"Jika masih ada kesempatan, maka lakukan. Jangan menunggu waktu mengubah kesempatan itu." ---- Davin memilih duduk di balkon yang langsung menghadap ke hamparan hijau hutan pinus dan perkebunan teh yang berpadu dengan lampu-lampu yang mulai menyala. Mengabaikan suara bising Vanya dan Rieke yang tengah menata beberapa makanan untuk malam ini. Hawa dingin dan langit yang mulai menggelap membawanya semakin larut dalam pikirannya sendiri. Terkadang, ia merasa kalau dirinya sudah semakin jauh dengan Tania. Tetapi, ia juga masih merasa kalau gadis itu tidak akan mungkin pergi darinya. Namun, dua kemungkinan itu sama-sama tidak membuatnya bisa menggenggam Tania. Ia juga tidak berani bertindak lebih jauh. Usia mereka masih sangat muda dan takut mengecewakan. Pikirannya memang selalu saja serba

