Bab 5: Kopi Pahit Kedua dan Sketsa Tanpa Wajah

1651 Words
Pagi setelah badai di sekretariat BEM, dunia anehnya terasa hening. Tidak ada rentetan pesan w******p yang biasanya membanjiri ponsel Hani sejak subuh seperti perintah sarapan dari Reza, atau curhatan drama pagi hari dari Dina. Ponselnya bisu. Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun (atau sepuluh tahun, jika menghitung masa depan yang hangus), Hani bisa mendengar suara pikirannya sendiri. Hani berdiri di depan vending machine tua di lorong gedung perkuliahan yang masih sepi. Mesin itu berdengung pelan, lampunya berkedip-kedip lemah. Jari Hani melayang di atas tombol minuman. Biasanya, ia akan menekan tombol Milk Tea atau Cokelat Panas—minuman manis yang disukai Reza. "Kamu harus minum yang manis-manis, Han, biar nggak jutek," begitu kata Reza dulu, sebuah kalimat yang sebenarnya adalah sindiran halus agar Hani tetap menjadi boneka yang menyenangkan. Tapi hari ini, tatapan Hani jatuh pada kaleng hitam di deretan paling bawah. Black Coffee. Tanpa gula. Ingatannya melayang pada sosok di tangga semalam. Hendi dan kopi kalengannya. Hendi dan ketenangannya yang misterius. Apa rasanya menjadi sedingin itu? batin Hani bertanya. Dengan satu gerakan impulsif, Hani menekan tombol itu. Klontang. Kaleng dingin itu jatuh. Saat Hani membuka tutupnya dan menyesap cairan hitam itu, wajahnya langsung mengernyit. Pahit. Rasanya seperti menelan arang cair yang dicampur tanah basah. Lidahnya yang terbiasa dimanja gula memberontak. Namun, saat cairan itu melewati kerongkongannya, ada sensasi menyentak yang aneh. Rasa pahit itu membangunkannya. Membuka matanya lebih lebar daripada kafein mana pun. Ini rasa realitas. Tidak ada gula-gula kepalsuan. Hani menggenggam kaleng itu erat-erat, seolah memegang jimat, lalu melangkahkan kakinya menuju satu-satunya tempat di mana ia merasa aman. Perpustakaan Pusat belum terlalu ramai. Hanya ada segelintir mahasiswa tingkat akhir yang wajahnya kusut, mengetik skripsi dengan putus asa di dekat pintu masuk. Hani berjalan lurus menuju "tempat persembunyian"-nya di lantai dua, di balik rak buku teknik dan arsitektur. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat mendekati meja kayu tua di pojok dekat jendela itu. Ada harapan kecil, setipis kertas, bahwa ia akan melihat punggung berbalut hoodie abu-abu di sana. Bahwa ia akan mendengar suara goresan pensil yang ritmis. Namun, kursi di seberang meja itu kosong. Hani menghela napas panjang. Ia tidak sadar bahwa ia menahan napas sejak menaiki tangga. Kecewa? Mungkin. Lega? Sedikit. Ia belum siap menghadapi Hendi dengan "waras". Semalam, ia terlalu rapuh, terlalu emosional. Bertemu Hendi pagi ini mungkin akan membuatnya canggung setengah mati. Hani meletakkan tasnya dan duduk di kursinya sendiri. Sinar matahari pagi menembus dedaunan pohon beringin di luar jendela, menciptakan pola abstrak di atas permukaan meja yang penuh goresan. Tunggu. Mata Hani menyipit. Di atas meja, tepat di tempat Hendi duduk kemarin, ada selembar kertas. Bukan sampah, melainkan sobekan kertas dari buku sketsa drawing paper yang tebal. Kertas itu ditindih dengan sebuah batu kerikil sungai yang halus—mungkin diambil dari taman kampus—agar tidak terbang tertiup angin AC. Hani menengok ke kanan dan ke kiri. Sepi. Tidak ada siapa-siapa. Dengan tangan gemetar, ia menyingkirkan batu itu dan mengambil kertasnya. Itu sebuah sketsa. Bukan sketsa gedung, bukan sketsa pilar, dan bukan sketsa pemandangan. Itu sketsa tangan. Lebih tepatnya, sketsa tangan Hani sendiri. Hani mengenali gelang tali hitam murah yang ia pakai di pergelangan tangannya. Di gambar itu, tangan Hani sedang mencengkeram ujung meja dengan kuat, urat-urat punggung tangannya menonjol tegang. Namun, di sela-sela jari yang tegang itu, Hendi menggambar seekor burung pipit kecil yang sedang hinggap, tampak tenang dan tidak terganggu. Goresan pensilnya kasar namun ekspresif. Arsiran gelap-terangnya begitu emosional. Gambar itu seolah berteriak: "Kamu sedang menahan beban dunia yang berat, tapi kamu cukup kuat untuk menjadi tempat bersandar." Di sudut kanan bawah, ada tulisan kecil dengan pensil tipis. Tulisan tangan tegak bersambung yang sama dengan kartu ucapan di pemakamannya dulu. "Fondasi yang kuat tidak dibangun dalam semalam. Bernapaslah. Tembok itu tidak akan runtuh menimpamu." Mata Hani memanas. Di kehidupan sebelumnya, Reza selalu memotret Hani. Tapi foto-foto itu selalu diatur. "Han, senyum dong." "Han, geser dikit biar tas branded-ku kelihatan." "Han, jangan cemberut, nanti jelek di Instagram." Reza melihat Hani sebagai objek estetik, sebagai trofi. Tapi Hendi... Hendi menggambar ketegangannya. Hendi melihat perjuangannya. Hendi melihat rasa sakit yang ia sembunyikan di balik cengkeraman tangan itu, dan Hendi mengubahnya menjadi seni. "Siapa kamu sebenarnya, Hendi?" bisik Hani pada kertas itu. Ia meraba tekstur kertas kasar itu dengan ibu jarinya, merasakan jejak tekanan pensil Hendi di sana. Rasanya intim. Jauh lebih intim daripada sentuhan fisik apa pun yang pernah Reza berikan. Hani membuka buku agendanya, menyelipkan sketsa itu di halaman paling belakang, seolah menyimpan rahasia negara. Ia tidak akan membuangnya. Ia akan menyimpannya sebagai pengingat bahwa ia tidak gila. Bahwa ada satu orang di dunia ini yang "melihatnya". Hani meminum kopi pahitnya lagi. Kali ini, rasanya sedikit lebih bisa ditoleransi. Ia membuka laptop tuanya. Suara kipas angin laptop menderu, memecah kesunyian. Layar desktop menyala. Kursor berkedip-kedip, menunggu perintah. Biasanya, jari Hani akan otomatis membuka folder Google Drive BEM atau folder skripsi Reza. Otot memorinya sudah terlatih untuk melayani orang lain. Tangannya bergerak sedikit ke arah shortcut folder itu, lalu berhenti. Hani menarik tangannya kembali. Ia mengepalkan jari-jarinya, lalu merenggangkannya lagi. "Tidak lagi," gumamnya tegas. Ia menggerakkan mouse, membuat folder baru di layar utama. Ia menamainya dengan huruf kapital semua: PROJECT PHOENIX. Hani membuka dokumen kosong. Di kehidupan lalu, proposal "Eco-Friendly Supply Chain" yang memenangkan Reza di kompetisi nasional sebenarnya lahir dari ide sederhana Hani saat melihat sampah plastik di kantin kampus. Reza menertawakan ide itu awalnya, menyebutnya "terlalu idealis" dan "nggak cuan". Tapi Hani, dengan ketekunannya, meriset data, menghitung proyeksi keuangan, dan mengubah ide "sampah" itu menjadi proposal bisnis bernilai jutaan rupiah. Reza hanya tinggal mempresentasikannya dengan wajah tampan dan suara baritonnya, lalu mengambil semua pujian. Kali ini, Hani tidak akan membiarkan ide itu dicuri. Tapi ia harus hati-hati. Reza pasti ingat ide itu pernah dibahas sekilas saat makan siang minggu lalu. Jika Hani menggunakan ide yang sama persis, Reza bisa menuduhnya mencuri (ironis, tapi itulah cara kerja manipulator). Aku harus membuatnya lebih baik. Lebih tajam. Lebih mustahil untuk ditiru oleh otak Reza yang dangkal. Hani mulai mengetik. Ia tidak hanya fokus pada supply chain. Ia menambahkan elemen teknologi blockchain untuk transparansi logistik—sesuatu yang baru booming dua tahun lagi di masa depan, tapi Hani sudah tahu potensinya. Ia memasukkan data tren pasar tahun 2024 dan 2025 yang ia ingat di luar kepala. Jari-jarinya menari di atas keyboard. Tak-tak-tak-tak. Hani masuk ke dalam the zone. Ini adalah perasaan yang sudah lama ia lupakan. Rasa euforia saat otaknya bekerja maksimal. Rasa puas saat melihat argumen yang ia susun tersambung logis. Rasa berdaya. Selama tiga jam, Hani tidak bergerak. Ia lupa waktu. Ia lupa Reza. Ia lupa Dina. Ia lupa bahwa ia adalah wanita yang pernah mati diracun. Di momen ini, ia hanyalah Hani Safitri, mahasiswi cerdas yang memiliki masa depan cerah. Ponselnya bergetar panjang di atas meja, membuyarkan konsentrasinya. Hani melirik layar. Panggilan Masuk: Mama. Hani terdiam. Jantungnya berdetak. Di kehidupan lalu, ibunya meninggal karena serangan jantung setahun setelah Hani menikah dengan Reza. Salah satu pemicunya adalah stres melihat Hani yang semakin kurus dan tidak bahagia, meski Hani selalu berbohong bahwa ia baik-baik saja. Reza bahkan melarang Hani sering-sering pulang kampung dengan alasan "boros bensin". Tangan Hani gemetar saat menggeser tombol hijau. "Halo... Ma?" Suaranya serak, menahan tangis yang tiba-tiba mendesak naik. "Halo, Nduk. Assalamualaikum. Kamu sehat kan? Kok perasaan Mama nggak enak dari semalam, makanya Mama nelpon." Suara itu. Logat Jawa yang kental, nada khawatir yang tulus. Pertahanan Hani runtuh. Ia menutup mulutnya dengan tangan, air mata meleleh tanpa bisa dibendung. Ia baru saja merasa kuat seperti wonder woman saat mengetik proposal, tapi mendengar suara ibunya, ia kembali menjadi anak kecil yang ketakutan. "Hani... Hani sehat, Ma," jawabnya terbata-bata, berusaha terdengar ceria meski hidungnya tersumbat. "Mama... Mama sehat?" "Alhamdulillah sehat. Kamu nangis? Kamu berantem sama Nak Reza?" Hani menggigit bibirnya. Ibunya masih menganggap Reza menantu idaman. Ibunya belum tahu iblis macam apa yang bersembunyi di balik wajah sopan itu. "Enggak, Ma. Cuma... lagi kangen aja. Lagi banyak tugas," Hani berbohong demi kebaikan. Belum saatnya. Ibunya punya riwayat darah tinggi. Hani tidak bisa meledakkan bom kebenaran sekarang. "Ya sudah, jangan diforsir tenaganya. Makan yang bener. Nak Reza disuruh ingetin makan, jangan pacaran terus." Mendengar nama Reza disebut dengan nada sayang oleh ibunya membuat perut Hani mulas. Kemarahan dingin kembali menyelimuti hatinya. Reza tidak hanya menipunya, tapi juga menipu keluarganya. Pria itu mencuri kasih sayang ibu Hani yang tulus. "Iya, Ma. Hani akan jaga diri baik-baik. Mama jangan khawatir ya. Hani janji... Hani bakal sukses. Hani bakal bikin Mama bangga dengan usaha Hani sendiri." "Lho, kok ngomongnya gitu? Ya pasti bangga to. Ya wis, lanjutin belajarnya. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Sambungan terputus. Hani meletakkan ponselnya. Ia menghapus air mata di pipinya dengan kasar. Kesedihan itu menguap, digantikan oleh tekad yang membaja, lebih keras dari sebelumnya. Ia menatap layar laptopnya. Proposal ini bukan sekadar tugas kuliah. Bukan sekadar kompetisi. Ini adalah tiket kebebasannya. Ini adalah modal untuk menyelamatkan ibunya di masa depan. Ini adalah senjata untuk memenggal kepala ular itu. Hani membuka tab baru di browser. Ia mengetik di kolom pencarian: "Daftar Kompetisi Business Plan Nasional 2023 - Hadiah Modal Usaha." Lalu, ia membuka folder lain. Folder yang ia siapkan tadi malam sebelum tidur. Folder bernama: "Umpan Tikus". Hani menyeringai. Ia akan membuat dua proposal. Satu proposal masterpiece untuk dirinya sendiri. Dan satu proposal sampah yang dipoles indah, penuh dengan data jebakan yang terlihat meyakinkan, khusus untuk dicuri oleh Reza. "Kau mau otakku, Reza?" bisik Hani pada udara kosong perpustakaan. "Ambillah. Ambil semua yang kau kira ide brilian itu. Aku akan membungkusnya dengan pita cantik, dan membiarkannya meledak tepat di wajahmu." Hani kembali mengetik. Kali ini, iramanya lebih cepat dan lebih agresif. Di kejauhan, lonceng jam gadang kampus berdentang dua belas kali. Matahari tepat di atas kepala. Bayang-bayang semakin pendek, namun bayangan balas dendam Hani justru semakin memanjang, siap menelan siapa pun yang menghalanginya. Dan di halaman belakang buku agendanya, gambar burung pipit di sela jari yang tegang itu seolah menjadi saksi bisu: Hani tidak lagi sekadar bertahan. Dia mulai terbang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD