FlashBack
“Lo…mau kemana?”
Astrid yang tengah rebahan di ruang tengah sambil memakan banyak coklat menatap Matthew dari ujung kepala, hingga ujung kaki. Terlihat rapi, seolah ingin pergi ke Party. Hal itu membuat Astrid yang malas tingkat dewa bangkit dari sofa empuknya, dan menatap jam dinding.
“Ini udah…tengah malam juga!”
Matthew kaku. Entah bimbang, dan takut, dia tidak tahu harus menjawab apa.
“Gue ada perlu bentar, gue tinggal gapapa kan, Trid? Gue gak lama kok!”
“Ya, gapapa kok. Asal kamu ingat jalan pulang aja!”
Matt menghentikan langkahnya di ambang pintu, dan menatap Astrid yang…sudah kembali rebahan. Tanpa ada rasa curiga padanya. Hal itu membuat Matthew sedikit merasa bersalah.
Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri begitu Matthew berada di dalam mobilnya. Dia memperhatikan dari balik kaca, dan sosok lelaki dengan jubah hitam, dan lebih tinggi darinya duduk di belakang. Tepat di kursi paling pojok sebelah kiri.
Tidak menunggu waktu banyak, Matthew lekas melajukan mobilnya menuju bekas rumahnya dulu. Yang sudah bertahun-tahun terbengkalai. Tidak ada siapapun di sana, benar-benar kosong. Kendati begitu, rumah itu tetap menyimpan banyak kenangan untuknya.
Sekalipun bisa dikatakan, bukan kenangan yang dia inginkan.
Kelelawar terbang menjauh begitu pintu pagar yang terdengar ngilu terbuka. Besi berkarat itu benar-benar terlihat mengenaskan. Tua dimakan umur. Besi yang hancur karena karatnya. Mobil Matt terparkir di depan rumah lantai dua itu.
Pintu terbuka, dan ruangan gelap menyapa mereka. Matthew mengambil langkah pertama, dengan perasaan bimbang. Dia menekan saklar, dan lampu redup menyala.
Ruangan kosong melompong, tidak ada furnitur yang tertinggal. Semuanya sirna ditelan usia, dan lapuk yang merongsokkan mereka. Terlihat tidak baik-baik saja. Di tembok, terlihat bekas cakaran, dan bercak darah yang sudah hitam.
Kejadian itu…Matthew masih ingat dengan jelas.
“Kamu yakin?”
Sosok yang sejak tadi mengikutinya baru membuka suara ketika pintu rumah Matthew tertutup rapat. Auranya dingin, menusuk kulit hingga ke pori-pori.
Matthew tiba-tiba tersadar, jika ada yang salah. Dia…tidak seharusnya meninggalkan Astrid seorang diri di rumah. Terlebih, hari ini…adalah harinya.
Dengan segera, Matthew berbalik dan melangkah keluar. Melewati sosok berbaju hitam.
“Maaf, aku mungkin merindukan ‘mereka’, tapi tidak ada jalan lain untuk mengembalikan mereka seperti semula. Aku…pergi dulu!”
Matt sudah berada di tengah jalan menuju mobilnya, hingga badanya tiba-tiba kaku. Nafas Matthew mulai memburu, dia menatap lurus kedepan. Dimana sosok berjubah hitam tadi kini sudah menunjukkan jati dirinya.
Wajah rupawan namun mematikan, rambut ikal terjuntai dan beterbangan di sapa angin, dan pakaian mewah bak kerajaan. Serta pedang dengan dua ujung tombak yang ada di tangannya. Dia terlihat menawan, sangat menawan, hingga semua bulu kuduk Matthew berdiri.
Dia…sedikit gentar.
“Apa kau pikir, kau bisa membatalkan perjanjian yang sudah kau perbuat sendiri, Matthew?”
“Lepaskan aku, b*****h. Kau yang datang padaku malam itu, dan menawarkannya. Bukan aku yang mendatangimu lebih dulu!”
Seringai lawan bicara Matthew semakin lebar. Aura hitam itu mulai terasa jauh lebih mencekam daripada sebelumnya.
“Ibumu tidak mengajarkanmu cara bertata krama rupanya, itu sebabnya dia perlu di panggil dari neraka, Matt. Agar ada yang mengajarimu untuk memiliki rasa hormat. Tatapan itu…”
Wushhh—angin kencang seketika menguasai mereka, di tengah lapangan.
Mata Matthew terpejam sebentar, dia menatap kedepan, dan sosok itu menghilang.
Bruk
Tubuh Matthew terjatuh ke tanah begitu dia merasa tidak ada lagi yang mengikat tubuhnya. Rasanya seperti ada sesuatu yang lain, dan auranya juga berbeda.
Namun Matthew tidak mengambil pusing, dia lekas memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya, menjauh dari pekarangan rumahnya yang sudah tidak terawat.
“Kau ikut campur lagi, anak surga!”
“Aku sudah mengatakan jangan mengganggu dia. Bocah itu bodoh, dan tidak tahu siapa dirinya. Harusnya kau tahu sedang mengganggu siapa!”
“Keluarganya berhutang nyawa padaku, sekali lagi aku peringatkan kepadamu, jangan coba-coba ikut campur lagi dengan urusanku. Atau jika tidak, aku akan mengibarkan bendera perang antara neraka dan surga.”
“Tidak apa. Aku juga tidak akan pernah melarangmu, sebab itulah adanya. Aku…ditugaskan untuk melindungi bocah-bocah dungu itu!”
“Kau…”
Makhluk putih tadi menghilang ditelan cahaya. Membuat lelaki dengan tampilan serba hitam itu menggeram kesal di tempatnya.
“Well…well…well, dia yang mengajak duluan!”
***
TOK…TOK…TOK
Matthew kehilangan kesabarannya, dia mengetuk pintu rumah semakin kasar dan tidak sabaran, namun tak kunjung mendapati seseorang membukanya.
Tendangan Matthew hendak melayang, beruntung pintu terdengar dibuka dari dalam, dan membuat Matthew menahan dirinya.
Wanita paruh baya yang baru membuka pintu itu tersenyum ramah, seperti biasanya. Lalu menilik ke dalam rumahnya, dimana jam yang ada di tengah ruangan masih menunjukkan waktu yang kurang tepat.
“Apa kau mencari Astrid subuh-subuh begini, nak Matt?” ujar Anna, wanita paruh baya yang tadi menyambut Matthew dengan sangat welcome. Pintu terbuka lebar, memberikan akses bagi Matthew untuk masuk—seperti biasanya.
“Ma…maaf tante, aku pikir tante masih tidak kembali. Aku khawatir jika Astrid kenapa-napa, dimana dia?”
“Astrid? Dia tengah tidur di kamarnya. Masuklah, apa perlu tante membuatkanmu teh hangat? Wajahmu terlihat pucat, dan juga berkeringat!”
Matthew menggeleng.
“Tidak perlu, tante. Aku tidak apa-apa. Aku ingin bertemu dengan Astrid dulu!”
Anna menatap punggung Matthew yang menghilang dibalik tembok kamar putrinya. Dia tersenyum hangat, lalu menghela nafas.
“Andai dia…mau menikahi putriku!” gumannya, lalu lekas menutup pintu rapat-rapat, dan kembali ke kamarnya.
Tatapan Matthew tertuju pada segumpal daging yang tengah terbaring di kasur dengan keadaan…baik-baik saja.
Langkah Matt semakin mendekat, dan berhenti di tepi ranjang. Memperhatikan wajah Astrid yang damai saat tertidur seperti ini. Rasanya Matt ingin terus menatapnya untuk waktu yang lama.
Astrid mulai bergerak gelisah, dia membuka matanya dan tatapan sayunya tertuju pada Matthew. Astrid lekas bangkit dari tidurnya, dan menatap Matthew bingung.
“Kenapa lo ada disini?” menatap jam, Astrid kembali menguap tak kala tidurnya di usik.
“Lo…baik-baik saja?”
Astrid mengangguk, lalu menatap Matthew dengan kening berkerut. Wajah Matt yang masih pucat dan keringat yang membanjiri wajahnya membuat Astrid bertanya-tanya. Namun dia lebih dulu memasuki pelukan Matthew yang selalu terasa nyaman.
“Maaf, gue agak lama ya?”
Merasakan anggukan Astrid di dalam pelukannya membuat Matthew lekas menaiki kasur lagi dan memeluk tubuh Astrid yang sudah kembali tenang.
Gadis itu…sepertinya sudah kembali tidur lagi.
“Lo gak nanya gue darimana, Trid?”
Tidak ada jawaban.
“Gue tahu lo belom tidur!”
Dan itu benar. Astrid memang mengantuk, namun dia tidak bisa lekas tidur lagi. Dia sulit tertidur di malam hari seperti ini. Astrid selalu terjaga, untuk alasan yang bahkan tidak diketahui. Yang pasti, itu tidak enak.
Menarik tubuhnya dari dekapan Matt, Astrid kini menatap Matthew lurus.
“Emang kalo gue nanyak, lo bakal kasih tahu? Yang pasti, lo pasti pergi ke tempat aneh lagi kan? Setiap lo mau pergi ke tempat gituan, lo gak pernah ngomong ke gue!”
“Trid…”
“Jadi…gue pikir gada gunanya mau nanya ke lo lagi!”
“Trid…”
“Matt, gue ngantuk. Mau tidur, kamu temenin gue, sampai tidur lagi!”
Matthew menghela nafas, dan hanya bisa mengangguk. Dia berdiri, dan memperbaiki posisi selimut Astrid. Lalu menatap gadis itu yang sudah mulai memejamkan matanya. Matt dengan segera mengelus kepala Astrid.
Salah satu hal yang membuat Astrid cepat tertidur kembali adalah dengan mengelus kepalanya. Seperti kucing yang memiliki lakon yang sama.
FlashBack End
“Jadi, lo…mau numbalin gue lagi…benar gitu, Matt?” bisik Astrid lirih.
Kali ini dia benar-benar tidak lagi bisa berkata apa-apa, Matthew yang diam dan tidak menjawab pertanyaan darinya benar-benar sudah cukup membuatnya sadar apa yang menjadi penyebabnya. Astrid mengenal Matthew, sangat kenal, dan mungkin, tanpa ada Matthew. Astrid tidak akan pernah ada lagi.
Majikan yang menyelamatkannya dari maut yang hampir merenggut nyawanya.
Itu, benar-benar berada di luar jangkauan, dan juga kendali Astrid. Malam itu adalah malam-malam paling kelam yang pernah Astrid alami. Dia…mungkin tidak akan pernah menjadi bagian dari perjalanan ini lagi, tanpa ada Matthew.
Dan anggukan Matthew, membuat Astrid tidak bisa berkata apa-apa. Dia…tidak kecewa, Astrid tidak merasakan apa-apa.
“Kita…harus nyari yang lain, Matthew. Gue takut, kalo mereka kenapa-napa!”
“Wait, tunggu sebentar. Kenapa lo pada ngomong hal yang gue gak paham? Sebenarnya ada apa, dan kenapa terjadi hal-hal seperti ini. Gue…gak tahu kenapa kalian berdua mendadak sok misterius gini!”
Matthew mengepalkan tangannya, dan menundukkan wajahnya.
“Kamu tidak bisa lepas dariku, dan kamu sudah terikat. Jadi…aku akan memberikan tugas pertama yang harus kamu lakukan, agar kau bisa melihat orang tuamu lagi, Matthew!”
“Aku sudah mengatakan untuk tidak….”
“Jika menghindar, maka nyawa gadis itu yang akan menjadi taruhannya. Dia…istimewa, kau tahu itu, bukan begitu?”
“Sialan!”
“Kau harusnya tahu, jika bekerja sama dengan iblis, tidak pernah mudah dan tidak pernah ada jalan untuk kembali, Matthew. Kecuali kau bisa membunuhku!”
Itu adalah alasan kenapa Matthew, berada di sini. Alasan yang tidak pernah dia pikirkan dengan matang-matang sebelumnya.
Semuanya, sudah terlambat.
Matthew sudah menandatangani kontrak kerja samanya dengan iblis. Keluarga Matthew memiliki aliran yang sesat, mereka adalah keluarga pemuja iblis. Itulah kenapa Matthew bisa berbicara dengan mereka. Dan beberapa tahun lalu, semuanya benar-benar hancur.
Karena Astrid, Matthew memutuskan untuk mengorbankan ayah dan ibunya, juga adik kecilnya. Mereka terbunuh demi membebaskan Astrid, dan juga Matthew.
Namun, entah kenapa ada sesuatu yang membuat Matthew merasa terbodohi. Hingga dia membuka kembali sejarah kelam itu, dan kembali menempatkan Astrid dalam bahaya.
“Trid, gue…gue minta maaf. Entah kenapa, malam itu….”
“Gue percaya kok sama lo, Matt. Gue yakin lo gak ada niat buruk sama gue, jadi…sebelum semuanya terlambat. Kita harus nyari yang lain!” Astrid tersenyum tulus, sangat tulus hingga Matthew merasakan sakit di dadanya.
Dia tahu jika Astrid pura-pura kuat deminya.
Dan itu adalah hal yang paling menyakitkan bagi Matt.
“Maaf, gue pasti bakal bawa kita keluar dari sini.”
“Tapi kita gak bisa keluar sebelum mecahin apa yang terjadi di sini 7 tahun lalu, Christ. Gue merasa jika…kita memang di jebak di sini!”
“Lo…”
Astrid mengangguk.
“Gada aura kehidupan yang tersisa. Semuanya…terasa gelap. Tanpa memecahkan apa yang terjadi 7 tahun lalu, kita…gak bisa keluar. Dan itu adalah jalan satu-satunya!”
Matthew semakin merasa bersalah, dia menghela nafas. Dan menatap Astrid dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Benar-benar tidak mengira jika mereka, benar-benar terjebak di sini.
“Kita, pasti bisa keluar!”
Matthew membawa Astrid berdiri. “Pertama, kita harus nyari keberadaan Aress sama yang lain dulu!”
Mereka hendak pergi, namun tertahan karena Christopher yang memegangi tangan Matthew dengan marah. Raut wajah Christopher kali ini benar-benar tidak biasa. Dan Matthew sadar dengan hal itu.
“Gue tau, gue salah, Christ. Tapi gada waktu buat dibuang-buang, kita harus segera cari Aress, karena dia sama dengan Astrid. Juga dengan teman-teman kita yang lain. Kalau tidak, kita gak bakalan bisa keluar dari sini, selamanya!”
“Lo…emang b******n, Matt. Andai gue tahu dari awal rencana lo kayak gini, gue gak bakal mau ikut. Gue yakin lo yang ngejebak gue disini juga, gitu kan? Lo emang benar-benar b******n!”
Tidak ada bantahan.
Mereka saling menatap beberapa menit, Matthew juga tidak bisa membela dirinya. Dia egois, dan apa yang Christoper katakan, memang benar adanya.
Dia memang sengaja menjebak Christopher juga. Karena dia tahu jika Christoffer itu pintar, dan bisa membantunya nantinya.
“Gue…”
Bruk
Tubuh Matthew terjerembab ke belakang, Christopher kembali melayangkan pukulannya, tepat mengenai wajah Matthew.
“Lo…berani-beraninya mukul dia!” guman Astrid, menatap Christoper dengan datar.
Bruk
Tubuh Christopher melayang, dan terjerembab di sebelah Matthew. Astrid membenarkan posisi rambutnya yang berantakan usai melakukan tendangan bebas yang tepat mengenai perut Christopher. Gadis itu kembali beranjak, dan menginjak perut Christopher.
“Gue…bakal nuntut lo coklat 1 gudang kalo sampe Matthew gak bisa ngeluarin kita dari sini, g****k!”
“Trid, udah! Itu wajar saja, karena memang gue ya…”
Bruk
Mata terkejut saat merasakan pukulan di wajahnya lagi. Darah keluar dari hidung Matthew, dia terjatuh ke tembok dan menatap Astrid dengan bingung.
Christoper yang tadi hendak marah, tidak jadi karena menatap Astrid yang juga memukul Matthew.
“Lo juga…goblok! Dasar jingan, lo udah buat gue gak mager lagi. Lo emang-emang sialan!”
Christopher menelan ludahnya kasar. Lalu mundur selangkah saat menatap Astrid yang juga menatap ke arahnya dengan tatapan marah. Seolah ingin memakannya hidup-hidup.
“Lo gak bisa mukul dia, karena hanya gue yang bisa mukul dia! Lo...paham, kan?”
Anggukan Christoper otomatis, dia menelan ludahnya kasar. Ternyata Astrid punya sisi yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Dia tidak pernah tahu jika gadis yang terkenal pemalas itu juga memiliki sisi seperti ini.
Sisi yang menakutkan.
Memang, marahnya orang pemalas memang jauh lebih menakutkan daripada orang pemarah yang kerjaannya hanya marah-marah terus, tanpa ada jeda.
“Lo…gak papa, Matt?” seru Christ, dia akhirnya memutuskan untuk membantu lelaki itu untuk bangkit berdiri.
“Ya ada apa-apalah, bego. Lo juga mukul dia tadi, masak lo nanya pertanyaan klise seperti itu?”
Diam sejenak.
“Dasar human!”