Kara mengucek matanya beberapa kali, mencoba mengusir rasa lelah yang kini menyelimutinya. Langit sudah mulai gelap, pertanda bahwa matahari telah pergi menuju tempat peristirahatannya.
Dengan langkah gontai, Kara berjalan menuju teras kontrakannya lalu mengetuk pintu tiga kali. Badannya benar-benar terasa remuk akibat latihan basket tadi. Ia ingin cepat-cepat masuk ke dalam rumah lalu merebahkan tubuhnya di kasur.
"Redy! Cepet buka pintunya!" rengek Kara karena cowok itu tak kunjung membukakan pintu. Kara terus menggerutu sambil menghentak-hentakan kakinya ke lantai.
"Cepet bukain!" seru Kara lagi.
Melihat tak ada tanda-tanda Redy akan membukakan pintu, akhirnya Kara pun nekat menarik handel pintu lalu menendangnya kasar.
Brakkk.
Pintu terbuka dan membentur bagian sisi dinding keras.
"Ck, gak di kunci lagi." Kara mendesis lalu melepas asal sepatunya dan masuk ke dalam.
Namun, ada yang aneh. Keadaan rumah benar-benar gelap tanpa penerangan sedikitpun. Kara juga baru sadar kalau lampu teras pun tadi tidak dihidupkan.
Mendadak, perasaan Kara jadi was-was. Masalahnya, terakhir kali rumah dalam keadaan gelap seperti ini adalah ketika keadaan Redy benar-benar kacau akibat ditolak oleh Kaila. Jadi, Kara sangat khawatir akan keadaan Redy saat ini.
Sambil mencoba meraba-raba dinding, Kara berjalan dengan hati-hati. "Redy?" panggilnya.
Tak ada jawaban dari Redy. Kara semakin panik. Cewek itu melangkah cepat melewati ruang tamu, tak mempedulikan jari kakinya yang tadi sempat membentur kaki meja. Padahal, kini jempol kaki Kara terasa berdenyut nyeri, namun rasa sakit itu terkalahkan oleh perasaan cemas akan Redy.
Samar-samar, Kara mendengar suara pekikan tertahan. Cewek itu menghentikan langkah lalu menajamkan pendengarannya. Setelah yakin kalau suara pekikan barusan adalah suara Redy, Kara langsung berlari menuju dapur, tempat suara tersebut berasal.
Terdapat seberkas cahaya yang berasal dari lampu di dapur. Kara melangkahkan kakinya lambat-lambat lalu melongok perlahan ke dalam dapur.
"Mampus." Terdengar suara seseorang dari dapur.
Kara mengerjap beberapa kali begitu melihat sesuatu di hadapannya. Perasaan khawatir yang tadi menyelimutinya kini hilang digantikan dengan perasaan lega karena Redy baik-baik saja, dan geli karena melihat apa yang dilakukan Redy saat ini.
Redy, dengan helm yang menutupi kepalanya, sibuk menyemprotkan insektisida pada kerumunan laron-laron yang berterbangan di sekitar lampu. Cowok itu sengaja berdiri di atas kursi makan agar bisa dengan mudah menjangkau laron-laron tersebut. Sesekali Redy mengumpat keras ketika salah satu laron terbang ke arahnya.
"Mati, mati, mati lo semua," umpat Redy untuk yang kesekian kalinya.
Tanpa bersuara sedikitpun, Kara terus menonton Redy dari ambang pintu dapur. Senyum geli terukir di bibir Kara sewaktu melihat Redy hampir kehilangan keseimbangannya sesaat. Rasa lelah yang tadi melingkupinya kini menguap begitu saja.
Ini semua berkat Redy. Entah kenapa, hanya dengan melihat cowok itu yang saat ini sibuk dengan laron-laron tersebut, mood Kara mendadak berubah jadi baik. Redy lucu, batin Kara. Tanpa sadar, cewek itu terkekeh sendiri.
Merasa dirinya sedang diperhatikan, Redy kontan menoleh dan mendapati Kara tengah menatapnya sambil menahan senyum.
"Kara!" seru Redy terlihat senang. "Cepet ambil helm sama raket nyamuk di meja makan! Kita harus ngusir ini laron!"
Kara memutar bola matanya lalu terkekeh. Sejurus kemudian, tanpa banyak tanya terlebih dahulu, Kara langsung meraih raket nyamuk dan helm di meja makan lalu memakainya.
"Kita ngapain, nih?" tanya Kara tak dapat menahan senyumnya. Ia benar-benar ingin tertawa melihat tingkah konyol yang dilakukan oleh Redy. Terlebih lagi karena dirinya pun malah ikut-ikutan melakukan aksi konyol tersebut.
Tanpa mengalihkan pandangan dari laron-laron di depannya, Redy menjawab, "lo bunuh laronnya pake raket nyamuk."
Kara tertawa kecil lalu mengangguk semangat. "Siap!"
Detik berikutnya, Redy dan Kara pun sibuk membasmi semua laron yang mengerubuni lampu dapur. Sementara Kara mengayunkan raket nyamuknya dengan santai sambil tertawa-tawa, Redy justru terlihat serius dan tegang sewaktu menyemprotkan insektisidanya. Tak jarang berbagai umpatan kasar keluar dari mulut cowok itu begitu salah satu laron menabrak kaca depan helmnya.
"Anjrit!" pekik Redy sewaktu salah satu laron hinggap di kakinya. Cowok itu menghentak-hentakan kakinya panik, berusaha mengusir laron tersebut. Namun sayangnya, laron itu tetap bergeming.
"Apa? Kenapa, Re?" tanya Kara. Cewek itu menghentikan aktivitas mengayunkan raket nyamuknya lalu menoleh.
"Kaki gue!" Redy menggoyang-goyangkan kaki kanannya cepat. "Tolong singkirin."
Melihat seekor laron sedang berjalan di kaki Redy, Kara kontan mengayunkan raket nyamuknya lalu memukul laron tersebut kencang.
Pretek tek tek tek
Terdengar suara listrik dari raket nyamuk yang dipegang oleh Kara, menandakan bahwa laron tersebut telah mati. Bersamaan dengan suara barusan, Redy langsung memekik kaget dan lompat dari kursi. Cowok itu meringis dengan tangan yang mengusap kakinya.
"Bangke! Gue kesetrum!" bentak Redy dengan mata melotot. Cowok itu hampir terkena serangan jantung mendadak sewaktu Kara memukul kakinya dengan raket nyamuk, menyebabkan aliran listrik dari raket tersebut mengalir dan menyengat kaki Redy.
Kara mengedip polos lalu menunjuk kaki Redy. "Loh? Itu... tadi 'kan ada laronnya."
"Ya tapi gue kesetrum!" Redy mengacak-ngacak rambutnya depresi. Wajah cowok itu benar-benar memelas. "Lo enggak pernah bisa enggak nyiksa gue ya, Kar?"
Entah sudah berapa kali Kara menyiksa Redy. Padahal, ini baru tiga minggu Kara tinggal bersama cowok itu. Dicubit? Pernah. Dijitak? Enggak terhitung. Ditendang? Enggak usah ditanya. Dan sekarang? Redy baru saja disetrum oleh Kara menggunakan raket nyamuk. Dalam hati, Redy terus memohon pada Tuhan agar ujian hidupnya diringankan.
Kara mendengus. "Ditolongin bukannya makasih, malah marah-marah," cibirnya.
"Siapa yang enggak bakalan marah kalau jadi gue?!" sungut Redy. Cowok itu menghela napas berat lalu mengusap wajah frustasi. "Nasib jadi orang gan--ARGHH!"
Kali ini, salah satu laron hinggap di baju Redy. Refleks, Kara pun kembali mengayunkan raket nyamuknya ke arah Redy.
Pretek tek tek tek
• • •
"Gelap banget," gumam Kara sambil menatap lurus-lurus rumah di depannya. Ia dan Redy sepakat untuk mematikan semua lampu di dalam rumah agar laron-laron tersebut pergi dengan sendirinya, sementara mereka berdua menunggu di halaman belakang.
"Biarinlah. Bentar lagi juga mereka pergi," sahut Redy yang duduk di sebelah Kara. Saat ini, Kara dan Redy sedang duduk di atas trampolin yang ada di halaman belakang.
Kara menoleh lalu nyengir. "Cie yang phobia serangga," godanya sambil menyenggol bahu Redy.
"Diem."
"Orang jutek dan sinis kayak lo pernah punya trauma sama serangga sewaktu masih kecil? Astaga, aku tercengang."
Redy mendengus dan mendelik. "Lo tau berisik, enggak?"
"Tuh 'kan! Mulai lagi jutek sama sinisnya!" Kara mendecak lalu geleng-geleng kepala. "Heran, deh. Kapan sih lo bakalan baik ke gue? Tiap hari pasti selaluuuu aja sewot."
"Sampe lo berhenti nendang kaki gue," balas Redy. "Kayak sendirinya enggak pernah ngomel aja."
"Nah 'kan! Sekarang mulai deh nyindirnya."
"Udah, ah. Gue males adu mulut yang enggak penting."
Kara mencebikan bibirnya dan menatap Redy kesal.
"Gue capek," kata Redy pendek seraya merebahkan diri di trampolin dan memejamkan mata.
Kara menggerutu, "harusnya gue yang capek. Baru balik basket udah disuruh ngusir laron."
Redy cuma balas bergumam pelan tanpa membalas perkataan Kara lebih lanjut. Cowok itu memilih untuk diam dengan mata terpejam rapat, sibuk dengan pikirannya sendiri. Sementara itu, Kara yang sedang duduk sambil memeluk lututnya, sibuk mengamati taburan bintang yang memenuhi langit malam.
Kalau dihitung-hitung, sudah delapan tahun tahun lebih Kara tak melihat langit malam dihiasi oleh bintang-bintang seperti ini. Terakhir kali cewek itu melihat bintang adalah sewaktu ia berumur tujuh tahun. Saat itu, Kara dan Mamanya sedang menunggu Papa pulang dari kantor. Mereka berdua duduk di teras depan rumah sambil sibuk bercerita dengan tatapan lurus-lurus menatap langit berbintang.
Kara selalu menghabiskan waktunya bersama Mama, berhubung beliau merupakan seorang ibu rumah tangga. Kara benar-benar senang karena bisa mempunyai banyak waktu bersama Mamanya sementara orang lain diluar sana terus mengeluh karena Ibunya sibuk bekerja.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Hal yang tidak diinginkanpun terjadi. Mama Kara sakit keras dan akhirnya meninggal dunia pada saat Kara menempati bangku kelas delapan. Semenjak saat itu, Kara jadi sedikit lebih tertutup.
Satu-satunya teman yang Kara miliki cuma Aldan. Ia yang selalu setia menemani dan berada di samping Kara ketika cewek itu ada dalam masa kelamnya. Walaupun Kara baru mengenal Aldan sewaktu kelas tujuh dulu, tapi cowok itu benar-benar baik terhadap Kara dan tak pernah sungkan menawarkan bantuannya.
Tanpa sadar, kristal-kristal bening mulai keluar dari pelupuk mata Kara. Cewek itu cepat-cepat menutup mulutnya dengan tangan, mencoba menahan isak tangisnya agar tidak terdengar oleh Redy.
Lagi-lagi perasaan itu mulai muncul. Perasaan nyeri dan perih kembali melilit dadanya, mengakibatkan Kara sedikit sulit untuk bernapas. Ia benci perasaan ini. Kara benci harus merasakan kehilangan karena orang yang ia sayangi pergi meninggalkannya.
"Kara?"
Kara langsung tersentak begitu mendengar suara Redy. Ternyata, sekuat apapun ia menyembunyikan tangisnya, Redy tetap bisa mendengar suara isakan tertahan dari bibir Kara.
"Hmm." Kara bergumam lalu menyusut air matanya cepat.
Redy bangkit dari rebahannya lalu duduk tegak. Cowok itu menatap Kara penuh selidik lalu bertanya ragu, "lo gak apa-apa?"
"Emang gue kenapa?" Kara pura-pura memutar bola matanya malas. "Tidur lagi sana. Gue lagi ngayal, tau. Dasar ganggu."
Redy masih memandangi Kara lekat sebelum akhirnya menghela napas panjang. "Jangan bohongin gue."
"Gue enggak bohong," tukas Kara dengan suara bergetar. Cewek itu memalingkan muka, berusaha menyembunyikan matanya yang kembali berkaca-kaca.
Tanpa menggubris perkataan Kara barusan, Redy langsung menarik Kara ke dalam pelukannya. Ia sadar betul kalau keadaan cewek itu sedang tidak baik. Redy tahu itu semua karena cowok itu sedari tadi mendengar isakan tangis tertahan dari mulut Kara. Dan Redy enggak tahan kalau harus terus mendengar suara isakan itu. Ia tidak tega membiarkan Kara terus menangis sementara dirinya hanya memejamkan mata dan pura-pura tak mendengar.
"Kenapa lo tiba-tiba meluk gue..." lirih Kara. Cewek itu tak menolak ataupun membalas pelukan Redy. Satu per satu, air mata Kara mulai meluncur bebas menuruni pipinya.
Entah kenapa, pelukan hangat dari Redy bisa membuat Kara merasa tenang dan nyaman. Tadinya, Kara pikir sudah tak ada lagi orang yang peduli dengan dirinya, kecuali Aldan. Tapi ternyata, masih ada satu orang lagi yang peduli. Yaitu, Redy.
"Emang nggak boleh ya, gue meluk cewek sendiri?" canda Redy. "Udah refleks dari dulu kalau ngeliat cewek nangis."
Kara terkekeh singkat lalu pura-pura ngambek. "Jadi, udah berapa cewek yang lo peluk selain gue?"
Redy tergelak lalu melepaskan pelukannya. "Delapan, mungkin?"
Kara melotot sementara Redy nyengir.
"Becanda." Redy mengibaskan tangannya santai. "Cuma sepuluh kok."
"Ck, sok cakep banget," cibir Kara yang membuat Redy kontan cengengesan.
Detik berikutnya, Kara kembali mengembuskan napas panjang dan menatap langit dengan tatapan menerawang. Sempat hening beberapa detik sebelum akhirnya Kara bersuara. "Nyokap gue meninggal pas gue kelas delapan," ucap Kara memulai ceritanya.
Redy menoleh dan menatap Kara lekat, menunggu kelanjutan kata-kata yang akan keluar dari mulut cewek itu.
"Beliau punya penyakit jantung. Semakin hari, penyakitnya semakin parah. Bokap gue dan pihak rumah sakit berusaha keras nyari transplantasi jantung buat nyokap. Setelah sekian lama nyari, akhirnya dokter berhasil ngedapetin jantung yang cocok."
Kara tersenyum senang lalu melanjutkan, "sehari... dua hari... tubuh nyokap gue sama sekali nggak menolak jantung barunya. Bahkan, kesehatan beliau semakin hari semakin membaik."
Tanpa sadar, Redy ikut menyunggingkan senyumnya sewaktu melihat binar bahagia dalam mata Kara. Namun entah kenapa, binar itu redup dalam sekejap, digantikan dengan tatapan sendu.
"Di hari ketiga, tubuh nyokap gue tiba-tiba nolak jantung tersebut. Dengan cepat, kesehatan beliau langsung drop. Dan sampai akhirnya... dia..." Kara tak dapat melanjutkan kata-katanya dan mulai terisak. Cewek itu menunduk dalam dengan bahu bergetar naik turun.
"Jangan nangis lagi," kata Redy sembari mengulurkan tangannya lalu mendekap Kara. Cowok itu mengusap-ngusap kepala Kara lembut. "Lo enggak perlu lanjutin ceritanya."
Tanpa menghiraukan perkataan Redy barusan, Kara berkata sambil terbata-bata. Suaranya terdengar sedih dan marah sekaligus. "Anak-anak jaman sekarang cuma bisa ngeluh kalau disuruh ibunya. Mereka semua belum pernah ngerasain gimana sakitnya jadi gue sewaktu ikut ngurus pemakaman nyokap."
"Kara..."
"Mereka nggak pernah bisa ngertiin orangtua, maunya dimengerti terus. Mereka baru bisa ngertiin orangtua justru saat waktu orangtuanya semakin menipis."
"Udah, Kar..."
"Mereka nggak sadar sama apa yang mereka punya. Gue benci mereka. Kenapa gue enggak punya kesempatan buat lebih lama lagi bareng nyokap sementara mereka punya?"
Redy tersenyum tipis. "Lo tau? Kalau lo terus ngomong kayak gini, nyokap lo bakalan sedih, Kar," ujar Redy lembut. "Lo enggak mau dia terus-terusan sedih 'kan?"
Kara diam dan tak menjawab.
"Walaupun gue belum terlalu lama kenal lo, tapi yang gue tahu, Kara itu tipe cewek cerewet yang senengnya ngomel. Bukan kayak gini." Redy pura-pura menatap Kara sinis. "Malah mewek dan marah-marah gak jelas."
Kara cemberut dan menyikut Redy. "Masih aja sempet ngatain."
Redy tertawa. "Jangan nangis lagi, ah. Kalau tetangga sebelah denger, gimana? Nanti disangkanya gue macem-macem. Apalagi Si Bibi belum balik."
Kara terkekeh singkat lalu menyeka air matanya. Perasaannya kini jauh lebih baik berkat Redy. "Lo juga jangan teriak-teriak gak jelas cuma karena serangga. Entar tetangga mikirnya gue ngapa-ngapain lo."
"Gue enggak teriak-teriak!" Redy melotot tak terima. "Gue cuma naikin pita suara gue lebih tinggi dari biasanya."
"Sama aja!" Kara menoyor kepala Redy lalu mendengus geli. "Dasar cupu."
Redy memutar bola matanya. "Lo sendiri takut sama setan 'kan? Ck, cupu teriak cupu."
"Iya, setannya elo!" seru Kara sambil tertawa.
Redy mendesis. "Lo tau muka jangkrik? Dia sama nyereminnya kayak lo, Kar."
"Apa? Lo minta di gorok?"