Bara POV
Dua hari sudah Bara bertemu lagi dengan Kana, dan hubungan mereka tidak memiliki perkembangan apapun karena Bara kelewat malu untuk mengajak bicara gadis itu duluan. Jadi Bara bertekad, selama dua hari di Hakone, ia harus bisa lebih banyak mengobrol dan bertukar nomor dengan Kana. Hanya tinggal ini kesempatannya sebelum timnya selesai mempekerjakan Kana menjadi penerjemahnya dan ia pulang ke Indonesia, kembali ke kehidupannya.
“Selamat pagi, mas Bara.” Seperti biasa Kana menyapanya duluan saat mereka bertemu di lobi. Hari ini dia terlihat cantik dengan rambut digerai dan trench coat berwarna salem.
“Pagi, Kana.” Dengan senyum tipis, Bara menjawab. Tanpa banyak bicara, Bara lalu membantu Kana mengangkat kopernya ke dalam minibus yang akan membawa mereka ke Hakone.
“Aduh, maaf ya mas, jadi ngerepotin.”
“Gak kok.” Komentar Bara santai, dan Kana tersenyum. Bara sedikit bangga dengan dirinya karena sudah lebih berani menyapa gadis itu.
“Nah, gitu dong Bara, ngobrol sama Kana. Masa diem dieman aja dari kemarin.” Celetuk Nurul iseng. Bara melengos, menyembunyikan wajahnya yang sekarang pasti sudah merah karena malu. “Bara ini sebenarnya gak sombong kok Kana, cuma dia pemalu aja, makanya gak terlalu banyak bicara.”
“Iya mbak, saya ngerti kok. Mending pemalu mbak daripada malu-maluin kayak saya.” Kana terkekeh.
“Ah kamu Kana, bisa aja.” Nurul ikut tertawa. Sementara Bara hanya tersenyum simpul, ternyata Kana masih tetap humoris seperti dulu. Rombongan mereka lalu masuk ke dalam minibus dan berangkat ke Hakone. Kana seperti biasa duduk di depan, samping driver. Bara duduk di belakang supir, sehingga bisa memperhatikan Kana dari belakang. Kana dan supir mereka yang sudah lansia sangat akrab, bercengkrama panjang lebar dalam bahasa Jepang dan tertawa berdua. Di saat yang sama, Nurul dan anggota tim Bara yang lain juga sibuk bercerita, meninggalkan Bara yang diam sendiri, kadang melihat keluar jendela atau memandang ke arah Kana.
Jantung Bara berdetak lebih kencang karena berhasil dipertemukan lagi dengan gadis ini. Ia tidak tahu apa yang mau ia lakukan, tapi satu hal, ia ingin lebih dekat dengan Kana. Begitu mereka tiba di Hakone dan turun di pinggir Danau Ashi yang merupakan tujuan pertama, Bara kembali mendekati Kana saat timnya sedang sibuk mengatur peralatan syuting sederhana mereka.
“Syukur cerah ya mas.” Kana lagi-lagi memulai obrolan tanpa canggung.
“Iya, pemandangannya juga bagus banget.”
“Banget. Untung saya ikut kesini mas, saya juga belum pernah kesini sebelumnya.” Kana mengeluarkan hapenya dan memfoto pemandangan danau dengan latar belakang Gunung Fuji itu.
“Mau kufotokan?” Iseng Bara bertanya.
“Mauuuu…” Tanpa ragu, Kana menyerahkan hapenya dan berpose di pinggir pagar danau. Bara lalu mengambilkan fotonya berulang kali dan Kana bergonta ganti gaya tanpa canggung.
“Wah, seru banget Kana foto-foto, mau foto bareng Bara juga gak? Biar kufotokan!” Nurul tiba-tiba mendekati mereka. Bara berusaha terlihat biasa saja saat menyerahkan hape Kana pada Nurul, padahal hatinya melompat kesenangan. Kadang-kadang manajernya ini memang brilian sekali idenya, Bara jadi ingin menaikkan gajinya karena ini.
Kana terperangah. “Beneran gak apa-apa, mas Bara? Mbak Nurul?”
“Loh, gak apa-apa dong! Ya kan Bar?” Bara mengangguk cepat. “Emang kenapa Kan?” Nurul balik bertanya.
“Biasanya kalau penyanyi seperti mas Bara kan nggak boleh sembarangan foto sama orang..” Celetuk Kana dengan salah tingkah. Nurul terkekeh dan Bara hanya tersenyum tipis.
“Bara tuh santai, aku juga. Kamu upload di i********: juga boleh kok Kan. Asal nanti ya tunggu pas video ini keluar, soalnya lagu sama video yang ini kan semacam kejutan gitu buat fansnya Bara, jadi syuting di Jepang ini dirahasiakan.”
“Oke mbak!” Kana mengacungkan dua jempol tanda mengerti. Bara lalu mendekati Kana dan berdiri di sampingnya. Nurul kemudian mengambilkan beberapa kali foto mereka menggunakan hape Kana, dan lalu menggunakan hapenya sendiri. Buat dokumentasi, katanya. Bara tentu makin senang karena ini tandanya dia jadi punya akses foto dengan Kana. Setelah berfoto berdua dengan Kana, Nurul kemudian mengambil foto Bara sendirian untuk konten instagramnya, baru syuting video klipnya dimulai.
Tidak banyak lagi adegan yang tersisa, jadi Bara tidak membutuhkan waktu lama untuk merekamnya. Daryl memintanya jalan di pinggir danau, memandang kejauhan, menyanyikan beberapa potong lirik. Lagunya kali ini bertema perpisahan dan rindu, maka hanya Bara yang menjadi pemain tunggal dalam video klipnya ini.
“Kana bisa bantu jadi figuran lagi gak?” Tiba-tiba Daryl bertanya lagi. Bara terdiam, ekspresinya sengaja dibuat sedatar mungkin padahal ia girang bukan kepalang.
“Eh?” Kana yang berdiri di samping Nurul terbelalak. “Lagi pak?”
“Iya, kan kemarin udah kamu, jadi tolong bantu lagi yah?”
“Err.. oke.” Kana lalu meletakkan tasnya di bangku tempat mereka meletakkan semua barang bawaan syuting dan berjalan ke arah Bara. Jantung Bara rasanya makin deg-degan saja dibuatnya. Ia bersyukur dengan ide Daryl kali ini.
“Ide adegannya apa Ryl?” Tanya Nurul.
“Hmm… pegangan tangan ya! Nanti jalan berdua, dan seperti biasa diambil dari belakang.” Perintah Daryl. Bana menarik napas panjang dan mengulurkan tangan kanannya pada Kana yang juga terlihat gugup.
“Boleh pinjam tangannya, Kana? Sebentar saja kok.” Pinta Bara lembut. Kana mengangguk, dan mengangkat tangan kirinya. Jemari mereka berdua lalu bertautan erat, Bara seperti merasa tersengat listrik hingga ke sanubarinya. Ia berdehem, mengalihkan pandangan ke arah yang berlawanan dengan Kana, agar dapat menutupi ekspresi wajahnya sendiri.
“Ok, jalan dari sini ke sana ya. Action!”
“Kita jalan ya, Kana.” Bisik Bara pada Kana yang kini begitu dekat di sampingnya. Kana mengangguk, dan mereka pun berjalan berdua di pinggir danau sembari berpegangan tangan, seperti yang diminta oleh Daryl.
“Oke, ulang lagi, sekarang sambil tatapan dan pura-pura ngobrol ya. Jangan lupa senyum dan pasang wajah ceria.” Perintah Daryl lagi. Bara menghela nafas, semakin gugup. Ia lalu menoleh ke arah Kana yang sekarang juga memandangnya. Tapi Kana tidak terlihat ceria seperti biasa, gadis ini malah berwajah serius. Mungkin ia bingung harus berekspresi seperti apa karena di depan kamera.
“Kita.. ngobrolin apa ya? he..” Bara tertawa kecil.
“Eh.. ngobrolin apa ya mas? Saya juga jadi bingung.” Jawab Kana lirih.
“Hmm.. kamu betah gak di Jepang?” Ntah dapat keberanian dari mana Bara bisa bertanya seperti itu. Tapi itu tampaknya manjur meluluhkan kegugupan Kana, karena Kana langsung sumringah mendengarnya.
“Betah, mas. Saya suka disini.”
“Berapa lama lagi sekolahmu, Kana?” Tanya Bara lagi sembari mereka jalan berdua.
“Satu setengah tahun lagi, mas.”
“Terus, mau balik ke Indonesia setelah lulus?”
“Balik mungkin kalau nikah, tapi bisa jadi menetap disini kalau keterima kerja disini.” Jawab Kana ringan.
“Nikah?” Bara mengonfirmasi. Rasanya ia malah lemas mendengar itu.
“Iya, memang belum ada calon sih mas, tapi kalau ternyata ada calonnya ya nikah dan pulang ke Indonesia. Kalau kebetulan calonnya disini ya menetap disini.” Jelas gadis itu sembari merapikan rambutnya yang beterbangan kena angin. Refleks, Bara berhenti dan ikut merapikan helaian rambut Kana yang menutupi wajahnya sembarang. Mereka pun bertatapan beberapa saat, dengan kondisi tangan kanan Bara menangkup pipi Kana. Bara sampai lupa dengan sekitarnya hingga mendengar seruan Daryl.
“Cut! Bagus banget Bara, Kana. Kalian kelihatan natural.” Daryl mengacungkan jempol, sementara Nurul dan anggota tim yang lain bertepuk tangan. Bara menarik tangannya, kikuk.
“Maaf, Kana, barusan aku pegang pipimu.”
“Gak apa-apa, mas. Namanya juga lagi syuting.” Kana tersenyum lebar, kegugupannya tampak hilang. Ia lalu meninggalkan Bara berdiri sendiri dan berjalan ringan ke arah Nurul yang mengacungkan jempol padanya. Sementara Bara masih terdiam, mengatur perasaannya.
“Ayo Bara, jangan kelamaan disana, dingin. Kita juga harus ke tempat syuting berikutnya! Kalau gak keburu sore nih.” Panggil Nurul padanya. Bara mengangguk sembari mengeratkan coat-nya, dan bersama-sama mereka lalu berjalan ke arah minibus untuk menuju tempat syuting berikutnya. Ada dua tempat lagi yang harus mereka tuju hari ini sebelum ke hotel.
Syuting berjalan lancar, sayangnya tidak ada lagi permintaan oleh Daryl agar Kana menjadi figuran lagi. Setelah seharian di jalan, dan terpapar udara cukup dingin, Bara merasa badannya tidak enak dan kepalanya pusing saat mereka makan malam di hotelnya, jadi ia menolak ketika Nurul dan anggota tim yang lain mengajak keluar malam hari untuk melihat hiasan lampu atau winter illumination di taman dekat hotel mereka untuk rekreasi sebentar.
“Beneran lo gak mau ikut?” Tanya Nurul padanya setelah Bara membuka pintu kamarnya.
“Beneran mbak, gue mau tidur aja. Capek.”
“Ya udah, kalau ada apa-apa telpon ya.”
“Ya, udah tenang aja, gak usah pikirin gue.” Bara mengibaskan tangannya dan menutup pintu. Ia lalu berbaring di kasur kamar hotelnya. Kepalanya semakin berkunang-kunang dan ia benar-benar lemas. Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk lagi. Bara mengerang, bingung kenapa Nurul mendatanginya lagi.
“Duh mbak kan udah gue bilang gak mau ikut…. Kana?” Betapa kagetnya Bara saat melihat Kana berdiri di depan pintu kamarnya.
“Mas.. maaf saya ganggu.” Kana lagi-lagi terlihat salah tingkah. Di tangannya ia membawa sebuah tas kecil. “Tapi saya perhatikan dari tadi mas Bara kayaknya lagi gak enak badan ya?”
“Kok..” Bara terlalu lemas untuk bahkan menjawab hingga badannya oleng ke depan. Itu yang terakhir ia ingat sebelum pandangan matanya gelap.
Kana POV
Kana POV
Beruntung Bara belum sempat terjatuh karena sudah ditahan oleh Kana. Kini badan Bara sepenuhnya bertumpu padanya, kepalanya bersandar di bahu Kana. “Mas? Mas Bara?” Kana menepuk-nepuk pipinya. Bara tidak menjawab, dan Kana bisa merasa bahwa Bara sedang demam. Dengan sekuat tenaga, Kana lalu membopong Bara masuk ke dalam kamarnya dan membaringkannya di atas tempat tidurnya. Dari tas kecil yang ia bawa, Ia lalu mengeluarkan kompres instan yang selalu ia bawa setiap perjalanan jauh, lalu menempelkannya di dahi Bara. Setelahnya, Kana mengeluarkan minyak angin andalan orang Indonesia, dan mengoleskannya di pelipis serta leher Bara. Sebenarnya minyak angin ini akan lebih efektif bila diolesi di d**a, perut dan punggung, tapi tentu saja Kana tidak berani melakukan hal itu. Kemudian Kana meletakkan kompres instan tambahan, minyak angin dan obat penurun demam khas Indonesia di nakas samping tempat tidur Bara, ditambah segelas air putih agar ketika Bara terbangun, ia bisa langsung minum obat. Tak lupa, satu pak popmie dan bubur instan yang merupakan harta berharganya, kiriman khusus dari bundanya di Bandung, yang selalu ia bawa saat berpergian, juga ia relakan untuk Bara, agar seandainya sang penyanyi ini terbangun malam hari dan kelaparan, ia bisa menyeduh sendiri makanannya.
Kana lalu duduk di kursi kamar, memperhatikan Bara yang sedang tertidur dengan wajah pucat. Sepertinya lelaki ini kecapekan karena aktivitas syuting video klip yang padat, ditambah kondisi cuaca yang dingin, jauh berbeda dengan Jakarta. Ia sudah merasa Bara tidak enak badan sejak makan malam tadi, Bara berulang kali bersin dan wajahnya memucat. Tapi sepertinya anggota timnya yang lain tidak terlalu sadar karena saling mengobrol satu sama lain, tidak sabar menghabiskan sisa perjalanan mereka dengan berwisata tipis-tipis.
Kana juga diajak ikut melihat winter illumination oleh Nurul, tapi ia menolak karena takut kelelahan juga. Juga karena ia ingin memastikan kondisi Bara. Benar saja, Bara tidak enak badan bahkan sampai pingsan begitu. Rasanya Kana iba, tapi Kana tidak mungkin menungguinya hingga pagi. Ia bukan siapa-siapanya Bara. Jadi Kana berniat keluar dari kamar Bara sebentar lagi.
Kana baru akan beranjak ketika mendengar erangan Bara. “Erggh…”
“Mas Bara?” Takut-takut, Kana kembali mendekati Ranjang. Bara perlahan membuka matanya.
“Kana? Kok…” Terbata Bara bertanya.
“Barusan mas pingsan. Kayaknya sedang demam, mas minum obat dulu, mau? Saya bawa stok obat Indonesia.” Tawar Kana. Bara mengangguk pelan, lalu beringsut duduk di tempat tidur. Dengan sigap, Kana lalu mengambilkan obat yang sudah ia letakkan di nakas dan meminumkannya pada Bara, lengkap dengan air putihnya.
“Maaf, aku ngerepotin.” Bisiknya lirih.
“Nggak kok mas. Mas sekarang tidur aja ya? Istirahat.” Kana menarikkan lagi selimut Bara, tapi tiba-tiba Bara memegang tangannya.
“Kamu.. bisa temani aku? Sebentar saja, sampai aku tidur. Ya?” Meski permintaannya tak masuk di akal, tapi Kana tak kuasa menolak melihat wajah sang penyanyi yang biasanya datar terlihat pucat dan memelas begitu. Jadi Kana langsung mengangguk. Ia berusaha memaklumi kondisi lelaki ini, orang yang sedang sakit biasanya gampang kesepian dan ingin dimanja.
“Tentu, mas. Saya tungguin disini yah.” Kana duduk di pinggir tempat tidur, tangan kanannya kini digengam erat oleh Bara yang menutup matanya sembari berbaring telentang. Rasanya jantung Kana kembali jumpalitan, teringat tadi siang ia sudah deg-degan karena harus berpegangan tangan di pinggir Danau Ashi akibat kebutuhan syuting, sekarang malah mereka pegangan tangan lagi. Dari yang awalnya Kana tidak mengenal siapa lelaki ini sama sekali dan Bara juga lebih banyak diam saat disapa, tapi dalam tiga hari mereka malah sedekat ini.
Tak butuh waktu lama, Bara benar-benar tertidur. Nafasnya berbunyi teratur, dan bola matanya tidak bergerak di balik kelopak matanya. Kali ini ia terlihat lebih nyenyak dari sebelumnya, pengaruh obat penurun demam Indonesia yang juga efektif menimbulkan kantuk. Setelah dirasa cukup pulas, Kana lalu melepaskan pegangan tangan Bara perlahan.
“Istirahat ya mas.” Bisiknya setelah mengecek dahi Bara dan mengelus rambutnya, sebelum berjalan pelan-pelan keluar kamarnya.
Kana baru menutup pintu kamar Bara ketika seseorang menyapanya.
“Kana? Kok disini?”
“Eh?” Kana terperangah, sama sekali tidak menyangka akan bertemu orang ini yang tentu saja melihat ia keluar dari pintu kamar Bara. Duh, aku mesti ngomong apa ini? Kana menggigit bibir, bingung harus bereaksi bagaimana sekarang.