bc

Dibuang Manajer, Diambil CEO

book_age18+
970
FOLLOW
5.9K
READ
actor
like
intro-logo
Blurb

(18+ Komedi romantis.)

Dikhianati oleh sang calon suami membuat Vivian Wheeler merubah penilaiannya tentang cinta. Dulu ia begitu bodoh dan dungu dengan mengagung-agungkan sebuah perasaan hingga membutakan semua penglihatannya akan sekitar.

Jika setiap insan mendengar kata cinta, pasti yang terbayang dalam benak mereka adalah romantis, dunia milik berdua dan yang lain ngontrak, kotoran ayam pun akan menjadi rasa coklat.

Terdengar begitu indah bukan? Namun, siapa sangka cinta itu menyembunyikan begitu banyak arti di dalamnya.

Seperti halnya Vivian. Dia akan menjelaskan bagaimana rasanya jatuh cinta, patah hati, hingga cara bangkit dari masa lalunya. Yuk, ikuti terus kisahnya hanya di sini!

chap-preview
Free preview
Bab 1. Perselingkuhan
Vivian Wheeler tersenyum senang sambil mencium bunga mawar merah yang ada di tangannya. Hari ini, dia ingin memberikan kejutan kepada sang tunangan–Iqbal Pahlevi. Jadwal syutingnya kali ini diundur karena ada salah satu pemain yang mengalami kecelakaan di lokasi, jadi semua kegiatan dihentikan sementara dan dilanjut besok pagi. Berbekal nomor kamar sang tunangan, Vivian terus melangkah melewati lorong sepi dengan hati tak sabar. Dia bahkan sempat melantunkan lagu kesuakaanya dan juga Iqbal ketika tengah bersama. Sesampainya di depan pintu, kening wanita itu mengerut samar. “Kok, kebuka? Atau, jangan-jangan ada maling?” Sontak perasaan wanita itu diselimuti cemas. Vivian dengan cepat mendorong pintunya hingga terbuka lebar. Kosong dan gelap adalah hal yang pertama kali ditemukan oleh Vivian. Ruangan pun terlihat bersih tanpa ada benda berserakan. "Aman, kok. Tapi, kenapa pintu itu terbuka? Terus, mas Iqbal ke mana?" tanya Vivian sambil menggaruk rambutnya. Namun, suara desahan yang berasal dari kamar di depan justru membuat bulu kuduk wanita itu meremang. “Lebih cepat, Sa-yang!” Vivian hampir limbung kala mendengar suara menjijikkan itu. Dia jelas mengingat kalau tidak ada perempuan lain yang bisa masuk ke kamar hotel sang tunangan, bahkan Iqbal sendiri yang mengatakan jika dia masih berada di kantor. "Lantas, siapa yang ada di kamar itu?" batin Vivian bertanya-tanya. "Pelan-pelan, Sa-yang!" Kembali suara dari balik pintu itu menyapa gendang telinga Vivian. Gemuruh di dalam dadanya membuat air mata tiba-tiba merangsek keluar. Jantungnya bagaikan ditusuk oleh sembilu pilu, sakit sekali. Tidak tahan mendengar suara desahan demi desahan yang keluar dari dua orang manusia di sana, membuat Vivian memutuskan untuk berani. Tidak peduli seberapa keras kakinya ingin berlari, dia tetap menguatkan hati untuk melihat sendiri siapa orang m***m yang ada di dalam kamar sang tunangan. Didorongnya pelan celah pintu yang tidak tertutup rapat itu, melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana pria di sana tengah berada di atas tubuh seorang perempuan yang tengah bergerak liar. Dari tempatnya berada, Vivian bahkan bisa mengenali jika punggung polos itu adalah milik sang tunangannya. Vivian meremas baju bagian depannya begitu erat. Rasa sesak dalam d**a membuatnya sulit sekali untuk bernapas. Pria yang dia cintai selama hampir enam tahun itu, justru tega bermain gila dengan perempuan lain yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sinta--sekretaris iqbal. Dia merasa nyawanya hampir hilang dari raga. Setiap desahan dari dua orang itu begitu memilukan hatinya. Untaian kata cinta yang dulu pernah terucap dari bibir Iqbal kini justru terasa seperti dusta dan omong kosong belaka. Air mata itu jatuh kembali. Namun, kesedihan segera dienyahkan. Dia segera mengambil video dua orang yang tengah saling bersenggama itu dengan kamera ponselnya. Tidak ada raungan, dia justru seolah mati rasa saat mendengar Iqbal mendesah, memanggil nama wanita lain di depan matanya. Sementara itu, sedang dua orang yang tengah sibuk berbagi peluh itu tidak sadar jika ada orang lain di dalam ruangan mereka. Mereka tetap menikmati kenikmatan yang jelas-jelas salah tanpa rasa berdosa. Setelah berhasil mengambil bukti, Vivian pergi begitu saja tanpa menutup pintu kamar itu. Dia melenggang pergi, keluar tanpa memedulikan hatinya yang kini telah hancur. Orang yang dikira akan menjadi pelabuhan terakhir, justru telah berkhianat. Mengotori janji yang selama ini pernah diikrarkan di depan orang tua mereka. "Hati-hati, Nona!" Vivian yang tengah melamun tanpa sadar menabrak seseorang. Beruntung, tubuhnya langsung ditangkap oleh pria tersebut. "Are you ok?" Pria itu adalah Arsyad Wiguna. Dia baru saja bertemu dengan klien untuk membicarakan kerjasama di dekat situ. Jadi, setelah selesai dia berniat untuk istirahat di kamar hotel yang sudah dipesankan oleh Brian–sekretarisnya. Namun, saat dirinya baru saja keluar dari lift, wanita itu justru menabraknya hingga mereka hampir terpelanting jatuh. “Cantik,” batinnya terpesona. Akan tetapi, pikiran itu langsung dienyahkan ketika melihat sosok itu hanya diam saja seperti orang yang tengah banyak pikiran. “Nona,” panggilnya sambil melambaikan tangan di depan wajah orang tersebut. Vivian terdiam. Menatap kosong wajah pria yang sudah menolongnya hingga tanpa dia sadari, wanita itu melihat sosok Arsyad sebagai Iqbal--pria yang telah menyakitinya. “Nona!” Kembali Arsyad memanggil wanita itu, tetapi hanya embusan napas yang memberitahu jika di hadapannya adalah manusia, bukan setan apalagi jin. “Ini orang kayaknya kesambet, deh. Masa dari tadi dipanggil malah diam saja,” imbuhnya seraya melepaskan tangan yang sedari tadi berada di belakang tubuh wanita aneh tersebut. “Mas, kenapa?” Suara wanita itu akhirnya terdengar hingga membuat Arsyad yang sudah berniat pergi menjadi urung. Pria itu berdiri seraya memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, lalu memperhatikan Vivian dalam diam. “Siapa yang kamu panggil mas?” tanyanya. Namun, ketika Arsyad melihat ke arah sekitar, tidak ada satu orang pun. Dia menjadi bingung. Sebenarnya Arsyad tahu siapa orang yang tengah ada di hadapannya, tetapi hanya sekadar tahu karena wajah itu sering sekali terpampang jelas di setiap baliho atau iklan di tv, bahkan wallpaper beberapa temannya juga menggunakan wajah Vivian Wheeler. Arsyad sendiri tidak mengenal dengan jelas, tetapi karena beberapa rekan kerjanya sering sekali membahas tentang wanita di depannya hingga membuatnya jadi tahu. Jika ingin disalahkan, salahkan saja Brian dan juga para pegawainya di kantor. Mereka sudah seperti orang gila karena setiap hari membicarakan itu terus menerus. “Kenapa lo tega ngelakuin ini ke gue, Mas? Kenapa?” Wanita itu tiba-tiba langsung mencengkeram kerah kemeja Arsyad hingga membuat pria itu terkejut. Vivian menatap Arsyad dengan tatapan begitu menyayat hati. “Tu-tunggu dulu! I-ini salah pa-ham!” Arsyad mencoba melepaskan cengkraman Vivian di kerah kemejanya, tetapi wanita itu justru menepisnya, bahkan kini sebuah tamparan sudah mendarat mulus ke pipinya. "Yakh!" Arsyad ingin marah, tetapi melihat air mata membasahi wajah Vivian membuat pria itu hanya diam tanpa melakukan apa-apa. “Lo gak usah ngelak lagi, Mas. Gue udah punya bukti perselingkuhan elo sama si sekretaris lo yang so suci itu!” seru Vivian dengan penuh emosi. Dia bahkan tidak membiarkan Arsyad untuk bicara dan terus saja memukul da_da bidang pria itu cukup keras. “Kenapa, Mas? Kenapa lo lakuin ini ke gue?” Kini, suara Vivian mulai melemah. Tangannya pun kini sudah terjatuh lemas ke sisi tubuhnya. Kepala disandarkan pada d**a pria tidak dikenalnya. Menumpahkan semua kesedihan dan kekecewaan akan pengkhianatan Iqbal padanya. “Padahal gue udah siapin surprise buat elo, Mas,” ujarnya sesenggukan. “Gue udah siapin tiket liburan ke Korea buat kita berdua. Tapi, kenapa lo malah selingkuh sama sekretaris lo?” Arsyad terdiam saat tiba-tiba wanita itu mendongak. Dia bingung karena ditatap sedemikian intens oleh Vivian yang ternyata begitu cantik, walau sedang bersedih. Pria itu berdeham, membuang mukanya ke arah lain tanpa mau tahu apa yang sedang dipikirkan oleh wanita tersebut. “Aku mencintaimu, Mas.” Setelah mengatakan itu, Vivian berjinjit seraya mengalungkan kedua tangan di belakang tengkuk Arsyad. Mempertemukan bibir mereka berdua, lalu dengan mata terpejam, dia mulai memiringkan kepalanya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.5K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook