Ini sungguh apa-apa. Rasanya tidak nyaman. Tadi pagi. Poni dengan sok-nya mengatakan dia baik-baik saja. Kembali ke unitnya hanya untuk mengambil pakaian kerjanya, Bella sudah berdiri dengan senyum penuh arti. Ke manapun Poni berjalan, sahabatnya itu akan mengekori Poni hingga Poni merasa panas. Dan akhirnya Poni mengatakan yang sejujurnya. Poni pikir Bella akan memarahinya dan mengatakannya bodoh karena mau saja menerima Ansel. Tapi sahabatnya malah memberinya selamat dan menangis yang mana membuat Poni ikutan menangis. “Terima kasih, Tuhan! Akhirnya sahabatku berakhir dengan malam yang panas bersama orang yang ia cintai.” Ucapan Bella tadi pagi membuat Poni benar-benar malu. “Poni? Kau sudah lebih baik?” Poni tersadar dari lamunannya. Duduk di depan meja kerjanya, ia mendongak unt

