"Anakkuuu!" teriakan wanita itu masih bisa Riana dengar saat tubuhnya luruh ke tanah. Tetapi matanya terpejam dan tubuhnya tidak lagi bisa dia gerakkan.
Wanita yang tidak lain adalah ibu kandung Riana itu, memeluk Riana yang tidak lagi mampu bersuara. Sedih, sakit, malu dan menyesal menjadi satu dalam benak Parti.
Parti yang hendak menyusul sang putri ke gubuk sawahnya, mendadak terkejut melihat pemandangan yang sama sekali tak ingin di lihatnya.
Putri kesayangannya di arak bersama seorang laki-laki asing yang tampan dan sama sekali tak dia kenal.
"Ada apa Nak? Kenapa bisa jadi begini?" tangis Parti pecah melihat keadaan putrinya yang sungguh menyesakkan dadanya. Tanpa bantuan warga yang lain, Parti berusaha menggendong Riana masuk ke salah satu ruangan yang ada di balai desa.
Karena umurnya sudah kepala empat, nafasnya ngos-ngosan ketika sudah berhasil mengamankan putri kesayangannya dari bully an atau amukan warga. Parti yang sebenarnya belum tahu pasti kejadiannya, sedikit banyak mengerti apa yang terjadi, karena ada laki-laki asing yang ikut di arak menuju balai desa.
"Ayo, adili dia! Sebaiknya arak keliling kampung. Pemuda tak tahu diri!"
"Perusak! Enyah kau sekarang juga!" Terdengar suara pukulan bersamaan dengan teriak kesakitan yang melengking lagi. Entah bagaimana wujud laki-laki itu sekarang yang tengah menjadi bulan-bulanan warga.
"Sebaiknya nikahkan saja keduanya sekarang juga."
"Dasar gadis yang munafik. Pura-pura lugu tidak tahunya mojok sama laki-laki asing."
Cuih!
Beberapa warga berusaha membuka pintu ruangan yang sekarang ada Parti dan Riana di dalamnya. Dengan sekuat tenaga Parti menghalau mereka dengan mengganjal pintu dengan tubuhnya. Sedangkan kunci di pintu itu tak di sadari keberadaannya karena panik.
Meskipun tidak bisa masuk, warga yang geram dengan kelakuan Riana meludahi pintu dan menggedor nya dengan suara keras.
"Tenang, tenaaang! Saya harap semua tenang! Ini masalah yang serius. Sebaiknya kita bicarakan baik-baik. Jangan main hakim sendiri. Tolong semua duduk dan dengarkan pembelaan pemuda ini." Pak Carik berusaha melerai dan mencegah penganiayaan yang lebih berat lagi.
"Kebetulan Pak Dirman sudah datang, mari kita bicarakan semuanya dengan kepala dingin."
Dirman ayah dari Riana datang dan murka setelah mendengar penjelasan dari Pak Carik tentang kejadian yang sebenarnya.
"Kamu siapa?! Kenapa kamu tega berbuat c***l pada anakku?!" Beberapa orang berhasil mendekap tubuh Dirman saat laki-laki itu hendak melayangkan bogem mentah ke wajah Dewa yang sudah tidak lagi berbentuk.
"Saya akan menikahinya." sahut Dewa dingin tanpa menjelaskan siapa dirinya.
"Kamu punya apa untuk menikahi Riana, Ha?" kali ini pemuda yang bernama Sobri, penggemar berat Riana yang turut bicara
"Saya akan mengambil sesuatu yang saya tinggalkan di gubuk tadi. Barang-barang saya tertinggal di sana."
"Biar saya yang ambilkan, takutnya dia kabur nanti." sahut seorang laki-laki yang tiba-tiba mendekat.
Karena susana yang genting, mereka menyetujui usulan warga tersebut dan membiarkan Dewa berbicara pada pemuda yang sebenarnya asisten pribadi Dewa yang menyamar sebagai penduduk desa.
"Apa yang mau Tuan ambil di sana?"
"Hanya jam tanganku yang tertinggal, ambil saja untuk mahar pernikahan ku." bisik Dewa pada sang asisten selanjutnya.
"Jangan Tuan. Jam itu sangat mahal, pasti suatu saat istri Tuan akan curiga dengan identitas Tuan sebab memiliki jam tangan mewah."
"Mereka nggak akan tahu."
"Tidak Tuan, itu beresiko. Tuan sedang ingin menyamar di desa ini. Sebaiknya memakai uang saja, tapi nanti saya pura-pura belum menemukan uang itu. Saya tadinya mau menyusul Tuan untuk mengirimkan uang. Saya akan selipkan di sana dan suatu saat Tuan bisa mengambilnya. Untuk nanti akad, Tuan berhutang aja dulu. Kasih saja mahar sebanyak satu juta tapi hutang, Biar penyamaran Tuan semakin meyakinkan dan warga tidak curiga bahwa Tuan sebenarnya seorang pemilik perusahaan besar." balas Rico tak kalah lirih dari bisikan Dewa.
"Terserah kamu saja, laksanakan cepat rencanamu. Yang paling penting buatku, jangan sampai pernikahan ini batal."
"Tuan benar-benar serius dan sudah jatuh cinta pada gadis itu?"
"Kamu ingin mati?"
"Maaf Tuan." Rico bergegas pergi sebelum Tuan nya benar-benar ingin mengirimnya ke alam lain. Meskipun babak belur Rico tahu Tuan nya tidak selemah itu. Untuk mengalahkan dua puluh orang sekaligus saat ini juga pasti dia mampu.
"Bapak-bapak saya akan segera kembali lagi. Sebentar saya ambil barang dia terlebih dahulu."
Tanpa menunggu jawaban warga, Rico melesat ke arah gubuk dan hanya meletakan uang sebesar sepuluh juta di tempat yang aman, baru dia kembali lagi. dan tak lupa untuk mengambil jam tangan Tuan nya.
Setelah terjadi musyawarah singkat, akhirnya semua sepakat untuk menikahkan Dewa dan Riana. Dirman pun menyetujuinya dengan terpaksa.
*******
PoV Riana
"Riana, bangun Nak. Riana denger Ibuk nggak?" suara Ibuku yang lembut mengalun indah menyapa gendang telingaku.
"Hei, jangan pura-pura pingsan kamu. Pinter ya, sudah berbuat m***m malah sekarang enak-enakan tidur."
Sekarang ibu-ibu di kampung berganti mem bully aku. Aku hanya diam sebab untuk menggerakkan anggota tubuhku saja aku nggak mampu. Apalagi kelopak mata terasa sangat berat.
Akhirnya aku mengingat, terakhir aku makan saat jam 12 siang tadi. Sekarang entah jam berapa. Tapi tenagaku seperti habis tak tersisa. Selain karena belum makan aku sudah menghabiskan sebagian energi untuk melayani nafsu iblis laki-laki itu.
"Heleh, kirain alim beneran nggak tahunya menyimpan bangkai di otaknya. Untung saja anakku nggak kamu terima dulu. Kalau enggak pasti aku menyesal punya menantu s****l kayak kamu."
"Nak, bangun sebentar. Ini minum dulu." Bapak? Aku mendengar suara Bapak sedang menawari ku minum. Tanganku berusaha aku ulurkan dan bersamaan dengan itu mataku terbuka sedikit demi melihat kehadiran Bapakku yang membuat diriku lega dan merasa aman.
Setelah berhasil memasukkan air beberapa teguk ke dalam kerongkongan ku, lambat laun kekuatanku pulih. Mataku terbuka dengan sempurna, tetapi tubuhku belum bisa berdiri dengan tegak sebab aku menahan rasa sakit di inti tubuhku.
"Pak, bagaimana? Apa kita bisa pulang sekarang?" tanya Ibuku lembut kepada Bapak.
"Nggak bisa Bu. Kita harus tetap di balai desa ini untuk menunggu laki-laki itu siap menikahi anak kita."
"P-pak, B-bu, maafin Ana yang sudah membuat malu. Riana nggak salah Bu, Pak."
Ingin rasanya teriak untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tapi rasa malu lebih dominan menguasai diriku.
"Bapak dan Ibu tahu An. Jangan khawatirkan apapun. Kalau memng kamu harus menikah dengan laki-laki asing itu, berarti takdirmu harus demikian. Kami yang salah telah menyuruh kamu pergi ke gubuk sementara hari sudah sore dan akan turun hujan. Allah pasti menyimpan hikmahnya di balik ini semua. Kejadian ini terjadi pada saat kamu menunaikan perintah orang tua demi baktimu yang tulus. Semoga kamu bahagia ke depannya ya Nak. Kita hadapi semuanya bersama-sama. Allah nggak mungkin menurunkan cobaan di luar kemampuan umat-Nya. Dan kamu yang di pilih salah satunya sebagai umat yang kuat." hibur Bapak dengan kata-kata bijaknya seperti biasa. Dan hatiku jauh lebih tenang dari beberapa saat lalu.
"Dari mana Bapak tahu kalau dia laki-laki asing bagiku? Bukankah Ana belum cerita?"
"Bapak sudah bicara sama laki-laki itu. Bapak tahu dia laki-laki asing karena dia tidak mengenali Bapak. Kalau dia laki-laki yang kamu kenal sebelumnya pasti dia mengenali Bapak. Tidak mungkin seorang laki-laki menyenangi seorang wanita tanpa menyelidiki keluarganya. Dan kamu selama ini terkenal di kampung ini karena kecantikan kamu. Bapak juga ikut terkenal akibat namamu yang tak asing untuk semua orang. Mungkin selama ini kita takabur dengan semua ini. Makanya Allah menegur dengan cara-Nya agar kita tidak lagi berani bersikap angkuh walaupun sekedar mengangkat muka di depan khalayak umum."
Air mataku deras mengalir ke pipi. Iya, mungkin aku terkesan sombong di kampungku, sebab entah berapa banyak laki-laki yang aku tolak selama ini. Sumpah, bukan bermaksud sombong. Aku hanya ingin menunggu Bapak punya biaya untuk aku melanjutkan kuliah di kota. Aku hanya belum siap berumah tangga saat ini.
"Pak, ini nunggu apa dulu? Dari tadi kenapa nggak dilaksanakan pernikahannya kalau memang sudah di sepakati demikian? Anak kita butuh istirahat Pak"
"Laki-laki itu tidak punya apapun untuk di jadikan maskawin. Dia meminta salah satu orang untuk mengambil barang miliknya yang tertinggal di gubuk kita. Katanya semua barang yang dia punya ada di jasnya. Entahlah Buk. Apakah memang benar demikian atau hanya alasannya saja. Kalau memang dia hendak melarikan diri pemuda di desa kita pasti akan mengejarnya. An, minum lagi Nak. Maaf kalau belum bisa ambilkan makan buat kamu. Warga desa di sini menutup pintu masuk balai desa, takut kita kabur."
"Nggak apa-apa Pak, ini saja sudah cukup." jawabku setelah menandaskan isi air di dalam botol air kemasan bekas berukuran sedang.
"Pak Dirman, cepat ke aula. Acara akad nikah segera di mulai sebentar lagi." ucap Pak Carik dengan senyum teduhnya.
Diantara semua warga yang hadir, hanya Pak Carik yang sedari tadi masih peduli sama keluarga kami. Tak sekalipun cacian keluar dari mulutnya.
Pak Carik memang terkenal baik budinya. Tetapi di saat-saat tertentu dia akan sama jahatnya seperti Bapak Kepala Desa sebab kalau tidak menurut ancaman pemimpin desa ini akan dilaksanakan.
Pak Carik memiliki anak gadis yang cantik, dan kalau tidak menuruti kemauan kepala desa, anak gadisnya akan di jadikan istri kedua kepala desa.
"Baik Pak saya akan segera ke sana. Buk, jaga Ana. Warga desa masih belum reda amarahnya. Takutnya tiba-tiba menyerang Ana lagi. Pintunya kunci dari dalam setelah Bapak keluar nanti." pesan Bapak pada Ibu yang langsung di laksanakan oleh wanita yang telah melahirkan aku ke dunia ini.
Sekarang, hanya tinggal aku dan Ibu yang ada di ruangan ini. Entah ruangan apa aku kurang paham, sebab aku hampir tidak pernah berkunjung ke balai desa.