Satu setengah jam bergitu cepat berlalu. Baik Windy maupun Irfan masih belum puas bertemu. Akan tapi mereka memang harus mengalah pada sang waktu. Mereka tidak boleh memperturutkan nawa nafsu, jika ingin semunya baik di mata dunia terlebih di mata Tuhan. “Bang, terima kasih untuk malam ini.” Windy tersenyum manis sebelum kakinya melangkah turun dari mobil Irfan. “Sama-sama, jaga kesehatanmu. Jangan terlalu banyak pikiran, kasihan calon bayimu. Besok siang aku akan temani ke rumah sakit jiwa untuk menemui Putra.” “Ya. Sekali lagi terima kasih. Selamat malam ....” “Malam ....” Windy pun akhirnya melangkahkan kakinya keluar mobil dan segera masuk ke dalam rumahnya. Wanita itu sudah tidak peduli dengan pandangan dan ucapan para tetangga. Selama ia tidak berbuat salah, untuk apa ia takut m

