Kara mendecak lalu kembali memasukan ponselnya ke dalam saku rok. Tadi, Aldan baru saja mengiriminya pesan untuk cepat-cepat datang ke sekolah karena pekerjaan kelompok mereka belum beres.
Kara mempercepat langkahnya menapaki lantai koridor kelas dua belas. Sebisa mungkin, ia menyelip diantara kerumunan anak-anak kelas dua belas yang sedang nongkrong di depan koridor, menunggu bel masuk sekolah dibunyikan. Sampai tiba-tiba saja, Kara merasakan nyeri di dahinya karena tak sengaja menabrak seseorang.
"Duh, sori, nggak sengaja," kata Kara seraya mengusap dahinya dan mendongak. Tampak Zio sedang meringis kecil lalu tersenyum.
"Nggak apa-apa," ujar Zio lembut. Namun detik berikutnya, wajah cowok itu terlihat terkejut. "Eh? Ceweknya Redy 'kan?"
Kara menggigit bibirnya gemas. Emang jodoh enggak kemana, batin Kara girang. Sejurus kemudian, cewek itu menampilkan cengirannya lalu mengangguk.
"Iya, Kak, ini aku Kara."
"Jidatnya sakit, enggak?" tanya Zio perhatian sambil melihati dahi Kara yang tak berponi.
Kara menggeleng dan tersenyum kikuk. Lagi-lagi penyakit ge-ernya kembali kumat. "Enggak, kok."
Zio manggut-manggut mengerti. "Bagus, deh. Kasian jidat lo kalau harus kepentok mulu," ucapnya sambil tertawa geli. Cowok itu melambatkan langkahnya agar bisa sama dengan langkah kaki Kara.
"Itu lagi, itu lagi." Kara mendengus. "Jangan diinget-inget, ah, Kak. Malu-maluin."
Zio tergelak. "Bakalan gue inget terus. Habis lucu."
Kara cuma balas terkekeh singkat lalu menunduk, menyembunyikan rona merah yang ada di pipinya.
Dari awal masuk SMA ini, Kara selalu berharap agar ia bisa kenalan dengan Zio. Dan Kara enggak pernah menyangka sebelumnya, kalau harapannya itu akan jadi kenyataan seperti saat ini. Jadi, wajar bukan, kalau Kara benar-benar merasa bahagia? Terlebih lagi karena Kara bisa mengobrol sedekat ini dengan Zio.
"Oh, iya. Kar, balik sekolah nanti lo latihan basket 'kan?" tanya Zio memecah keheningan.
Kara mengangguk antusias dengan senyum merekahnya. "Iya, Kak. Aku latihan kok."
Zio manggut-manggut sambil balas tersenyum. "Bagus, deh. Waktu dinner kemarin, lo minta gue jarin lay up 'kan?"
Wajah Kara mendadak semakin berseri-seri. Cewek itu menatap Zio dengan mata berbinar. "Kakak mau ajarin aku lay up, ya?" tanya Kara tak percaya.
Setengah tertawa geli, Zio mengangguk. "Yap, bisa 'kan? Mumpung gue lagi kosong, nih. Kalau nanti-nanti 'kan gue sibuk sama UN."
"Bisa, Kak! Bisa banget!" Kara sedikit berjingkrak karena antusias.
Entah kenapa, setelah acara dinner kemarin malam, Kara lebih bisa ekspresif dan santai di depan Zio. Mengingat dulu cewek itu lebih sering malu-malu monyet yang jatuhnya malah malu-maluin, perbedaan reaksi ketika ia bertemu dengan Zio dulu dan sekarang benar-benar kentara jelas.
"Oke, ketemu lagi pas latihan, ya." Zio tersenyum manis lalu masuk ke kelasnya yang terdapat di ujung koridor.
Sepeninggal Zio, Kara langsung berlari cepat menaiki anak tangga menuju koridor kelas sebelas. Setelah dirasa Zio tak bisa melihatnya lagi, Kara langsung bersorak gembira sambil menari hula-hula. Goyang sana, goyang sini. Dan lompat kanan, lompat kiri.
Cewek itu sama sekali tak menghiraukan anak-anak yang cekikikan dan menatapnya aneh. Yang ada di pikiran Kara saat ini adalah bagaimana cara memutar waktu supaya ia bisa cepat-cepat pulang dan bertemu dengan Zio. Kara udah enggak sabar banget!
"Jodohku... maunya ku dirimu..." Kara mulai menyanyi dengan suara super fals-nya. Cewek itu melompat kesana-kemari, benar-benar enggak satu irama dengan lagu yang sedang dinyanyikannya.
"Dan ternyata... kamu memang jodohku... Oh..." Kara asal menambahkan lirik pada lagu tersebut. Dia enggak peduli lagi dengan suaranya yang mampu mendatangkan badai ke sekolah. Kara cuma ingin mengekspresikan kebahagiannya lewat nyanyian itu.
Kebetulan, Aldan yang saat itu sedang berjalan menuju toilet, langsung menghentikan langkahnya begitu melihat seorang cewek berkuncir kuda tengah menari-nari bebas di koridor.
Aldan refleks menyipitkan mata, berusaha memfokuskan pandangannya pada sosok cewek itu. Namun mendadak, perasaan Aldan berubah jadi tak enak.
"ALDAN!"
Mendengar seruan tersebut, wajah Aldan jadi pucat seketika. Tebakannya kalau cewek berkuncir kuda itu adalah Kara ternyata benar. Kampret, kenapa orang gendeng itu temen gue sih, batin Aldan.
Cowok itu cepat-cepat berbalik dan menutupi wajahnya dengan tangan karena semua anak kini menatapnya geli.
"Kara kumat lagi ya, Dan?" ujar salah satu teman Aldan sambil terkikik.
Aldan cuma balas mendengus dan berjalan cepat. Namun, belum sampai tiga langkah, Kara sudah ada di samping Aldan dengan tangan yang terulur untuk merangkul pundaknya.
"Kok malah kabur sih?" tanya Kara bingung.
Aldan meringis lalu menjauhkan diri dari Kara. "Lo bukan temen gue," katanya horror.
Kara tertawa lalu kembali merangkul Aldan gemas. "Gue lagi seneng nih!"
"Tapi enggak mesti nari-nari juga 'kan?" sindir Aldan sambil memutar bola matanya. "Bocah banget," cibirnya kemudian.
"Gue enggak cuma nari kok." Kara menoleh dan menatap Aldan senang. "Gue juga tadi nyanyi," tambahnya riang.
Aldan semakin berjengit ngeri. "Lo mending ngomel-ngomel atau ngisengin gue deh, Kar. Lo lebih wajar ngomel setiap jam daripada nari-nari atau nyanyi."
Kara mencebikkan bibir. "Tadi aja nyuruh gue cepet dateng ke sekolah. Sekarang giliran gue udah ada, malah dikata-katain."
"Telat. Power point biologinya udah beres." Aldan melirik Kara jengah. "Pulang aja sana."
Kara langsung menghentikan langkah yang refleks membuat Aldan pun mengikuti pergerakannya. Cewek itu memutar tubuhnya untuk menghadap Aldan. Sejurus kemudian, Kara tiba-tiba mencubit pipi Aldan dan menarik-nariknya gemas.
"Lo enggak nanya kenapa gue seneng?" tanya Kara. Tangannya masih mencubit pipi Aldan keras. "Gue seneng karena seseorang nih!"
Aldan menepuk lengan Kara lalu mengusap pipinya setelah tangan cewek itu terlepas. "Pipi gue bisa kendor, Kar."
Kara nyengir dan menghirup napas dalam-dalam. "Gue seneng karena seseorang, Dan!" ulang Kara ceria.
"Siapa? Redy, ya?"
"Bukan!" Kara menggeleng.
"Terus?"
"Kak Zio!"
"Zio?" Aldan menatap Kara tak percaya. "Lo seneng karena dia?"
Kara mengangguk cepat. "Iya! Entar balik sekolah gue sama dia bakalan ada private basket!"
Aldan tertawa mendengus. "Boro-boro private, yang ada paling lo mupeng ngeliatin Zio."
Kara mendecih lalu menoyor kepala Aldan. "Gini-gini gue juga bisa serius tau!"
Aldan cuma balas terkekeh singkat lalu menatap Kara serius. "Kemarin... gimana janjian lo sama Redy?"
"Janjian?" Kara tampak berpikir sebentar kemudian tersenyum lebar. "Oh, iya! Kemarin itu, Redy ngenalin gue ke sahabat sama mantannya. Dan lo tau apa? Ternyata Kak Zio itu sahabatnya Redy!"
Aldan tersenyum tipis. "Terus gimana?"
"Gue ngobrol banyak sama Kak Zio. Gue juga cerita kalau gue belum bisa lay up. Makanya, tadi pas ketemu di bawah, Kak Zio langsung nawarin diri buat ngajarin gue, hehehe."
Kara bercerita dengan semangat sementara Aldan cuma menanggapinya dengan senyum kecil.
"Sedangkan mantannya Redy, kalau enggak salah namanya Kila. Eh? Atau Kala?" Kara mengetuk-ngetuk jarinya ke jidat, berusaha untuk mengingat.
"Kala?" Aldan mengernyit bingung. "Lo kata kalajengking," dengusnya.
Kara cengengesan lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Gue lupa. Yang jelas, si Kalajengking itu cantik banget, Dan. Tipe-tipe cewek popular."
"Namanya bukan Kalajengking, tapi Kaila," ralat Aldan.
Kara menjentikan jarinya sambil nyengir. "Nah, itu! Iya, si Kaila ini cantik banget. Terus, lo tau, enggak? Kaila itu dulunya sahabat Redy. Mereka kayak sahabatan tapi lama-kelamaan saling suka."
Aldan manggut-manggut. "Iya, gue tau. Redy pernah cerita."
"Lo tau enggak alasan kenapa mereka putus? Itu karena Kak Zio juga suka Kaila. Dan karena Redy enggak enak sama Kak Zio, akhirnya dia putusin Kaila deh."
"Gue juga udah tau." Aldan memutar bola matanya.
Kara melotot. "Kalau udah tau, kok lo enggak pernah cerita ke gue sih?!"
Aldan memberengut. "Cerita apa? Ngapain gue cerita?"
"Itu 'kan berhubungan sama Kak Zio! Harusnya lo cerita," kata Kara sewot. Cewek itu mencebikkan bibirnya kesal.
Kara enggak habis pikir, deh. Kenapa Aldan nggak pernah cerita soal Zio padahal ia tahu banyak tentang cowok itu? Jadi, selama ini Aldan cuma pura-pura bego dan asal manggut-manggut aja sewaktu Kara curhat soal Zio? Dasar sahabat edan!
"Lagian lo ngapain naksir Zio sih, Kar?" Aldan melirik Kara jengah. "Gue enggak suka sama dia," katanya jujur.
Kara merengut. "Iyalah lo enggak suka! Lo 'kan bukan homo."
"Gue serius," ucap Aldan dingin. "Mending lo nggak usah terlalu deket sama dia deh, Kar. Udah ada Redy ini, ngapain juga lo ngarepin cowok itu?"
Kara mengernyit bingung. Kenapa Aldan jadi aneh begini?
"Lo enggak mungkin selingkuh sama Zio dibelakang Redy 'kan?" tambah Aldan sambil menatap Kara curiga.
Ditatap seperti itu, Kara kontan gelagapan sendiri. Cewek itu menggeleng cepat sambil mengibaskan tangannya. "Ap--apa? Selingkuh? Enggaklah!"
"Beneran?"
Kara tertawa mendengus. "Dari dulu, gue udah tau kalau otak lo itu korslet. Tapi, gue enggak pernah nyangka kalau otak lo sekorslet itu sampe-sampe mikir gue bakalan selingkuh."
Aldan mengangkat bahunya cuek. "Bisa aja. Lo 'kan sama korsletnya kayak gue. Siapa tau lo mikir sampe kesana?"
Kara menjitak kepala Aldan keras. "Sembarangan!"
• • •
Setelah menggantungkan helmnya di kaca spion motor, Redy langsung melepas jaketnya lalu menyampirkannya di bahu. Cowok itu berjalan dengan santai di parkiran yang sudah dipenuhi oleh motor anak-anak.
"Redy!"
Redy refleks menghentikan langkahnya lalu menoleh. Ia melihat Kaila tengah berlari ke arahnya sambil melambai. Mau tak mau, ujung-ujung bibir Redy pun refleks tertarik ke atas.
"Hei," sapa Redy setelah Kaila berdiri di hadapannya. Mereka berdua pun jalan bersisian menapaki lantai koridor kelas dua belas yang berhadapan langsung dengan parkiran.
"Hari ini jadi 'kan?" tanya Kaila seraya merapikan rambutnya yang berantakan akibat berlari tadi.
Redy mengangguk dengan senyum lembutnya. "Jadi," katanya pendek. Sejurus kemudian, cowok itu mengulurkan tangannya untuk membantu Kaila merapikan rambutnya.
"Yang sabar ya, ngajarinnya. Lo 'kan tau gue agak lemot." Kaila terkekeh sambil mendongak, memerhatikan Redy yang masih sibuk merapikan anak rambutnya.
Setelah dirasa rambut Kaila rapih, Redy kembali menarik tangannya lalu tersenyum. "Dari dulu juga gue selalu sabar ngadepin lo."
"Justru gue yang selalu sabar ngadepin lo." Kaila menyikut lengan Redy. "Gue masih inget pas kita pacaran dulu. Sewaktu lagi jalan, lo sering banget nyuekkin gue dan lebih seneng foto-foto."
Redy tertawa. "Fotonya 'kan buat pameran fotografi sekolah kita, Kai."
Kaila mencebikkan bibir. "Tapi sama aja. Lo lebih seneng pacaran sama SLR lo itu."
"Sori, deh. Gue emang suka asik sendiri kalau udah megang SLR." Redy tersenyum geli lalu mengacak rambut Kaila.
Satu kata yang bisa mendeskripsikan perasaan Redy saat ini.
Lega.
Redy benar-benar merasa lega melihat Kaila sudah kembali seperti dulu. Cewek itu akhirnya tak bersikap dingin dan ketus lagi seperti sebelumnya. Dan harus Redy akui, perasaannya sangat senang begitu Kaila membahas masa pacaran mereka dulu. Karena itu berarti, Kaila masih menyimpan kenangan tersebut rapat-rapat.
Tiba-tiba, secercah harapan mulai muncul. Redy optimis kalau rencananya untuk mendapatkan Kaila kembali akan berhasil. Berharap sedikit boleh, 'kan?
"Kailaaaaa!"
Beberapa detik setelah seruan keras barusan, muncul Gita dan Aretha yang berlari ke arah Kaila dengan wajah berseri-seri.
"Gue duluan, Kai," pamit Redy sambil melemparkan senyum lebarnya dan berlalu.
"Oke." Kaila balas tersenyum dan melambai singkat.
"Cieee yang abis ngobrol bareng mantan," ujar Gita sembari menyenggol-nyenggol bahu Kaila setelah beberapa detik kepergian Redy.
Kaila berusaha menahan senyumnya lalu balas menyenggol Gita. "Ih, apa sih?"
"Cieee yang dulunya sok-sok jutek tapi ujungnya nanggepin Redy lagi." Kali ini Aretha yang menggoda Kaila.
"Cieee yang dulunya gengsi nerima Redy tapi sekarang malah dadah-dadahan," tambah Gita.
Kaila memutar bola matanya lalu merangkul Gita dan Aretha dengan kedua tangan. "Dasar ember! Kalian enggak pernah bisa enggak berisik, ya?"
Gita tertawa. "Jadi, sekarang lo mau balikan sama Redy, nih? Udah enggak bakalan sok-sok cuek lagi?"
"Ya, gitu deh." Kaila mengedikkan bahunya acuh tak acuh. "Kali ini, gue enggak bakalan ngelepasin dia lagi," katanya sambil tersenyum samar.
Melihat senyum yang ditampilkan Kaila barusan, Aretha sontak bergidik ngeri. "Liat deh, senyumnya si Kaila. Serem banget, Jir."
Kaila tertawa. "Oh ya?"
"Itu tuh pertanda buat kita, Ret. Berarti kita juga enggak boleh ngedeketin Redy. Kalau sampe nekat, bisa mati muda kita," kata Gita.
"Nah, ngerti 'kan?" Kaila menaikkan sebelah alisnya lalu tersenyum geli. "Enggak boleh ada yang deket-deket Redy, termasuk kalian."
Aretha berdecak. "Lo kayak yang enggak tau kita aja, Kai. Mana mungkin kita ngambil yang jadi kepunyaan temen sendiri?"
Gita mengangguk setuju. "Iya, bener banget. Tenang aja, Redy cuma buat lo seorang, kok," tambahnya.
"Hmm. Redy cuma buat gue seorang."