Chapter 9: Mesra

1252 Words
Affan POV Memasuki restoran hotel tempat mereka akan sarapan bersama, Affan, Kana dan Bara mengantri di buffet untuk mengambil makanan mereka, yang terdiri dari nasi putih, ikan bakar, sup miso beserta salad sayur dengan mayones. Affan sengaja mengajak Kana bicara lebih sering agar perhatian Kana tertuju padanya, bukan pada Bara, dan ini hal yang mudah karena ia lebih lama mengenal Kana sehingga topik obrolan mereka lebih banyak. Ditambah sifat Bara yang terlihat tidak gampang dekat dengan orang baru, tidak seperti Kana dan dirinya. Affan baru akan duduk bersama Kana dan Bara, tapi ternyata teman-teman satu klubnya lebih dulu memanggilnya. “Fan, sini sini!” Panggil salah satu temannya yang duduk dalam meja besar berisi anggota klub mereka, dalam bahasa Jepang. Affan hampir menolak karena ia tidak rela membiarkan Kana duduk berdua saja dengan Bara, tapi Kana langsung menyambar. “Fan, dipanggil temenmu tuh. Nggak enak kalau dicuekin.” “Err..” Ia memandang Kana, lalu Bara yang langsung melengos. Ntah kenapa ia bisa melihat segaris seringai di wajah penyanyi itu. “Ya sudah, aku gabung sama mereka ya.” “Iya, nanti kita ngobrol lagi, gampang itu. Kayak enggak pernah ketemu aku aja.” Kana tersenyum, dan mengajak Bara duduk di salah satu meja dekat jendela yang hanya terdiri dari dua kursi. Sementara Affan berusaha menyembunyikan kekecewaannya dengan menyusul teman-temannya. “Lama banget bangunmu.” Komentar Haruto, teman sekelas yang juga teman satu klubnya begitu Affan duduk di sampingnya.  “Iya, semalam agak kemalaman tidur.” Jawab Affan sekenanya, sesekali pandangannya mengarah ke tempat duduk Kana dan Bara, yang keduanya kini berbincang dengan seru. Mengapa mereka mesra begitu sih? Bara yang sedari tadi diam tanpa ekspresi jadi tersenyum begitu lebar, menimpali obrolan Kana dan bahkan membuat Kana beberapa kali tertawa. Affan benar-benar jengkel melihatnya. Siapa mereka, teman?” Tanya Haruto lagi, tampak menyadari arah pandangan Affan. “Iya, yang perempuan itu temanku. Yang laki-laki bos kerja sambilannya.” Jelas Affan cepat. “Oh, akrab ya mereka. Pacaran?” Affan menggeleng. “Ya bukanlah. Temanku orang biasa kok, yang kebetulan jadi penerjemah, sementara lelaki itu penyanyi terkenal di Indonesia. Mana mungkin mereka pacaran.” Lanjut Affan panjang lebar, meyakinkan dirinya sendiri. “Mana ada yang tidak mungkin di dunia ini.” Komentar Haruto singkat, lalu meminum teh hijaunya. “Mereka kelihatan cocok.” Tumben-tumbenan Haruto menjadi  pemerhati orang lain, padahal biasanya juga cuek. “Ck,” Decak Affan jengkel, lalu mengunyah nasinya. Rasa sarapannya kini hambar, padahal ia jarang kehilangan nafsu makan begini. Setelah menyelesaikan sarapannya, Affan lalu diajak teman-temannya segera check out dari hotel karena mereka harus ke satu tempat lagi di Hakone sebelum menaiki kereta Odakyu Limited Express Romancecar dari Stasiun Hakone-Yumoto siang ini. “Kan, duluan ya. Aku harus check out dan siang ini pulang ke Tokyo.” Affan sengaja menyempatkan pamit dulu ke meja Kana dan Bara. “Oke, hati-hati Fan. Aku sama mas Bara juga sebentar lagi pergi kok.” Kana melambai. “Minggu depan jadi kan kita ketemuan dan kamu masak?” Sengaja Affan membahas janji Kana di grup chat mereka kemarin di depan Bara. Di sudut matanya ia bisa melihat Bara mengetatkan wajahnya lagi. Apa benar penyanyi ini suka pada Kana? Tapi kenapa? Apakah Kana seistimewa itu? Dia bisa dapat cewek manapun yang dia mau, kenapa ia tertarik pada Kana? Apa lelaki ini hanya ingin mempermainkan Kana? Berbagai pertanyaan dan tentu kecurigaan berputar di kepala Affan. “Iyaa jadi. Di tempat Tia kan? Santai, aku enggak mungkin lupa. Udah sana pergi, ditungguin tuh.” Kana mengibaskan tangannya. Affan menggigit bibir melihat ketidakpekaan Kana. “Ya sudah, kamu juga hati-hati ya.” Lagi-lagi ia mengacak pelan rambut Kana, sengaja. Tidak mempedulikan protes keras Kana, ia lalu melempar seringai penuh arti pada Bara. “Yuk mas Bara, duluan. Sukses terus ya.” Ucapnya berbasa-basi. Bara diam, menatapnya dengan pandangan tajam, dan mengangguk. Dari hotel, Affan dan dua puluh anggota klub fotografi kampusnya pergi ke Hakone Jinja, atau Kuil Hakone, yang berada di kaki gunung Hakone. Misi foto mereka hari ini sebelum pulang ke Tokyo adalah mengambil foto gunung Fuji berhiaskan ornamen kuil. Hakone Jinja adalah kuil yang paling terkenal di Hakone, dan menjadi tujuan utama para wisatawan yang mengunjungi Hakone karena dari kuil ini, pemandangan gunung Fuji terlihat sangat jelas ditambah hamparan danau Ashinoko di depannya. Affan sedang mengambil foto menggunakan kamera SLR-nya saat ia melihat sosok yang familiar. Ternyata Kana, beserta Bara dan tim syuting video klipnya juga pagi ini berkunjung ke kuil ini. Dari kejauhan, Affan bisa melihat Kana sepertinya diminta lagi menjadi figuran, karena ia berdiri di samping Bara dan mendengarkan arahan seseorang yang tampaknya sutradaranya. Affan langsung lupa dengan misi klubnya, dan malah memperhatikan kegiatan syuting tersebut. Kana dan Bara kini berdiri berpegangan tangan di hadapan salah satu Torii atau gerbang merah kuil khas Jepang, yang menjulang dari dalam danau. Ntah apa adegan mereka sebenarnya, yang jelas mereka tampak seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar, dengan Bara memegang tangan Kana erat sementara Kana menghempaskan tangannya dan pergi menjauhinya. Bara lalu tiba-tiba memeluk Kana dari belakang, mengalungkan kedua lengannya di perut Kana dan menempelkan kepalanya di rambut gadis itu, membuat Affan mengepalkan tangannya karena ia bisa melihat wajah Kana yang memerah. Mengingat sifat Kana yang gampang terbawa perasaan, sang sobat sekarang pasti sedang deg-degan, dan Affan tidak rela. Meski Kana bukan miliknya, dan meski yang Kana lakukan sekarang sebenarnya adalah bagian dari pekerjaannya, ia tidak rela melihat Kana bermesraan begitu dengan lelaki lain selain dirinya. Kana POV Beberapa hari lalu udah peluk dari depan, sekarang peluk dari belakang. Semoga ayah bunda dan terutama si Aa nggak kaget nanti pas lihat aku di video klipnya mas Bara. Kana yang saat ini ketiban lagi menjadi figuran video klip Bara berusaha berpikir lurus, tidak mendengarkan detak jantungnya yang sekarang pasti sangat kencang. Kana menyetel ekspresi wajahnya agar tampak sedih, karena hari ini sutradara video klip Bara berkata, wajah Kana mungkin akan masuk beberapa kali dalam video klip itu. Begitu kata Cut terdengar, Bara langsung melepaskan pelukannya, dan meminta maaf telah membuat Kana tidak nyaman. Kana hanya tersenyum, kecanggungannya hilang melihat ekspresi sang penyanyi yang tampak merasa bersalah telah memegangnya begitu intim. Bara benar-benar berubah dua hari ini, apalagi sejak sakit semalam. Ia jadi lebih banyak bicara dan begitu lembut padanya. Mereka bahkan sudah bertukar nomor tadi saat sarapan, karena Bara berjanji akan menggunakan jasa Kana lagi kalau ia ke Jepang. Setelah selesai proses syuting di Hakone Jinja, rombongan mereka lalu menaiki kereta gantung yang tidak jauh dari situ, yaitu Hakone Ropeway, yang mempertontonkan pemandangan kota Hakone dari atas. Untung, Kana tidak lagi diminta ikut syuting di sana. Kata Daryl, porsi Kana sebagai figuran sudah cukup banyak. Jadi Kana hanya diminta untuk meminta izin pada operator kereta gantung tersebut agar dalam satu kereta hanya diisi Bara dan timnya, sehingga mereka bisa mengambil gambar Bara lebih mudah tanpa harus mengganggu penumpang lain. Syukurnya, operator mengizinkan, dan pengambilan gambar pun lebih cepat terlaksana. Setelah dari Hakone Ropeway, tujuan terakhir rombongan sebelum kembali ke hotel mereka adalah Fuji Hakone Izu National Park. Taman yang luas benar-benar membuat Kana bersemangat, karena meski sudah dua tahun di Jepang, ia belum pernah menjelajahi Hakone seperti ini. Kebetulan saat mereka ke sana, bunga pohon plum yang bagi Kana kecantikannya mirip dengan Sakura, sudah bermekaran, jadi menambah cantik pengambilan gambar untuk video klip. Sembari memantau jalannya syuting dan membantu komunikasi timnya Bara ke pihak taman, Kana tentu saja menyempatkan diri memfoto pemandangan taman yang indah untuk dimasukkan ke instagramnya. Kenang-kenangan, pikirnya sembari tersenyum senang. Memang tidak ada yang lebih membahagiakan daripada bekerja santai sambil jalan-jalan begini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD