “Lia…lari!” Grace menarik tangan Lia, dan mengejar ketertinggalan mereka dengan Benedict, juga Aress yang sudah entah dimana. “ARGHHH…GRACE, TOLONG!” Lia berteriak saat kakinya menyandung besi saat berbelok. Wajahnya terjerembab dan menyapa lantai yang basah. Grace mengumpat, dia yang sudah beberapa langkah di depan Lia kembali mundur dan membantu Lia. “Cepatlah, berdiri!” “Kakiku…kakiku berdarah, Grace. Tolong, jangan tinggalkan aku sendiri di sini!” Grace semakin panik, dia benar-benar tidak tahu harus pergi atau membantu Lia saat ini. Sementara hantu itu sudah berada tepat di depan mereka. Tatapan Grace dan hantu itu saling berjumpa, Grace menelan ludah kasar. Dia sudah dibanjiri dengan keringat dingin. “Grace, tolong!” Lia merintih kesakitan. Berusaha untuk bangkit berdiri, matanya yang terkena air kotor sedikit sakit. Dia harus mengedipkan matanya berkali-kali untuk bisa melihat dengan jelas. Berhasil. Lia berhasil bangkit berdiri, sekalipun kakinya masih berdarah. Lia mengambil tangan Grace yang terulur, berusaha untuk lari dengannya. Sayangnya, Lia tidak bisa bergerak. Dia merasakan sesuatu yang dingin memegangi kakinya. Menelan ludahnya kasar, Grace dan juga Lia saling menatap satu sama lain. Lalu menurunkan pandangan mereka dan menatap ke bawah. Tepat pada kaki Lia yang tengah menghitam sebelah, tertimbun oleh sesuatu yang memegangnya dari arah belakang. “ARGH…TOLONG…TOLONG AKU, GRACE! JANGAN TINGGAL AKU!” Lia semakin panik, dan kalut. Grace juga sama, dia menelan ludahnya kasar saat menatap sosok yang dipenuhi dengan belatung dan wajah hancur itu tepat berada di bawah, memegangi kaki Lia. Giginya keluar. Runcing, dan berdarah. Grace menelan ludahnya kasar. Dia takut, jika sosok yang mereka temui kali ini adalah sosok  hantu pemakan daging manusia. Grace harus mengakui jika ia sedang ketakutan dan juga bimbang apakah harus membantu Lia. Dan ego Grace lebih besar. Dia menarik tangannya dari genggaman Lia, dan mendorong tubuh gadis itu ke belakang. Menyebabkan tubuh Lia kini berada di atas tubuh hantu itu. Lia semakin sesenggukan dengan keras. Grace menahan langkahnya sejenak dan menatap dengan mawas diri. “Gue…gue pergi, maaf, Lia. Lo harus nyelamatin diri lo sendiri!” “Grace, tolong…tolong jangan tinggalin gue. Please!” Mata Lia melotot saat sesuatu menembus punggung belakangnya. Dia merasakan dingin di area sana. Teriakan Lia semakin histeris, dia berusaha untuk bangkit, sayangnya tidak biasa. Lia bukan gadis yang lahir dengan sempurna. Dia lahir dengan keadaan yang berada di ambang hidup dan mati. Hal lainnya, meskipun Lia bisa hidup sampai sekarang. Faktanya, dia tidak bisa melakukan apa-apa sendirian. Dia lemah. Sangat lemah, hingga Lia sering kali merasakan bahwa Tuhan itu tidak adil. Kakinya hanya bisa dipakai 9-10 menit berjalan, jika lebih dari itu, Lia harus mengambil jeda sebentar untuk mengistirahatkan tubuhnya. Lia juga sangat lambat dalam berpikir, dia benar-benar tidak sempurna. “Dia…meninggalkanmu. Temanmu berkhianat. Penghianat harus di kasih hukuman!” Bruk Tubuh Lia terjerembab ke samping, dia meraih apapun yang bisa diraih oleh tangannya. Wajahnya dipenuhi dengan air mata. Dia terlihat mengenaskan. Sosok itu merangkak mendekat. Mata-mata keluar dari semua tubuh sosok hantu itu. Bahkan dari tangannya. Lia menangis sejadi-jadinya, dia benar-benar ketakutan saat ini. Tubuhnya benar-benar gemetar hebat. Lia menggeleng keras. Berusaha untuk menghentikan agar hantu itu tidak menyentuh kakinya. “Tidak. Tolong jangan sentuh aku, tidak! JANGAN!” Teriakan Lia berakhir dengan sia-sia. Dia menggigit bibir bawahnya kasar saat merasakan sakit yang luar biasa di kakinya yang baru saja ditangkap oleh sosok di depannya. Lia semakin menangis hebat, dia menatap wajah itu yang semakin dekat dengannya. “Tolong, jangan sentuh aku. Apapun bakal aku kasih, kecuali nyawa. Tolong…jangan sentuh aku!” isak Lia, dadanya naik turun karena lelah menangis dan karena ketakutan yang luar biasa. Sayangnya, isakannya tidak berarti bagi sosok yang kini ada di depannya. “Aku…maunya nyawa loh, aku gak butuh apapun dari kamu!” Isak tangis Lia semakin hebat. Seluruh tubuhnya sudah bergetar hebat. Seharusnya…seharusnya Lia mendengarkan larangan dari ibunya sebelum ikut berkemah di sekolah. Ibunya sudah melarang Lia untuk ikut, sayangnya, Lia bandel. “ARGGHHH…SAKIT…SAKIT…SAKIT!” teriak Lia saat merasakan kakinya dililit kuat. Hantu…mungkin satan itu melilit kakinya kuat. Begitu kuat, hingga Lia merasakan jika kakinya saat ini mulai hancur. Sebelah matanya satan itu, yang tepat berada di bahunya terbuka lebar. Dia menatap lurus ke arahnya, membuat Lia ingin muntah. Mata itu perlahan terbuka lebar, lalu berubah menjadi lidah yang dipenuhi dengan liur. Keluar dari sana, dan kini sudah menangkap kaki Lia yang lain. Lia berusaha untuk meronta, sayangnya itu tidak berhasil. Dia benar-benar sudah ketakutan. Krek Arghhh Lia berteriak hebat saat kakinya yang lain juga terasa patah. Lia benar-benar menangis hebat, dia tidak bisa menahan rasa sakit yang kini ada di tubuhnya. Perlahan, Lia juga merasakan perutnya di lilit. Lia menahan nafas saat merasakan kepala yang dipenuhi dengan belatung itu terbelah. Dan mengeluarkan mata yang lebih besar, dan perlahan mata itu berubah menjadi lidah. Ukurannya jauh lebih besar daripada yang lain, dan itu semakin dekat padanya. Lia semakin histeris, dia menggelengkan kepalanya ke kanan dan samping, berusaha untuk mencari pertolongan. Lidah itu semakin dekat, sangat dekat, Lia bahkan memejamkan matanya saat kepalanya mulai merasakan air liur yang terasa sangat dingin. “TOLONG…” Bruk “Ambil lidah itu, Matt!” Lia membuka matanya dan menatap Astrid yang kini ada di depannya. Gadis itu memenggal lidah-lidah yang mengikat kakinya. Lalu menarik pedang tajamnya lagi dan Srakk—memutus lidah yang menembus tulang punggungnya. Sementara Matthew menghindar sebentar. Lalu menghilang, dan mendarat tepat di sebelah Astrid. Matthew kembali menghilang, dan Srakk Memenggal lidah terbesar dari tubuh satan itu. Teriakan dari satan itu membuat Lia memeluk tubuh Astrid semakin erat. Dia sesenggukan, dan mulai kehilangan kesadarannya. Bruak Tubuh satan itu hancur, begitu Matthew menusuk mata yang tepat berada di tengah perutnya. Bersamaan dengan Lia yang kehilangan kesadarannya, dia sempat melihat jika kakinya dipenuhi dengan belatung yang melompat-lompat. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD