Pengantin Pengganti - Part 2a

1352 Words
"Ya udah kalau begitu. Silahkan kamu keluar dari rumah saya. SEKARANG!" titah Mas Nino dengan nada tegas pada kalimatnya dan jari telunjuk yang mengarah pada pintu rumah. Aku melotot pada pria itu sambil bangkit berdiri dari posisiku. "Tapi sebelum itu, silahkan bersihkan remahan bekas makananmu yang berserakan di atas meja dan lantai. Setelah itu kamu baru boleh pergi," ujar Mas Nino melanjutkan. Aku melengos kemudian mengacuhkan titah pria itu. Persetan dengan perintahnya, aku nggak mau menuruti perkataan Mas Nino yang selalu tampak menyebalkan di mataku itu.ss Huh! Dikiranya aku takut dengannya? Belum tau dia siapa Kezia Krasnitari ini? batinku di dalam hati. Tanpa berpikir dua kali, aku segera mengambil harta benda milikku—tas dan koper yang masih bertengger di sebelah sofa lalu berjalan menghampiri pintu masukk dan memutar kenopnya. Tanganku kemudian membantingnya pintu utama itu sebelum benar-benar keluar dari rumah milik pria arogan itu. Dasar menyebalkan. Apa salahnya kalau aku makan kacang dan biji bunga matahari? Memangnya ada undang-undang tertulis di rumahnya yang nggak memperbolehkan untuk makan dua jenis makanan itu? Lagi pula, salah Mas Nino sendiri yang nggak mengantarkanku sampai ke kamarku sendiri. Kalau saja pria itu tadi mengantar dan menunjukkan letak kamarku dengan jelas, aku pasti nggak akan berakhir dengan memakan kacang dan biji bunga matahari di ruang tamunya. Lagi pula memangnya di rumahnya yang sebesar istana itu nggak ada satu pun pelayan atau tukang bersih-bersih yang dipekerjakan? Nggak masuk akal! Itu pasti hanya akal-akalan Mas Nino untuk mengerjaiku saja. Pria itu pasti mau merusak hasil pedicure dan menicure yang ada di jari-jariku ini. Dasar, jahat! Security yang berjaga di gerbang depan menatapku dengan pandangan bertanya ketika aku berdiri di hadapannya. Tapi pria paruh baya itu nggak berani  berani bertanya apapun atau bakan memberikan penolakan saat aku memberi perintah untuk membuka pintu gerbang. Kedua kakiku berjalan menuju gerbang luar komplek perumahan ini. Aku nggak ada tujuan dan juga nggak tahu harus kemana. Nggak mungkin aku balik ke rumah, 'kan? Bisa-bisa Bunda mengejarku sampai berkeliling rumah sebanyak tujuh kali dengan sapu ijuk di tangannya, hanya untuk melibas bokongku yang cantik ini. Ternyata susah juga menjadi orang kaya yang mendadak miskin seperti ini. Karena rumah Mas Nino yang berada di dalam komplek perumahan elit, tentunya butuh jarak yang jauh untuk mencapai jalan raya yang berada di luar komplek. Dan karena ini adalah lingkungan elit, maka nggak ada angkot atau kendaraan umum yang diperbolehkan masuk ke dalam sini karena pastinya seluruh penghuni di dalam komplek ini sudah memiliki kendaraan mereka masing-masing. Tapi untungnya letak rumah Mas Nino nggak terlalu di berada di ujung komplek sehingga aku masih bisa mencapai gerbang luar komplek dalam waktu lima belas menit. Kepalaku menengadah ke atas, kulihat langit mulai mendung. Mungkin sebentar lagi akan turun hujan deras karena rintik-rintik sedikit demi sedikit sudah mulai membasahi rambutku dan wajahku. Untung saja aku sudah menukar kebaya dengan pakaian kasual saat di rumah Mas Nino tadi. Kalau belum, aku mungkin bisa dianggap gila oleh orang-orang yang berlalu lalang melewatiku di sini karena berkeliaran dengan kebaya dan kain songket dengan rambut yang disanggul. Ditambah lagi dengan koper yang besarnya setengah dari tubuhku ini, semakin membuat orang-orang yakin bahwa aku adalah pengantin baru yang mengalami gangguan jiwa sehingga baru saja diusir dari rumahnya sendiri. Ya, memang. Sebentar lagi aku udah mau gila sepertinya, batinku meringis di dalam hati. Tapi nahasnya, koper besar yang sedang kuseret ini benar-benar menyusahkan pergerakanku. Kini aku tiba-tiba menyesal karena memilih koper sebesar ini dan memasukkan banyak barang ke dalam benda berbentuk balok ini. Otakku tiba-tiba memikirkan benda-benda apa saja yang aku bawa sampai koper ini bisa seberat dan sepenuh ini. Langkah kakiku terhenti ketika indra penglihatanku menangkap sebuah halte bus. Ada beberapa karyawan yang sedang berteduh di sana, terbukti dari pakaian mereka yang rapi. Dewi Fortuna seakan sedang berada di pihakku karena halte itu nggak terlalu ramai sehingga aku bisa berteduh di sana dengan membawa koperku yang sebesar gajah ini. Nggak terasa, sudah tiga jam aku duduk di bawah halte ini tanpa jaket, sweater atau sesuatu yang bisa melindungi diriku dari hujan dan udara dingin yang menusuk kulit. Tanganku nggak berhenti saling menggosok demi menciptakan kalor yang aku harap bisa sedikit menghangatkanku. Sementara itu, gigiku bahkan sudah bergemelutuk sejak tadi karena udara dingin ini. Aku melirik pada jam yang tertempel pada bagian atas kerangka halte ini, ternyata sudah pukul 10 malam. Entah apa yang kupikirkan sejak tadi, rasanya waktu bergulir begitu cepat. Ketika hujan sudah mereda, orang-orang mulai meninggalkan halte ini karena malam yang semakin larut, menyisakan aku seorang diri di tempat ini. Aku menunduk dengan pandangan yanng tertuju pada lantai keramik halte yang berada di bawah kakiku seraya menendang-nendang kecil angin tak kasat mata yang ada di depanku. "Seandainya Kak Abel nggak kabur dari acara pernikahannya tadi, pasti sekarang aku udah tidur di dalam selimut hangat dan nggak kedinginan kayak gini," gumamku pada diri sendiri. Karena aku yang sedang menunduk sambil meratapi nasibku yang nahas ini, maka dapat tertangkap jelas oleh netraku ketika sepasang sepatu kets berhenti tepat berhadapan dengan kakiku dan hanya berjarak beberapa sentimeter dari ujung sepatu yang kini sedang kukenakan. Belum sempat aku mendongak untuk melihat siapa pemilik sepatu kets itu, sepasang tangan sudah lebih dulu menyampirkan selembar jaket berbulu yang hangat pada pundakku tanpa aba-aba. Perlakuan itu membuatku segera mengalihkan pandangan dari sepatu kets yang ada di hadapanku lalu mendongakkan kepala untuk menatap wajah orang yang baru saja menyampirkan jaket tebal yang kini sudah tersampir di pundakku. "Ma—Mas Nino," gumamku ketika mataku bertemu dengan mata pria yang baru saja mengusirku dari rumahnya beberapa jam yang lalu. "Ck!” Pria itu berdecak. “Kamu ini membuat saya susah aja! Bahkan belum genap 24 jam menjadi seorang istri, udah berapa kesalahan yang kamu buat, Anak Kecil?" lanjut Mas Nino bertanya dengan nada menyindir yang kentara pada suaranya. "Pakai jaket itu. Kalau kamu berani lepas, siap-siap aja jari kamu juga lepas dari tanganmu," titah Mas Nino ketika mendapati tanganku yang hendak menanggalkan jaket pria itu dari pundakku. "Ini masih gerimis! Jangan banyak tingkah dan malah bikin saya tambah kerjaan kalau besok kamu tiba-tiba sakit!" sambung pria itu yang entah kapan sudah meraih koperku lalu memasukkan benda itu ke dalam bagasi mobilnya yang terparkir di depan halte bus. Walaupun aku nggak membantah titah dari Mas Nino, tapi dengusan tetap nggak bisa tertahan untuk nggak kukeluarkan. Setelah memakai tudung penutup kepala yang ada pada jaket, aku pun mengekori Mas Nino untuk masuk ke dalam mobil pria itu.  "Lo bicara seakan-akan gue udah bikin ribuan kesalahan dalam waktu kurang dari sehari. Jangan besar-besarin masalah, deh, Om!" omelku pada Mas Nino sembari menghempaskan bokongku di kursi penumpang yang ada di samping pengemudi, sedangkan pria itu sudah duduk di balik kemudi dan bersiap-siap untuk melajukan mobilnya. "Sebaiknya kamu diam sekarang sebelum saya turunkan di tengah jalan," ujar Mas Dewa yang sudah melajukan mobilnya menyusuri jalan raya. "Ya, udah. Gue nggak masalah kalau mau lo turunin di sini sekarang juga,” ujarku santai karena aku tahu pria itu nggak akan setega itu menurunkanku di tempat sepi seperti ini, apalagi malam juga sudah semakin larut. “Tapi lo nyuruh gue turun di sini, buka pintunya lah. Ngomong kok nggak konsisten, sih, Om?” sambungku meledek sebelum terkikik karena mendapati pelototan galak dari Mas Nino. "Tutup mulut kamu, Kez. Saya pusing dengar ocehan kamu yang nggak bermutu itu!" balas Mas Nino tanpa menatapku. Pria itu fokus pada jalanan yang di depannya. "Dasar, orang tua cuma taunya marah-marah mulu,” ujarku dengan nada sarkatis. Benar, ‘kan? Mas Nino memang sudah tua, maksudku lebih tua dariku 11 tahun. Belum lagi ditambah dengan muka datar, sifat perfeksionis, dan sikap dinginnya itu. Benar-benar perpaduan yang sangat menyebalkan di mataku. Aku ragu, bagaimana aku bisa bertahan lebih lama dari satu hari dalam status pernikahan dengan pria yang ada di sebelahku ini? Parahnya lagi, kami harus tinggal di bawah atap yang sama. Itu artinya, setiap hari aku harus melihat wajah Mas Nino yang walaupun tampan tapi tetap saja membuatku sebals itu. Habislah kamu, Kezia. Semua hal menyebalkan dari Antonino Perfeksionis Pranadipa itu akan menjadi makananmu sehari-hari, batinku merana di dalam hati. "Jaga bicara kamu, Anak Kecil. Bawel sekali mulutmu itu, persis seperti petasan tahun baru."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD