"An, kamar mandinya di mana? Aku ingin mandi dan buang air," Riana masih enggan menjawab pertanyaan dari Dewa sebab dirinya malu karena menyadari belum memakai pakaian setelah semalam di gempur habis-habisan oleh Dewa.
"An, tolong. Nanti kalau aku buang air di kamar bagaimana?"
"Keluar saja dari kamar, nanti belok kiri. Di situ ada pintu warna coklat." jawab Riana asal. Bukan menyesatkan, tapi Riana tidak menjawabnya secara spesifik karena malas ngomong panjang lebar.
Dia sudah tua 'kan pasti bisa mencarinya sendiri, begitu pikir Riana. Asal kalian tahu aja semua pintu di rumah ini berwarna coklat sebab pintu di rumah Dirman tidak di cat atau di pelitur. Semua masih asli coklat warna kayu.
Tiba-tiba Riana teringat kembali laki-laki itu berteriak kencang saat menodai ku. Begitu juga semalam. Entah apa yang di rasakan atau dipikirkannya. Riana sungguh malu mengingatnya, karena hal itulah yang mengundang warga datang memergoki kami.
Dan sekarang dia juga malu sama orang tuanya. Entah bagaimana
nanti di menghadapi Bapak dan Ibunya. Riana benci pada laki-laki yang cuek dan dingin seperti Dewa.
Riana berdoa semoga Dewa tersesat saat ke kamar mandi dan nggak akan pernah menemukan jalan untuk kembali ke rumah ini lagi.
Namun doa Riana rupanya tak terkabul, karena tak lama kemudian dia kembali lagi ke kamar. Kali ini sudah terlihat segar dan wangi sabun menguar ke seantero ruangan.
"Mandi dulu. Sudah subuh." titahnya dingin.
Riana heran kenapa orang seperti dia masih ingat sholat? Bukankah kemarin dia bertindak seolah tidak memiliki Tuhan?
Wanita cantik itu merapikan selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih telanjang bulat.
"Ini baju kamu. Nggak usah malu, kita 'kan sudah sama-sama lihat milik masing-masing."
"Siapa bilang? Aku nggak pernah lihat tubuh kamu. Enak aja."
"Hm. Kalau mau lihat nanti saja, ini mau shalat subuh dulu. Ntar batal wudhu nya."
Riana membelalakkan matanya, dan dengan jalan tergesa-gesa dia pergi ke kamar mandi. Wanita itu semakin muak dengan tingkah laku Dewa yang seenak hatinya.
Akhirnya pagi itu, Dewa dan Riana sholat berjamaah.
*********
..."Pak, belum tidur?" tanya Riana basa basi.
"Belum Nak." jawab Dirman sembari menyedot rokoknya kuat-kuat dan menghembuskan asapnya ke atas.
"Bapak masih kepikiran tentang warga yang tiba-tiba suka berkerumun di dekat kamar Ana?" tanya wanita itu setelah sempat di beritahu Dewa tentang keluhan Bapaknya.
Tadi pagi sebelum berangkat ke sawah, Dirman sempat berbincang dengan menantunya.
"Bapak hanya penasaran saja. Kalau hendak menangkap basah kalian kenapa nggak segera di lakukan? Sementara mereka tahu kalian sudah menikah. Tadi Bapak sempat memergoki mereka dan akhirnya malah bubar tanpa berkata apa-apa." sindir Dirman pada putrinya.
Sebenarnya orang tua itu sedikit banyak tahu apa penyebab mereka suka berkerumun di dekat kamar Riana malam-malam. Tapi untuk menegur nya langsung dia enggan, takut anak dan menantunya malu.
"Ana juga bingung Pak. Sekarang mereka juga bubar saat jendela Ana buka. Maunya Ana tanya langsung, tapi mereka keburu pergi dan tak satupun Ana bisa mengenalinya. Mereka menutupi mukanya pakai kain sarung."
"Suamimu mana?"
"Di kamar Pak."
"Kamu bersikap baik sama dia 'kan?"
Aku terdiam cukup lama. Inginnya jujur tapi takut Bapak kecewa.
Ana sendiri bingung, apakah dia sudah bersikap baik atau belum. Jika di katakan sudah, nyatanya Riana seringkali berbicara ketus pada Dewa. Jika di katakan belum bersikap baik, nyatanya dia sudah melayani suaminya berkali-kali.
"An, takdir dari Tuhan, siapa yang bisa menghindari. Tetapi bukan berarti semuanya berakhir saat takdir yang menimpa kita adalah sesuatu yang mengecewakan kita. Buatlah takdir buruk itu menjadi kisah hidup yang baik dan membahagiakan. Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya. Dewa anak yang baik. Hanya dia sedang khilaf karena tak berhasil mengendalikan diri saat itu. Kamu kenal sama Bapak 'kan?"
Ana mengangguk.
"Kamu pasti tahu Bapak sangat menyayangimu, Bapak tidak akan rela jika ada orang yang menyakiti kamu. Bapak berkata demikian karena sebagai orang yang pernah tua dan lebih banyak memakan asam garam kehidupan, Bapak melihat Nak Dewa adalah laki-laki yang baik buat kamu. Dia tidak bermaksud menyakiti kamu. Soal ekonomi, kalian bisa mencarinya bersama-sama. Kalau sudah rejeki tidak akan lari kemana."
"Iya Pak."
"Suatu saat jika Bapak melihat gelagat buruk dari dia, pasti Bapak orang yang pertama kali melindungi kamu dari dirinya. Sudah sana, masuk kamar. Abaikan saja orang-orang yang iseng itu. Beberapa hari lagi Pak Lurah dan keluarganya akan datang dari perjalanan mereka ke luar kota. Jadi, persiapkan diri untuk menghadapi mereka. Kalau saat itu kamu belum bersikap baik pada suami kamu dan belum bisa bersikap kompak menolak lamarannya, bukankah kamu tahu apa konsekuensi nya?"
"Pak, kalau kenyataannya Ana sudah menikah, apa iya Sigit akan ngotot menikahi Ana?"
"Bukan hanya ngotot, dia bisa saja menyakiti suami kamu bahkan lebih parahnya lagi menyakiti kita semua."
Sigit adalah putra Pak Lurah yang tergila-gila pada Riana. Anak tunggal Pak lurah itu tidak akan terima kalau mendengar Riana sudah menikah. Karena pemuda itu sudah berjanji akan menunggu kesiapan Riana untuk dinikahinya kapanpun waktu itu akan tiba.
Kalau tiba-tiba kenyataannya seperti ini, bukan tidak mungkin akan ada insiden di luar prediksi semua orang.
"Ana harus bagaimana Pak?"
"Sebaiknya kamu memperbaiki hubungan kamu dan suami kamu. Karena menurut Bapak, akan lebih baik kamu lari dari tempat ini. Hiduplah di luar dengan suami kamu di kota yang sekiranya Sigit tidak punya kekuasaan untuk mencari keberadaan kamu atau untuk menekan kamu."
Ana tergugu. Kenapa Bapaknya justru tega melepaskan aku kepada laki-laki asing di bandingkan kepada Sigit, anak Pak Lurah yang sudah mereka kenal dengan baik.
"Kenapa Bapak justru percaya pada dia dari pada pada Sigit? Ana akan hidup jauh dari Bapak dan Ibu dan di temani orang asing. Ana belum siap Pak."
"Ini bukan tentang kesiapan mu. Ini tentang masa depanmu. Kekuasaan Pak Lurah di sini entah sampai kapan berakhir. Kalau kamu di nikahi Sigit, suatu saat bisa jadi kamu yang akan menjadi Ibu Lurah. Dan saat itu Bapak yakin kamu akan semakin ditindas oleh mereka. Seperti Pak Lurah yang sekarang memperlakukan Ibu Lurah. Bagaimanapun cantiknya Ibu Lurah, Pak Lurah tetap suka jajan di luar bahkan menggauli warganya hanya dengan dalih nikah siri dan suka sama suka. Bukannya Bapak berprasangka buruk, tapi bibit itu sudah ada dan terlihat dari sekarang. Kita semua tahu, Sigit pernah menghamili gadis desa sebelah. Walaupun akhirnya kasusnya tidak berlanjut, tapi itu bukan karena Sigit tidak bersalah. Tapi itu disebabkan karena Pak Lurah memberi gadis itu uang yang banyak, sehingga bisa aborsi dan tutup mulut sampai sekarang."
Aku termenung memikirkan kata-kata Bapak. Memang benar, aku sendiri lebih baik bersuamikan orang biasa tetapi mempunyai attitude yang baik dari pada orang terpandang tetapi kelakuannya b***t. Apalagi sikapnya terhadap perempuan yang selalu merendahkan.
"Baiklah Pak. Aku akan belajar menerima kenyataan ini dengan lapang d**a dan berusaha menerima dia menjadi suamiku."
"Dewa Ana, dia bernama Dewa. Kalaupun belum bisa memanggil dengan sebutan khusus kepada suami, tapi jangan sebut suamimu hanya dengan kata dia, karena itu tidak sopan. Harga diri seorang perempuan bukan hanya terletak pada mahkotanya saja tapi lebih pada tutur katanya. Jangan merendahkan diri sendiri meskipun sudah kehilangan mahkota dengan cara tidak hormat dan keji dengan menambah mempunyai sikap dan akhlak yang buruk. Tuhan pasti tahu kalau kamu tidak memberikan kehormatan kamu pada laki-laki secara sukarela. Nak, lupakan masa lalu dan perbaiki semuanya yang telah kamu anggap rusak. Besok Bapak akan bicara pada suami kamu tentang rencana kalian meninggalkan desa ini."
Dirman sama sedihnya dengan Ana, tapi dia tahu sekali bahwa kecantikan putrinya membawa dampak buruk untuk masa depannya. Bukannya tidak bersyukur memiliki putri yang elok rupawan. Namun, di cintai Sigit, putra penguasa desa ini adalah ujian tersendiri untuk Dirman.
Dirman lebih baik mempunyai menantu orang biasa tapi berbudi baik dari pada memiliki menantu orang berada dan berkuasa tetapi sudah tidak bisa membedakan yang mana yang baik yang mana yang buruk.
Hukum seolah hanya perlu di gaungkan saja tanpa perlu di patuhi. Selama hidup di desa ini Dirman telah banyak tahu kejahatan yang dilakukan oleh sang penguasa bahkan sebelum Lurah yang sekarang berkuasa. Tetapi hukum di desa ini bisu dan tuli sehingga tidak bertindak apapun jika pelanggaran itu dilakukan oleh penguasa.
Jika nanti Ana menjadi bagian dari keluarga itu bagaimana dengan keturunannya nanti? Dirman takut anaknya akan ikut menjadi kriminal bila berada di lingkungan yang buruk dalam jangka waktu yang lama.