Luka Yang Membeku.
"Ahhh ... hhh ... Sayang ... lebih cepat ... eughhh ...."
"Ssshhh ... kamu jauh lebih nikmat ... hhh ... Arini terlalu kaku seperti kayu," bisik pria itu di sela-sela desahan napasnya yang memburu.
"Sayang, pelankan suaramu, Arini bisa datang kapan saja!"
Suara pekikan tertahan itu menyambut langkah Arini di ambang pintu apartemen. Kotak kue beludru di tangannya seketika terasa seberat beton. Jemarinya membeku di atas gagang pintu yang tidak terkunci. Aroma parfum mawar yang sangat ia kenal—milik Shinta, sahabatnya—menyeruak keluar, bercampur dengan bau keringat yang memuakkan.
"Dia sedang jadwal piket malam, Shinta. Dokter kaku itu tidak akan punya waktu untuk kejutan konyol seperti ini," balas suara berat yang seharusnya menjadi milik calon suaminya.
Arini mendorong pintu sedikit lebih lebar. Di atas ranjang yang spreinya baru ia ganti kemarin sore, dua tubuh sedang bergumul tanpa sehelai benang pun. Dunianya seolah runtuh dalam satu kedipan mata. Pengkhianatan itu terpampang nyata, telanjang, dan tanpa rasa bersalah.
"Tapi dia tunanganmu, Sayang," desah Shinta sembari melingkarkan lengan di leher Dimas.
Dimas tertawa rendah, suara yang biasanya menenangkan Arini kini terdengar seperti parutan logam di telinganya. "Dia hanya pajangan yang membosankan. Menyentuh Arini sama saja dengan memeluk patung es di kamar mayat. Aku butuh wanita yang hidup, bukan dokter yang hanya tahu cara menghitung denyut nadi."
Kotak kue tart itu jatuh tanpa suara ke atas karpet bulu. Happy Anniversary yang tertulis di atasnya kini hancur, berlumuran krim putih yang tampak seperti nanah di mata Arini. Ia tidak berteriak. Ia tidak menangis. Ia hanya berbalik, meninggalkan kunci apartemen di atas meja konsol, dan berjalan keluar dengan sisa harga diri yang nyaris habis.
"Dokter Arini? Anda mendengarkan saya?"
Sentuhan tangan seseorang di bahunya membuat Arini tersentak. Bayangan ranjang yang bergoyang itu menguap, digantikan oleh dinding rumah sakit yang putih dan steril. Ia mengeratkan pegangan pada map rekam medis hingga buku jarinya memutih.
"Maaf, Suster. Saya sedikit kurang tidur. Ada apa?" suara Arini terdengar datar, seolah-olah hatinya telah berubah menjadi ruang hampa udara.
Suster itu menatapnya dengan raut khawatir yang tidak disembunyikan. "Nyonya Sarah Adiguna menolak dosis heparin sore ini. Beliau bersikeras hanya ingin Anda yang menyuntikkannya. Dan ... putranya sudah ada di dalam."
Arini membetulkan letak kacamata berbingkai tipisnya. Ia merapikan jas putihnya, memastikan setiap kancing tertutup hingga batas leher yang paling atas. Barikade itu harus tetap kokoh. Ia tidak boleh terlihat rapuh, apalagi di depan keluarga Adiguna.
"Putranya? Bukankah dia masih di London?" tanya Arini sembari melangkah menuju lift VVIP.
"Baru saja mendarat, Dokter. Kabarnya dia langsung menuju ke sini tanpa mampir ke rumah. Sepertinya Tuan Elvano sangat tidak suka dengan keterlambatan informasi mengenai kondisi ibunya."
Arini hanya mengangguk singkat. Elvano Adiguna. Nama itu sudah cukup untuk membuat direktur rumah sakit berkeringat dingin. Seorang tiran di lantai bursa yang dikenal tidak memiliki belas kasihan. Bagi Arini, pria seperti Elvano adalah jenis manusia yang paling ia hindari: dominan, berkuasa, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya.
Pintu lift terbuka di lantai teratas. Lantai ini sunyi, hanya ada aroma bunga lili mahal yang mencoba menutupi bau obat-obatan. Dua pria berjas hitam berdiri tegak di depan pintu kamar nomor satu. Mereka membukakan pintu tanpa suara saat melihat lencana nama Arini.
"Akhirnya, dokter cantikku datang juga!" Sarah berseru dari atas ranjangnya. Meskipun wajahnya pucat, binar matanya masih menunjukkan otoritas seorang nyonya besar.
Arini mendekat dengan langkah yang terukur. "Nyonya Sarah, mogok makan dan obat tidak akan mempercepat kepulangan Anda. Anda hanya membuat staf saya ketakutan."
"Stafmu terlalu membosankan, Arini. Mereka menjawab pertanyaanku seperti membaca buku teks."
"Dan Anda pikir saya akan menjawab dengan cara yang berbeda, Nyonya?" Arini memeriksa monitor EKG dengan telaten.
"Setidaknya kamu punya nyali untuk menatap mataku, Dokter. Tidak seperti putraku yang baru pulang ini, dia hanya tahu cara menatap angka di layar ponselnya."
Arini menoleh perlahan ke sudut ruangan yang sejak tadi terasa sangat sesak oleh aura yang menekan. Di sana, bersandar pada pilar marmer dekat jendela, berdiri seorang pria. Elvano Adiguna mengenakan kemeja biru gelap dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan kronograf yang harganya mungkin setara dengan satu unit ambulans baru.
"Ma, jangan mulai. Aku di sini untuk memastikan dokter pilihanmu tidak melakukan kesalahan sekecil apa pun," suara itu rendah, berat, dan memiliki getaran otoritas yang tidak bisa dibantah.
Elvano melangkah maju. Setiap ketukan sepatunya di lantai marmer terasa seperti detak jantung yang berpacu di telinga Arini. Ia berhenti tepat di depan Arini, memaksanya untuk mendongak karena perbedaan tinggi yang cukup signifikan.
"Jadi, Anda dr. Arini Sekar Wangi?" Elvano menyebut namanya dengan nada yang menyerupai sebuah investigasi.
"Benar, Tuan Adiguna. Ada yang bisa saya bantu?" Arini mempertahankan ekspresi datarnya.
Elvano tidak menjawab. Ia justru memperhatikan wajah Arini dengan intensitas yang mengganggu. Matanya menyapu kacamata Arini, turun ke bibirnya yang tanpa riasan, hingga berhenti di kancing kemeja yang tertutup rapat di bawah dagunya.
"Ibu saya bilang Anda adalah dokter bedah jantung terbaik. Tapi menurut saya, Anda lebih mirip seorang biarawati yang tersesat di ruang operasi," ucap Elvano dingin.
"Tugas saya adalah menyambung pembuluh darah, Tuan, bukan untuk memuaskan selera fashion Anda."
Sudut bibir Elvano terangkat sedikit, menciptakan seringai tipis yang tidak mencapai matanya. "Ketajaman bicaramu cukup menarik. Namun, aku tidak membayar mahal untuk mendengar sarkasme. Aku membayar untuk jaminan bahwa ibu saya akan sembuh total."
"Kesehatan bukan barang yang bisa Anda beli dengan garansi pabrik. Saya melakukan bagian saya, dan ibu Anda harus melakukan bagiannya."
Elvano mencondongkan tubuhnya, memperpendek jarak di antara mereka hingga Arini bisa mencium aroma kayu cendana dan espresso yang pekat. "Dengarkan aku, Dokter Es. Jika sampai ada satu jahitan yang lepas atau satu dosis yang salah, aku tidak akan hanya menuntut rumah sakit ini. Aku akan memastikan namamu lenyap dari daftar izin praktik mana pun."
Arini merasakan amarah mendidih di balik ketenangannya. Ia tidak mundur. "Jika Anda sudah selesai mengancam, biarkan saya bekerja. Atau Anda ingin memegang jarum suntik ini sendiri?"
"Vano, hentikan! Kamu menakuti Arini," tegur Sarah dari ranjang.
"Dia tidak tampak ketakutan, Ma. Dia justru tampak sedang mencoba menantangku," balas Elvano tanpa melepas tatapannya dari manik mata Arini.
Arini segera memutar tubuhnya, membelakangi Elvano untuk menyiapkan suntikan heparin. Ia bisa merasakan tatapan pria itu menembus punggungnya, mengikuti setiap gerak gerik tangannya. Tangannya sedikit bergetar saat ia mengusap alkohol ke kulit lengan Sarah.
"Kamu gemetar, Dokter. Apakah kamu gugup karena kehadiranku, atau karena kamu sadar sedang diawasi oleh orang yang bisa menghancurkanmu?" bisik Elvano, suaranya sangat dekat di samping telinga Arini.
Arini menarik napas panjang melalui hidung. "Saya gemetar karena suhu ruangan ini terlalu rendah, Tuan. Bukan karena Anda."
"Benarkah? Mari kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan di bawah pengawasanku."
Elvano berdiri sangat dekat saat Arini menyuntikkan obat. Bahu mereka nyaris bersentuhan. Arini bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh pria itu, sebuah sensasi yang sangat asing dan berbahaya bagi benteng pertahanannya.
"Selesai. Nyonya Sarah, silakan istirahat. Saya akan kembali nanti," Arini merapikan peralatannya dengan cepat.
Ia berbalik untuk keluar, namun Elvano sengaja menghalangi jalannya dengan berdiri tepat di depan pintu. Pria itu tidak bergerak, tangannya bersedekap di d**a yang bidang.
"Ada lagi yang Anda butuhkan, Tuan?" tanya Arini ketus.
"Nomor ponselmu."
Arini mengernyit. "Anda bisa menghubungi bagian administrasi atau suster jaga jika ada keadaan darurat."
"Aku tidak bicara dengan staf rendahan jika terjadi sesuatu pada ibuku. Aku ingin akses langsung padamu, dua puluh empat jam."
"Saya tidak memberikan nomor pribadi kepada keluarga pasien."
Elvano mendekat lagi, kali ini begitu dekat hingga napasnya yang hangat menyapu helai rambut di dahi Arini. "Aku bukan sekadar 'keluarga pasien', Arini. Aku adalah orang yang memiliki rumah sakit ini jika aku mau. Berikan ponselmu, atau aku akan mencarinya sendiri melalui data karyawan dan itu akan jauh lebih tidak menyenangkan bagimu."
Arini terdiam, menatap mata predator di hadapannya. Ia sadar, menolak Elvano secara terang-terangan hanya akan mengundang badai yang lebih besar. Dengan tangan gemetar, ia memberikan ponsel medisnya. Elvano mengetikkan sesuatu, lalu sebuah nada dering terdengar dari kantong kemejanya.
"Pintar," ucap Elvano sembari mengembalikan ponsel itu. "Pastikan kamu mengangkatnya di deringan pertama. Aku tidak suka menunggu."
Arini segera keluar dari kamar itu begitu Elvano memberi jalan. Ia melangkah cepat menuju ruang dokter, merasa seolah-olah ia baru saja lolos dari kandang macan. Di dalam ruangan yang sepi, ia menyandarkan punggungnya di pintu, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak beraturan.
Ia meraba lehernya yang masih tertutup rapat oleh jas putih. Ingatan tentang Dimas yang menghianatinya kembali muncul, namun kali ini bayangan itu perlahan kabur, tertutup oleh intensitas mata Elvano yang seolah-olah sedang mencari cara untuk merobek topeng esnya.
Arini tahu, ketenangan hidupnya telah berakhir hari ini. Elvano Adiguna bukan sekadar putra dari pasiennya; pria itu adalah gangguan yang menjerat, sebuah ancaman yang mulai merayap masuk ke dalam sistem pertahanannya yang paling rahasia.