Kana POV
Malam ini, Kana benar-benar terselamatkan karena diberikan kaosnya Bara. Meski kebesaran, kaos ini begitu nyaman, mungkin karena mereknya yang mahal. Kana sedikit heran karena Bara tidak ingin kaosnya dikembalikan, tapi alasannya cukup masuk akal, lelaki itu tidak ingin Kana repot-repot mengejarnya ke bandara hanya untuk kaos ini. Dalam hati, Kana berpikir betapa perhatiannya ternyata lelaki ini, di balik gemerlap statusnya sebagai penyanyi dan wajah dinginnya, ternyata ia adalah orang yang hangat.
Tanpa terasa, mereka lalu tiba di depan kamar Bara.
“Ada satu lagi yang mau aku kasih sama kamu, Kana. Bisa tunggu sebentar di sini?” Tanya Bara saat Kana akan berpamitan ke kamarnya. Semakin heran, Kana hanya mengangguk. Bara lalu masuk ke dalam kamarnya, dan secepat kilat keluar membawa sesuatu yang diserahkan padanya.
“Ini, untuk kamu.” Bara memberikan kotak berukuran 35x10cm yang ia bungkus dengan kertas kado.
“Apa ini mas?” Kana menerimanya dengan ragu.
“Buka lusa ya, pas aku udah balik ke Indonesia.” Pintanya.
“Kenapa lusa? Nggak boleh dibuka malam ini?”
“Jangan, nanti kamu maksa kembaliin lagi.”
“Waduh,” Kana mengangkat alis. “Barang mahal ya mas? Saya nggak bisa terima atuh kalau begitu.”
“Tuh kan, belum apa-apa aja kamu udah nolak.” Bara tertawa kecil. “Tenang, bukan barang mahal kok. Dan aku yakin kamu bakal perlu.” Lanjutnya.
“Tapi kenapa? Padahal saya udah dikasih kaos nih.”
“Hmm.. Kaos ini kan nggak sengaja. Kalau kado ini, memang aku beli untuk kamu. Di dalamnya ada surat, nanti kamu baca saja ya, alasanku.” Bara mengulas senyum, jemarinya merapikan poni Kana yang keluar tidak beraturan dari gelungan handuk di kepalanya. Jarak mereka yang begitu dekat membuat Kana tersipu. Ya ampun, ini orang beneran ganteng pisaaan… Mana baik banget lagi. Kana berteriak dalam hatinya. Akhirnya demi terhindar dari kebodohan akibat salah tingkah dan kebaperan tingkat dewa, Kana mengangguk.
“Oke mas, saya terima ya. Apapun isinya, terima kasih banyak.”
“Nah, begitu dong.”
“Saya pamit ya mas, ke kamar. Terima kasih sekali lagi,” Kana melambai, agak terburu-buru demi menutupi rasa canggungnya. Bara mengangguk, dan mengucapkan selamat tidur sebelum ia menutup pintu kamarnya.
Kana masuk ke kamarnya, dan hati kecilnya ingin segera membuka kado dari Bara, tapi ia tahan, demi memenuhi permintaan Bara. Akhirnya kado itu ia simpan di dalam kopernya, dan setelah membereskan semua barang-barangnya agar besok pagi tinggal berangkat, Kana lalu tertidur pulas.
Dua hari perjalanan ke Hakone terasa singkat. Siang ini, rombongan mereka akhirnya tiba di stasiun Shibuya. Kana memang meminta diturunkan di sana agar bisa langsung naik kereta menuju asramanya.
“Terima kasih atas bantuannya ya, Kana.” Ujar Nurul, sembari menyalami dan memeluknya. Bara di sampingnya hanya tersenyum kecil, seperti biasa kalau di depan orang banyak, lelaki ini tidak banyak bicara. Tapi raut wajahnya tetap ramah pada Kana.
“Terima kasih juga, mba Nurul, mas Bara. Maaf kalau saya ada salah kata atau perbuatan selama bekerja.”
“Nggak kok, kami benar-benar senang karena Kana yang jadi penerjemah sekaligus guide kami selama disini.” Nurul lalu mengeluarkan amplop coklat dari tasnya, dan menyerahkannya pada Kana. “Ini bayarannya ya Kana, tariff penerjemahnya seperti yang waktu itu Isa bilang. Dua kali lipat karena ada bayaran kamu sebagai figuran video klipnya Bara juga.”
Mata Kana membulat. Dua kali lipat? Ini berarti dengan hanya bekerja empat hari, Kana terima hampir 15 juta rupiah, mendekati uang beasiswanya sebulan. “Wah mbak, nggak kebanyakan ini? Saya kan cuma tampil sedikit saja di videonya mas Bara.”
“Nggak dong!” Nurul menggeleng, bahkan Bara ikut menggeleng. “Memang segitu budgetnya untuk figuran, kamu nggak perlu khawatir.”
Kana sontak menyalami Nurul dan Bara lagi. “Ya ampun, terima kasih banyak ya mas Bara, mbak Nurul.”
“Sama-sama, Kana. Kalau kami ke Jepang lagi, boleh kan kami minta tolong sama kamu lagi? kemungkinan besar Bara bakal diundang tampil di festival Indonesia dekat-dekat ini.”
“Boleh dong mbak! Boleh banget.” Kana mengangguk cepat. “Mba Nurul bisa langsung kontak saya aja.”
“Oke deh. Ya sudah, Kami pamit dulu, mau lanjut ke Tokyo Disney Sea, sebelum besok pulang.” Nurul menepuk pundaknya, lalu kembali ke atas minibus, diikuti Bara di belakangnya.
“Iya mba, hati-hati ya.” Kana melambaikan tangannya pada Nurul dan anggota tim yang lain. “Hati-hati, mas Bara, semoga sukses terus!” Seru Kana pada Bara yang mengangguk padanya, dan membalas lambaiannya. Minibus lalu berjalan perlahan, dan Kana baru akan masuk ke dalam stasiun Shibuya ketika sebuah mobil mendekatinya.
“Kana, mau kemana?” Profesor Yamada Tetsuya, menyapanya setelah membuka kaca mobil. Kana terperangah.
“Loh, professor? Kok bisa disini?”
“Aku baru ada urusan di sekitar sini, pas lihat kamu di pinggir jalan ini, jadi menepi.” Jawabnya. “Jadi, kamu mau kemana?”
“Mau ke asrama, professor. Saya baru pulang dari Hakone.” Jawab Kana.
“Ya sudah, ayo ikut. Aku juga lagi jalan pulang.” Ajaknya santai. Kana hampir menolak, tapi Tetsuya langsung menyambarnya. “Ayo, Kana. Mobilku nggak boleh berhenti lama-lama disini.”
“Eh iya, terima kasih professor.” Tetsuya lalu turun dan membukakan bagasi mobilnya, menaikkan koper Kana, lalu menyuruhnya masuk.
Bara POV
Bara masih memperhatikan Kana saat minibus mereka bergerak ketika Nurul berkata padanya. “Bar, lo denger kata-kata gue gak sih?”
“Huh? Apaan mbak?”
“Ngelamun mulu. Gue barusan bilang, Kana kan baik dan kerjanya bagus, apa kita ajak ke Disney Sea aja ya hari ini?”
“Gue setuju, mbak. Biar gue panggil dia, mumpung belum jauh.” Sergah Bara cepat. “Mr. Driver, please stop!” Seru Bara pada supir mereka, dan sontak sang kakek supir berhenti. Bara langsung turun dari minibus, dan berjalan ke tempat Kana berdiri tadi. Ia sudah semangat akan menghabiskan satu hari tambahan dengan Kana di Disney Sea sebelum ia pulang ke Indonesia, tapi ternyata harapannya pupus. Seorang lelaki, sepertinya orang Jepang, yang waktu itu mengantarnya ke hotel, sedang memasukkan koper Kana ke dalam mobilnya. Setelahnya Kana lalu masuk ke kursi penumpang tanpa canggung, tidak melihatnya sama sekali. Mobil mereka pun memutar balik, meninggalkan Bara berdiri di pinggir jalan sebelum sempat mengajaknya pergi.
“Loh, mana Kana?” Tanya Nurul saat melihat ia kembali sendirian. “Nggak mau ikut dia?”
“Bukan nggak mau.” Bara menggeleng lesu. “Keburu dijemput dia, sama profesornya yang waktu itu nganter ke hotel.”
“Dijemput? Tapi tadi Kana bilang dia mau naik kereta kok balik ke asramanya, makanya dia minta turun di sini.” Nurul mengernyitkan dahi. “Nggak sengaja ketemu kali ya.”
“Mungkin.” Bara mengangkat bahu, malas berkomentar. Kini ia penasaran apa hubungan Kana sebenarnya dengan profesornya.
Tetsuya POV
Sebuah keberuntungan bagi Tetsuya yang pagi ini ada urusan riset di Shibuya, pulangnya malah bertemu dengan Kana. Kini Kana duduk di kursi penumpang mobilnya, tidak terlihat secanggung sebelumnya.
“Maaf ya professor, saya jadi merepotkan.” Ujarnya.
“Nggak merepotkan, toh apartemenku dekat dengan asrama.” Tetsuya melempar senyum tipis. “Sudah selesai kerja sambilannya?”
“Sudah, pak.”
“Jadi, apa rencana kamu selama sisa liburan musim dingin ini?”
“Jalan sama teman, nonton dorama, sama kerja sambilan lagi, kalau ada yang minta jadi penerjemah lagi.” Jawab gadis itu. “Kenapa, professor? Kalau ada kerjaan di kampus lagi, saya siap bantu.”
“Belum ada, tapi pasti aku bilang kalau aku perlu, ya.”
“Baik.” Kana mengangguk, dan mereka terdiam lagi. “Profesor sendiri, baru dari mana?” Sebuah kemajuan, Kana mengajaknya bicara duluan. Sepertinya usaha Tetsuya mendekatkan diri membuahkan hasil.
“Ada urusan riset tadi di dekat stasiun.”
“Begitu, ya. Riset soal apa?” Tanya Kana lagi, dan obrolan mereka terus berlanjut. Tetsuya lalu menjelaskan riset apa saja yang sudah ia lakukan agar mendukung karirnya sebagai dosen yang harus menelurkan beberapa jurnal internasional setiap tahunnya, termasuk risetnya kali ini. Meskipun ia menggeluti bidang keilmuan bisnis dan manajemen yang notabene berbasis pengetahuan sosial, kewajiban melakukan riset tetap ada, sama banyaknya dengan mereka yang melakukan riset berbasis ilmu sains.
“Kamu mau juga, ikutan risetku? Ini kesempatan bagus agar namamu bisa ada di jurnal internasional. Suatu saat akan mendukung karirmu di bidang pendidikan atau penelitian.” Tawar Tetsuya.
“Tapi saya masih harus fokus dengan thesis saya, Profesor.”
“Benar juga, tapi kalau jadi bagian timku, tidak terlalu banyak porsi kerjamu. Boleh kamu pertimbangkan, nanti akan kugaji sama seperti anggota timku yang lain. Terpisah dengan gaji asisten, tentu. Asal kamu bisa bagi waktu saja jangan sampai ganggu kuliahmu dan penyusunan thesismu.”
Kana tersenyum mendengarnya. “Baik, terima kasih tawarannya, professor. Saya lihat dulu di semester depan seperti apa kesibukan kelas saya ya pak.”
“Oke.” Tetsuya mengangguk. Tak terasa mereka sudah memasuki daerah Saitama. “Kamu belum makan siang, kan?”
“Belum, professor.”
“Mau makan siang denganku? Sekalian kita obrolin soal ini.” Tentu saja ini akal-akalan Tetsuya. Obrolan soal pekerjaan hanya alasan semata agar ia bisa makan siang dengan Kana. Untungnya, Kana tidak menolak.
“Baik pak. Kebetulan ada yang masih ingin saya tanyakan.”
“Oke. Kita makan sushi, mau? Ada restoran sushi enak di daerah sini.”
“Boleh, terima kasih banyak professor.”
Affan POV
Affan mengirimkan pesan sedari tadi pada Kana, tapi tidak dijawab. Pesannya di grup juga tidak dibaca Kana, hanya Tia yang merespons. Affan tahu Kana pulang ke Tokyo hari ini, jadi ia tadinya ingin mengajak Kana dan juga Tia, agar Kana tidak curiga, nonton bareng. Kebetulan ia dapat voucher diskon menonton di bioskop.
Affan uring-uringan karena Kana yang lambat merespons sejak kerja sambilan. Apa karena dia lagi sibuk sama Bara? Tapi kan harusnya dia sudah tidak kerja sambilan lagi hari ini. Affan semakin jengkel, teringat kedekatan Bara dengan Kana yang membuatnya berang. Iseng, ia lalu mengecek profil i********: Kana. Tidak ada update hari ini, yang terbaru adalah kemarin, yaitu foto dia di Hakone sendirian. Affan lalu mengecek profil Bara, yang sudah diikuti Kana. Ada story terbaru di Tokyo Disney Sea, foto pemandangan dan tag lokasi. Jantung Affan berdetak kencang. Apa Kana juga sedang ikut ke sana? Makanya gadis itu jadi terlalu sibuk sehingga tak sempat membalas pesannya dari tadi. Ia baru akan menelpon Kana siangnya saat pesan dari Kana muncul di grup.
“Sori baru bales, aku baru nyampe asrama nih. Aku gak keluar lagi ah hari ini, capek. Kalau mau nonton, kalian aja.” Ujarnya.
“Kok baru bales Kan, kemana aja?” Tanya Tia sebelum Affan sempat membalas.
“Makan siang bareng ama professor Yamada, tadi gak sengaja ketemu dia di stasiun Shibuya.” Affan melongo membaca jawaban Kana.
“Kok makan siang sama dia?” Komentar Affan, berusaha menyembunyikan kecemburuannya.
“Iya, sekalian ngomongin risetnya, aku diajakin gabung jadi timnya.”
“Bagus dong Kan, kapan lagi bisa ikutan riset untuk jurnal internasional.” Celetuk Tia.
“Ya kan? Digaji lagi.” Kana mengirimkan emoji tertawa, sementara Affan mengigit bibir. Belum hilang kekesalannya karena Kana dekat dengan Bara, sekarang Kana malah semakin dekat dengan profesornya. Tapi setidaknya, urusan Kana dengan Bara sudah selesai, jadi tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan pada sang penyanyi. Sekarang ia hanya perlu memastikan agar Kana tidak sampai terlibat cinta lokasi dengan sang professor muda.
“Hah…” Affan menghela nafas panjang sembari berbaring menatap langit-langit kamarnya. Akhir-akhir ini perasaannya pada Kana semakin membuncah, mungkin karena dipicu kedekatan khusus Kana dengan lelaki lain selain dirinya. Affan tahu tidak seharusnya ia mengejar Kana seperti ini, terlebih ia masih berkomitmen dengan Esti. Tapi ia benar-benar tidak rela bila Kana menjalin hubungan spesial dengan orang lain selain dirinya.
“Ah, gue kan belum nikah. Nggak apa-apalah, selama masih di sini, gue ngejar Kana. Nanti begitu pulang ke Indonesia, baru serius dengan Esti. Esti nggak perlu tahu.” Batin Affan, yakin.