“Windy, bisa ke ruangan saya sebentar.” Irfan kembali membuat Windy jengah dan salah tingkah. “Ya, sebentar.” “Cieee ... kak, bang Irfan udah resmi menduda lho. Hayuks kejar, jangan sampai di sia-siain.” Vivi tak bosan-bosannya menggoda Windy. “Kamu apa-apaan sich, nggak ada ya. Nggak mungkin aku deketin pak Irfan.” “Kenapa enggak, bang Irfan duda. Kak Windy janda. Duda ketemu janda, pas dong, hahaha.” “Siapa bilang aku masih janda, nggak lah ya.” “Maksud kakak?” “Eh, nggak ada. Nggak ada apa-apa. Kakak mau nyusul pak Irfan dulu, sepertinya ada hal yang penting yang mau di bahas.” Vivi mengangguk, gadis itu masih bingung. Sementara Windy segera berlalu ke ruangan Irfan. “Permisi, pak.” “Windy, masuk. Silahkan duduk.” “Ada apa, Pak?” “Oiya, kenapa panggil pak lagi, bukankah tem

