Bara POV
Bara, penyanyi Indonesia berusia 30 tahun yang sedang naik daun dalam setahun ke belakang. Suaranya yang bening, wajahnya yang rupawan, ditambah kepiawaiannya menulis lagu sendiri serta bermain berbagai alat music merupakan paket lengkap yang membuatnya sukses diminati masyarakat. Tapi hal ini tidak terjadi begitu saja pada Bara. Sebelumnya, Bara adalah pekerja kantoran biasa yang bertubuh tambun sedari kecil. Berasal dari keluarga atlet, dengan kakak seorang atlet badminton sukses, adik yang menempuh pendidikan di Oxford University, ayah mantan atlet yang sekarang duduk di kursi DPR, dan ibu yang berasal dari keluarga sosialita, membuat Bara terkucilkan di rumahnya sendiri. Ia benar-benar dianggap anak tidak berguna, apalagi karena badannya yang gemuk dari kecil sehingga ia tidak bisa sukses menjadi atlet apapun. Secara akademis pun otaknya standar. Ia cukup puas menjadi pegawai kantoran biasa tadinya, yang menjalani hidup dengan kebosanan, hingga suatu pertemuan merubah hidupnya dua tahun yang lalu.
Flashback Dua tahun lalu..
“Kang,” Bara tersentak. Siang ini ia sedang duduk di kereta Argo Parahyangan menuju ke Bandung karena ada urusan kantornya yang harus diselesaikan. Ternyata ia dipanggil oleh wanita muda yang duduk di sampingnya.
“Saya?” Bara menunjuk dirinya, tidak percaya. Sebagai orang asli Jakarta, seumur-umur ia tidak pernah dipanggil Kang oleh seseorang. Apalagi oleh wanita secantik ini. Bara yang bertubuh gendut, berkacamata tebal dengan wajah berjerawat biasanya tidak pernah dianggap ada oleh lawan jenis.
“Ya akang!” Wanita berlogat Sunda itu tersenyum ramah. “Akang mau makan apa? Sok, saya bayarin.” Si wanita menunjuk ke arah troli makanan yang didorong oleh petugas.
“Eh, tidak usah,” Tolak Bara.
“Jangan nolak atuh kang, saya nggak enak makan sendiri. Nasi goreng mau yah?” Paksanya. Bara sempat akan menolak ketika si wanita bersuara lagi, “Tuh kasihan kang, si tetehnya nungguin,” Ia menunjuk petugas troli makanan yang memang menatapnya penuh harap. Bara akhirnya menyerah.
“Nasi goreng boleh deh,” Si wanita cantik tersenyum senang dan langsung mengambilkan nasi goreng dari troli, serta menyerahkannya pada Bara. Ia juga membelikan Bara air mineral.
“Biar kuganti, berapa?” Tanya Bara, ia tidak enak dibayari makanan oleh perempuan yang tampaknya lebih muda darinya ini.
“Jangan kang! Biar saya traktir. Mumpung saya hari ini baru dapat rejeki kang, saya ingin berbagi kebahagiaan.” Si perempuan tersenyum begitu lebar. Bara mengucapkan terima kasih, dan berdua mereka akhirnya menyantap makan siang bersama di kereta.
“Akang ada kerjaan di Bandung yah?” Tanya si wanita begitu santai memulai pembicaraan. Bara mengangguk. “Akang kerja dimana?”
“Aku di bank BRI.” Jawab Bara pendek. Ia memang tidak pandai berbasa-basi, dan mengira perempuan di sampingnya ini akan berhenti berbicara. Tapi si manis malah bertanya soal pekerjaannya, dan obrolan mereka akhirnya berlanjut terus hingga membicarakan hobi. Bara jadi tahu bahwa hobi mereka sama, membaca komik dan menonton anime. Ia senang, perempuan di sebelahnya ini tidak menghakiminya sama sekali, meski memiliki hobi yang kutu buku seperti itu, dan malah menyukai kesukaan yang sama.
“Akang tahu soundtrack one piece ngga? Saya suka banget itu kang.”
“Tahu, yang ini kan…” Bara lalu menyanyikan sepenggal soundtrack anime legendaris itu, berjudul ‘We Are’. Wanita ini menutup mulutnya saat mendengar suara Bara.
“Kang ya ampun, keren pisan suaranya!!! Akang cocok jadi penyanyi ih.” Pujinya, membuat Bara rasanya melambung ke angkasa. Menjadi penyanyi dan penulis lagu memang cita-citanya sedari kecil, tapi tidak didukung sama sekali oleh keluarganya yang berorientasi ke olahraga atau akademis. Tapi ia tiba-tiba tersadar.
“Ah kamu bercanda.”
“Serius kang, akang harus coba sering nyanyi. Akang rekam aja di i********: atau youtube, terus pakaikan hashtag banyak-banyak. Pasti banyak yang cek nanti video akang.” Sarannya menggebu-gebu.
“Tapi aku malu..”
“Kalau malu ngelihatin wajah, bisa videonya fokus ke alat musiknya kang, misalnya cuma merekam gitar atau pianonya.” Lanjutnya lagi, tampak begitu ahli. “Akang punya akunnya gak? Sok sini saya ajarin cara supaya viral. Ini kerjaan saya di kantor kang, saya kan social media manager. Makanya saya percaya akang kalau ngelola akunnya benar, pasti bisa terkenal.” Tuturnya. Bara hanya mengangguk lalu menyerahkan hapenya. Sang wanita mengomentari akun instagramnya dan memberi tahu soal hashtag yang dapat membuatnya dikenali orang banyak. Ia juga menginformasikan aplikasi editing video youtube yang bagus dan mudah digunakan agar bisa menarik orang lain.
“Aku suka nggak pede deh,” Tiba-tiba Bara keceplosan curhat. Ntah kenapa ia begitu nyaman ngobrol dengan wanita di sampingnya ini. Padahal biasanya Bara lebih suka diam.
“Ngga pede kenapa? Suaranya keren dan kerjaannya di kantor bagus gitu kok nggak pede.” Tanya si wanita heran.
“Ya karena fisikku ini, gendut..” Bara berkata lirih.
“Kalau ini yang buat akang nggak pede, gampang. Tinggal turunin beratnya!” Lagi-lagi perempuan berambut sebahu ini menimpali santai.
“Katanya harus mencintai diri sendiri, kok malah disuruh diet.” Protes Bara, tapi si wanita malah tersenyum.
“Justru itu bentuk mencintai diri sendiri kang, kita menjaga dengan baik tubuh satu-satunya yang diberi Tuhan sama kita.” Lanjutnya. Bara terpana, seumur-umur baru kali ini ia mendapat pandangan seperti itu. Orang biasanya hanya bisa membullynya karena badannya, makanya ia selalu malas kalau harus menurunkan berat karena hinaan orang. Ia baru menyadari bahwa menjaga berat tubuh adalah salah satu bentuk cinta terhadap badannya.
“Tapi aku susah banget nih diet.. segala macam kucoba tapi nggak bisa-bisa turun, malah naik terus.” Curhat Bara lagi. Baru kali ini ia seterbuka itu sama orang lain, apalagi sama orang yang tidak dikenalnya.
“Dulu aku juga gendut tau kang, tapi aku kurangi pelan-pelan aja, lama-lama ya turun sendiri. Dari hal kecil kang, misal dari hobi minum manis jadi minum air putih aja.” Perempuan ini mengambil botol soft drink di jendela Bara. “Ini kusita ya, hehe..” Ia terkekeh lagi, membuat Bara ikut tertawa. “Diet jangan langsung ekstrim kang, dari hal kecil, pelan-pelan. Ditambah olahraga, apapun olahraga yang akang suka, pasti ada. Lakukan saja itu. Lama-lama juga turun.” Kata-katanya benar-benar menyemangati Bara.
“Begitu ya..”
“Iya dong, akang harus semangat mengembangkan hobinya. Anggap aja semua ini proyek sampingan di luar jam kantor. Kalau menghasilkan ya lumayan. Kalau nggak, yang penting tetep hepi. Terus soal menurunkan berat badan, anggap investasi jangka panjang, biar gak gampang sakit badannya.” Baik kata-katanya maupun senyumnya, semua begitu manis. Hati Bara yang selama hidupnya selalu mengalami cinta tak berbalas langsung terpikat atas perhatiannya.
“Terima kasih ya, karena kamu aku jadi semangat.” Bara mengucapkan tulus. Sang wanita mengangguk. Percakapan mereka benar-benar tidak berhenti selama 3,5 jam perjalanan kereta dari Gambir hingga sampai di Stasiun Bandung, karena si wanita selalu piawai mencari bahan obrolan. Ia juga selalu merespons semua ucapan Bara dengan sangat baik dan menghargai pendapatnya. Ini adalah percakapan terlama dan terakrab Bara dengan lawan jenis semasa hidupnya. Bara juga jadi tahu bahwa rejeki yang tadi dimaksud oleh si wanita adalah ia diterima beasiswa S2 ke Jepang dan akan berangkat bulan depan. Mereka masih terus mengobrol hingga turun dari kereta, dan ketika sampai di pintu keluar stasiun Bandung, Bara baru sadar ia belum mengetahui nama si manis. “Eh kita belum kenalan ya? Aku Adit.” Adit memang panggilan Bara sedari kecil.
“Kana,” Kana tersenyum. “Salam kenal, kang Adit.” Kana menjabat tangannya, senyumnya benar-benar mempesona. Bara akhirnya memberanikan diri untuk meminta kontaknya.
“Kana.. boleh aku..” Tapi ucapannya yang lirih terpotong oleh Kana yang tampak tidak mendengar suaranya.
“Eh, saya sudah dijemput kang sama si Aa.” Kana menunjuk seorang lelaki muda seumurannya yang melambaikan tangan ke arah mereka. “Saya pamit ya kang, semoga akang sukses dan sehat selalu yah. Sampai jumpa lagi kang Adit!” Kana menepuk punggung Adit pelan dan langsung melipir ke arah lelaki yang menjemputnya. Dengan akrab, Kana menggamit lengan lelaki itu. Adit masih saja terpana beberapa saat hingga akhirnya sadar apa yang terjadi, ia sudah kehilangan kesempatan untuk bertanya kontak Kana. Semoga kita bisa berjumpa lagi, Kana.
-Flashback selesai-