"Aku jatuh cinta kepada putra dari pasienku," ucap Sabrina, seraya mengaduk jus stroberi miliknya. Dengan tatapan menerawang ke depan, membayangkan Marcel lah yang kini berada di hadapannya Meskipun Marcel tidak ada di sana, tetap saja ia bisa merasakan kehadirannya dengan nyata. Sampai-sampai bagaimana caranya Marcel tersenyum pun masih bisa terbayang dengan jelas. "Berarti kamu lebih beruntung daripada aku," timpa Iwan. Seketika langsung membuyarkan lamunan Sabrina. Menarik gadis itu ke alam nyata dan menatapnya heran. "Kenapa memang? Bukannya kamu jatuh cinta kepada putri dari pasienmu, dan kalian sudah sempat berjalan bersama? Lagipula usia dan pendidikan bukanlah sebuah masalah yang rumit. Kamu dan dia bisa menikah tanpa mengganggu pendidikannya." Sabrina menyesap sekilas jus stro

