Affan POV
“Mudik?” Affan tersentak saat tiba-tiba Tia dan Kana mengajaknya video call melalui grup mereka. “Senin depan bukannya sebentar lagi?” Tanyanya lagi. Hari ini sudah hari kamis, yang berarti tinggal empat hari lagi sebelum rencana mudik mereka.
“Iya!” Kana tersenyum lebar, begitu juga Tia. “Mau ikut nggak? Soalnya kita mau beli tiket sekarang nih.”
“Kok dadakan banget sih, nggak pake persiapan dulu?” Komentar Affan lagi. Dia sendiri belum ada rencana pulang dalam waktu dekat.
“Justru dadakan itu yang biasanya jadi.” Celetuk Tia. “Lo sibuk nggak sampai semester baru mulai?”
“Nggak juga sih..” Affan mengingat-ingat jadwalnya sendiri. Tidak seperti Kana, dia tidak melakukan kerja sambilan selama di Jepang karena uang beasiswa dan uang dari orang tuanya cukup untuk kebutuhan hidupnya. Dan karena sedang libur, urusan kuliah juga tidak ada. Urusan klub di kampus juga tidak banyak dan tidak wajib. Tiba-tiba dia tergoda juga untuk pulang bersama Kana, meski tandanya di Indonesia mereka akan jarang bertemu seperti di Jepang karena selama di Indonesia, Affan pasti harus menemui Esti.
“Mau nggak?” Tanya Tia lagi.
“Ya udah, gue mau deh!” Affan menjawab yakin.
“Oke! Gue transaksi sekarang, kalian nanti bayar ama gue ya duit tiketnya.” Tia memang biasa menangani pembayaran setiap mereka berpergian bersama karena kartu kredit internasional miliknya. Sebenarnya Affan juga punya kartu kredit, tapi Tia lebih telaten untuk menjadi bendahara kegiatan mereka, jadi urusan pembayaran di awal biasa diurus oleh Tia, Affan dan Kana tinggal membayar bagian mereka setelahnya.
“Sip, besok ku bayar cash ya Ti di apartemenmu, sekalian aku mau cari oleh-oleh.” Ujar Kana.
“Gue ikut juga dong, mau kemana? Shibuya? Harajuku?” Kedua wanita ini malah sekarang sibuk membicarakan urusan belanja mereka, melupakan Affan yang hanya diam.
“Ya udah, untuk urusan lanjutnya kita omongin di grup ya. Aku tutup telpon dulu, mau beberes cucian nih.” Kana berkata setelah beberapa saat mereka menelpon. Setelah telpon ditutup, Affan lalu termenung. Apa yang ia harus lakukan dengan hubungannya bersama Kana sekarang?
Kana POV
Kana kembali ke kamarnya membawa sekeranjang cucian keringnya. “Baru aja ngeluarin baju, sekarang udah packing baju lagi ke dalam koper..” Batinnya, sambil membuka kopernya lagi. Kini ia hanya memasukkan3 potong baju dan celana, karena toh di rumahnya bajunya banyak. Sisa ruang di kopernya akan dipakai untuk diisi oleh-oleh yang akan dia beli besok bersama Tia.
Setelah selesai mengemasi kopernya, Kana lalu duduk di tempat tidurnya. Pandangannya tertuju pada kotak kado dari Bara. Dengan penasaran, ia mengambil kado itu.
“Buka sekarang aja deh.” Ujar Kana, lalu pelan-pelan membuka bungkus kado yang rapi itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat isinya, yang ternyata adalah jam tangan mewah asli Jepang bermerek Citizen. Jam tangan ini adalah jam analog dengan tali kulit berwarna abu-abu, dihiasi ornament merah muda di bagian jarumnya. Sungguh cantik.. dan pastinya mahal. Kana menaksir harganya bisa melewati angka 30 ribu yen atau 5 juta rupiah bahkan lebih. Kana hampir menelpon Bara untuk menolak jam ini saat melihat ada surat di dalam kotak itu.
Kana,
Aku tahu kamu pasti merasa jam ini terlalu mahal untukmu. Tapi tolong terima ya. Harga jam ini tidak sebanding dengan apa yang sudah kamu lakukan sama aku.
Sebenarnya, ini bukan pertemuan pertama kita. Dua tahun lalu, kita pernah bertemu di kereta Argo Parahyangan. Waktu itu aku ada urusan kerjaan di Bandung, sementara kamu baru pulang mengurus beasiswa. Aku memperkenalkan diriku sebagai Adit, dan kamu memanggilku ‘Kang Adit’. Kamu mungkin lupa denganku, tapi aku tidak pernah lupa akan semua kebaikanmu saat itu. Terima kasih sudah menginspirasiku untuk merubah hidupku menjadi lebih baik. Sekarang aku sudah menjadi Bara, tapi kuharap, aku bisa dekat denganmu sebagai Adit.
Aditya Ambara
Kana begitu terpana membaca surat itu, dan mengingat-ingat pertemuan pertamanya dengan Bara. Bagaimana ia bisa lupa? Waktu itu adalah hari bahagia karena ia dikabarkan lulus beasiswa, dan saking bahagianya, ia jadi menraktir makan orang asing yang duduk di sampingnya di kereta. Ia tentu mengingat nama lelaki bersuara bening itu, Adit. Tapi Kana tak pernah menyangka orang itu adalah Bara, karena perubahan fisiknya yang begitu berbeda. Meski tidak mengerti mengapa Bara berterima kasih atas kebaikannya waktu itu karena ia hanya menraktir nasi goreng, tapi sekarang Kana paham, mengapa Bara bersikap baik dengannya selama bekerja, bahkan makin akrab dari hari ke hari. Bara mungkin merasa mereka sudah pernah dekat sebelumnya, bahkan sebelum Bara menjadi penyanyi terkenal.
Kana lalu melepas jam tangan lamanya yang sudah ia pakai dari sejak kuliah S1 dan menggantinya dengan jam baru dari Bara. Setelahnya, ia lalu memfoto pergelangan tangannya dan mengirimkannya pada Bara.
‘Terima kasih, kang Adit. Jamnya saya pakai ya.’ Begitu pesan yang Kana kirimkan pada Bara. Tak sampai lima menit, Bara membalas pesannya.
‘Sama-sama Kana. Semoga kamu suka ya.’ Balasannya begitu manis, dan Kana susah payah menahan senyumnya mengembang lebar. Bara dan dirinya lalu terus berbalas pesan, membahas soal perjalanan karir Bara, kehidupannya juga Kana bahkan hingga keesokan harinya. Keramahan sang penyanyi benar-benar membuat Kana lupa dengan siapa dirinya mengobrol intens, Kana merasa sedang berbincang dengan teman lama saja.
“Jam baru, Kan?” Tanya Tia saat mereka di kereta. Kana dan Tia sedang menuju Shibuya hari ini untuk mencari oleh-oleh. Affan katanya akan menemui mereka langsung nanti di Shibuya.
“Iya..” Kana tersipu malu.
“Wah, bagus banget. Tumben lo beli barang mahal begini?”
“Bukan beli, ah. Dikasih.”
“Seriuss? Dikasih siapa?” Selidik Tia lagi.
“Dikasih mas Bara..” Balas Kana lirih. Tia baru akan menjerit shock saat Kana sontak menutup mulutnya, agar tidak menarik perhatian orang lain di kereta. “Ini aku cerita, jangan heboh dong, gak enak sama penumpang lain.”
“Cepet ceritain gimana bisa Bara ngasih lo jam semahal ituuuuu….” Paksa Tia. Kana akhirnya menceritakan asal-usul ia kenal dengan Bara dua tahun lalu, dan bahwa Bara masih mengingat siapa dia meski Kana sendiri lupa, dan atas ucapan terima kasihnya, Bara lalu memberinya jam tangan ini.
“Kan. Kayanya Bara suka sama elo deh.” Tia berkesimpulan setelah mendengar cerita Kana.
“Ah, masa sih? Jangan buat aku geer dong Ti.” Kana mengibas-ibaskan wajahnya yang pasti memerah sekarang. Nggak usah dikasih jam aja dia sudah terbawa perasaan oleh kebaikan penyanyi itu, apalagi dikasih barang mahal begini. Makinlah Kana kegeeran.
“Ya habis dia ingat sama lo biarpun kalian baru ketemu sekali, terus ngasih kado mahal lagi.”
“Tapi siapalah aku, Ti. Aku orang biasa, dibanding dia. Kelebihan aku apa coba.”
“Ya mungkin dia tertarik sama lo karena lo udah baik sama dia dari jaman dia bukan siapa-siapa.” Lanjut Tia. “Tapi lo nggak perlu geer, Kan. Kita nggak tahu sifat dia sebenarnya, bisa jadi dia emang tukang tebar pesona sama cewek.”
“Begitu?” Kana tertegun mendengar ucapan Tia. Meskipun Bara tidak terlihat seperti playboy, tapi dalam hati lelaki, siapa yang bisa tahu? Bukannya banyak lelaki bermulut manis ternyata aslinya buaya?
“Iya. Apalagi artis kaya dia kan dikelilingi cewek cantik berbagai macam rupa dan bentuk. Lo bersikap biasa aja, jangan sampai baper. Dikasih jam, ya udah terima, syukur. Rejeki. Masa mau dibuang? Tapi nggak usah terlalu lo pikirin hubungan lo sama dia. Orangnya juga jauh ini. Anggap aja teman, gak lebih dari itu.”
“Bener sih…” Kana mengangguk-angguk mendengar ucapan Tia yang logis dan santai. Berbicara dengan Tia memang selalu bisa menata perasaannya, dari yang tadinya ia kegeeran bukan kepalang, sekarang malah jadi biasa saja. Tia benar, dia tidak perlu terlalu terbawa perasaan menanggapi kebaikan Bara. Cuma teman, tidak lebih dari itu.
“Oke, udah sampe Shibuya nih. Sekarang kemana dulu kita?” Tia menggamit lengannya, dan Kana lalu mengajaknya ke toko barang bermerek, Fossil, yang sedang diskon akhir tahun. Salah satu keuntungan tinggal di Jepang adalah barang bermereknya yang tergolong lebih murah dibanding di Indonesia, ditambah promo besar-besaran, beda harganya bisa mencapai jutaan. Kana dan Tia hampir saja kalap belanja juga saat melihat promo yang bertebaran itu ketika Affan yang baru datang dari apartemennya, menghampiri mereka.
“Ini oleh-oleh atau belanjaan kalian sendiri sih?” Sindir Affan, menunjuk keranjang belanja mereka. Kana hanya terkekeh.
“Tia tuh yang beli banyak, aku cuma beli tas satu buat aku, terus tas buat bunda dan dompet dua buat ayah sama si Aa.” Kana menjelaskan pembeliannya.
“Mumpung diskon, Fan. Lo nggak mau beli juga? Oleh-oleh buat tunangan lo tuh.” Celetuk Tia. Affan hanya melengos.
“Bener, Fan, beliin tunangan kamu biar dia senang. Mumpung murah ini, ada loh yang gak sampe sejutaan harganya.” Kana menarik-narik lengan Affan, menunjukkan salah satu meja yang berisi barang sale. Affan lalu memegang beberapa barang di meja itu, tidak tampak tertarik.
Affan POV
Tia dan Kana masih saja semangat menyuruh Affan membelikan oleh-oleh untuk Esti, tanpa mereka sadari bahwa sebenarnya Affan begitu malas untuk melakukan itu. Bukan masalah uang, ia punya cukup uang untuk membeli barang bermerek, bahkan tanpa harus yang promo. Tapi karena ia tidak punya perasaan untuk itu dan tak ingin membuat Esti kegeeran lebih dari perlakuannya selama ini. Lagipula Esti juga berasal dari keluarga kaya, untuk sekedar barang bermerek seperti ini, gadis itu pasti mampu membelinya sendiri.
“Jangan pelit-pelit sama tunangan sendiri Fan, nanti doi ilfil lho.” Sindiran Kana malah membuat Affan makin jengkel. “Yang ini bagus lho, gimana?” Kana mengangkat sebuah dompet berwarna merah dan mengacungkannya ke wajahnya, tapi pandangan Affan malah tertuju pada jam tangan Kana yang jelas baru, bukan jam tangan yang biasa ia pakai.
“Jam baru Kan?” Celetuknya, refleks. Wajah Kana langsung memerah, dan ia lalu berpandangan dengan Tia yang tersenyum lebar.
“Iya! Dibeliin Bara lho dia.” Tia menyambar, lalu tergelak saat Kana menyikutnya.
“Ih Tia ini malah cerita-cerita, kan aku malu.”
“Yaelah Cuma Affan ini, Kan.” Lanjut Tia, masih tertawa. “Baik ya dia? Katanya karena dulu Kana pernah berjasa sama dia sebelum Bara jadi penyanyi, makanya Bara ingat terus dan ngasih dia jam.”
“Berjasa? Emang kalian udah kenal sebelumnya?”
“Yah.. gitulah.” Kana hanya mengangkat bahu, membuat Affan makin penasaran saja, tapi tak mungkin ia memaksa Kana cerita. Bisa-bisa Kana malah curiga dengan sikapnya.
“Terus? Seneng dong kamu pasti?” Akhirnya Affan memilih bersikap bodo amat.
“Ya seneng, rejeki. Tapi kata Tia nggak boleh geer, anggap aja temen biasa.” Jawab Kana.
“Gue setuju sama lo, Tia. Tumben lo pinter. Emang Kana gak boleh gampang geer, nanti tahu-tahu sakit hati.” Affan menepuk punggung Tia, ikut senang karena Tia membuat Kana tidak terlalu terbawa perasaan. Meski dalam hati sebagai laki-laki, dia bisa merasakan perasaan Bara sebenarnya pada Kana, tapi Kana tak perlu tahu itu.
“Udah ah nggak usah omongin itu. Affan, jadi mau beli apa nih?” Tanya Kana lagi padanya, sementara Tia sudah menghilang ke bagian toko yang lain.
“Hmm.. ya sudah ini.” Affan meraih dompet yang dipegang Kana tadi. “Kamu mau juga nggak? Biar aku belikan.”
“Apaan sih, kok aku dibeliin juga? Aku bisa beli sendiri kok.” Tolak Kana sambil melihat-lihat dompet yang tertata.
“Ya nggak apa-apa, anggap aja ini balas jasa karena kamu sering masakin aku.” Respons Affan asal.
“Ih, nggak usahlah. Aku tahu Fan uang beasiswamu juga gak seberapa, masa kamu habisin buat beliin aku? Mending buat tunangan sama keluargamu di Jakarta.” Affan hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Kana. Kana dan Tia memang tidak tahu bahwa ia tidak hanya mengandalkan uang beasiswanya untuk hidup di Jepang sini, dukungan dari keluarganya sebenarnya cukup banyak untuk membuat dia hidup berfoya-foya, tapi tidak pernah dia lakukan karena dia hanya ingin hidup normal, tidak seperti waktu di Indonesia. Untuk itu ia selalu tampak sebagai mahasiswa kere.
“Udah, pilih aja. Nggak usah protes. Cuma dompet ini. Atau cuma Bara yang boleh beliin kamu barang?” Selidik Affan, yang sukses membuat Kana salah tingkah.
“Apaan sih, kok jadi bahas dia. Emang kamu cemburu ya?” Kana menyikut lengannya, bercanda. Tapi Affan memandang matanya tajam.
“Kalau iya, kenapa?” Balasan Affan membuat Kana terperangah, sampai dompet yang dipegangnya terjatuh.
“Fan! Jangan aneh-aneh ah. Bikin sebel aja.” Wajah Kana yang merengut membuat Affan tersadarkan dari ucapannya barusan. Kana belum boleh tahu perasaannya.
Affan akhirnya tertawa kecil. “Bercanda. Habis disuruh milih gitu doang banyak banget ekstranya. Cepetan pilih, aku mau nawarin Tia juga nih. Anggap aja kado ulang tahun kalian tahun ini.”
“Oooh Tia juga. Okelah!” Kana tersenyum lebar dan memilih-milih dompet dengan ceria. Affan balik badan, mencari keberadaan Tia dan mengatakan hal yang sama. Meski sebenarnya ia hanya ingin memberi Kana, tapi agar Kana mau menerima pemberiannya, ia menawari Tia juga, yang tentu menyambut dengan senang hati tawarannya. Affan lalu kembali memperhatikan Kana dan jam tangan yang melingkar di tangannya. Ia tidak menyangka, Bara ternyata sudah semakin jauh mendekati Kana.