Putra sudah rapi. Pria tu tampak gagah di balik kemeja batik yang ia kenakan. “Masyaa Allah ... abang tampan sekali. Oiya, kita sarapan dulu ya, Windy sudah masakin sarapan lezat. Ayo duduk dulu.” Windy memegang pergelangan tangan Putra, namun pria itu malah menyentaknya. “Aku sudah terlambat, aku akan makan di kantor saja nanti.” Putra berlalu meninggalkan Windy yang masih terpaku. Lagi, hatinya hancur dan pilu. windy kembali mengemasi meja makan. Wanita itu berniat hendak pergi ke tepi pantai untuk menenangkan diri. Pantai adalah tempat favorit Windy kala ingin menyendiri. Ia bisa mencurahkan segala isi hatinya lewat sepuluh jari di sebuah gadget berukuran sepuluh inci. Sebelum pergi, Windy menyempatkan diri mengirimkan pesan w******p kepada Putra. Namun pesan itu tidak berbalas, h

