bc

The obsessed girl ayala

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
dark
love-triangle
arrogant
drama
bxg
mystery
campus
highschool
sassy
like
intro-logo
Blurb

Ketika hati dan obsesi bertabrakan, batas antara cinta dan kegilaan pun tipis. Ayala hanya ingin dekat dengan Riyan—pria dingin, menawan, dan membuatnya tergila-gila. Tapi ada cewek lain, ada rahasia, ada risiko… dan Ayala harus berjuang lebih dari yang ia kira. Siapkah kamu mengikuti obsesinya?

chap-preview
Free preview
Awal pertemuan
.Ayala berlari kecil, tergesa-gesa masuk ke ruang kuliah Ekonomi Strategi yang sudah dimulai lima menit lalu. Ia berhenti di depan pintu sambil menarik napas, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang, lalu berkata pelan pada dosen, “Maaf, Pak… saya telat. Macet.” Dosen Prabowo hanya mengangguk dan mempersilakan masuk. Ayala—gadis cantik yang tampil sederhana—melangkah menyusuri sela bangku, mencari tempat kosong. Ia memilih duduk di pojok dekat jendela, tempat yang paling aman dari perhatian orang. Begitu duduk, ia mencoba fokus ke materi yang sedang dibahas hari itu. Tapi matanya bergerak sendiri, menyapu seluruh ruangan. Ada hampir seratus mahasiswa di kelas itu. Sampai matanya berhenti pada satu orang. Seorang pria. Wajahnya seperti model Korea—bersih, dingin, dan punya aura yang sulit dijelaskan. Ayala diam, napasnya tiba-tiba sedikit tercekat. Ada sesuatu pada pria itu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Fokusnya mulai kacau. Separuh mendengarkan dosen, separuh lagi memperhatikan gerak-gerik pria itu. Ia membayangkan hal-hal yang aneh—seandainya bisa duduk di sampingnya, berbicara dengannya, atau bahkan… menjadi orang yang dia perhatikan. Dalam hatinya, muncul rasa ingin memiliki, ingin selalu dekat, seolah dia bagian dari hidupnya. Itu rasa yang membuatnya agak takut pada dirinya sendiri. Tanpa sadar, Ayala tersenyum dan bahkan tertawa kecil. “Astaga… kenapa aku bisa sebegini terpikat?” gumamnya dalam hati, sambil menatap Riyan—tanpa ia sadari, rasa obsesinya mulai menguat. “AYALA!!” Suara dosen mendadak keras. Jantung Ayala hampir copot. Seluruh kelas menoleh, menatapnya. “Kenapa kamu tertawa?!” tegur Dosen Prabowo. Ayala panik, suaranya gemetar. “Ma–maaf, Pak… nggak sengaja.” Kelas langsung riuh. Ada yang cekikikan, ada yang bisik-bisik. Dari depan, seorang mahasiswa nyeletuk, “Pantesan! Melamun terus sih, Ayalaaa!” Wajah Ayala panas. Ia menunduk dalam-dalam. Dalam hati, ia berbisik, “Gila, aku harus bisa dekat sama dia… kenapa harus ada cewek lain?” Prabowo akhirnya menutup kuliah umum hari itu. Aku menulis catatan kecil, merapikan buku, lalu memasukkan kertas-kertas ke tas. Sebagian mahasiswa sudah keluar dari kelas, tapi saat aku melirik, pria itu masih duduk di tempatnya. Beberapa cewek mendekat, tertawa kecil, mencoba kenalan. Tapi yang bikin aku heran: dia cuma diam. Hampir tidak merespon. Matanya datar, dingin. “Dingin banget… tapi kenapa aku tetap nggak bisa berhenti menatapnya?” gumamku dalam hati. Rasa obsesinya semakin terasa, meski ia terlihat tenang. Saat ia berdiri dan hendak keluar, aku langsung panik. Aku nggak mau kehilangan kesempatan buat kenalan. Aku cepat-cepat berdiri dan mengikuti langkahnya dari belakang. Jantungku berdebar. Tangan rasanya dingin. Pikiran mulai kacau: “Haruskah aku panggil dia? Tapi kalau aku panggil, apa dia bakal cuek sama aku?” Tapi akhirnya aku tarik napas panjang dan memberanikan diri. “Ka—Kak!” panggilku agak keras. Dia berhenti. Menoleh. Menatap langsung ke mataku. Astaga… tatapannya bikin aku makin gugup. Aku hampir nggak bisa ngomong. Dengan sisa keberanian yang kupunya, aku berkata, “Perkenalkan… aku Ayala.” Ia menjawab singkat, datar, tanpa ekspresi, “Aku Riyan.” Hanya itu. Setelah mengucapkannya, ia langsung berjalan pergi, tanpa menoleh lagi. Seolah aku nggak berarti. Aku berdiri di situ, bengong beberapa detik. Dalam hati aku berkata, “Aku nggak peduli dia cuek. Aku harus bisa dekat sama dia… aku nggak akan berhenti.” Rasa obsesinya mulai terasa lebih kuat—detik demi detik, pikirannya hanya tentang Riyan. Baru saja aku ingin menahannya, tiba-tiba ada suara dari belakang memanggil, “Riyan! Riyan!” Aku menoleh. Seorang cewek cantik berlari kecil menghampiri Riyan. Napasnya ngos-ngosan, seperti takut kehilangan dia. Riyan terlihat kaget dan agak tertekan dikejar begitu. Ia melangkah mundur sedikit, seperti ingin menghindar. Tapi cewek itu sudah berdiri tepat di sampingnya. Aku cuma menggeleng melihatnya. “Gila, ini cewek harusnya ikut lomba sprint. Cepet banget,” gumamku sambil nyengir geli. Cewek itu langsung merajuk, memaksa Riyan ikut dengannya ke kantin di blok sebelah. Tangannya bahkan sudah narik lengan Riyan. Manja banget. Aku langsung ngomel sendiri, “Sialan, baru juga aku kenalan duluan. Kok dia yang agresif banget sih?!” Aku nggak mau kalah. Aku ikut mengejar mereka dari belakang, berusaha menyelip sebelum cewek itu menarik Riyan terlalu jauh. Dalam hati, aku berpikir: “Aku nggak boleh kalah… dia harus lihat aku juga!” Tanpa mikir panjang, aku teriak, “Riyan! Tunggu! Aku ikut!” Riyan berhenti. Ia menoleh ke arahku. Untuk pertama kalinya, dia menunggu aku. “Boleh. Ayo,” katanya singkat. Cewek itu langsung cemberut. Mukanya jelas nggak suka. Dia memegang lengan Riyan dan berkata keras, “Riyan, nggak usah ajak yang lain. Kita berdua aja, ya?” Tapi Riyan seperti nggak dengar. Ia malah melepas tangan cewek itu, lalu memegang tanganku. Aku terdiam. Syok. “Ya ampun… mimpi apa aku semalam… Riyan nyentuh aku?” Wajahku panas sekali. Pipi rasanya meledak. Dalam hati, rasa obsesiku makin terasa: “Aku harus selalu ada di samping dia… aku nggak peduli siapapun.” Sesampainya di kantin, suasananya sudah ramai. Banyak mahasiswa duduk berkelompok, makan, ngobrol, atau cuma scroll HP. Kami bertiga mencari tempat kosong, dan akhirnya Riyan memilih duduk di meja dekat pintu masuk. Aku duduk di sampingnya, sementara cewek itu duduk di seberang. Aku bahkan belum tahu namanya, dan jelas dia nggak punya niat buat kenalan. Dari cara dia memandangku… kelihatan banget dia ngeremehin aku. Tak lama, Riyan berdiri dan memesan ayam geprek Mbok Yuni. Saat dia pergi, cewek itu langsung menoleh ke arahku dengan tatapan sinis. “Hei! Ngapain sih lu ikut-ikut? Cewek nggak tahu malu!” bentaknya dengan suara cukup keras. Aku kaget, tapi langsung panas. “Urusan gue! Kenapa lu yang marah? Riyan juga nggak masalah, kan!” balasku. Ucapanku justru bikin dia tambah beringas. Dia mendekat, wajahnya penuh amarah. “Lu nggak pantes dekatin dia! Cewek kampung kayak lu jangan mimpi dia mau sama lu!” Kata-katanya menusuk. Aku merasa diremehkan… dihina. Tapi obsesi aku terhadap Riyan membuatku tidak bisa mundur. Sebelum sempat mikir panjang, tanganku sudah menjambak rambutnya kuat-kuat. Dia teriak kecil, tapi langsung balas menjambak rambutku juga. Kami berdua saling tarik, saling dorong, dan dalam hitungan detik suasana kantin jadi heboh. Semua orang menonton. Ada yang teriak, ada yang rekam. Pertengkaran itu baru berhenti setelah dua satpam kampus datang dan memisahkan kami paksa. Aku terengah-engah. Rambutku berantakan. Begitu pula cewek itu—makeupnya luntur, wajahnya merah karena emosi. Aku mencari Riyan—tapi dia sudah nggak ada. Ternyata saat kami ribut, dia langsung kabur dari kantin. Aku memejamkan mata, malu setengah mati. Gara-gara rebutan cowok… aku jadi tontonan satu kampus. Dalam hati aku berpikir: “Aku nggak peduli, aku akan temukan cara supaya dia cuma milikku. Aku nggak akan menyerah.” Rasa obsesiku semakin terasa, membara seperti api yang sulit dipadamkan. ---

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
318.9K
bc

Too Late for Regret

read
362.9K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
153.0K
bc

The Lost Pack

read
471.4K
bc

Revenge, served in a black dress

read
160.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook