Kana POV
Makan siang bersama professor Yamada Tetsuya ternyata tidak secanggung yang ia kira. Obrolan mereka mengalir lancar, dan karena berasal dari bidang ilmu yang sama, Kana bahkan bisa mendiskusikan proposal tesisnya, yang ternyata tidak jauh dari riset yang ia lakukan. Kana semakin yakin bahwa sang professor sebenarnya tidak segalak yang dikatakan orang. Dosen yang galak bukan berarti orang yang galak, lelaki muda ini hanyalah serius dengan pekerjaannya.
“Terima kasih, professor, sudah menraktir makan, diantar pulang lagi.” Kana menundukkan kepalanya refleks begitu keluar dari mobil Tetsuya, saat Tetsuya menepi di depan asramanya.
“Bukan hal besar, Kana. Kamu sudah cukup lama menjadi asistenku, harusnya memang aku sudah mengajakmu makan dari lama,” Jawab Tetsuya santai. Salah satu kebiasaan pekerja di Jepang memang seperti ini, atasan mengajak bawahannya makan dan minum-minum di luar jam kerja untuk lebih mendekatkan diri. Kana hanya mengangguk pada bosnya itu. Ditambah dengan kemungkinan akan menjadi anggota tim risetnya, sepertinya mereka akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama. Mungkin Kana tidak perlu terlalu banyak diam lagi sekarang kalau bertemu dengan sang profesor.
Kembali ke kamarnya setelah dua malam menginap di luar, Kana lalu membereskan kopernya yang berisi banyak baju kotor, berniat mulai mencuci semua agar tidak menumpuk. Tanpa sengaja, ia menemukan kado dari Bara tadi malam.
Isinya apa ya? Kana memperhatikan lekat-lekat kotak kecil itu. Baru ia ingin membukanya, tapi tiba-tiba hapenya berbunyi. Ternyata pesan dari grup WA ia dengan Tia dan Affan. Affan mengajak mereka berdua menonton hari ini, tapi Kana menolak karena ia lelah sehabis dari Hakone dan makan siang bersama Tetsuya. Tia dan Affan langsung heboh, tentu saja, karena ia tahu-tahu makan siang dengan profesornya yang terkenal dingin. Tapi Kana meyakinkan mereka bahwa makan siangnya bukan hal besar, hanya membicarakan soal riset dan pekerjaan.
Baru Kana meletakkan hapenya dan kembali mengurusi baju kotornya, tiba-tiba telponnya berbunyi lagi.
“Bunda? Tumben nelpon adek.” Kana tersenyum lebar begitu mengangkat telepon dari sang bunda, nun jauh di Bandung sana.
“Adek lagi apa? Bunda kangen.” Celetuk Ibu Lani, ibunda Kana dan Rasyid, kakak Kana. “Udah pulang dari Hakone?”
“Udah bun. Kana dapat lumayan loh bun gajinya. Baik banget itu mas Bara sama timnya.” Kana lalu menceritakan soal pekerjaannya di Hakone yang menyenangkan serta pendapatannya yang fantastis meski hanya bekerja 4 hari.
“Wah, asyik atuh dek. Bisa ditabung itu uangnya, jangan boros-boros ya.”
“Iya Bun, nggak boros kok. Paling kadang adek pake jajan.” Kana tergelak.
“Adek libur sampai kapan sih?”
“Masih sebulan lebih lagi kayanya Bun, Kana lupa tanggal persisnya. Nanti cek di kalender akademik dulu.”
“Kapan atuh rencana mudik ke Indonesia? Udah lama lho adek nggak pulang.”
“Mudik ya…” Kana tertegun. Dia memang sudah lama tidak mudik ke Indonesia, terakhir pulang tahun lalu saat hari raya. Hari raya tahun ini dia tidak bisa pulang karena bertepatan dengan jadwal ujian. Begitulah nasib menjadi minoritas, tidak bisa meminta libur sembarangan. Apa pulang aja ya, mumpung uang tabungan masih cukup banyak? Batin Kana, menghitung-hitung pendapatannya satu tahun ke belakang. Berkat berbagai macam kerja sambilan yang ia lakukan, ditambah uang beasiswanya yang jarang ia habiskan, uang tabungan Kana memang sudah mencapai nilai lumayan. Sebagian uang tabungannya ia kirim ke Indonesia untuk diinvestasikan dalam bentuk logam mulia oleh sang Bunda, sebagian lagi ia simpan untuk biaya hidup dan tabungan selama disini. Kana berencana membeli rumah sendiri di Bandung sepulang dari Jepang nanti.
“Nanti Kana lihat-lihat dulu bun, kalau ada tiket murah, Kana pulang secepatnya ya.”
“Iya dong. Ayah, bunda, si Aa, semua kangen banget sama kamu. Daripada kami yang kesana, ribet urus visa dan biaya pasti lebih mahal, mending adek yang pulang. Lagipula ayah sama Aa susah cuti, bunda juga.” Tukas bu Lani lagi. Ibunya memang sudah puluhan tahun bekerja sebagai guru sekolah menengah negeri di Bandung, belum memasuki masa pensiun.
“Iya sih, adek juga kangen sama semua. Sehat semua kan bun?”
“Sehat kok.”
“Ayah masih suka tinggi gak tensinya?”
“Nggak usah ditanya itu mah dek, orang rokoknya ngebul gitu gimana gak tinggi terus tensinya.” Bu Lani bersungut-sungut, sementara Kana terkekeh. Sang ayah yang bekerja sebagai PNS Eselon IIA di pemerintah provinsi Jawa Barat memang doyan sekali merokok dan selalu bermasalah dengan darah tingginya.
“Ai si Aa kumaha bun? Udah dapat calon?” Tanya Kana, kali ini mempertanyakan kakak satu-satunya, Rasyid, yang juga bekerja sebagai PNS, tapi golongan Eselon IIIB di kantor pusat Kementerian Keuangan, Jakarta. Kana memang berasal dari keluarga PNS alias Pegawai Negeri Sipil, ia sendiri hampir menjadi abdi negara juga mengikuti jejak keluarganya, kalau tidak diterima beasiswa ke Jepang kemarin.
“Itu lagi satu, kerja mulu. Boro-boro calon, pacar aja gak punya dia mah.” Lagi-lagi bundanya mengomel. “Tiap bunda tanya kapan dia mau nikah, Aa selalu bilang biar adek aja yang duluan nikah.”
“Lohhh??” Kana tersentak. “Kok nunggu abis adek sih? Adek aja masih kuliah begini. Aa udah 28 tahun harusnya nikah duluanlah, udah cukup umur itu. Kerjaan juga udah bagus.”
“Itulah, Bunda bilang gitu juga. Eh dia malah cuek aja. Makanya adek pulang dong, coba bujuk Aa. Atau lebih bagus lagi, coba kenalin si Aa sama siapa gitu temen adek. Kali aja ada yang jodoh.”
“Ya, nantilah adek kabari ya bun jadi pulang atau nggak.” Ucap Kana. Dalam hati ia jadi berniat ingin mudik secepatnya, tapi tidak memberi tahu keluarganya. Biar jadi kejutan.
Setelah menutup telepon sang ibunda, Kana lalu mencuci bajunya di ruang laundry lantai satu. Sembari menunggu mesin cuci bekerja, Kana duduk di ruang tamu asrama dan menelpon Tia.
“Tia, kamu ada rencana pulang nggak dekat-dekat ini?”
“Pengen sih. Abis bosen juga gue liburan lama disini, bingung mau ngapain.”
“Aku juga ih, kok tiba-tiba kepikiran pengen pulang ya. Mumpung liburan masih lama, dan belum ada tawaran jadi penerjemah lagi.”
“Ya udah, mau cari tiket murah?” Tawar Tia. Kana tersenyum, Tia memang selalu kompak dengannya, karena mereka berdua telah berteman lama sejak satu fakultas saat menempuh pendidikan sarjana di Universitas Padjadjaran, Bandung.
“Ya, aku cari juga, kamu cari ya. nanti kalau dapat, kita kabari di grup. Kali aja Affan mau ikut pulang juga.” Ajak Kana.
“Oke.”
Kana menutup telepon, dan mulai bergerilya di situs pencarian tiket pesawat, melihat-lihat tiket pesawat yang terjangkau harganya dari bandara Haneda atau Narita ke Soekarno-Hatta, Jakarta. Ia juga membuka i********:, mengecek akun-akun travel yang biasa ia follow untuk info promo tiket. Tak sengaja, ia melihat story terbaru Bara, foto pemandangan di Tokyo Disney Sea.
“Bagus banget pemandangannya, mas Bara.” Kana mengirimkan komentar melihat DM. Iseng, ia tahu Bara mungkin tidak akan membalas bahkan membaca pesannya karena followernya jutaan. Tapi ternyata beberapa saat kemudian, Bara malah menelponnya melalui w******p.
“Mas Bara?” Kana bertanya tak percaya.
“Aku lihat DM-mu di i********:, Kana. Bagus banget nih disini pemandangannya. Tadi aku mau ajak kamu kesini, tapi ternyata kamu sudah dijemput sama profesormu ya?” Ujar Bara, suara di sampingnya terdengar berisik. Sepertinya Bara masih di taman bermain kepunyaan Disney itu.
“Wah, iya ya mas? Iya sih tadi nggak sengaja ketemu sama beliau, jadi pulang bareng deh.” Jawab Kana. Ntah kenapa ia deg-degan dengan perhatian Bara. Padahal orangnya juga jauh, hadeh hadeh Kana.. Kana. Kana menggelengkan kepalanya.
“Kamu udah dimana sekarang? Mau nyusul kesini? Mumpung belum terlalu sore.” Kana terbelalak mendengar ajakan Bara. Hampir ia menyetujui, tapi setelah melihat sudah mau jam 3 sore, ia mengurungkan diri.
“Ah, mas Bara ini ada-ada aja. Saya sudah di asrama, mas. Jarak ke Disney Sea dua jam dari sini. Nanti kesorean, dan malah pulangnya saya kemaleman.” Tolak Kana.
“Iya sih, nanti kamu kecapekan ya. Padahal aku…” Bara menggantung ucapannya.
“Kenapa mas?”
“Nggak apa-apa.” Lelaki itu tidak menjawab pertanyaannya. “Besok aku pulang ke Indonesia, nanti kalau aku jadi ke Jepang lagi untuk festival Indonesia, aku kontak kamu dari jauh-jauh hari ya.”
“Siap, mas Bara.”
“Kamu ada rencana mudik ke Indonesia dalam waktu dekat?” Pertanyaan Bara lagi-lagi mengagetkan Kana.
“Hm, ada sih. Tahu aja nih mas Bara. Mungkin minggu depan, lagi cari tiket promo dulu.”
“Wah, bagus dong. Kabari ya kalau kamu di Indonesia. Nanti kutraktir makan.” Janjinya.
“Ya ampun mas, ngerepotin banget. Nggak usahlah. Nggak enak sama fansnya mas Bara.”
“Nggak apa-apa, Kana. Oh iya, kenapa kamu masih panggil aku mas?”
“Loh?” Kana terbelalak. “Emang salah ya?”
“Kamu belum buka kado dari aku?”
“Katanya bukanya besok aja pas mas Bara udah pulang ke Indonesia…”
“Hahaha..” Suara tawa Bara malah membuat Kana makin bingung, sekaligus dagdigdug. “Ya sudah, nanti setelah buka kado itu, kamu bakal paham maksudku. Aku tutup dulu ya teleponnya. Jaga kesehatan, Kana. Sampai ketemu lagi di Indonesia.”
“Iya, mas Bara. Hati-hati di jalan.” Tutup Kana, masih dilanda keheranan. Sikap Bara yang kini sangat akrab padanya membuatnya bingung sendiri jadinya. Apalagi setelah ia mengecek i********:, Bara mengikutinya balik. Pantas lelaki itu langsung tahu dia mengirim pesan di DM. Padahal hanya sedikit orang yang diikuti Bara di aplikasi sosial media itu, kurang dari 100 orang, termasuk dirinya. Kana lalu mencubit pipinya berulang kali. Jangan kegeeran, Kana. Mending kamu cari tiket pulang tuh.
Pucuk dicinta ulam tiba, Tia tiba-tiba menelponnya saat Kana mengambil cuciannya yang sudah kering. “Kan, ada loh tiket murah naik ANA, hari senin minggu depan. Pulang pergi gak sampe 100.000 yen. Mau?”
“Mau!” Kana menyambar, semangat. “Kamu mau juga kan Ti?”
“Maulah. Pesawat pagi tapi, jadi kita sampai Jakarta sore. Nggak apa-apa kan? Kamu baru sampai Bandung malam itu mungkin.”
“Nggak apa-apa, yang penting bisa mudik.”
"Oke deh, kita ngobrol di grup ya. Kalau Affan gak mau ikut, kita langsung beli tiketnya." Ujar Tia. Kana setuju, tak disangka ia benar-benar akan mudik juga setelah sekian lama.