Mobil Irfan masih melaju melewati jalanan kota Padang yang tergolong sepi di jam-jam segitu. Windy masih kaku, ia hanya diam menatap lurus jalanan yang ada di hadapannya. Irfan sesekali memperhatikan Windy. Ia prihatin melihat keadaan wanita itu. “Windy, maaf ... kalau Windy tidak keberatan, ceritakanlah apa yang terjadi.” Irfan membuka percakapan demi menghilangkan rasa canggung dan hening di mobil itu. “Huft ... Aku tidak tau harus memulainya dari mana. Aku hanya ingin bebas dan berpisah dari bang Putra. Perlakuannya terhadapku sudah kelewatan.” Netra Windy mulai berkaca-kaca. Irfan melihat tetesan demi tetesan mulai keluar dari netra wanita itu. Hatinya turut pilu mendengar suara serak Windy ketika bercerita. “Apa Windy benar-benar tidak ingin melaporkannya ke polisi?” “Tidak, Bang

