Kana POV
“Kan? Kok malah bengong?” Affan bertanya lagi. Kana mengerjapkan matanya, dan benar, Affan yang berdiri di depannya, mengenakan baju kaos berlengan pendek dan celana selutut, dengan rambut basah serta handuk kecil bergantung di lehernya. Affan sepertinya habis dari pemandian terbuka atau biasa disebut onsen, yang disediakan hotel.
“Eh, eh.. Fan! Ya ampunnn kaget aku, gak nyangka banget bakal ketemu kamu. Kamu nginep disini juga?”
“Iya! Aku udah bilang loh di chat, aku nginep dimana tadi siang. Kamu gak cek ya?”
“Maaf, aku gak sempat buka w******p dari tadi.” Kana menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ya udah. Ini kamar kamu?” Affan menunjuk ke pintu kamar Bara. Kana sontak menggeleng cepat.
“Bukan! Bukan. Bukan kok.” Jawab Kana panik. “Kamarku di ujung sana tuh.” Kana menunjuk ke lobi lantai di arah yang berlawanan.
“Jadi kamar siapa ini?” Selidik Affan.
“Eng.. kamar timnya mas Bara. Iya. Barusan aku ada perlu disini.” Kana mengangguk-angguk, berusaha terlihat biasa saja. Affan tampak masih curiga, jadi Kana langsung menggamit lengan sang sobat. “Kamarmu dimana?”
“Di lantai ini juga. Aku sekamar sama temen-temen klubku. Kamar tradisional Jepang lho, mau lihat?”
“Mauu! Yuk.” Dengan sedikit paksaan, Kana menarik lengan Affan. Syukur, Affan menurut. Mereka lalu berjalan beriringan ke arah kamar Affan yang berada di arah sebaliknya dari kamar Kana. Jadi di lantai itu, kamar Kana di ujung satu, kamar Bara di tengah-tengah, dekat dengan lift, dan kamar Affan di ujung satunya lagi.
Affan lalu membukakan pintu kamarnya dan mempersilakan Kana masuk. Kamar Affan tidak seperti kamarnya dan Bara yang umum layaknya kamar hotel modern. Kamar Affan ada tatami, yaitu penutup lantai rumah tradisional Jepang yang seperti tikar jerami, dan dibatasi pintu kertas sorong di dalamnya.
“Bagus ih kamarnya. Dan luas bangeettt..” Pekik Kana. “Tidurnya pakai futon ya?” Futon adalah kasur tipis ala Jepang yang tidak mengenakan dipan ranjang, melainkan langsung diletakkan di atas tatami.
“Iya, sekamar rame-rame nih, berlima. Tapi yang lain masih di onsen, aku balik duluan.”
“Ooh, gitu.” Kana masih melihat-lihat, lalu tersadar ia dan Affan hanya berdua di ruangan ini. Takut keadaan malah canggung di antara mereka, Kana langsung mengambil sikap. “Ehem.. Ya udah aku keluar deh.”
“Oke, mau kemana kamu? Langsung tidur?”
“Masih kecepatan ya kalau tidur jam segini?” Kana melirik ke jam tangannya, masih jam 8 malam.
“Kalau kamu belum mau tidur, mau ke taman yang ada illuminationnya itu? Biar aku fotoin.” Ajak Affan, sembari beringsut ke arah tas ranselnya di pojok ruangan, lalu mengeluarkan kamera SLR-nya. Meski tadinya ia menolak ajakan Nurul, tapi Kana yang pada dasarnya hobi difoto, langsung semangat. Lumayan nih buat kenang-kenangan, pikirnya, karena belum tentu ia bakal kesini lagi.
“Oke deh!!” Kana mengiyakan. “Aku ke kamar dulu deh, ambil jaket. Nanti ketemu di dekat lift ya.”
“Oke.” Affan mengangguk. Dengan langkah riang, Kana lalu keluar dari kamar Affan dan berjalan kea rah kamarnya. Saat melewati kamar Bara, ia iseng menempelkan telinganya ke pintu. Tidak ada suara, yang berarti, Bara masih beristirahat dengan nyaman. Dalam hati Kana berharap agar kondisi Bara membaik besok pagi.
Beberapa saat kemudian, Kana lalu berjalan beriringan dengan Affan ke taman yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari hotel itu. Suasana Hakone malam ini cukup dingin, Kana bersyukur ia mengenakan jaket tebal dan celana panjang.
“Kamu besok balik Tokyo ya?” Tanya Kana.
“Iya, besok siang.”
“Aku nginep semalam lagi nih. Lusa baru pulang.”
“Bagus dong, kapan lagi muter-muter Hakone gratis.” Sahut Affan. “Bara dan timnya gimana? Baik kan sama kamu?”
“Baik kok, semuanya. Mas Baranya juga baik, gak sombong gitu biarpun dia terkenal.”
“Oh ya? Baguslah.”
“Iya. Aku berapa kali jadi figuran juga. Kerjaan kali ini santai, gak banyak yang harus diterjemahkan, bisa sambil jalan kesini, orangnya baik-baik, dan dapat fee figuran juga.” Kana tersenyum lebar, mensyukuri keberuntungannya.
“Harus terima kasih tuh, sama mas Isa, udah rekomen kamu sama timnya Bara.” Celetuk Affan yang ikut tersenyum.
“Pastinya.”
Mereka pun tiba di taman yang dimaksud. Taman ini terbuka, seperti taman kota biasa, bedanya karena masih musim dingin, setiap malam ada illumination, yaitu lampu hias yang menyala di pepohonan dan pagar, membuat pemandangan menjadi begitu indah. Suasana tidak terlalu ramai malam ini, jadi Kana bisa memilih foto-foto di berbagai spot tanpa terganggu orang lain.
“Fotoin aku disini dong, Fan!”
“Ya ya oke..” Affan mengeluarkan kamera SLR-nya, lalu memfotokan Kana. “Di sana juga bagus, Kan.” Katanya, dan Kana menurut. Affan lalu memfotokan Kana di berbagai lokasi taman tanpa mengeluh.
“Pake hapeku juga dong, biar bisa aku post nanti di instagram.” Kana menyerahkan hapenya pada Affan. Affan mengangguk, lalu mengambil foto Kana beberapa kali.
“Bagus gak hasilnya?” Tanya Kana ceria, tapi Affan terdiam, memandang hapenya. “Kenapa Fan?”
“Nggak, ini aku gak sengaja lihat ada foto kamu sama Bara berdua.” Ia tersenyum tipis.
Kana terkekeh. “Bagus kaaaan? Kapan lagi aku foto sama artis Fan.”
“Bagus, bagus. Dimana ini? Danau Ashi?”
“Iya!”
“Ya udah, mau difotoin dimana lagi?”
“Udah ah, giliran sini kamu, aku fotoin. Tapi pake hape kamu aja ya, aku gak mau pake kamera SLR mu. Takut salah pencet malah rusak lagi.” Kana menawarkan, tapi Affan menggeleng.
“Aku gak mau foto sendiri, ah. Kita foto berdua aja gimana?”
“Ih, emang gak apa-apa aku foto berdua doang sama kamu?” Kana mengernyitkan dahi. Ia sering foto dengan Affan tapi tidak pernah berdua, selalu dengan Tia atau dengan anggota PPI Jepang lainnya saat ada acara mahasiswa Indonesia.
“Ya emang kenapa?” Affan malah balik bertanya.
“Nanti tunanganmu cemburu! Gimana sih.” Sentak Kana, tapi sahabatnya ini tergelak mendengarnya.
“Orang foto bareng doang Kan, bibit overthinking-mu itu coba dikurang-kurangi, deh!” Affan berkata di sela-sela gelakannya. Kana jadi salah tingkah, merutuki dirinya sendiri yang pikirannya suka berlebihan.
“Berdiri situ ya, aku minta tolong mas-mas yang itu fotoin.” Pinta Affan, lalu tanpa menunggu Kana menjawab, lelaki jangkung itu mendekati salah seorang pemuda lokal untuk meminta tolong mengambilkan foto mereka menggunakan hapenya. Tampaknya pemuda itu mau, dan Affan lalu menyusul Kana, berdiri di depan salah satu pohon berhias lampu warna-warni.
“Hai, torimasu.. Se… no!” Pemuda tak dikenal mengambil ancang-ancang akan memfoto mereka, dan Kana mengangkat dua jari kanannya, membentuk symbol damai. “Deketan lagi, bisa?” Tanya orang itu dalam bahasa Jepang saat akan mengambilkan foto lagi. Di sebelahnya, Affan lalu beringsut mendekati Kana, dan lengan mereka kini menempel. Kana berusaha biasa saja, padahal dalam hati ia tidak enak bila terlihat di foto sedekat ini dengan si sobat. Tapi Affan tampak cuek saja, malah beberapa kali berganti gaya.
Setelah mengucapkan terima kasih pada pemuda tersebut, Affan lalu mengecek hasil fotonya. Kana ikut melihat di samping, ternyata lumayan bagus. Ia langsung lupa dengan kecanggungannya barusan dan refleks meminta Affan mengirimkan hasil foto mereka berdua itu padanya.
“Kirimin ya di chat, bagus-bagus banget hasilnya.”
“Yoi, nanti kukirimin.” Affan tersenyum. “Kamu mau foto lagi gak?”
“Gak ah, udah banyak banget aku foto-foto. Udah jam 9 ternyata.” Lagi-lagi Kana melirik jamnya.
“Ya udah, mau balik?”
Kana mengangguk. “Tapi pengen mampir dulu, di dekat hotel tadi aku lihat ada gerai dango sama es krim kinako. Mau ngemil itu dulu ih mumpung disini.” Kana menelan ludah, membayangkan rasa es krim kacang khas Jepang itu dan kue beras manis dengan saus gula merah kental. Meski datang kesini untuk bekerja, Ia benar-benar ingin memanfaatkan kesempatan selama berada di Hakone sebaik-baiknya dengan banyak berfoto dan mencicipi panganan lokal.
“Kamu dingin-dingin kenapa hobi banget makan es krim sih??” Affan menggelengkan kepalanya.
“Ya gak apa-apa dong. Ayo, ku traktir. Mumpung aku lagi baik dan banyak duit.” Kana membusungkan dadanya, bangga. Ia lalu berjalan duluan, dan Affan mengikuti di belakangnya, terkekeh.
Bara POV
Bara terbangun dengan keringat membasahi tubuhnya, tapi kepalanya tidak seberat sebelumnya. Ia terdiam beberapa saat menatap langit-langit kamar hotelnya. Mimpi yang begitu indah. Dia mimpi Kana datang ke kamarnya dan duduk di sampingnya, setelah memberinya obat.
Sayang cuma mimpi, batin Bara. Bara lalu duduk, dan tertegun melihat obat-obatan, minyak angin, gelas berisi air putih, bahkan pop mie dan bubur instan dalam mangkok tersusun rapi di nakas samping tempat tidurnya. Yang paling mengagetkan ada tulisan tangan dalam buku note hotel.
Mas, kalau masih gak enak badan, diminum aja lagi obatnya ya. Tadi mas minum jam 8 kurang, jadi lewat 4 jam udah bisa minum lagi kalau masih demam atau pusing. Saya tinggalin popmie sama bubur juga, mas tinggal seduh kalau-kalau pas bangun lapar. Sama minyak angin dan kompres instan, pakai ya kalau perlu. Semoga cepat sehat ya, mas Bara.
Kana
Bara terbelalak membacanya, dan mengecek dahinya. Benar, ada kompres instan disitu. Ternyata yang terjadi tadi, bukan mimpi sama sekali. Kana benar-benar datang, memberinya obat bahkan menggenggam tangannya hingga ia tertidur. Bara benar-benar malu pada gadis itu, tidak enak sudah bersikap manja meski mereka baru saja kenal. Tapi di satu sisi ia bersyukur atas perhatian Kana, karenanya ia merasa lebih baik.
Bara mengecek hapenya, jam 12 malam waktu Jepang. Perutnya keroncongan, tapi sudah terlalu malam untuk ia ke minimarket 24 jam. Ia juga masih lelah. Akhirnya ia menyeduh pop mie yang diberikan Kana, dan menikmatinya dengan tenang. Setelahnya, ia kembali meminum obat, lalu tidur agar badannya benar-benar membaik besok.
Pagi harinya, Bara terbangun dan merasa tubuhnya normal kembali. Pusingnya hilang tanpa bekas, demamnya apa lagi. Ia juga sudah tidak berkeringat dingin seperti sebelumnya. Rasanya ia kembali siap untuk syuting video klipnya hari ini, yang kebetulan hari terakhir, dan semua itu karena Kana. Ia benar-benar harus berterima kasih pada gadis itu.
“Bar, kalau udah bangun, langsung ke bawah aja ya, sarapan.” Begitu pesan Nurul padanya.
Bara lalu mengganti baju kaosnya yang sudah lepek karena keringat, dan membuka pintu kamarnya. Pas sekali, Kana lewat di depannya.
“Kana!” Panggilnya, refleks.
“Mas Bara!” Kana menoleh ke arahnya, tersenyum ceria. “Sudah baikan?”
“Sudah, baikan banget. Karena kamu, makasih ya. Aku jadi bingung gimana gantinya.”
“Ah ngapain diganti mas, Cuma obat-obatan stok saya aja kok. Saya senang bisa bantu.” Kana mengibaskan tangannya santai. “Saya mau sarapan ke bawah, mas Bara juga?”
“Iya. Yuk.” Bara menutup pintu kamarnya untuk jalan beriringan dengan Kana. Tiba-tiba, seorang laki-laki memanggil Kana.
“Kana!” Lelaki itu mendekati Kana, dan melempar senyum tipis pada Bara. Bara hanya diam, mencoba mengingat-ingat dimana ia pernah melihat lelaki ini.
“Eh, Fan! Udah bangun?”
“Udah, tapi temen-temenku belum bangun, padahal aku lapar. Jadi aku mau sarapan duluan, nih.”
“Oh, aku juga mau sarapan, nih sama mas Bara.” Jawab Kana, lalu menepuk dahinya. “Ah, maaf mas Bara, ini teman saya, Affan. Kebetulan lagi ada acara kampusnya makanya bisa ada disini juga.” Kana memperkenalkan lelaki itu pada Bara yang sedari tadi diam. Affan lalu mengulurkan tangannya.
“Affan, salam kenal, mas Bara.” Lelaki itu masih tersenyum dengan raut wajah yang tak bisa Bara pahami, tapi Bara tidak ambil pusing. Ia lalu membalas uluran tangan lelaki itu dan menggenggamnya.
“Bara.” Jawabnya juga dengan senyum tipis. Tak lama mereka bersalaman.
“Saya teman Kana dari pertama datang ke Jepang, mas Bara.” Affan tiba-tiba bercerita, membuat Bara mengernyitkan dahi. “Maaf ya mas, Kana pasti suka ngerepotin ya mas Bara?” Lanjutnya lagi sembari mengacak pelan rambut Kana. Bara kini tersadar, Affan sedang mengklaim teritorialnya terhadap Kana di depannya, dan Bara langsung tidak suka melihatnya.
“Fan! Sembarangan ah ngacak rambut orang.” Dengus Kana, terlihat sebal. “Yuk mas Bara, kita makan. Affan sih biarin aja mau ikut atau gak.”
“Ikut dong, kan aku juga laper.” Affan tergelak, sementara Bara masih diam, memperhatikan interaksi keduanya.
Affan POV
Affan sebenarnya sudah memperhatikan Bara dan Kana sejak tadi, tapi baru menyapa mereka beberapa saat kemudian. Ia tidak bisa dengar percakapan mereka, tapi ia jadi tahu satu hal penting. Ternyata kamar yang semalam dimasuki Kana adalah kamar Bara, dan sontak Affan jadi curiga dengan kedekatan mereka. Ia tahu Kana si jomblo abadi bukan gadis yang bisa sembarangan naik turun ranjang dengan lelaki tanpa ikatan pernikahan, tapi tetap saja apa yang terjadi baginya mencurigakan, karena Kana tampak begitu panik saat keluar dari kamar Bara tadi malam. Dengan sengaja, Affan lalu mengacak rambut Kana dan memamerkan kedekatan mereka di depan Bara, untuk melihat reaksinya. Benar saja, reaksi Bara tampak dingin, dengan kilatan marah di matanya.
Ntah apa alasannya, sepertinya sang penyanyi juga menyukai Kana, sama seperti dirinya. Hanya saja, beruntungnya mereka, atau sialnya, Kana tentu tak menyadari hal ini.