Bab 7: Jebakan "Date Night" dan Racun Berbalut Janji

1495 Words
Selama dua hari penuh, kamar 204 terasa seperti kutub utara yang dipaksa berbagi ruang dengan neraka. Hani mematuhi ucapannya. Ia menyalakan lampu baca di meja belajarnya hingga jam dua pagi, mengetik dengan headphone terpasang, menciptakan gelembung isolasi yang tebal. Di ranjang seberangnya, Dina mendengus kesal setiap kali Hani bergerak, pura-pura terganggu tidurnya, meski Hani tahu Dina juga terjaga, sibuk bertukar pesan dengan Reza. Mereka berdua tidak saling bicara. Udara di kamar itu begitu tegang, seandainya ada yang menyalakan korek api, seluruh ruangan mungkin akan meledak. Kehidupan sosial Hani di asrama telah runtuh. Bisikan-bisikan di pantry (dapur bersama) menjadi tatapan sinis di koridor. Rini dan Fita telah sukses menjalankan tugas mereka sebagai corong gosip. Hani kini resmi dicap sebagai "Si Gila Nilai yang Sombong" dan "Sahabat Tidak Tahu Terima Kasih". Hani tidak peduli. Kesendirian adalah kemewahan yang tidak pernah ia sadari ia butuhkan. Lalu, pada hari ketiga, sebuah pesan masuk. Reza Pratama (Blokir?): Aku di depan gerbang asrama. Kita perlu bicara. Aku nggak akan pergi sebelum kamu turun. Jantung Hani berdebar kencang, tapi bukan karena rindu. Itu adalah debaran seekor kijang yang mendengar ranting patah di kejauhan—Perasaan Waspada. Hani mengintip dari jendela lantai dua. Dan benar saja. Mobil city car hitam milik Reza terparkir di bawah lampu jalan, angkuh dan familier. Di kehidupan lalu, Hani akan berlari tergesa-gesa, merasa bersalah telah membuat "Rajanya" menunggu. Di kehidupan ini, Hani membalas pesannya. Hani: 'Aku sibuk. Banyak tugas.' Balasan datang dalam hitungan detik. Tanda bahwa pria itu sedang menatap ponselnya dengan tidak sabar. Reza Pratama (Blokir?): Tugas lagi? Han, please. Kasih aku waktu 30 menit aja. Aku kangen. Kita makan malam, ya? Di tempat biasa. Kangen. Kata itu terasa seperti lendir yang menempel di layar ponsel Hani. Tapi kemudian, sebuah ide terbentuk. Ide yang dingin, tajam, dan sangat berisiko. Reza tidak akan melepaskannya begitu saja. Pria itu akan terus mengganggunya, mungkin akan nekat naik ke asrama putri dan membuat keributan—sesuatu yang akan merusak citra Hani lebih jauh. Reza harus ditenangkan, tapi dengan cara yang berbeda. Hani butuh asuransi dan butuh bukti. Hani: Oke. 15 menit. Aku turun. Sebelum turun, Hani tidak berdandan. Ia tidak memakai lipstik pink favorit Reza atau parfum vanilla kesukaan Dina. Ia hanya mengenakan jeans hitam, kaos oblong hitam, dan jaket hoodie abu-abu—jaket yang sama dengan yang sering dipakai Hendi, meski Hani tidak menyadarinya. Itu adalah seragam tempurnya. Ia menyelipkan ponselnya ke saku hoodie, memastikan posisinya pas. Ibu jarinya menekan tombol volume tiga kali—shortcut untuk aplikasi perekam suara rahasia yang baru ia instal semalam. Lampu merah kecil di aplikasi itu berkedip sekali, lalu mati. Recording. "Kopi Senja" adalah kafe langganan anak BEM. Tempatnya semi-industrial, dengan lampu-lampu gantung temaram yang estetik dan aroma biji kopi sangrai yang pekat. Musik akustik indie mengalun pelan, menciptakan suasana yang sempurna untuk patah hati... atau manipulasi. Reza sudah duduk di meja pojok favorit mereka, di bawah mural daun-daun tropis. Saat Hani tiba, Reza langsung berdiri. Senyum karismatiknya yang legendaris terpasang sempurna. Ia terlihat tampan malam itu—kemeja flanel rapi, rambut ditata messy tapi terstruktur, dan aroma parfum aquatic-nya yang mahal tercium bahkan dari jarak dua meter. Aroma itu. Aroma yang sama yang Hani cium di apartemen mewah mereka, tepat sebelum ia ambruk. Hani berhenti melangkah. Rasa mual tiba-tiba menghantam ulu hatinya. Kakinya terasa seperti jeli, menolak untuk bergerak lebih dekat ke predator itu. Tangannya mulai berkeringat dingin. Tidak. Jangan sekarang. Jangan di sini. "Han? Sayang? Kok diem di situ?" Reza melambai, senyumnya sedikit luntur melihat ekspresi Hani yang pucat pasi. Hani menarik napas. Ia memfokuskan pandangannya pada cangkir kopi di meja Reza, bukan pada wajah pria itu. Ia paksakan kakinya melangkah. Satu langkah. Dua langkah. Saat ia duduk, ia sengaja memilih kursi di seberang Reza, bukan di sampingnya seperti biasa. Menjaga jarak. "Kamu pesen apa?" tanya Reza, mencoba terdengar normal, meski matanya menelisik Hani dari atas ke bawah. "Masih Caramel Macchiato kan?" "Air putih dingin," jawab Hani singkat, suaranya lebih serak dari yang ia inginkan. Reza tertawa kecil, tawa yang dipaksakan. "Diet, ya? Aneh banget kamu. Ya udah, Mas." Reza memanggil pelayan. Setelah pesanan datang dan pelayan pergi, keheningan canggung menyelimuti meja mereka. Musik akustik itu tiba-tiba terdengar terlalu keras. Reza meraih tangan Hani yang tergeletak di atas meja. Refleks Hani lebih cepat. Ia menarik tangannya seolah tersengat listrik. Plak. Tangan Hani tanpa sengaja menepis punggung tangan Reza. Suara itu tidak keras, tapi di tengah kafe yang temaram, itu terdengar seperti tamparan. Wajah Reza mengeras. "Han, kamu sebenernya kenapa?" Hani menelan ludah, berusaha mengendalikan getaran di tangannya. Ia menyembunyikan tangannya di bawah meja, mencengkeram ponsel di saku hoodie-nya. Rekam. Terus rekam. "Aku... maaf. Aku cuma kaget," bisik Hani. Ia harus memainkan perannya. Peran Hani yang lama. Hani yang penakut. Melihat Hani tampak "takut", Reza langsung mengambil alih kendali. Ekspresinya melunak, berubah menjadi tatapan "dewasa" yang sedang memaklumi pacar kecilnya yang tantrum. "Sayang, denger," Reza mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya melembut menjadi bujukan maut. "Aku tahu kamu lagi banyak pikiran. Aku tahu tugas kuliah lagi berat. Dina cerita ke aku, katanya kamu sekarang jadi sensitif banget di asrama." Hani hanya menunduk, menatap pusaran air di gelasnya. Tentu saja Dina cerita. "Aku minta maaf kalau di rapat BEM tempo hari aku kelewatan," lanjut Reza. Hani mengangkat kepalanya sedikit, kaget. Reza minta maaf? Itu tidak pernah terjadi. "Tapi..."—Ah, ini dia—"kamu juga harus ngerti posisi aku, Han. Aku ini Ketua BEM. Citraku dipertaruhkan. Pas kamu nolak ngerjain proposal di depan anak-anak, itu kayak... kamu nampar aku di depan umum. Kamu bikin aku kelihatan kayak pemimpin yang nggak bisa ngatur pacarnya sendiri." Hani diam. Ia membiarkan Reza menggali kuburnya sendiri. Mengatur pacarnya. Ponselnya dengan setia merekam setiap suku kata narsistik itu. "Proposal itu penting banget buat KITA," tekan Reza. "Itu warisan aku di BEM, Han. Kalau proposal itu sukses, reputasi KITA aman. Masa depan KITA cerah." "Masa depan kamu," koreksi Hani pelan, nyaris tak terdengar. "Lho, kok ngomong gitu? Masa depanku ya masa depan kamu juga, dong!" Reza tertawa, seolah Hani baru saja mengatakan lelucon konyol. "Aku... aku mau fokus ke kompetisi bisnisku sendiri, Za," Hani akhirnya mengeluarkan umpan itu. Reaksi Reza persis seperti yang Hani duga. Pria itu terdiam selama tiga detik. Senyumnya membeku. Lalu ia mendengus tawa, tapi tawa kali ini dingin dan meremehkan. "Kompetisi? Yang hadiahnya 50 juta itu? Han, Han... jangan bercanda." Reza menyandarkan punggungnya, melipat tangan di d**a. "Kamu tuh pinter, aku akui. Pinter nulis, pinter riset. Tapi kamu nggak punya mental juara. Kamu nggak bisa ngomong di depan umum. Kamu gampang panik." Setiap kata itu menusuk, tapi Hani menerimanya. Ini adalah emas. "Kamu pikir kamu bisa menang tanpa aku?" lanjut Reza, nadanya kini benar-benar arogan. "Kamu itu... kamu nggak ada apa-apanya tanpa aku yang back-up, Han. Kamu itu ibarat berlian kasar, tapi aku yang jadi pemolesnya. Tanpa aku, kamu cuma batu biasa." Hani bisa merasakan darahnya mendidih. Di kehidupan lalu, kata-kata ini yang membunuhnya secara perlahan. Kata-kata ini yang membuatnya percaya bahwa ia tidak berharga, bahwa ia harus bergantung pada Reza untuk bersinar. Reza pasti melihat perubahan di wajah Hani, karena ia sadar ia sudah kelepasan. Ia buru-buru mengubah taktiknya lagi, kembali ke love bombing. "Eh, maksud aku bukan gitu, Sayang," Reza meraih tangan Hani lagi, dan kali ini Hani membiarkannya. Tangan Reza terasa dingin dan berkeringat. Menjijikkan. "Maksudku... kita ini tim yang hebat. Power couple. Harusnya kamu fokus bantu aku dulu. Selesaiin proker BEM ini dengan sukses." Reza mengelus punggung tangan Hani dengan ibu jarinya. Hani harus mengerahkan seluruh kekuatan batinnya agar tidak muntah di meja itu juga. "Bantu aku kali ini aja," bisik Reza, matanya kini memancarkan pesona palsu yang dulu selalu meluluhkan Hani. "Aku janji. Setelah aku sukses jadi Ketua BEM terpilih lagi, setelah proposal ini goal... aku bakal serius. Aku bakal... aku bakal bawa orang tuaku buat ketemu orang tuamu. Kita tunangan." Klik. Jebakan itu sempurna. Janji pertunangan palsu. Senjata pamungkas yang selalu Reza gunakan setiap kali Hani mulai ragu. Hani menatap mata Reza. Di sana, di balik tatapan memuja yang palsu itu, Hani melihat kekosongan. Pria ini akan menjanjikan bulan dan bintang, hanya untuk mendapatkan draf proposal sialan itu. Hani menarik tangannya perlahan. "Aku harus ke toilet." Ia berdiri dengan gerakan kaku. Kakinya gemetar hebat di bawah meja. "Han? Tunggu! Kita belum selesai!" seru Reza, bingung dengan reaksi Hani yang datar. Hani tidak menoleh. Ia berjalan lurus melewati pelayan, melewati meja-meja lain, dan keluar dari pintu depan kafe. Ia tidak pergi ke toilet. Ia terus berjalan menembus malam yang dingin. Begitu ia berada di tikungan jalan yang sepi, jauh dari pandangan Reza, Hani bersandar di dinding ruko yang tutup. Kakinya tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Ia merosot duduk di trotoar yang kotor. Tangannya gemetar hebat saat merogoh saku hoodie-nya. Ia menatap layar ponselnya. Durasi rekaman: 24 Menit 15 Detik. Ia menekan tombol "Stop", lalu menekan "Save". Ia menamainya: "Asuransi Pertama." Malam itu, Hani Safitri berhasil mendapatkan senjata pertamanya. Tapi harga yang ia bayar adalah malam penuh mimpi buruk, di mana ia kembali merasakan aroma parfum aquatic dan rasa almond pahit yang membakar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD