Pengantin Pengganti - Part 1

2220 Words
"Nggak!" Aku memekik tertahan mendengar jawaban yang baru saja keluar dari mulut Mas Nino. Yang benar saja pria itu! Pasti ada kekeliruan di sini. Pria itu pasti sudah gila, atau mungkin kepalanya baru saja menghantam benda keras sehingga pikirannya menjadi ngaco. Tentu saja aku belum siap untuk berumah tangga dan mengurus anak-anak yang akan merecoki hidupku sepanjang hari. Boro-boro sampai memikirkan itu, menggoreng telur saja kadang bentuknya masih nggak karuan bahkan bisa sampai pinggirannya gosong. Untung-untung merebus air nggak sampai gosong juga kettle-nya. Jadi, menikah bukanlah usulan terbaik untukku saat ini. Lagipula, mereka 'kan bisa mencari orang lain yang bersedia untuk menikah dengan Antonino Kaku Pranadipa itu. "Aku belum mau menikah," gumamku. Apalagi sama anak Om dan Tante yang ekspresi wajahnya sama terus sepanjang hari. Melihat wajahnya itu aja udah terasa menyebalkan bagiku, lanjutku dalam hati pada kedua orang tua Mas Nino. Ayah dan Bunda masih setia melayangkan tatapan tajam mereka padaku. Berbeda dengan ibunya Mas Nino melayangakan tatapan memohon padaku. Oh, sial! Tatapan para orang tua ini benar-benar membuatku mati kutu dan nggak bisa berkutik. Gara-gara Kak Abel nih! Ngapain pakai kabur segala, sih? Nggak bilang-bilang lagi. Jadi aku yang repot 'kan sekarang, rutukku dalam hati pada satu-satunya kakakku itu. Walaupun aku tahu wanita itu nggak bisa mendengar gerutuan yang ada di dalam hatiku, tapi tetap saja ialah sumber semua masalah yang terjadi saat ini. "Kezia!" panggil Ayah dengan suara tegasnya. Aku menatap Ayah dengan pandangan memohon. Memohon agar aku nggak dinikahkan dengan calon suami kakakku sendiri. Tinggal bilang sama para tamu undangan kalau acaranya dibatalkan karena pengantin wanitanya kabur apa susahnya, sih? pikirku dalam hati dengan tatapan nelangsa yang tampak menyedihkan. Ayah membuang pandangan ketika mata kami bertemu. Pria paruh baya itu memutukan kontak matanya denganku. "Kez, Tante mohon. Kamu mau nikah sama Nino, ya, Nak. Semua tamu undangan udah duduk disana, kamu nggak mau keluarga kita semua malu, 'kan?" Kali ini, ibu Mas Ninolah yang membujukku. Aku terdiam sejenak untuk memikirkan ucapan beliau, sebenarnya ini adalah salah satu keputusan paling berat yang ada di dalam hidupku. Namun, para orang tua yang sedang berada di ruangan ini sudah menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutku dan melayangkan tatapan nggak sabar mereka padaku. Dengan berat hati, aku pun akhirnya memberikan sebuah anggukan kepala tanpa menjawab secara verbal. Suaraku tercekat, rasanya seperti tertahan di tenggorokan bagaikan pipa yang sedang tersumbat sehingga nggak ada satu pun suara yang mampu dihasilkan oleh pita suaraku. "Jadi, kamu setuju, 'kan?" tanya Bunda setelahnya untuk memastikan arti dari anggukan kepala yang baru saja kuberikan. Rasanya aku ingin memberontak dengan mengatakan tentu saja aku nggak setuju. Tapi, mana mungkin aku berbuat hal tersebutk, ‘kan? Kini aku sudah benar-benar pasrah, nggak ada gunanya lagi menolak usul gila dari para orang tua ini. Biarkanlah Tuhan dan takdir yang bermain setelah ini. * "Saya terima nikahnya dan kawinnya Kezia Krasnitari binti Susilo Atmadja dengan mas kawinnya yang tersebut dibayar tunai." "Sah?" "Sah!" Para saksi mengucapkan alhamdulillah setelahnya. Walaupun ada beberapa cibiran yang tertangkap oleh indra pendengaranku, aku memilih untuk mengabaikannya. Toh, cibiran dari mulut para tamu undangan itu nggak bisa merubah apapun yang sudah terjadi, ‘kan? Jadi, biarkan saja mereka berasumsi seenak jidat mereka. Lagi pula, yang akan merasakan manis asam pahitnya dari pernikahan ini ‘kan aku, bukan mereka. Seharusnya akulah yang bersungut-sungut di sini. Tapi kalau aku melakukannya, sudah dipastikan telingaku akan mendapat jeweran di telinga dari Ayah dan omelan panjang dikali lebar dikali tinggi oleh Bunda. Banyak dari mereka yang bertanya-tanya dan mencibir mengenai nama pengantin wanita yang berbeda dengan yang tertulis di undangan dan yang diucapkan saat ijab qobul tadi. Dengan canggung dan gugup, kuraih tangan Mas Nino yang besar dan sedikit kasar pada bagian telapaknya. Itu menandakan bahwa pria ini bukan jenis pria melambai yang menjaga seluruh bagian tubuhnya agar selalu mulus dan tanpa celah. Setidaknya, ada satu bagian dari diri pria ini yang nggak membuatku merasa sebal. Penghulu lalu mempersilahkan Mas Nino untuk memberikan sebuah kecupan di keningku. Walaupun kami nggak menyukai pernikahan dadakan ini, Mas Nino tetap melakukan titah dari penghulu itu dan tentu saja aku merasa keberatan akan hal itu. Keningku yang masih suci dan tanpa noda ini, kini sudah terjamah oleh bibir dari orang yang nggak kusukai. Persetan dengan semuanya. Ini cuma sebuah ciuman di kening yang nggak berarti, Kezia, sisi gelap batinku berujar di dalam hati.  Tapi itu ciuman kening pertamaku! lanjut sisi terang batinku dengan kesal. Argh! Aku bisa benar-benar menjadi gila setelah ini kalau batinku terus-menerus berdebat seperti ini. Acara berlangsung dengan khidmat. Ibunya Mas Nino dan Bunda bertanya perihal acara resepsi yang tentu saja langung kutolak dengan mentah-mentah usul dari ibu dan mertuaku itu. Jangan harap aku mau menerima resepsi yang seluruhnya merupakan andil Kak Abel dalam mempersiapkannya, sementara dengan menerima bekas calon suaminya ini saja suduh membuatku gondok setengah mati. Nggak mungkin lagi aku akan merepotkan diri dengan cara menerima acara resepsi tersebut dengan lapang d**a. Mimpi! Untungnya, Mas Nino setuju dengan penolakanku itu. Pria itu juga sepemikiran denganku, menolak diadakannya acara resepsi padahal pria itu jelas tahu kalau Kak Abel sudah mempersiapkan acara resepsi tersebut. Entah berapa banyak uang yang sudah mereka habiskan hanya untuk sebuah pernikahan, aku pun nggak tertarik untuk mencari tahu tentang itu. Yang jelas. aku nggak ingin berita pernikahan mendadak ini tersebar luas sampai ke khalayak luar. Apalagi sampai ke telinga teman-temanku yang ada di sekolah. That will be a really bad disaster jika mereka tahu kalau aku sudah menikah dan parahnya dengan mantan calon suami kakakku sendiri. Mau dipajang di mana mukaku kalau ada teman sekolahku yang tahu kalau aku sudah bersuami bahkan sebelum lulus sekolah? Bahkan kalau mau disembunyikan di balik kolong kasur sekali pun, rasanya aku nggak akan sanggup. Yang benar saja, dengan jarak usia kami yang terpaut sebelas tahun, bisa-bisa nanti teman-temanku akan mengejekku sebagai simpanan om-om hidung belang kalau sampai mereka tahu kenyataan ini. Oleh karena itu, pernikahan ini nggak boleh bocor sampai ke telinga orang luar. Namun ada satu hal yang kuketahui dengan pasti perihal tentang pernikahan mendadak ini, semua mimpi buruk ini hanya berasal dari satu nama, Belinda Krasnitika. Pasti Kak Abel kabur dengan pacarnya yang nggak disetujui oleh orang tua kami itu. Pria tanpa masa depan yang jelas, dengan tato yang hampir terpatri di seluruh permukaan tubuhnya itu membuat ayah murka saat Kak Abel mengenalkannya pada kedua orang tua kami. Aku masih ingat kemurkaan Ayah pada hari itu setelah pacar Kak Abel berpamitan dari rumah kami. Kukira mereka sudah putus sejak kemurkaan ayah hari itu, apalagi ditambah dengan fakta bahwa Kak Abel sudah bertunangan dengan Mas Nino. Namun ternyata, mereka masih menjalani hubungan dan itu kuketahui tiga bulan yang lalu. Aku nggak bertanya apapun pada Kak Abel saat itu, bahkan berpura-pura nggak mengetahui hubungan tersebut. Tapi, karena keterdiamanku itulah yang membawa malapetaka untukku hari ini. "Kami pamit dulu." Mas Nino membuka suaranya. Saat ini kami sedang berada di tempat berkumpulnya para orang tua karena acara sudah selesai dan semua tamu undangan sudah pulang. Hanya tersisa kami dan tukang bersih-bersih di rumah ini. "Kenapa nggak mau diadakan resepsi, No?" tanya ayahnya Mas Nino. Pria paruh baya itu menatap putranya dari balik kacamata yang sedikit melorot di hidungnya. "Buat apa? Lambat laun kami juga akan berpisah. Pernikahan ini 'kan hanya untuk menjaga nama baik keluarga aja, Pa," jawab Mas Nino berterus terang. Lihatlah, selain datar dan perfeksionis, pria itu juga terlalu jujur saat bertutur kata tanpa memikirkan perasaan orang yang mendengarnya. Meskipun aku sangat nggak setuju dengan pernikahan ini, tapi apa perlu pria itu berbicara seperti ini di depan kedua orang tua kami? Walaupun aku hanya menampilkan ekspresi datar di wajahku, namun sebenarnya di dalam hati aku bersorak kegirangan mendengar ucapannya itu. Seandainya pun bisa besok langsung cerai, itu akan membuatku lebih girang lagi. Kulihat Bunda terkesiap ketika mendengar kalimat kelewat jujur itu keluar dari mulut Mas Nino, sedangkan Ayah yang duduk di sebelah Bunda hanya mengamati dengan raut datarnya. Aku tahu beliau diam, namun di dalam hatinya ia sedang murka. Ekspresi ini persis sama seperti saat Kak Abel membawa pacarnya yang bertato itu ke rumah dan mengenalkannya kedua orang tuaku. Sementara di sisi Bunda yang lain, ibunya Mas Nino menatap putranya dengan tatapan nggak percaya, sedangkan suaminya tampak murka, terbukti dari rahangnya yang tampak mengeras. "Antonino!" desis ibu mertuaku menegur putranya. Suami beliau yang duduk di sebelahnya juga tampak geram mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut Mas Nino tadi. "Jangan pernah ada kabar yang sampai ke telinga Mama kalau kamu akan menceraikan Kezia!" lanjut beliau dengan nada marah. "Kami nggak saling mencintai, Ma. Buat apa kami pertahankan pernikahan ini lama-lama?" tanya Mas Nino dengan gusar. “Lagian, siapa yang mengusulkan pernikahan mendadak seperti ini? Jelas bukan kami berdua,” lanjut pria itu dan mengalihkan tatapannya padaku sekilas. "Nino nggak akan menceraikan Kezia dalam waktu dekat ini. Mungkin setahun atau dua tahun ke depan," sambung Mas Nino setelah terdiam beberapa saat, Aku yang berdiri di sebelah pria itu itu pun kembali bersorak dengan gembira di dalam hati. Setidaknya aku hanya perlu bertahan satu sampai dua tahun bersama pria kaku, dingin, dan perfeksionis ini. "Nggak bisa, Nino. Papa nggak pernah mengajari kamu untuk jadi pria seperti begini!" Kali ini ayah mertuaku pun terlihat mengeluarkan api amarahnya. Mata beliau tampak berkilat marah, sedangkan ibu mertuaku memijat keningnya sendiri yang kurasa sudah sangat berdenyut saat ini. Katakanlah aku berdosa karena tertawa di atas kefrustasian para orang tua ini. Tapi, apa yang harus kulakukan? Ikut frustasi seperti mereka? Oh, tentu saja aku nggak akan melakukan itu karena itu sangat bukan style seorang Kezia Krasnitari yang memandang segalanya dengan santai dan tenang. Toh, pada faktanya aku memang nggak ingin menikah sekarang. Apalagi dengan pria bermodel seperti Antonino Pranadipa. Amit-amit jabang bayi, tapi tampaknya semesta ingin bermain-main denganku sampai-sampai diriku sekarang terjebak menjadi istri dari pria yang kelakuannya paling minus di mataku ini. "Nggak akan pernah ada kata cerai di keluarga kita, Nino." Ibu mertuaku menatap anaknya semata wayangnya dengan emosi yang bercampur aduk. Beliau marah, tetapi matanya juga berkaca-kaca menahan tangis. "Ya, udah. Berarti Ninolah yang akan jadi orang pertama, Ma." Wait. Tunggu sebentar! Aku baru menyadari sesuatu. Kenapa aku selalu mendapat barang bekas dari Kak Adel, sih, selama ini? Bahkan suamiku saat ini adalah mantan tunangannya. Sial sekali. Bisa nggak, sih, sekali saja aku mendapat barang baru tanpa ada bekasan dari kakakku itu? Benar-benar menyebalkan. "Kita lanjutkan aja pembicaraan ini lain kali." Ayah akhirnya bersuara setelah memilih bungkam sedari tadi. "Masalah nggak akan selesai kalau nggak dibicarakan dengan kepala dingin. Nino dan Kezia, kalian pulanglah ke rumah kalian." * Mas Nino mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Masing-masing dari kami nggak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun. Toh, ada kepentingan apa yang perlu dibicarakan dengan pria itu? Nggak ada satu pun topik menarik yang bisa dibahas di dalam mobil ini, apalagi dengan keberadaan pria yang ada di balik kemudi itu semakin membuatku malas untuk memulai percakapan. Akhirnya kami sampai di rumah pribadi milik Mas Nino setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit. Jangan berpikiran bahwa Mas Nino adalah seorang pria gentle yang akan melayaniku seperti seorang putri raja. Buktinya, pria itu langsung melenggang masuk tanpa memerdulikanku yang kesusahan menggeret koper yang besarnya sama seperti setengah dari tubuhku ini. Pria itu bahkan nggak membantuku saat menurunkan koper itu tadu. Benar-benar keterlaluan. Sosok Mas Nino tampak berdiri di undukkan anak tangga paling bawah. "Kezia," panggilnya ketika aku baru masuk ke dalam rumah dengan tangan yang menggeret koper. "Apa?" tanyaku dengan nada galak dan raut wajah jutek. "Jangan berharap banyak pada pernikahan ini,” kata Mas Nino. Ada jeda sejenak sebelum pria itu melanjutkan ucapannya. "Kamarmu ada di samping kamar utama," lanjutnya kemudian melenggang pergi tanpa menutunku ke kamar yang baru saja dimaksud olehnya. "Dih. Lo kira gue berharap banget untuk jadi istri lo? Kalau bisa cerai sekarang, gue lebih senang lagi malah," gerutuku setelah pria itu sudah menghilang dari pandanganku. "Bilangnya kamar gue di sebelah kamar utama, tapi nggak anterin gue ke sana. Emang dikiranya, gue jin penunggu di rumah ini apa sampai-sampai bisa tau kamar itu di mana. Dasar edan!" makiku yang masih berdiri di tempatku sebelumnya dengan suara kecil. * "Kenapa kamu belum masuk kamar?" tanya Mas Nino sembari berjalan menghampiriku yang sedang duduk di sofa sambil menonton acara infotainment di salah satu stasiun televisi. Kulihat ujung-ujung rambut Mas Nino basah dan meneteskan beberapa titik air, sepertinya ia baru saja selesai mandi. "Ya, lo kira gue jin apa sampai bisa tau di mana kamar utama. Lo ganteng-ganteng tapi edan juga, ya," semburku sambil melemparkannya kacang telur yang kuambil dari lemari dapur beberapa saat yang lalu. Pria itu menatapku dengan tatapan tajamnya setelah menghindar dari lemparanku. "Kamu ini nggak sopan sekali. Udah menumpang, masih berani melempar kacang pada tuan rumah," balas Mas Nino dengan nada datarnya. "Itu, kakinya lagi! Nggak ada sopan-sopannya sampai naik ke atas meja! Turunin nggak?!" sambungnya sambil menunjuk pada sebelah kakiku yang sedang bertengger pada pinggiran meja tamu. Karena nggak menuruti titah Mas Nino dan malah fokus pada acara yang sedang tayang ditelevisi, pria itu pun mengangkat sebelah kaki dan menubrukkannya pada kakiku sehingga kacang telur yang berada di pangkuanku kini jatuh berserakan di lantai. Aku menatap marah pada Mas Nino yang masih tetap dengan mode ekspresi datar itu. "Lo kira gue pengen banget numpang di rumah lo, hah? Kalau nggak karena para orang tua itu, gue mah mending ikut jejak Kak Abel yang lebih milih kabur daripada nikah sama lo!"  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD