Riana selama ini terkenal dengan sikapnya yang sopan dan lemah lembut. Didikan orang tuanya memang mengharuskan dirinya tidak bersikap dan berkata kasar. Tapi hal itu sulit dia lakukan saat berhadapan dengan Dewa yang kini sudah resmi menjadi suaminya.
"Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Aku khilaf. Tapi pernikahan ini bukan sesuatu yang main-main buatku. Malah aku mensyukurinya karena bisa menikahi wanita secantik dan sebaik kamu." suara Dewa yang berat tapi lembut nyaris meruntuhkan pertahanan Riana yang tetap enggan menatap wajah laki-laki itu.
Tentu saja Riana hanya diam. Tak pernah sekalipun dia bermimpi memiliki suami seorang pemerkosa.
"Kamu mau apa! ?" teriaknya tiba-tiba saat ada tangan besar melingkari pinggangnya yang ramping.
"Mau meminta hakku sebagai suami." sahut Dewa dingin, tetapi suaranya sudah terdengar serak.
"Aku belum setuju untuk menerima kamu menjadi suamiku." tolak Riana sambil berusaha melepas tangan Dewa pada pinggangnya. Sayangnya tangan itu semakin erat memeluknya.
Riana masih tidur membelakangi Dewa yang kini sudah menciumi tengkuknya. Wanita itu menggeliat karena rasa geli yang hebat. Riana sendiri tak menyangka hanya dicium tengkuknya saja dia sudah blingsatan setengah mati.
"Walimu sudah menyerahkan kamu kepadaku. Jadi nggak ada yang butuh persetujuanmu."
"Kenapa kamu nggak pergi aja sih semalam? Kamu nggak perlu bertanggung jawab atas ulahmu. Karena aku lebih memilih menanggung ini sendirian dari pada hidup selamanya dengan laki-laki yang paling aku benci." Riana berteriak tertahan karena kesal dengan sikap laki-laki yang sudah berhasil membobol keperawanannya ini. Sikap nya kasar dan nggak ada manis-manisnya sama sekali.
"Nggak akan pernah! Jangan berharap aku pergi dari sini tanpa membawamu karena kamu istriku. Kamu tahu? Dosa bagi seorang istri yang menolak melayani suaminya." bisik Dewa sambil mendaratkan sapuan lidahnya yang panas ke belakang telinga Riana.
Sesaat Riana membeku. Sungguh dia membenci laki-laki ini sekaligus membenci diri sendiri, karena terlalu sensitif terhadap sentuhan.
Darah Riana berdesir hebat saat laki-laki itu dengan secepat kilat membalikkan tubuhnya dan menciumnya secara membabi buta.
Darah muda Riana bergolak. Dewa yang menyadari pancingannya berbuah manis tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Mmpphhh.... Eungghh.... " desahan tertahan Riana semakin memacu adrenalin Dewa dan menaikkan hasratnya semakin membumbung tinggi ke angkasa.
Hingga tak butuh waktu lama kedua insan berbeda jenis itu mendesah bersahut-sahutan. Mereka lupa kalau kamar Riana terbuat dari bilik kayu yang pastinya dengan mudah orang mendengar aktivitas panas mereka.
"Aaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh....teriakan keras dan panjang mengakhiri pergumulan mereka.
Riana lemas dan tubuhnya seakan di cabik-cabik karena keganasan Dewa di atas ranjang. Bahkan ranjang tua Riana hampir saja roboh di buatnya kalau saja Dewa tidak segera memindahkan tubuh Riana di atas lantai yang beralaskan tikar.
Tenaga Dewa seakan tak ada habisnya. Laki-laki itu kembali memindahkan Riana ke atas ranjang setelah mereka berhasil mencapai puncak secara bersamaan.
"Hm, tidurlah. Kamu nggak perlu berbohong lain kali. Kita sudah halal, jadi nggak perlu malu untuk memintanya lagu jika kamu mau. Aku akan melayani kamu dengan senang hati."
Bugh! Bugh! Bugh! Riana memukul Dewa secara membabi buta. Belum selesai Riana menyesali reaksi tubuhnya yang begitu murahan, laki-laki itu justru mengungkitnya kembali.
"Siapa yang akan meminta kembali? Ha?! Jangan mimpi!"
"Pergi kamu, pergiii!" teriak Riana selanjutnya.
Dewa dengan sekali gerakan saja bisa langsung mengunci pergerakan tubuh Riana yang kecil. Riana yang merasa gerakannya terhenti menggeliat-geliat kan tubuhnya agar bisa lepas dari cengkeraman Dewa.
"Nggak usah gerak-gerak. Kamu membangunkan sesuatu yang sudah tidur." bisik Dewa dengan nafas memburu.
Rupanya hasrat Dewa kembali terpancing hanya dengan gerakan-gerakan kecil istrinya.
Riana yang paham maksud Dewa langsung menghentikan gerakan tubuhnya. Dengan bibir cemberut, Riana pasrah berada dalam delapan Dewa yang erat.
"Sudah aku bilang kalau ingin lagi nggak usah pakai kode yang macam-macam. Kamu ingin lagi 'kan?"
"Nggak!"
"Tapi kenapa kamu bangunkan dia lagi?" tanya Dewa dengan suara yang sudah mulai serak.
Riana yang merasakan ada sesutu yang keras di belakang pahanya seketika membelalakkan matanya. Riana kesal dengan dirinya sendiri yang serba salah.
Diam di anggap murahan, memberontak di anggap memancing Dewa kembali.
Akhirnya Riana pasrah menerima Dewa di dalam tubuhnya kembali. Riana juga tak mampu menahan hasratnya sendiri walaupun tenaganya nyaris tak tersisa. Sementara Dewa seakan tidak punya rasa lelah. Berkali-kali laki-laki itu memacu tubuhnya sendiri di atas Riana yang harus rela terlentang di lantai semen yang dingin.
"Kenapa harus teriak kencang banget sih? Malu sama Bapak." ujar Riana lirih setelah Dewa mengembalikan dirinya ke atas ranjang.
Walaupun dingin dan kasar, Dewa selalu tak pernah lupa menggendong tubuh Riana ke tempatnya semula.
"Nggak bisa di tahan. Kita sudah halal, ngak papa kalau Bapak dengar." sahut Dewa cuek.
Laki-laki itu tersenyum di balik tubuh Riana yang meringkuk lemas menghadap ke dinding. Baru kali ini Dewa melakukan hubungan intim dengan seorang wanita selama tiga puluh tahun dia hidup. Tapi rasanya sungguh berbeda dengan apa yang di ceritakan oleh teman-temannya.
Riana mampu memberikan kenikmatan yang dia sendiri bahkan sulit mengontrol suaranya saat rasa itu menghantamnya.
Selama ini Dewa menahan diri untuk tidak berhubungan dengan seorang wanita setelah dia di kecewakan oleh mantan pacarnya yang ternyata utusan yang di kirim oleh Om-nya guna menghabisi nya. Beruntung Dewa hanya koma dan akhirnya nyawanya berhasil selamat hingga sekarang. Sejak itu dirinya trauma menjalin hubungan dengan wanita manapun.
Perasaan Dewa tiba-tiba menghangat melihat istrinya sudah tertidur dalam selimutnya. Laki-laki itu tersenyum geli kala mengingat Riana bahkan belum mengenakan pakaiannya kembali saat ini. Dengan lembut Dewa mengusap pipi mulus Riana.
Saat tengah mengagumi kecantikan istrinya, telinga Dewa yang peka tiba-tiba menangkap suara berisik dari luar kamar Riana yang terdengar seperti orang yang bercakap-cakap. Dengan hati-hati Dewa menempelkan telinganya pada celah lubang di jendela kamar istrinya.
"Aku lemas sendiri Min. Nggak nyangka ternyata laki-laki yang memperkosa Riana punya tenaga sebesar itu. Entah berapa kali dia berteriak keras begitu. Kamu tadi menghitungnya nggak?" tanya seseorang yang entah siapa pada temannya.
Dewa semakin mempertajam pendengarannya kembali karena penasaran dengan apa yang mereka bicarakan sesungguhnya.
"Nggak sempat lah. Aku bingung sebab adik kecilku suah berdiri dari tadi. Kau sih enak, sudah ada istri. Setelah dari sini nanti kamu bisa melampiaskan hasrat pada istri sepuasnya. Terus kalau aku gimana?"
"Salah sendiri kenapa tadi ikut kemari? Kalau sudah begini bagaimana? Susah 'kan? Oh ya, yang lain pada kemana? Ternyata tinggal kita berdua saja yang di sini?"
"Dari sejam yang lalu mereka sudah tidak tahan dan pulang ke rumah masing-masing."
"Ha? Kok aku nggak sadar ya?"
"Bagaimana mau sadar, wong kamu begitu khusyuknya mendengar mereka ber cinta sampai-sampai pahaku remuk berkali-kali kamu remas."
"Hehehe, ya maaf. Habisnya suami Riana begituannya semangat banget. Mungkin karena dia orang kota jadi teriaknya kenceng begitu. Gizinya tercukupi hingga tenaganya nggak ada habisnya. Aku yakin sekarang Riana sudah tepar. Kalau engga pasti kita masih bisa menikmati suara merdu mereka. Yuk ah, kita pulang. Aku juga ingin membangunkan istriku, sudah ngak tahan nih."
"Dasar!" sahut temannya kesal.
Secepat kilat Dewa membuka jendela karena ingin memastikan yang berbicara barusan adalah manusia. Dengan kondisi alam yang masih alami di desa ini, tidak menutup kemungkinan mereka itu adalah makhluk halus.
Tetapi pikiran itu langsung menguap begitu saja saat mata telanjang Dewa dengan jelas melihat dua orang yang lari dengan kaki yang menyentuh tanah.
Jadi, sejak tadi mereka berhubungan intim dengan di dengarkan oleh banyak orang? Oh, My God! teriak Dewa kesal dengan mengusap wajahnya kasar.