Chapter 10: Onsen

1357 Words
Kana POV Tanpa terasa, hari sudah memasuki malam, dan mereka pun kembali ke hotel. Ini adalah malam terakhir mereka menginap di Hakone, sebelum besok pagi kembali ke Tokyo karena lusa, Bara dan timnya akan pulang ke Indonesia. Setelah makan malam, Kana kembali ke kamar yang ia tempati sendirian. Ia berencana tidur cepat, tapi tidak jadi, karena masih ada satu hal yang belum ia coba selama menginap di hotel di Hakone ini, yaitu mandi di onsen yang disediakan khusus untuk tamu hotel. Onsen adalah pemandian umum khas Jepang, yang biasanya dipisah antara lelaki dan perempuan. Sebagai tempat wisata di kaki gunung, mayoritas hotel di Hakone menyediakan onsen yang air hangatnya bersumber dari panas gunung merapi. Seperti kolam renang, bedanya onsen tertutup, kolamnya bertinggi selutut dan selalu menggunakan air hangat karena fungsinya hanya untuk berendam. Tetapi, setiap orang yang mandi di sana tidak boleh mengenakan pakaian sama sekali. Warga local Jepang tentu tidak risih mandi di onsen, beda dengan Kana yang orang Indonesia. Meski sesama perempuan, ia tentu risih bila berendam tanpa busana beramai-ramai dengan orang lain. Jadi ia sengaja datang ke onsen hotel lewat jam 10 malam, ketika ia yakin mayoritas tamu hotel sudah tertidur dan kondisi hotel sendiri begitu sepi. Onsen hotel yang Kana tempati malam ini kosong, sesuai perkiraannya, hanya dia sendiri yang menggunakan pemandian itu. Jadi Kana tidak ragu melepas pakaiannya dan masuk ke dalam kolam air hangat itu. Meski di dalam hotel, bagian kolamnya ternyata terbuka langsung dengan pemandangan ke gunung Hakone, jadi ia bisa berendam sembari menikmati pemandangan. Suasana begitu tenang dan hening, yang terdengar hanya suara gemericik air dalam pemandian berbatu ini. Kana sedang memandangi pemandangan hamparan gunung dalam diamnya saat mendengar senandung seseorang yang familiar dari ruangan sebelah. Pemandian laki-laki dan perempuan memang bersebelahan, hanya dibatasi dinding bambu tipis yang bahkan tidak mencapai langit-langit. Kana lalu menajamkan pendengarannya, dan suara itu semakin jelas, membelah keheningan malam ini. Bara, sepertinya sedang berendam di sebelahnya, sedang menyanyi begitu lembut. Suaranya sangat merdu, Kana merasa seperti mendengar pertunjukan acapella saja jadinya. Ia tidak tahu lagu apa yang Bara nyanyikan, tapi sepertinya itu lagu ciptaannya, karena Bara begitu menghayati. Liriknya dalam, tentang perpisahan dan rindu. Kana hampir menitikkan mata saat mendengarnya. Ia begitu menikmati saat-saat ini, berendam di air hangat, memandangi pemandangan malam gunung Hakone yang menawan, ditemani nyanyian indah dari laki-laki sebaik Bara. Rasanya sangat nyaman, hati kecilnya berharap saat ini tidak akan berakhir. Bara POV Malam ini Bara sengaja berendam di onsen sendirian karena ia mendengar dari Kana kebiasaan warga lokal yang suka berendam sebelum tidur agar bisa tidur nyenyak. Seharian ini ia lelah tapi matanya sangat sulit terpejam. Karena besok pagi mereka kembali ke Tokyo, Bara akhirnya berendam malam-malam di onsen hotel yang buka 24 jam. Suasana yang hening membuat ia tak ragu menyanyikan lagu terbarunya yang akan dirilis dengan video klip yang syutingnya dilakukan di Jepang ini. Begitu ia berhenti, tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan dari ruangan sebelah. Bara menutup mulutnya, ia malu bila didengar orang asing sedang menyanyi meski tidak melihatnya secara langsung, karena saat ini ia tidak sedang berada di panggung. Tapi ternyata sebuah suara berikutnya malah makin mengagetkannya. “Lagunya bagus banget, mas Bara.” Suara yang menggema di dinding onsen itu, Kana. Ternyata Kana yang berada di ruangan sebelahnya. “Kana?” Bara mengonfirmasi, tak percaya. “Iya, mas. Ini saya.” Jawab Kana. “Suara mas Bara juga bagus banget, lebih bagus daripada yang saya dengar di Youtube. Saya sampai terharu mendengarnya.” Lanjut gadis itu. Bara tersenyum begitu lebar sekarang, pujian Kana membuat ia melambung.  “Terima kasih, Kana.” Balas Bara tulus. “Itu lagu yang mau aku rilis dengan video klip yang sedang kita ambil di Jepang ini.” “Oh.. iya mas. Saya jadi nggak sabar mau lihat video klip dan lagunya begitu rilis. Pasti langsung meledak ya mas, soalnya bagus banget lagunya.” “Amin, semoga ya Kana.” Jawab Bara lagi. Mereka berdua lalu terdiam, menikmati gemericik air dalam keheningan berdua, dengan berbatas dinding bambu tipis, sampai Bara tersadar sesuatu. Kana, sedang mandi di ruangan di sampingnya. Yang berarti.. Kana saat ini sedang tidak berbusana juga, seperti dirinya. Wajah Bara langsung memerah lagi, ia menggelengkan kepalanya cepat, berusaha mengindahkan pikiran-pikiran dewasa yang mendadak muncul dalam otaknya, tentang apa yang sedang Kana lakukan saat berendam dan bagaimana bentuk badan polosnya. Sadar Bar! Bara menggetok kepalanya, lalu membasuh wajahnya keras-keras dengan air hangat agar kembali berpikir normal. Saat ia sedang sibuk begitu, tiba-tiba dari ruangan sebelah ia bisa mendengar suara air beriak lebih keras dan langkah kaki keluar dari kolam pemandian. “Mas, saya duluan ya. Udah lumayan lama juga saya disini, sekarang udah ngantuk.” Ujar Kana santai. Bara langsung ikutan bangkit, meski ia terhitung belum lama berendam di dalam onsen. “Bareng aja, Kana.” Balasnya. “Oke, ketemu di depan ya mas.” Jawab gadis itu. Bara lalu berdiri di depan lokernya, mengeringkan badannya dan mengenakan bathrobenya, ketika ia mendengar pekikan Kana. “Yaaah…” Kana terdengar begitu kaget. “Ada apa, Kana?” Bara dengan sigap bertanya. “Baju saya jatuh di kolam mas, gak sengaja. Padahal saya nggak bawa baju ganti kesini. Terpaksa nih saya pakai baju basah balik ke kamar.” Jelas Kana, suaranya terdengar begitu berat. Bara lalu melihat ke kaos birunya yang berada di lokernya. “Kamu mau pakai kaosku nggak?” Tawarnya tanpa pikir panjang. Ia kasihan bila Kana harus berbasah-basahan kembali ke kamarnya yang letaknya lumayan dari onsen ini. “Eh? Terus mas Bara pakai apa?” “Aku pakai celana dan bathrobeku, aku bawa dari kamar tadi.” Jawab Bara cepat. “Mau ya? Biar aku sangkutkan ke dinding pembatas nih, kamu tinggal ambil.” “Beneran gak apa-apa, mas?” “Nggak apa-apa. Masih bersih juga kok kaosnya, baru kupakai tadi sebentar.” Ia menenangkan Kana. “Pakai aja, daripada kamu masuk angin, dan ninggalin bercak air di lantai hotel.” “Iya juga ya..” Kana tampak mempertimbangkan ucapannya. Bara langsung menyangkutkan kaosnya di bagian atas dinding pembatas yang tidak terlalu tinggi itu. “Ambil ya Kana, udah kelihatan kan?” Tanya Bara, menunggu balasan Kana sembari memperhatikan kaosnya. Tidak perlu waktu lama, kaosnya yang tersangkut ditarik dari ruangan sebelah, tanda Kana sudah mengambilnya. “Saya pakai dulu ya mas, maaf banget ngerepotin.” “Nggak ngerepotin sama sekali, aku tunggu di luar ya.” Sergah Bara, lalu berjalan ke luar ruangan onsen dan menunggu Kana di depan pintu. Beberapa saat kemudian, Kana keluar, dengan rambut tergelung handuk yang menampakkan leher jenjangnya, baju kaos Bara yang kebesaran menutupi hingga pahanya yang hanya menggunakan celana pendek, memperlihatkan kaki putihnya yang langsing. Meski dengan wajah polos tanpa make up seperti biasa, Kana terlihat begitu manis dan menawan. Bara sampai harus memalingkan muka lagi agar ekspresi wajahnya yang pasti mencurigakan tidak tertangkap Kana. “Makasih banget ya mas, besok begitu sampai di Tokyo, baju mas saya cuci di asrama, dan lusa saya antar ke bandara.” Kata gadis itu saat mereka berjalan beriringan kembali ke lantai kamar mereka. Kana menenteng plastik berisi baju basahnya. Bara segera menggeleng. “Nggak usah repot-repot Kana, kaos itu kaos baru, paling baru kupakai sekali dua kali, jadi untukmu saja. Kenang-kenangan dari aku. Biarpun kebesaran, lumayan kan buat dipakai tidur?” “Ih, kaos mahal begini masa untuk saya sih mas, aneh banget atuh.” Logat sundanya yang kadang keluar membuat Bara menahan tawa, mengingatkan kembali pada pertemuan pertama mereka. “Nggak apa-apa, kamu juga banyak banget berjasa untuk aku selama perjalanan ini, Kana.” Dan karena kamu aku bisa mencapai titik ini, lanjut Bara dalam hati. “Kan pekerjaan saya, mas. Bukan jasa itu mah.” Kana masih bersikeras. Tapi Bara hanya menggeleng, tertawa kecil. Akhirnya setelah berulang kali meyakinkan Kana, gadis itu mau juga menerima kaos Bara yang sedang ia pakai. Bara tentu senang karena ada barang miliknya yang sekarang bisa membuat Kana teringat terus padanya meski mereka tidak bertemu nanti. Tiba-tiba ia teringat satu barang lagi yang akan ia kadokan pada Kana, tersimpan rapi di dalam tasnya. Ia janji akan memberikan benda itu pada Kana sebelum ia pulang ke Indonesia, agar hubungan mereka tidak berhenti begitu saja. Semoga Kana bisa merasakan keseriusan perasaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD