Rahasia Sepasang Kekasih

1494 Words
"Seseorang mengintip kita, Peter," bisik Emily khawatir. "Iya, kita hentikan dulu permainan kita. Pulanglah!" "Tapi aku takut." "Sudahlah, kalau ada apa-apa bilang aku. Aku yang akan membereskannya," tukas Peter. Emily diam. Dia masih ragu dan khawatir. "Sudah, keluarlah dulu dari hutan ini sendiri seperti biasanya, Emily. Aku jaga kamu dari belakang. Lekaslah pulang, dan berpura-puralah tak terjadi apa-apa pada kita," bisik Peter. Emily mengikuti ucapan kekasihnya. Ia melangkah sendiri keluar dari hutan dan pura-pura tak terjadi apapun pada dirinya dan Peter. Sebenarnya hal ini sudah ia mainkan sejak lama dengan lelaki bermata biru itu. Hutan rahasia ini adalah tempat bermain dirinya dan Peter sejak kecil. Persahabatan itu telah berubah jadi benih-benih cinta ketika mereka menginjak remaja. Emily orang miskin, Peter orang kaya, pasti akan terjadi sesuatu pada mereka jika ada yang tahu mereka berpacaran. Karena itu mereka menjalin hubungan diam-diam. Hutan ini masih menjadi tempat favorit mereka untuk bermain, tapi permainan mereka telah berbeda. Ketika kecil dulu hutan ini mereka jadikan tempat bermain petak umpet, mencari bunga-bunga, dan permainan anak kecil lainnya. Namun, saat ini permainan mereka sudah seperti orang dewasa. Jika ada orang lain tahu bisa bahaya, karena itu Emily dan Peter saling berpura-pura. Biasanya mereka akan diam-diam bertemu setelah Emily mengantar bekal untuk ayahnya. Semua telah mereka atur. Emily masuk lebih dulu dari Peter dan kekasihnya itu masuk beberapa saat kemudian. Selanjutnya Emily keluar sendiri lebih dulu, baru Peter mengikuti dari belakang. Dengan cara itu tak akan ada orang yang curiga karena tak ada yang melihat mereka masuk dan keluar hutan bersama-sama. Akan tetapi rahasia mereka itu tampaknya telah terbongkar. Seseorang telah mengintip saat mereka b******u. Siapakah orang itu? Emily melangkah pulang ke rumah. Bunga-bunga lupin dan bunga kuning dari pohon kohwai tak lagi tampak indah di hatinya. Ia sangat gelisah. Kehangatan bibir Peter yang masih menempel di bibirnya pun tak lagi membuat hatinya berbunga-bunga seperti dulu. Hati Emily diliputi rasa gundah karena ada yang mengintip perbuatannya dengan Peter. Siapakah dia? Beribu kali bertanya pun tak akan terjawab, karena memang saat ini ia tidak tahu. Emily juga harus berpikir kejadian apa yang akan menimpanya setelah ini. Orang yang ia takuti adalah ayahnya dan Tuan Benigno. Apa yang terjadi jika mereka tahu? Ah Emily tak bisa membayangkan kemurkaan dari kedua orang itu. *** Emily tiba di rumahnya. Ia mencoba bersikap seperti tak ada apa-apa. Gadis itu menyapa ibunya dan masuk kamar. Ia menatap dirinya di cermin dan terbayang cumbuan Peter tadi. Gadis itu pun tersenyum berbunga-bunga, tapi kemudian rasa berbunga-bunga itu berubah jadi kegundahan yang teramat sangat jika ingat seseorang telah mengintip dirinya dan Peter tadi. "Emily!" panggil ibunya. "Y-ya, Bu!" jawab Emily tergagap. "Sedang apa kamu? Ayolah, bantu ibumu!" "Ya, Bu." Emily keluar. "Ganti bajumu, lalu cucilah piring," perintahnya. "Tapi aku masih ingin pakai baju ini, Bu," jawab Emily. "Baju itu terlalu bagus untuk dipakai mengantar bekal di kebun anggur dan menyelesaikan pekerjaan rumah. Ganti bajulah yang lebih pantas!" Emily cemberut. Ia tak mau ganti baju. Baju ini memang ia pilih untuk menemui Peter. Ia tidak ingin terlihat jelek di hadapan kekasihnya itu, karenanya ia tak mau ganti baju. Walaupun ini rumahnya sendiri, tapi siapa tahu Peter melihatnya dari jauh, atau tiba-tiba datang. Karenanya Emily tak mau mengganti baju. Ia tetap memakai dress hitam dengan motif bunga itu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Prang! Sebuah piring jatuh saat gadis itu menggosoknya dengan sabun. "Ada apa, Emily? Kenapa sih kamu melamun terus?" tanya ibunya tegas. "Tidak apa-apa, Bu," jawab Emily tergagap sambil membereskan piring yang ia jatuhkan. Nyonya Clare memperhatikan putrinya. Gadis itu sering melamun dan rajin berdandan, apakah mungkin dia sedang jatuh cinta? "Kamu sedang jatuh cinta, Emily?" tanya Nyonya Clare dengan tatapan menyelidik. "Tidak, Bu," jawab Emily. "Kamu sering berdandan dan melamun, bahkan ibu pernah memergoki kamu melamun lalu tersenyum sendiri. Pasti kamu sedang jatuh cinta. Dengan siapa? Jangan bilang dengan salah satu buruh di kebun anggur Tuan Benigno ya," tukas Nyonya Clare. "Tidak kok, Bu," lagi-lagi ia menghindar. "Lalu pada siapa?" desak Nyonya Clare. Emily tidak menanggapi pertanyaan ibunya. "Jatuh cinta pada siapapun boleh, Emily. Asal kamu bisa bertanggung jawab pada perasaanmu itu. Yakin bahwa kamu bertemu orang yang tepat, orang yang bisa bertanggung jawab atas dirimu sendiri." Nyonya Clare menasehati Emily. "Aku tidak jatuh cinta kok, Bu," Emily masih saja berbohong. Ibunya hanya bisa menghela nafas dan geleng-geleng kepala atas sikap gadis itu. *** Sore hari Tuan Marcus pulang. Emily khawatir ayahnya itu sudah tahu perbuatannya dengan Peter tadi siang. Namun lelaki paruh baya tersebut bersikap biasa saja. Ia hanya bercerita tentang kegiatannya seharian di kebun Tuan Benigno. "Souvinoc blanc milik Tuan Benigno sangat banyak dan bagus. Bukankah itu varietas anggur yang dicari para tengkulak? Aku pikir penghasilan Tuan Benigno dari panen kali ini sangat besar," cerita Tuan Marcus saat keluarga itu makan malam. "Mudah-mudahan dengan hal itu Tuan Benigno bisa membayar 'hutang' pada buruhnya yang tak dibayar tahun lalu," komentar Nyonya Clare. "Kamu selalu bicara seperti itu. Itu hanya gosip tahu!" tukas Tuan Marcus. "Tapi masalah Tuan Benigno tak membayar buruhnya tahun lalu itu benar. Waktu itu hasil panennya memang tidak begitu bagus kan," tukas Nyonya Clare. "Tapi ia tak pernah begitu padaku," kata Tuan Marcus. "Tidak begitu sekarang, tapi bisa jadi kelak dia akan begitu," ucap Nyonya Clare. "Masalahnya ... hanya itu yang bisa kukerjakan. Di desa ini kebanyakan orang hanya bisa kerja jadi buruh anggur di kebun Tuan Benigno." "Itulah masalahnya, semua orang di sini bergantung pada Tuan Benigno. Karena itu dia bersikap semena-mena pada orang lain." Orang tua Emily terus membicarakan Tuan Benigno. Sama sekali mereka tak menyinggung hubungan Emily dengan Peter. Itu berarti mereka memang belum tahu hubungan Emily dan kekasihnya. Gadis berambut ikal itupun lega, walaupun masih terbesit ketakutan di hati bahwa ulahnya akan ketahuan. Ia juga masih penasaran siapa orang yang mengintipnya tadi. Semoga itu hanya perasaan dia dan Peter saja. Bunyi, "Krek!" seperti ranting terinjak belum tentu dari manusia kan, bisa juga dari binatang. *** Sejak kejadian diintip kemarin, Emily tak lagi melakukan aktivitas rahasia dengan Peter. Kekasihnya itu menunggu di hutan, tapi Emily tak mau datang. Ia takut akan diintip lagi, atau lebih menakutkan ... ditangkap basah sedang berpacaran dengan Peter. Pasti sangat memalukan jika itu terjadi. Gadis itu terus melangkah melewati jalan yang ada di tepi Hutan Rahasia. Tampak dari belakang Peter menyusulnya dengan mobil. "Emily! Emily! Aku menunggumu lama di Hutan Rahasia. Kenapa kamu tak pernah lagi datang?" Peter menghentikan mobilnya di samping Sang Kekasih. "Ayo masuk!" "Ssst, Peter! Harusnya kamu berhati-hati. Kita bicara begini, kalau ada yang tahu gimana?" Emily memperingatkan. "Cepat masuk! Sebelum ada yang tahu!" jawab Peter. "Masuk pun tetap bisa ada yang tahu, Peter. Sudah, menjauhlah dulu, supaya kita tidak dicurigai," kata Emily. "Tapi kita harus membicarakan hubungan kita, Emily," kata Peter lagi. Emily tak menanggapi perkataan Peter. Ia mempercepat langkahnya tapi Peter mengikuti dengan mobil. Emily pun sesekali berlari supaya terhindar dari kekasihnya itu. Akhirnya lelaki berambut pirang itu pun mengerti kemauan Sang kekasih. Ia membiarkan Emily pergi sendiri, karena dirinya juga punya rencana lain. *** Malam itu semua sudah tertidur lelap saat Emily mendengar ketukan di jendela kamarnya. "Emily, Emily," terdengar bisikan Peter di balik jendela itu. Emily terbangun. Ia sedikit ragu, benarkah itu suara Peter? Kalau benar iya, kenapa dia seberani itu? "Emily! Buka, Emily!" Terdengar bisikan Peter lagi. Ragu-ragu Emily beranjak dari tempat tidur. Ia mengintip sebentar dari jendela kaca yang tertutup tirai itu. Benar, ternyata itu memang Peter. Gadis itu segera membuka jendela kamarnya. "Emily," bisik Peter senang. Ia hampir saja memanjat dan melompat masuk melalui jendela itu. "Sssst, Peter! Jangan masuk," Emily menahannya. "Tapi kenapa? Aku rindu sekali padamu, Emily. Sudah berhari-hari kita tak bertemu. Ayolah, izinkan aku masuk. Aku takut keburu ketahuan kalau ada di luar terus," bisik Peter. "Sssst, tunggu sebentar," bisik Emily. Dia mengendap-endap keluar kamar untuk memastikan kedua orang tuanya tertidur nyenyak. Setelah itu ia kembali lagi ke kamar dan menghampiri Peter. "Orang tuaku sudah tidur, cepatlah masuk," bisiknya. Dengan gembira Peter langsung masuk melompati jendela kamar Emily. Kamar Emily memang di lantai satu, karena itu Peter mudah menghampirinya. Begitu masuk ia langsung memeluk dan melepas ciuman hangat pada Emily. Wanita berambut ikal kecoklatan itu menyambut ciuman kekasihnya dengan antusias. "Sebentar, Peter." Sesaat ia menjauhkan kepala Peter dari wajahnya dan beranjak untuk menutup jendela. Peter membiarkan kekasihnya itu menutup jendela sambil terus memeluk dari belakang. Setelah jendela tertutup, keduanya melanjutkan ciuman mesra mereka. Peter makin berani. Ia mengangkat tubuh kekasihnya ke atas dipan. Mereka melanjutkan percintaan itu di sana. Tangan Peter merayap melalui punggung Emily, sementara gadis itu menikmati ciuman kekasihnya itu sambil meremas-remas rambut lelaki yang ia peluk. Percintaan mereka makin menggila. Emily sampai memekik lembut saat cumbuan Peter melayang ke lehernya. "Ssst, jangan berisik Emily," bisik Peter. "Nanti orang tuamu tahu." Emily memejamkan mata dan menggigit bibir, berusaha menahan gejolaknya yang muncul akibat cumbuan Peter. "Kamu gila, Sayang," bisik Emily saat merasakan cumbuan dari kekasihnya itu. "Aku gila karenamu, Sayang,"bisik Peter. Percintaan mereka makin panas. Tangan Peter mulai merayap ke tubuh Emily dan ia membuka kancing baju kekasihnya satu persatu. Lalu .... *Bersambung*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD