Irfan masuk ke dalam kamar itu, ia menatap istrinya yang masih bersembunyi di balik pintu. Wajahnya polos tanpa make up, tampak ayu. Rambutnya lurus sebahu, membuat Windy terlihat lebih muda dari usianya. Cukup lama Irfan tercenung menatap istrinya untuk pertama kali. Ya, untuk pertama kalinya Irfan melihat istrinya tanpa balutan jilbab. “Bang ....” Windy mendekati Irfan dan menciumi telapak tangan suaminya. Irfan memeluk istrinya, hangat. Netranya berkaca-kaca. Kini, ia bisa memeluk dan menyentuh Windy sepuas hatinya. Irfan bisa meluapkan segala hasrat dan kasih sayang kepada wanita yang sudah ia jaga selama lebih kurang sembilan bulan lebih. “Bang, terima kasih untuk waktu, tenaga dan kesabaran abang selama ini.” Windy menatap netra Irfan, lembut. Irfan mengecup kening istrinya. Wi

