Rasa Gugup Membuat Kacau

1069 Words
Sarah berhenti sejenak, mengatur detak jantungnya yang tak teratur. Semua yang terjadi kembali berputar begitu saja di otaknya. Seketika dia sedikit merasa kesal melihat sosok di depannya yang sedang tertawa, “Pria b******k,” gumam Sarah. Dia memejamkan kedua mata sebentar lalu mengembuskan napasnya perlahan dan melanjutkan langkah ke meja di sudut. “Silakan Tuan, pesanannya,” ujar Sarah, menghindari kontak mata dengan kedua lelaki yang dibilang tampan oleh para wanita. Devan menatapnya dengan tajam, ingat bahwa Sarah telah berlari meninggalkan mereka. Sementara Alex tak begitu memperdulikannya. Tak juga melihat Sarah yang sedang memakai masker untuk pelindung wajah. Lebih tepatnya, menyembunyikan wajahnya. “Kamu, pelayan tadi ‘kan?” tanya Devan, sedikit membuat Sarah meringis di balik penutup wajah. “Iya, Tuan.” Sarah merutuki tangannya yang dingin dan kakinya yang ingin segera meninggalkan tempat itu. Dia bisa secemas itu hari ini. “Kenapa tadi kamu lari? Sakit?” tanya Devan diikuti decak dari mulut Alex, tak suka dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu. “Saya—“ “Van, udah deh, kita di sini buat have fun, bukan mempermasalahkan hal sepele seperti itu. Jangan buat pikiranku tambah ruwet, Van.” Alex memperingatkan Devan dengan kedua mata melotot. Sarah bersumpah dia ingin lari lagi dari situasi itu saat Alex sempat meliriknya. Namun, wajahnya menunduk hingga Alex tak dapat melihat mata Sarah. “Kalo pikiranmu ruwet, nanti malam kamu sewa wanita panggilan seperti biasanya. Beres, kan?” canda Devan sambil mengibaskan tangan pada Sarah agar wanita itu pergi dari tempat dia berdiri. Sarah membungkuk, merasa lega, tapi ada satu hal yang membuatnya sangat sedih, bahwa lelaki itu memang suka tidur dengan wanita panggilan dan dia adalah salah satu wanita yang pernah ditiduri oleh pria itu. Sarah menggigit bibir bawahnya, menahan sesak di d**a. Dia jatuh ke pria yang benar-benar b******k. Pikiran Sarah sekarang dipenuhi oleh rasa kecewa akan takdir yang harus menimpanya. “Kenapa Ya Tuhan? Kenapa aku harus seperti ini?” rintihnya dalam gumaman. Semua pikiran itu membuatnya tak berkonsentrasi di pekerjaan. *** Di sisi lain, di sebuah toko perhiasan, sepasang kekasih sedang memilih perhiasan yang bagus atas permintaan di wanita. Mereka adalah Sonia dan Mike. Mike mengabulkan permintaan Sonia, untuk ulang tahun yang akan diadakan tiga hari lagi. Wanita itu meminta sebuah kalung yang sangat mahal harganya. “Mike, aku mau terlihat istimewa pada saat hari ulang tahunku tiba,” pinta Sonia dengan nada merayu sang tunangan. Mike menggaruk tengkuknya, masih berdiri tegak sementara Sonia menggamit lengannya mengarah ke sebuah etalase khusus. Kemarin dia melihat Jessy memakai tas branded dan teman-temannya heboh mengagumi tas senilai dua ratus lima puluh juta rupiah itu. Rasa iri menyelubungi hati Sonia hingga dia menginginkan tas yang lebih mahal di saat pesta ulang tahunnya nanti. Meminta pada sang ibu tak akan mungkin karena sang ibu telah menyiapkan mobil baru. Demi hal itu, Helena harus menuruti semua perintah Zidanne untuk tidak bepergian selama beberapa bulan ke depan. Sonia cemberut mengingat bagaimana sang ibu menolak permintaannya atas sebuah tas saja. Akhirnya, satu jalan terakhir adalah meminta kepada tunangannya. “Apa sih yang nggak buat kamu,” sahut Mike membuat Sonia makin mempererat lingkar tangannya di lengan kekar lelaki itu. “Makasih, Sayang!” pekik Sonia, tak percaya bahwa sekarang dia dikelilingi oleh orang-orang yang memenuhi segala keinginannya. Sonia sibuk memilih tas dengan model yang terbaru dan harganya cukup fantastis, mencapai tiga ratus juta rupiah. Dia langsung jatuh cinta pada tas yang berwarna putih itu. Bukan Sonia kalau Sonia langsung menarik tangan Mike dan menunjuk ke tas branded yang dipajang di etalase khusus. “Itu ya, Sayang? Aku mau itu,” tunjuk Sonia dengan bersemangat. Mike tersenyum, lalu mengelus kepala tunangannya dengan rasa sayang. Dia mengangguk, membuat Sonia melonjak kegirangan. Segera dia meminta pelayan untuk membungkus tas itu. Mike mengeluarkan benda pipih untuk membayar tas yang dipilih oleh Sonia. “Sebagai kado ulang tahunmu, Sayang.” Mike menyerahkan perhiasan itu ke tangan kekasihnya yang berseri-seri menerima tas bermerk yang dia inginkan. Setelah mereka melakukan hubungan badan, apalagi ditambah dengan pertunangan mereka, Sonia makin berani meminta barang-barang mahal yang belum pernah dia minta. *** Di cafe, Sarah masih bekerja dengan rasa cemas. Hari semakin malam dan kedua lelaki itu tak kunjung pergi dari tempat tongkrongan mereka. Sementara Sarah sangat lelah bekerja sendirian sebagai pelayan karena Dara tidak mau membantunya sama sekali. Dari melayani pengunjung hingga membersihkan meja dan lantai, semua Sarah yang melakukannya. Alat pel yang dia pakai sedikit menyenggol kaki Devan. Melihat Sarah membungkuk-bungkuk memohon maaf, Alex menahan Devan untuk marah pada wanita itu. “Dia nggak sengaja, Van.” Alex kembali menyesap minumannya dengan santai. Banyak sekali yang mereka bicarakan petang hingga malam itu. Sebentar, Alex lupa akan pikirannya tentang wanita yang dia tiduri di hotel. Bertemu dengan Devan mampu membuatnya agak merenggangkan pikiran. “Lihat, Lex. Dari tadi wanita itu terus yang mondar-mandir kerja. Apa di cafe ini nggak ada karyawan lain?” Devan yang merasa sejak awal datang ke cafe, bersinggungan dengan seorang pelayan yang itu-itu saja, merasa ada yang aneh. Alex memutar kepalanya, mencari keberadaan wanita pelayan cafe yang sekarang sedang berdiri memunggungi. Dia melihat sekilas, ada seorang lelaki yang sengaja menyenggol lengan wanita itu. Alex menatap lekat ke punggung pelayan dan merasa tak asing saat menatap lama. Tiba-tiba saja dia sedikit kesal saat melihat para lelaki memanggil pelayan itu dengan tak senonoh. Namun, seperti biasa, Alex hanya diam memperhatikan karena merasa itu bukan urusannya. “Iya, kamu benar, Van. Kurasa cafe ini tidak kekurangan pelayan karena satu wanita itu pun pelayan,” tunjuk Alex ke Dara yang juga memakai seragam cafe dengan celemek yang sama dengan Sarah, hanya berdiri mengawasi cafe. Alex melihat peluh Sarah yang berjalan menyamping. Saat itulah dia mengerutkan dahinya. Merasa ada yang tidak asing kembali dengan hal itu. Sayangnya, malam itu dia tak ingat benar wajah Sarah karena dia pun sedang mabuk. Sementara Sarah sendiri selalu menghindari tatapan Alex. Dia mulai merasa gelisah saat dua lelaki itu lekat memperhatikannya. Karena hal itu, dia tergesa membersihkan meja di sebelah meja Alex dan Devan. Rasa lelah, gelisah dan gugup menyatu hingga tingkat kehati-hatiannya menurun drastis. Tangannya tak sengaja menyenggol gelas kosong di meja sebelah dan naas, gelas itu terjatuh ke lantai kemudian pecah berkeping-keping, membuat suara yang terdengar sampai di telinga Dara. Wajah Sarah langsung memucat. Banyak mata menatapnya dengan pandangan yang tak suka. Dia segera meletakkan nampan di atas meja dan berusaha membersihkan meja, tapi langkah Dara telah sampai di depannya saat dia menunduk, mengambili pecahan kaca.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD