Bara POV
Bara langsung mengenali Kana sejak pertama kali mereka bertemu lagi di lobi hotel. Wajah manisnya masih tetap sama dengan ingatannya, ditambah nama uniknya yang tidak pernah Bara lupa. Meski logat sundanya tidak sekental dulu, tapi Bara masih mendengar aksen sundanya yang terkadang muncul. Hatinya begitu bahagia, tidak menyangka setelah dua tahun lamanya akhirnya ia bertemu lagi dengan perempuan yang bisa dibilang telah merubah dirinya hanya dalam satu pertemuan. Sejak pertemuannya dengan Kana di kereta dua tahun lalu, Bara jadi memiliki semangat hidup baru. Dengan konsisten ia menerapkan semua saran yang diberikan Kana, dan serius mengurangi berat badannya. Ia rajin ke gym, menghentikan makan cepat saji, juga sering puasa. Dalam waktu 6 bulan, Bara yang tadinya obesitas bisa mencapai berat badan normal. Kulit wajahnya pun membaik karena ia merubah makanannya menjadi makanan sehat. Ia juga operasi lasik sehingga tidak perlu menggunakan kacamata. Tidak hanya itu, video-video yang ia upload menyanyi lagu cover dan lagu ciptaannya pun makin lama makin banyak penontonnya hingga tiba-tiba viral karena video Bara dibagikan ulang oleh penyanyi asli. Tidak perlu waktu lama, Bara langsung sukses mendapat kontrak rekaman dan sering diundang ke berbagai acara, membuatnya terpaksa meninggalkan pekerjaan kantorannya di Bank BUMN ternama itu. Lagu-lagu ciptaan Bara juga selalu melejit dan Bara didengung-dengungkan sebagai penyanyi baru tersukses, karena kesuksesannya ia capai hanya dalam waktu kurang dari dua tahun.
Bara selalu menyesal karena tidak pernah meminta kontak Kana setelah mereka satu kereta dua tahun lalu, dan selama dua tahun ia kadang suka menghabiskan waktu mencari Kana di internet, namun tidak pernah bertemu dengan gadis manis itu. Beruntungnya hari ini ia malah dipertemukan lagi dengan Kana di Jepang, meski Kana tidak mengingatnya sama sekali, ntah karena pertemuan mereka waktu itu begitu singkat atau karena fisik dan nama Bara yang berubah total, tapi Bara cukup bahagia. Seharian ia berusaha curi-curi pandang ke arah Kana, dan menahan ekspresi bahagianya saat tidak sengaja bertemu pandang dengan wanita manis itu. Bisa dibayangkan betapa bahagianya Bara saat Kana mau jadi figuran video klipnya, tentu ia tidak melewatkan kesempatan untuk memeluk Kana erat.
Setelah mereka makan siang, pengambilan gambar berlanjut ke daerah Asakusa, dekat Tokyo Sky Tree. Bara sebenarnya ingin Kana bisa ikut terlibat lagi sebagai figuran, tapi ia terlalu malu untuk meminta hal ini pada Daryl, sutradara video klipnya. Ia takut malah akan menimbulkan kecurigaan, akhirnya ia tetap diam seperti biasa dan hanya sesekali curi pandang ke arah Kana. Bara memang tidak pernah banyak bicara, sifat pemalunya tetap tidak meninggalkannya meski ia sekarang sudah tidak lagi bertubuh gendut dan menjadi artis tampan yang terkenal.
Jam 6 sore, akhirnya pengambilan gambar hari ini selesai. Kana mengantar mereka hingga kembali ke hotel.
“Nggak mau makan malam dulu bareng kita, Kana?” Tanya Nurul, manajernya pada Kana di lobi. “Kami ganti baju sebentar terus bentar lagi turun kok. Mau ya?” Bara yang berdiri di samping Nurul hanya memainkan hapenya, tapi sebenarnya ia mendengarkan dengan serius. Dalam hati ia berharap Kana mengiyakan ajakan manajernya itu.
“Ngga mba, udah ada janji makan malam ama temen. Tuh dia udah datang,” Kana menolak, dan menunjuk ke arah seorang lelaki, tampaknya orang Indonesia juga, yang masuk ke lobi hotel. Lelaki itu memanggil Kana dengan ceria, dan Kana membalas lambaiannya. Bara sedikit cemburu melihatnya.
“Wah, mau nge-date ya?” Ledek Nurul. Kana hanya tertawa.
“Cuma temen kok mba, janjiannya juga bertiga sama teman yang satu lagi.” Jelasnya. Kini Bara sedikit lega. “Saya duluan ya mba Nurul, mas Bara.” Pamitnya. Bara hanya mengangguk.
“Sampai besok di jam yang sama ya Kana.” Ujar Nurul. Kana mengiyakan, dan berlalu bersama temannya. Mereka berdua terlihat akrab, dalam hati Bara berharap akan seakrab itu juga suatu saat dengannya.
Kana POV
“Jadi yang tadi itu penyanyi namanya Bara?” Tanya Affan, sahabat pertama Kana di Jepang ini, ketika mereka keluar dari hotel.
“Hooh,” Kana, mengangguk. “Kamu pernah dengar lagunya?”
“Ngga sih.”
“Sama.” Mereka berdua tertawa. “Eh, jadi kita makan dimana nih?” Tanya Kana.
“Kata Tia di dekat sini ada restoran udon enak, Tia udah share lokasinya di WA.” Jawab Affan, lalu mengeluarkan hapenya, dan membuka grup mereka bertiga, ia, Kana dan Tia. Mereka lalu berjalan beriringan mengikuti petunjuk arah yang diberikan Tia, sambil mengobrol. Sesekali Kana memperhatikan Affan di sampingnya.
Affan adalah sahabat pertama Kana di Jepang. Perkenalan mereka dimulai ketika tanpa sengaja duduk bersebelahan di pesawat saat Kana baru akan berangkat untuk pertama kalinya ke Tokyo. Kana yang hobi mengobrol dengan siapa saja, menyapa Affan duluan begitu ia duduk. Affan ternyata penerima beasiswa S2 Panasonic di Tokyo University, di jurusan Mechanical Engineering, dan ini juga pertama kalinya ia ke Jepang. Meski berbeda kampus, di awal-awal kedatangannya di Jepang, Affan dan Kana sering menghabiskan waktu bersama di luar kampus karena merasa senasib sepenanggungan. Bertiga dengan Tia, teman Kana dari Indonesia yang berkuliah di Waseda University, akhirnya mereka sering jalan berkeliling Tokyo dan Jepang bersama. Kana sebenarnya sempat menyukai Affan ketika pertama mereka kenal, karena Affan tidak hanya pintar dan tampan, ia juga pribadi yang baik dan supel. Kana selalu merasa cocok mengobrol dengannya. Tapi perasaannya ia lupakan beberapa bulan setelah tiba di Jepang, begitu tahu Affan sudah punya tunangan di Indonesia. Sekarang mereka hanya bersahabat dekat, dan Kana bahkan sudah lupa dengan perasaannya itu. Seharusnya.
“Awas,” Affan tiba-tiba menarik lengan Kana ke arahnya, dan punggung Kana bertubrukan dengan dadanya. “Ngelamun ya? Masih lampu hijau kok main nyebrang aja,” Omel Affan padanya. Kana sedikit kaget, dan mendongak. Affan terlihat memperhatikan lampu lalu lintas, dan mereka saat ini begitu dekat. Ya ampun… Jantung Kana berdebar kencang lagi. Betapa Affan memang tampan. Matanya yang besar, hidungnya yang bangir dan senyumnya yang begitu manis.
“Kenapa? Belum pernah liat orang ganteng ya?” Komentar Affan usil begitu sadar Kana memperhatikannya dari dekat. Senyumnya mengembang lebar. Kana langsung berdehem dan melepaskan lengannya, menjauh dari badan Affan.
“Pede banget!” Ketus Kana, berusaha terlihat biasa saja. “Kaget tau, ditarik tiba-tiba gitu.”
“Ya abis kamu ngelamun!” Balas Affan. Kana hanya berdehem lagi, berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Masih jauh ngga?”
“Bentar lagi kok. Tinggal lurus dikit, belok kanan.”
“Oke.”
Keduanya melanjutkan jalan beriringan menuju restoran yang disarankan Tia. Kana yang tidak pernah tahan diam selalu mengajak bicara lelaki di sampingnya itu, dan Affan selalu membuat percakapan mereka terasa seru. Sesekali Kana melirik ke arah Affan dan bergumam dalam hati. Ganteng amat sih tunangan orang, udah gitu pinter, dan baik lagi. Beruntung banget emang tunangan dia. Kana memang tidak lagi tertarik secara romantis dengan Affan sejak tahu sahabatnya ini sudah menjalin hubungan serius dengan seseorang di Indonesia, tapi tetap saja terkadang ia terbawa perasaan setiap bertemu dengan Affan dan diperlakukan baik olehnya. Emang susah nih jadi cewek kalau gampang kegeeran, rutuk Kana dalam hatinya lagi.