Namaku Dewa Syailendra Dwipayana usiaku 30 tahun, dan masih melajang. Aku seorang pimpinan perusahaan yang di kenal dingin dan angkuh, karena tumbuh di tengah harta benda yang berlimpah dan di kerumuni oleh asisten, pegawai dan pembantu yang serakah dan licik.
Orang tuaku yang hangat dan penuh kasih harus pergi saat kecelakaan pesawat yang membawanya untuk menghadiri pesta tahun baru rekannya di luar negeri, tak bisa di hindari.
Karena masih sangat belia dan tanpa sanak saudara, aku di kerumuni oleh manusia-manusia serakah yang penuh dengan tipu muslihat. Harta melimpah yang aku warisi dari kedua orang tuaku menjadi magnet berkekuatan raksasa untuk menarik minat orang mendekati ku.
Untuk bertahan hidup di antara mereka, aku harus bersikap tegas dan dingin. Tak sedikitpun celah aku berikan kepada mereka yang berniat jahat terhadapku. Beruntung semua harta yang bergerak dan tidak bergerak resmi menjadi atas namaku sejak orang tuaku dinyatakan meninggal oleh pemerintah walaupun jasadnya tidak ditemukan.
"Tuan muda, sesuai jadwal, hari ini kita akan berburu di pegunungan di kota sebelah." ucap asisten pribadiku yang juga bersifat culas.
"Hm," jawabku selalu dengan kata singkat atau hanya deheman saja. Terus terang aku malas berbasa-basi dengan orang yang jelas-jelas hanya baik di depan ku saja, sementara di belakangku mereka terus berupaya menjatuhkan diriku bahkan ingin melenyapkan ku demi bisa menguasai harta benda ku. .
Akhirnya pagi itu kami berangkat ke hutan di sebuah lembah pegunungan daerah terpencil. Kami berangkat dengan tiga buah mobil. Mobil yang membawaku berada di tengah-tengah mobil lainnya. Sudah aku duga mereka pasti merencanakan sesuatu untukku. Untuk mengetahui rencana mereka aku pura-pura tidur dan langsung memasang ear phone di telinga yang terhubung dengan beberapa alat perekam yang aku pasang di beberapa mobil yang aku punya tanpa sepengetahuan mereka.
Setelah beberapa waktu sunyi, sekitar setengah jam kemudian, terdengar suara dari salah satu sopir mobil yang kami bawa.
"Kelihatannya sudah tidur Pak."
"Hm, bagus. Semua siaga di tempat. Aku nggak mau kita gagal lagi kali ini."
Deg! Lagi-lagi suara itu mengejutkan ku. Suara satu-satunya Adik almarhum Papaku yang selalu ingin menguasai hartaku. Padahal dalam surat wasiat Papa sudah memberinya tujuh restoran yang dikelola satu perusahaan berskala besar. Bukannya bersyukur justru sifat serakahnya membuat dia gelap mata.
Memang sudah beberapa kali dia merencanakan pembunuhan terhadap ku. Namun baru kali ini aku berhasil memperoleh bukti dari perekam suara yang berhasil aku pasang tanpa diketahui oleh siapapun.
Sebelumnya selama bertahun-tahun dan banyak kali Om ku merencanakan pembunuhan terhadapku, tetapi selalu gagal. Aku juga demikian yang selalu gagal mengumpulkan bukti kejahatan mereka.
Beberapa bulan lalu, barulah aku menemukan penyebab gagalnya aku mencari bukti kejahatannya padaku. Ternyata mulai dari asisten pribadiku sampai pembantu rumah tanggaku adalah musuh yang nyata bagiku.
"Semua segera bersiap di pos masing-masing. Tidak usah menunggu waktu sore atau malam. Begitu ada kesempatan langsung eksekusi. Kalau gagal resiko di tanggung bersama, paham?
"Paham Bos." jawab mereka serentak. Aku masih berpura-pura tidur dan masih menunggu apa yang akan mereka rencanakan. Aku masih tetap waspada sampai beberapa jam kemudian. Dengan posisi duduk ku yang berubah beberapa kali karena pegal-pegal di tubuhku, tapi, mata tetap tertutup dan nafas teratur laksana orang terbuai mimpi.
"Target sebentar lagi memasuki area merah, segera bersiap." bersamaan dengan perintah itu, tubuh ku reflek waspada. Insting bertarung ku seketika kaluar. Telinga ku pasang baik-baik sembari mendengarkan rencana mereka selanjutnya, mata aku buka sedikit untuk mencari tahu apa yang dilakukan orang-orang sekitarku.
Sebenarnya ada asisten pribadi yang aku percaya, tapi dia bekerja di balik layar. Sekarang ini mungkin dia sedang mengejar rombongan mobil kami dari kejauhan. Namun, aku tak bisa mengandalkannya penuh, sebab keahlian bertarung dia jauh berasa di bawah ilmuku.
Di dalam mobil ini hanya ada aku, sopir dan seorang lagi pengawal pribadiku yang tentu saja sudah berkomplot dengan mereka.
Orang-orang yang berada di dekatku pernah berkhianat semua. Mulai dari staff di kantor, asisten pribadi, sekretaris, pembantu rumah tangga bahkan satpam pun pernah mengkhianati aku.
Hanya Rico, asisten tersembunyi yang masih setia dan dan tak pernah mengkhianati aku.
Beruntung aku memiliki ilmu bela diri yang belum ada tandingannya. Senjata ku pun lengkap. Terlepas dari itu semua keberuntungan selalu berpihak padaku. Tuhan masih belum mau mencabut nyawaku, padahal sudah berkali-kali hampir meregang nyawa di tangan mereka.
"Aku hitung mundur dari sekarang dan langsung eksekusi. Sepuluh, sembilan,..... " Hitungan mundur belum selesai mereka lafal kan, aku sudah meloncat dari mobil dan berguling di semak-semak yang di lalui mobil yang membawaku.
Entah berapa kali putaran tubuhku berguling, hingga akhirnya aku terjatuh ke sungai yang begitu dingin airnya. Earphone berhasil aku cabut dan sekarang sudah aman dalam genggaman tanganku.
Aku berlari menyusuri sungai dan sesekali berhenti untuk bernafas. Aku tak mau jauh dari aliran sungai dengan beberapa alasan.
Pertama sungai ini mengalirkan air yang begitu jernih, sehingga aku bebas minum kapan saja untuk menyambung nafasku.
Kedua, aku yakin aliran sungai ini akan berujung di satu perkampungan entah sejauh mana aliran sungai ini mengalir.
Mereka punya rencana melenyapkan aku, begitu juga aku mempunyai rencana untuk memberantas mereka satu persatu tanpa harus merugikan perusahaan-perusahaan yang aku pimpin. Sebab ada beribu-ribu karyawan kelas bawah yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan yang di wariskan orang tuaku untukku. Satu-satunya yang bisa aku percaya hanya pengacara keluargaku di luar asisten yang aku sembunyikan. Dan saat ini sedang memantau gerak-gerik pihak lawan dengan memasukkan penyelundup ke dalam perusahaan.
Saat aku tengah berlari, ada beberapa rumah tampak dari kejauhan. Aku bernafas lega karena paling tidak malam ini tidak tidur di hutan. Aku berencana menyewa rumah salah satu penduduk di sana.
Rupanya kampung yang terdapat beberapa rumah itu berada di seberang sungai dan otomatis aku harus menyeberang dulu agar bisa mencapai kampung itu.
Di tengah kebingunganku memikirkan bagaimana caranya menyeberangi sungai ini, tiba-tiba ada sebuah sampan kecil tengah bersandar di pinggir sungai. Tak berpikir panjang aku segera menggunakannya untuk menyeberangi sungai.
Aku berjalan cepat menyusuri jalan setapak menuju perkampungan setelah menyandarkan sampan di sebuah tanaman perdu di pinggir sungai.
Selain untuk mempercepat sampai di kampung itu aku masih khawatir anak buah Om ku masih bisa memindai keberadaan ku di sini.
Setelah beberapa saat berjalan, hari sudah semakin sore. Sorot jingga di ufuk barat bersinar redup, sebab terhalangi oleh gumpalan awan yang cukup tebal. Sebentar lagi mungkin akan turun hujan, pikirku.
Dan benar saja, belum juga aku mencapai jarak ke rumah terdekat hujan tipis sudah turun. Aku berlari ke arah sebuah pondok yang ada di tengah sawah yang kebetulan aku lewati. Pondok beratap ijuk itu pasti nyaman untuk aku jadikan tempat berteduh sementara waktu sebelum menyewa rumah penduduk desa ini.
Begitu aku memasuki pondok itu, rupanya sudah ada yang lebih dulu berteduh. Seorang gadis, ee.. lebih tepatnya bidadari sedang berdiri membelakangiku.
Merasa tak ada orang lain di sini, dia bebas mengekspresikan diri dan berdiri dengan tenang. Sedangkan pakaian putihnya yang basah tidak sama sekali menutup auratnya.
Dalam annya tercetak jelas di b****g sintalnya. Semua terlihat transparan seperti layaknya orang telanjang.
Dia mengibaskan rambut panjangnya yang hitam dan tergerai setengah basah. Leher jenjangnya yang putih dan belahan dadanya yang menyembul sontak membuat libido ku naik tiba-tiba.
Sekujur tubuh ku memanas dan seketika akal sehatku berhenti bekerja. Saat gadis yang tengah aku kagumi menghadap ke samping sambil mengibaskan rambutnya kembali, sisi primitif ku keluar dan ku dekap dirinya dari belakang. Saat hendak berteriak bibirnya yang manis sudah ku lumat tanpa bisa ku hentikan.