Riana masuk kamar dan langsung tidur tanpa peduli pada suami yang nyatanya masih dia benci. .
'Ya Allah, bagaimana caranya berdamai dengan hati sendiri? Bagaimanapun Bapak menjelaskan panjang lebar, hatiku masih tetap menolak sarannya. Walaupun di sisi lain, otakku bisa menerima dengan baik. Bagaimana ini ya Allah' batin Riana sendu.
"Bangun, sudah subuh." lamat-lamat Riana dengar seseorang berbisik di telinganya bermaksud untuk membangunkan dari tidur nyenyak nya.
Ya semalam Riana tidur nyenyak setelah berpikir lama untuk bisa berdamai dengan keadaan dan diri sendiri. Riana memutuskan untuk mengikuti alur saja bagaimana akhirnya nasib membawanya. Toh, masa depan yang di jaga selama ini sudah raib dicuri orang.
"Hm," Riana menjawab singkat dan bergegas keluar kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu.
Selanjutnya Riana bersiap untuk shalat dengan mengenakan mukena yang warnanya sudah mulai memudar.
"Sudah siap?" tanya Dewa lembut.
"Iya," jawabnya malas masih enggan menatap wajahnya.
Ini sudah empat hari sejak kejadian itu. Entah sudah sembuh atau belum bengkak di wajah dan sekujur tubuhnya akibat dihakimi masa.
Shalat kami jalankan dengan khusyu' meskipun Riana tidak menyukainya. Tetapi mulai detik ini Riana mulai menyukai suara Dewa yang merdu dan fasih saat melafalkan ayat-ayat suci Allah. Entah dari mana asalnya, dan siapa dia yang sebenarnya. Karena apapun yang ada pada Dewa selalu menimbulkan tanda tanya di benak Riana.
Selesai shalat dan mengucapkan salam ada tangan yang besar terulur ke arah Riana. Tanpa banyak drama dia langsung menerima dan menciumnya singkat. Namun, Dewa tak melepaskan Riana begitu saja. Ditahannya tangannya sementara tangan yang lainnya menyentuh ubun-ubun nya sembari terdengar ucapan doa dari bibir Dewa.
Riana terperangah, tak menyangka laki-laki yang tega mengambil kehormatan nya bisa melakukan semua ini.
"Kemarin belum sempat mendoakan kamu. Semoga keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah dan dirahmati Allah. Semoga kamu bisa menjadi istri yang sholehah dan dirindukan surganya Allah. Dan semoga Abang bisa menjadi imam yang baik, suami yang sholeh, dan ayah yang baik untuk anak-anak kita."
Untuk pertama kalinya laki-laki itu bersikap normal sebagaimana orang lain. Meski masih membencinya, tak bisa dipungkiri Riana, ada desir halus dalam hatinya mendengar dia tulus dari orang lain yang kini sudah menjadi imamnya.
Seakan memiliki kepribadian ganda, sikap dia ketika mengambil kegadisan Riana secara ganas dan kasar, berbanding terbalik saat sekarang, seperti ada sosok lain yang sedang mendiami jasadnya. Sosok yang lembut, alim dan sopan kini menjelma menjadi Dewa suami Riana, bukan Dewa pemerkosanya waktu itu.
"Mau tiduran lagi atau mau jalan-jalan?" tawarnya sok manis.
"Mau masak." jawabku singkat.
"Oke, tapi Abang ke kebun dulu cari sayurnya. Kamu diam di rumah aja, biar Abang yang cari sayurnya. Maaf karena belum bisa kasih nafkah lahir kamu secara layak." ucapnya entah serius atau tidak.
Seperti biasa Riana hanya terdiam dan tak berniat menanggapi ucapannya.
"Abang pergi dulu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." mau nggak mau wanita itu menjawab salamnya sebab hukumnya wajib untuk umat Islam menjawab salam seseorang.
Riana baru menyadari bahwa ada yang aneh dari sikapnya. Kenapa dari tadi Dewa membahas tentang sayur dan kebun seakan dia tahu kebiasaanku mengambil sayur di kebun sebelum aku memasaknya menjadi lauk makan. Pasti Bapak yang sudah memberitahunya, tebak Riana dalam hati.
"Sudah bangun Nduk?" sapa Parti pada putri cantiknya.
"Sudah dong Buk, mau masak apa kita hari ini?"
Parti tersenyum, karena putri cantiknya sudah kembali ceria. Entah dengan hatinya, dan Parti berdoa semoga hatinya juga sama dengan yang di tampakkan secara fisik.
"Nunggu Bapak sama suami kamu mau ambil apa di kebun, itulah yang akan kita masak hari ini." Riana hanya
"Kamu minum air putih hangat dulu sembari menunggu mereka pulang."
"Iya Bu."
Beberapa saat berlalu, belum ada tanda-tanda Bapak dan suaminya pulang. Tetapi Riana tak risau, sebab ada apa-apa terhadap suaminyapun tidak akan berpengaruh pada hidupnya.
Riana adalah gadis desa yang berwawasan luas karena rajin mendengar berita dan membaca buku ilmu pengetahuan. Riana melakukan hal di luar kebiasaan gadis kampung pada umumnya.
Riana hanya ingin melanjutkan kuliah, tapi tidak ada biaya yang mendukung cita-citanya. Riana terus berharap semoga bisa segera pergi ke kota suatu saat nanti guna melanjutkan pendidikannya.
"Assalamu'alaikum." terdengar suara dua orang mengucapkan salam secara bersamaan.
"Wa'alaikum salam." jawab Riana dan Ibunya kompak.
"Bu, kita masak enak hari ini. Rejeki pengantin baru." seru Dirman sembari memamerkan ikan mas dengan ukuran yang cukup besar.
"Wah, besar sekali Pak. Kalau yang ini jelas induknya Pak. Biasanya Bapak 'kan selalu mengambil anaknya. Pasti Ibunya tidak terima anaknya diambil terus dia muncul untuk balas dendam." sahut Parti konyol.
"Iya Bu, ayo kita hilangkan nyawanya saja sebelum dia membalaskan dendamnya pada kita." timpal Dirman lebih konyol lagi.
Riana yang sudah terbiasa mendengar dan menyaksikan orang tuanya bercanda sudah tidak terkejut lagi. Sementara Dewa tersenyum geli melihat mertuanya bersikap layaknya anak-anak yang sedang main drama keluarga.
"Kamu lagi apa?" Tanpa menjawab dan melihat ke arah si empunya suara, Riana hanya memperlihatkan bumbu dan pisau yang sedang di pegangnya.
"Ya sudah Abang temani ya." ucap Dewa sembari duduk tak jauh dari Riana di atas balai-balai yang terbuat dari bambu.
Riana yang sedang menyiangi bumbu dapur, ditatap secara intens oleh Dewa tanpa disadari nya. Dewa tersenyum bahagia.
Bagaimanapun cara dan prosesnya dia menikahi Riana, Dewa percaya itu hanya perantara saja untuk dirinya menyongsong kebahagiaannya.
Dewa menyesal sekaligus bersyukur telah memperkosa Riana, karena dengan demikian dia dengan mudah menjadi suami dari gadis desa yang cantiknya bahkan melebihi gadis-gadis kota yang bahkan pernah mengikuti ajang perlombaan untuk meraih predikat sebagai gadis tercantik di Ibu Kota.
"Fokus pada sayurnya Wa. Tuh, tangannya nanti terkena pisau loh. Sudah sah ini mah, masih ada banyak waktu untuk bisa lihatin istrinya sampai puas."
Dewa tersenyum canggung menanggapi ucapan Ibu mertuanya.
"Iya, Bu.Hehe... "
Riana yang menyadari baru saja dijadikan obyek pemandangan oleh mata elang Dewa, sontak tersenyum getir di dalam diam.
Sedangkan Dewa dengan santai melanjutkan menyiangi sayur yang dia ambil dari kebun bersama mertuanya beberapa saat lalu.
"An, ada yang cari kamu di depan." Kayaknya Ibu pernah lihat, tapi lupa namanya." seru Parti ketika baru saja kembali dari pintu depan.
Dewa mengkerut kan keningnya, dan Ana berdiri untuk menyambut tamu yang datang ingin bertemu dengan dirinya
Siapa yang datang menemui istrinya pagi ini? Perempuan ataukah laki-laki? Tiba-tiba ada rasa cemburu dalam hati Dewa begitu tahu istrinya ada tamu misterius.