Irfan masih setia menemani Windy di kantor polisi. Pada awalnya pria itu ingin mendampingi Windy masuk ke dalam ruangan tempat membuat laporan tersebut, tapi Windy mencegah. “Bang, maaf ... Windy harap abang tidak marah atau tersinggung. Abang tidak keberatan kalau menunggu di luar sebentar. Windy tidak enak menceritakan aib.” Windy tertunduk. “Iya, abang mengerti. Abang akan tunggu di sini.” “Terima kasih atas perhatian bang Irfan.” Netra itu kembali beradu. Windy kembali merasakan sesuatu dalam hatinya, ia jengah. Windy masuk ke dalam ruang pelaporan. Wanita itu menjelaskan semua yang terjadi pada dirinya kepada polisi. Tak lama, ia mendapatkan Surat Permintaan Visum dari kepolisian. Windy keluar dari ruangan itu. “Bagaimana?” tanya Irfan. “Sudah dapat.” “Ayo kita ke rumah sakit.

