Bab 6: Bisikan di Dapur Bersama dan Racun Manis

1244 Words
Hani pulang ke asrama larut malam, pukul sepuluh lewat. Perpustakaan sudah tutup sejam yang lalu, tapi Hani menghabiskan satu jam terakhir duduk di taman kampus yang gelap, hanya untuk menunda kepulangannya. Langkah kakinya berat saat menaiki tangga menuju lantai dua. Asrama Putri Melati seharusnya sudah sepi di jam selarut ini, tapi malam ini berbeda. Koridor yang biasanya remang-remang dan senyap, kini terasa... hidup. Pintu kamar-kamar lain terbuka sedikit, dan saat Hani lewat, ia bisa merasakan ada mata-mata yang mengintip dari celah pintu. Ia juga bisa mendengar bisikan-bisikan yang langsung berhenti begitu langkah kakinya mendekat, lalu dimulai lagi begitu ia menjauh. Seperti sekawanan tikus yang bersembunyi di balik dinding. Hani mengabaikannya. Ia memegang kartu akses kamarnya erat-erat. Ia hanya ingin masuk kamar, mengunci pintu, dan melupakan dunia luar. Perutnya berbunyi nyaring, protes karena hanya diisi kopi pahit dan sebatang cokelat sejak pagi. Hani menghela napas. Ia terpaksa berbelok ke pantry (dapur bersama) di ujung koridor untuk mengambil yogurt di kulkas umum. Ia butuh sesuatu untuk mengganjal perut sebelum tidur. Dan di sanalah sarang ular itu berada. Lampu pantry menyala terang benderang, menyorot tiga sosok yang sedang duduk melingkar di meja makan kecil di tengah ruangan. Udara dipenuhi aroma pop mie rasa kari ayam. Dina ada di sana, tentu saja. Ia mengenakan piyama satin baby pink favoritnya. Di depannya, duduk Rini dan Fita, dua mahasiswi paling "kepo" dan paling berpengaruh di lantai dua. Mereka adalah ratu gosip yang bisa membuat sebuah rumor menjadi fakta dalam hitungan jam. Saat Hani melangkah masuk, percakapan mereka terhenti seketika. Keheningan yang jatuh di ruangan itu begitu tebal, begitu canggung, sampai-sampai suara dengungan kulkas tua di pojok ruangan terdengar seperti raungan mesin jet. Rini dan Fita saling pandang, lalu menatap Hani dengan tatapan... aneh. Campuran antara kasihan, takut, dan sedikit jijik. Hani mengabaikan mereka. Ia berjalan lurus ke kulkas, punggungnya kaku. Ia bisa merasakan tiga pasang mata itu menusuk punggungnya. "Han..." Suara Dina terdengar. Lembut, bergetar, dan penuh kepalsuan. Hani memejamkan mata sejenak. Ia mengambil botol yogurt-nya, menutup pintu kulkas dengan pelan, lalu berbalik. Dina sudah berdiri. Matanya merah dan sembab. Dia benar-benar habis menangis. Atau lebih tepatnya, dia baru saja selesai menangis di depan penontonnya. "Hani, kamu dari mana aja?" tanya Dina, suaranya parau. "Aku... aku khawatir banget." Hani tidak menjawab. Ia hanya menatap Dina dengan mata tenangnya yang baru. Mata seorang wanita berumur tiga puluh tahun yang terjebak dalam tubuh anak kuliahan. Melihat Hani diam, Rini—si rambut pendek—langsung angkat bicara, nadanya protektif. "Han, gila ya lo? Dina nungguin lo dari sore. Dia nangis-nangis di sini, lo-nya malah ngelayap entah ke mana!" Fita mengangguk, ikut memanasi. "Kita semua denger lho cerita di rapat BEM semalam. Lo beneran bentak-bentak Dina di depan semua orang cuma gara-gara proposal? Serius, Han? Lo kan tahu Dina itu anaknya sensitif." Ah. Jadi ini narasinya. Hani akhirnya mengerti. Dina telah memutarbalikkan fakta dengan sempurna. Di rapat BEM, Hani menjatuhkan Reza dan Dina dengan logika jobdesc. Tapi di pantry asrama ini, Dina telah mengubah cerita itu menjadi "Hani yang Kejam Mem-bully Dina yang Lembut Hati". Dina telah melukis Hani sebagai monster. Dan Rini serta Fita adalah penyebar beritanya. "Han, bilang sama aku..." Dina maju selangkah, tangannya terulur seolah ingin menyentuh Hani, tapi ia menahannya seolah takut Hani akan menggigit. "Aku salah apa, Han? Kalau aku salah, aku minta maaf. Tapi jangan diemin aku kayak gini. Jangan berubah... Aku kangen Hani yang dulu." Air mata mulai menggenang lagi di mata indah Dina. Hani ingin tertawa. Kangen Hani yang dulu? Tentu saja. Kau rindu pada dompet berjalanku. Kau rindu pada pesuruhmu. Kau rindu pada gadis bodoh yang membiarkanmu tidur dengan pacarnya. "Dina," Hani akhirnya bersuara. Suaranya rendah dan serak, tapi stabil. "Kamu nggak salah apa-apa." Wajah Dina langsung berbinar sedikit. Ia mengira Hani luluh. "Kamu cuma... menyedihkan," lanjut Hani. Atmosfer di pantry membeku. Aroma pop mie tiba-tiba terasa basi. "A-apa...?" Dina tergagap. Rini langsung berdiri. "Jaga ya mulut lo, Han! Lo udah gila apa gimana? Dina tuh sahabat lo!" "Sahabat?" Hani tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya. Senyum yang membuat Rini dan Fita refleks mundur selangkah. "Sahabat itu nggak akan cerita ke seluruh asrama sambil nangis-nangis bombay cuma karena ditegur soal kerjaan. Itu namanya cari perhatian." "Ta-tapi kamu beneran berubah!" seru Fita, suaranya sedikit gemetar. "Kamu jadi... dingin. Menakutkan. Kata Reza kamu lagi stres berat gara-gara ngejar nilai, makanya kamu jadi egois." Egois. Kata itu menghantam Hani. Di kehidupan lalu, kata "egois" adalah cambuk terbesar Reza. Hani akan melakukan apa saja agar tidak dicap egois. Ia mengorbankan waktu tidur, kesehatan, dan harga dirinya, hanya agar Reza dan Dina tetap menganggapnya "baik hati". Sekarang, kata itu tidak mempan lagi. "Mungkin aku memang egois," kata Hani ringan, sambil membuka tutup botol yogurt-nya. "Mungkin aku akhirnya sadar kalau aku harus lebih mentingin tugasku sendiri daripada ngerjain tugas pacarku, atau nraktir makan sahabatku yang ternyata lebih boros dari aku." Hani meneguk yogurt itu pelan-pelan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Dina yang kini pucat pasi. Setiap kata Hani adalah tamparan yang terukur. Dina tidak menyangka Hani akan membahas soal "traktiran" di depan umum. Itu adalah kartu rahasia mereka. "Han, kok kamu ngomongnya gitu..." lirih Dina, air matanya kini mengalir sungguhan. Bukan air mata sedih, tapi air mata panik karena topengnya retak. "Gue nggak ngerti ya masalah kalian apaan," Rini memotong, suaranya ketus. "Tapi yang jelas, lo udah bikin Dina nangis, Han. Dan lo jadi sombong banget. Awas aja, orang sombong cepet jatuhnya." Hani selesai dengan yogurt-nya. Ia berjalan ke wastafel untuk mencuci botolnya sebelum membuangnya ke tempat sampah daur ulang. "Makasih nasihatnya, Rin," kata Hani, suaranya datar. Ia menoleh ke Dina, yang masih berdiri membeku di tengah ruangan. "Oh iya, Din," kata Hani, seolah baru teringat sesuatu. "Mulai malam ini, aku tidur nyalain lampu baca ya. Aku mau mulai fokus ngerjain proposal kompetisiku. Takutnya kamu keganggu kalau tidur sambil maskeran. Selamat malam." Tanpa menunggu jawaban, Hani melangkah keluar dari pantry yang pengap itu. Ia berjalan di koridor dengan punggung tegak. Ia tidak berlari. Ia tidak terburu-buru. Begitu ia berbelok di tikungan koridor, ia mendengar suara Rini dari belakang. "Gila... beneran gila si Hani. Sumpah, kayak kesurupan." "Kasihan banget Dina punya sahabat kayak gitu." "Fix, ini pasti gara-gara Reza mulai jaga jarak. Stres dia." Bisikan-bisikan itu menyusulnya, menempel di punggungnya seperti lumpur. Hani sampai di depan pintu kamar 204. Ia memasukkan kunci, membukanya, dan masuk ke dalam. Kamar itu masih rapi. Ranjang Dina masih penuh dengan boneka beruang lucu. Foto-foto mereka bertiga masih tertempel di dinding, menertawakan kebodohan Hani. Hani duduk di ranjangnya. Tangannya gemetar lagi. Tapi bukan karena takut. Itu adalah gemetar kemarahan. Gemetar karena menyadari betapa dalam jaring kebohongan yang telah Dina tebar selama ini. Malam ini, di pantry itu, Hani tidak sedang melawan Dina. Ia sedang melawan seluruh asrama yang otaknya sudah dicuci oleh air mata buaya Dina. Hani sendirian. Benar-benar sendirian. Ia membuka laptopnya. Layar menyala, menampilkan folder "Project Phoenix". Biarkan mereka bergosip. Biarkan mereka menganggapku gila. Biarkan mereka mengasihaniku. Hani memasang headphone, menyalakan playlist musik klasik yang kencang hingga menutupi dunia luar, dan membuka dokumen proposalnya. Saat mereka sibuk membicarakanku di belakang, aku sibuk membangun masa depan di depan mereka. Satu jam kemudian, pintu kamar terbuka. Dina masuk dengan langkah pelan, mengendap-endap. Ia melirik Hani yang sedang fokus mengetik, lalu buru-buru naik ke ranjangnya dan menarik selimut hingga menutupi kepala. Malam itu, di kamar 204, dua sahabat itu tidur memunggungi satu sama lain. Satu berpura-pura tidur sambil menyusun rencana jahat berikutnya. Satunya lagi benar-benar bekerja, menyusun rencana kesuksesan. Perang dingin baru saja dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD