"Kita menaruh perasaan tanpa ikatan. Juga, tidak membiarkan orang lain untuk mengambil kesempatan." ---- Davin menutup laptopnya yang sebenarnya sejak tadi juga tidak ia gunakan sama sekali. Lelaki itu memikirkan kejadian yang tak sengaja terjadi akhir-akhir ini. Bagaimana akhirnya ia bisa kembali bertukar kabar dengan Tania. Gadis yang masih setia mengisi hatinya sampai hari ini. Tetapi, ia masih belum tahu apakah sekarang adalah waktu yang tepat untuk kembali menyatakan perasaannya. "Bengong mulu! Awas kesambet!" Rieke menepuk bahu sang sepupu cukup keras sampai membuat lelaki itu hampir sama melemparkan buku ke arahnya. "Ngagetin aja!" dengus Davin kesal. "Ya lagian lo bengong mulu. Kenapa?" "Nggak. Lagi mikirin jawaban aja. Bener nggak ya?" Alibi Davin sangat tidak masuk akal ba

