"Apa yang Anda lakukan, Nona?" Pria berkemeja slimfit itu segera mendorong tubuh Vivian yang begitu kuat meraup bibirnya. Seolah wanita itu adalah lintah yang sedang menghisap darah dari si korban. Dia memandang wanita yang kini tengah duduk di atas lantai dengan pandangan kesal.
Vivian terdiam. Dirinya masih terlalu terkejut akan fakta pahit yang baru saja dilihatnya. Dia bahkan tidak memperdulikan rentetan omelan dari pria asing itu yang kini tengah berkacak pinggang di atas sana.
"Kenapa, Mas? Kenapa lo tega ngelakuin ini sama gue? Salah gue apa?" Hancur sudah pertahanan Vivian yang dia coba bangun sedari tadi. Sesak di dalam hati membuat wanita itu tidak sanggup untuk membendung kesedihannya. Dia lelah hanya sekadar untuk menjadi wanita kuat.
Wanita mana yang tidak luluh jika setiap hari selalu disiram dengan kata-kata cinta dan janji manis? Tidak ada. Sama seperti apa yang kini telah dirasakan oleh Vivian Wheeler. Kepercayaan yang diberikan untuk Iqbal, justru dibalas dengan pengkhianatan. "Biadab! Pria tidak bertanggung jawab seperti elo itu gak pantas hidup di dunia ini! Lo itu pantesnya hidup di tong sampah!" serunya kesal. Namun, tiba-tiba tersebut tertawa begitu keras hingga membuat Arsyad mengerutkan dahi.
“Sepertinya ini orang emang udah gila, deh,” ujarnya miris, kemudian berlalu dari hadapan Vivian. Meninggalkan wanita yang sudah dengan kurang ajar mengambil ciuman pertamanya.
Vivian sendiri tidak memedulikan kepergian dari pria asing itu. Dia tengah sibuk dengan pikirannya sendiri. “Ternyata gue baru sadar jika selama ini sudah dibodohi sama semua janji manis yang keluar dari mulut buaya itu. Dasar kuampret, emang itu laki!”
"b*****h gila itu tidak layak untuk hidup di dunia ini! Dia seharusnya berkumpul dengan sekumpulannya di tempat sampah!” Vivian lagi-lagi mengomel dan menyumpah serapahi calon suaminya dengan begitu lantang. Wanita itu tidak peduli jika ada orang yang akan memandangnya aneh. Toh, tidak ada orang lain yang lewat di lorong hotel. Jadi, Vivian bebas melakukan hal apa pun. "Persetan dengan penilaian orang! Gue udah bosen dengan semua kepalsuan ini!" Vivi menghapus kasar sisa air matanya. Dia lantas berdiri, pergi menuju tempat di mana bisa melupakan semua permasalahan yang sedang dihadapinya.
***
“Nona, apa tidak Anda sebaiknya menyudahinya?” Seorang bartender bernama Chiko bertanya kepada salah satu pengunjung bar yang sudah mabuk itu. Kondisinya pun sudah hampir tak sadarkan diri. Jadi, dia mencoba untuk membantu menghentikan sebelum ada hal yang tidak diinginkan.
“Lepas! Gak usah sentuh gue! Kalian para b*****h busuk, gak usah peduliin gue!" Wanita itu langsung menepis kasar, memandang dengan buram sosok orang yang sudah mengganggunya. "Mending urus aja kehidupan lo sendiri, Tuan! Gue bisa, kok, hidup tanpa kalian!”
Vivian yang sudah mabuk benar-benar bertingkah layaknya orang asing. Dia tidak peduli akan image yang selama ini melekat di dalam dirinya sebagai seorang artis berkepribadian baik. "Peduli setan dengan orang lain, yang penting gue happy!" gumamnya menyeringai sinis.
Chiko menghela napas berat saat melihat tingkah laku orang-orang seperti Vivian. Sebenarnya ini bukan kali pertama, melainkan sering, setiap hari, bahkan ada yang sampai harus dipanggilkan sanak saudara untuk menjemput orang tersebut. Berdoa saja, semoga Vivian tidak perlu merepotkan Paul, atau orang rumahnya. Bisa-bisa, nanti yang ada dia justru disuruh tidur di luar oleh orang tuanya karena ketahuan mabuk.
“Tapi, Nona sudah mabuk,” bujuknya dengan lembut.
“Gue gak peduli! Gue mau mati aja di sini!” racau Vivian. Wanita itu memang sudah benar-benar dalam pengaruh alkohol. Jadi, setiap ucapan yang dilontarkan pun akan terdengar nyeleneh, bahkan sedikit gila.
Tiba-tiba, Arsyad datang. Dia melihat keadaan Vivian yang sudah teler dengan pandangan mencemooh. “Biar saya saja yang urus Ko. Kamu balik kerja!” ujarnya pada sang bartender.
“Baik, Tuan!” Chiko pun kembali sibuk melayani pelanggan lain. Dia menyerahkan urusan Vivian kepada Arsyad yang diketahui sebagai pemilik bar itu. Hari ini adalah weekend, jadi pantas saja banyak dikunjungi oleh orang-orang yang butuh pelepas stress.
Vivian lalu tertawa sendiri, menuangkan kembali minuman beralkohol itu ke dalam gelas. “Aah, hari ini begitu melelahkan, mendebarkan, dan juga mengejutkan," ucapnya tersenyum lebar. Setelah itu, ditepuk baju bagian depan dengan bangga. "Jadi, lo pantas buat menghabiskan semua minuman ini!”
Suara gelas yang sengaja bertubrukan dengan gelas lain membuat senyum wanita itu mengembang. Dia lalu menoleh ke arah lain dan menemukan sosok pria asing tengah duduk memperhatikannya. “Eh, ada b*****h satu lagi datang." Senyumnya mengembang lebar. Vivian menumpukkan satu tangannya untuk menyangga, tetapi karena terlalu mabuk membuat dia kesulitan. "s**t!" umpatnya kesal pada dirinya sendiri.
Wajah pria itu memang tidak terlihat begitu jelas dalam penglihatan Vivian. Akan tetapi, wanita itu bisa mencium aroma maskulin menguar dari tubuh pria tersebut. “Apa, Tuan Maskulin ini mau minum bersama saya?” tawarnya, sambil mengangsurkan gelas kosong ke arah Arsyad.
“Tuan Ar–” Chiko yang hendak memanggil pria tersebut segera mengunci kembali mulutnya setelah melihat tangan Arsyad terangkat ke atas--memintanya untuk tetap diam. Dia pun akhirnya kembali melayani pelanggan lain dan meninggalkan dua orang itu di mejanya.
“Kamu tinggal di kamar nomor berapa? Biar saya antarkan!” Arsyad sendiri tidka tahu kenapa dia bisa duduk di sini, padahal tubuhnya sudah menjerit ingin istirahat. Namun, karena mengingat kelakuan dan tingkah aneh Vivian membuat pria itu akhirnya mengikutinya sampai di tempat ini.
Vivian cegukan, tetapi dia tetap tersenyum seraya memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih. Dia bahkan tidak ragu menunjuk pria maskulin di depannya dengan jari telunjuk. Namun, karena sedang mabuk, jadi arah tunjuknya pun sedikit melenceng. “Apa Tuan mengira saya ini w************n?” tanyanya, sambil tertawa aneh.
“Jika memang kamu ini w************n, mana mungkin memilih duduk sendiri, mabuk sendiri. Bukankah itu terlihat sangat aneh?” tanya Arsyad balik.
“Ah, ternyata Anda ini cukup cerdas." Wanita itu bertepuk tangan sendiri sebagai bentuk apresiasi untuk Arsyad. Namun, pria tersebut justru mengernyit heran. "Tapi, sepertinya khusus hari ini, saya ingin menjadi wanita seperti mereka," sambungnya tersenyum ambigu.
“Maksudnya?” Kening pria itu berkerut, lalu lanjut membatin. "Sepertinya gue salah sudah mengkhawatirkan orang."
“Iya. Malam ini, detik ini, saya akan bersenang-senang. Melakukan hal yang selama ini tidak pernah saya lakukan." Senyum wanita itu terlihat begitu mencurigakan. Dia lalu berdeham, menengok ke sekitar, lalu kembali menatap Arsyad. "Pstt, sini saya bisikin!"
Bodohnya, pria itu menurut saja.
"Tuan Maskulin, mau gak bobo sama saya?"
"Sinting! Setelah tadi nyuri ciuman gue, dia malah minta keperjakaan gue!" umpat Arsyad dalam hati. Pria itu lalu menatap Vivian dengan pandangan ngeri, kemudian bergumam lirih, "Lo gak usah ngeiyain cewek modelan gini, Syad! Nanti, yang ada lo malah dimintai pertanggungjawaban lagi. Udah, tinggal pergi aja!"
Realitanya, kini dua orang itu justru sudah berada di dalam kamar. Menikmati malam yang panjang. Diiringi alunan melodi yang saling bersahutan dan pastinya akan menjadi candu satu sama lain. Membujuk raja malam untuk tetap berada di atas sana tanpa boleh berganti dengan sang fajar. Peluh sudah membanjiri tubuh yang kini tengah saling bersenggama di atas ranjang. Mencoba mengenali setiap sentuhan yang mengalirkan sebuah rasa kejut, tetapi begitu memabukkan, tanpa tahu jika hal ini tidaklah benar.
Dua anak Adam dan Hawa itu begitu bersemangat dalam mengejar puncak kenikmatan yang tidak akan pernah dilupakan oleh setiap pasangan. Beberapa tanda merah, bahkan keunguan pun kini sudah menghiasi tubuh mereka. Setelah selesai, Vivian langsung tertidur, sedangkan Arsyad masih terjaga. Wanita itu mengigau dalam lelap, tetapi pria tersebut segera menepuk punggung polos di sampingnya hingga kembali tenang.
Pria itu menghela napas. Arsyad tidak menyesal telah melepaskan keperjakaannya untuk seorang asing seperti wanita dalam rengkuhannya. Dia justru takut jika nanti setelah Vivian bangun, wanita itu akan menghindarinya. "Terima kasih, Via, karena kamu sudah membiarkanku menjadi yang pertama untukmu. Aku janji, setelah ini akan bertanggung jawab!" ucap Arsyad, kemudian mereka pun tertidur di bawah selimut yang sama.